
Suara ketukan bercampur gedoran membuat lelaki itu terbangun. Dengan wajah kesal menampakkan amarah, ia bangun dari ranjang meninggalkan seorang wanita yang tidur disisinya, menyelimuti tubuh telanjangnya dengan selimut.
Siapa lagi malam-malam begini bertamu? Dasar gila!!!
Hanya mengenakan celana kulot hitam dan kaos putih bergaris-garis merah, ia melangkah keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pintu dengan tergesa-gesa agar suara gedoran lekas berhenti. Sakera membuka pintu.
Pintu itu belum terkuak seluruhnya ketika sesosok tubuh masuk mendorong Sakera sehingga terjajar beberapa langkah. Lelaki Madura itu menatap sosok itu dengan marah.
"Gila kau?! Kenapa bertamu malam-malam begini?!" sergah Sakera.
"Brengsek kau!" balas Arya. "Aku nyaris saja dibunuh oleh seseorang?!" tambahnya dengan panik sembari memandang keluar.
"Siapa yang mau membunuhmu?!" tanya Sakera dengan ketus.
Arya kembali menatap Sakera. "Entahlah..." setelah itu ia melenguh kesakitan.
Sakera memeriksa keadaan lelaki itu dan menemukan sebuah lubang menganga dibagian dada kanan pakaian Arya.
"Kau... tertembak?" ujar Sakera dengan lirih.
Arya hanya mengangguk. Lelaki itu menarik napasnya sejenak lalu bicara, "Aku minta tolong padamu."
"Pertolongan apa?" tanya Sakera.
"Temani aku kembali ke rumahku." pinta Arya.
Sakera tertawa. "Omong kosong." ujarnya. "Kau sengaja menemuiku supaya orang itu mengejar kemari dan kita berdua dibunuhnya!" Lelaki itu mendorong Arya. "Pergilah Arya! Jangan menyeretku kedalam hal semacam ini! Aku masih ingin hidup!" Lelaki itu mendorong Arya hingga ke depan pintu.
"Tolonglah aku sekali ini." pinta Arya dengan menghiba. "Aku tak tahu kemana siapa aku meminta tolong."
Sakera terdiam sejenak lalu tersenyum. "Begitu ya?" gumamnya. Lelaki itu mengangguk.
"Baiklah. Istirahatlah disini." ujar Sakera menunjuk sofa di ruang tamu itu. "Mau minum apa?"
"Air bening saja." jawab Arya.
Sakera mengangguk sejenak lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan menyisakan Arya yang duduk sambil meringis menahan rasa nyeri akibat proyektil yang belum dikeluarkan.
Lho? Kok ada bau anyir sih? Oh... bau bangkai... dimana ya???
Arya memaksakan bangkit dan melacak sumber bau. Ia tiba didepan pintu yang terbuka. Itu adalah kamar milik Sakera.
Bau itu berasal dari kamar ini....
Arya perlahan melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan tersebut. Bau anyir itu makin menusuk. Arya berkali-kali mendengus keras mengusir bau yang mengganggu indera penciumannya.
Tatapan matanya menyipit. Ada sosok yang meringkuk disudut ruangan itu. Wajahnya tak kelihatan sebab menunduk.
Menahan rasa mual akibat bau busuk yang semakin menusuk. Arya memberanikan langkah mendekati sosok yang meringkuk itu. Lantai terlihat becek, entah karena apa.
Arya tiba didepan sosok itu dan berjongkok lalu jemarinya terulur menjamah rambut orang dan mengangkatnya. Seketika keterkejutan melanda dirinya.
SAKERA!!!!!
Arya tak mampu terpekik. Ia terlonjak dan jatuh terduduk ke lantai. Tangannya menjejak lantai yang becek membuatnya mengangkat tangan dan memperhatikan telapak tangannya. Sekali lagi ia terkejut.
Darah????
Arya segera bangkit dan berdiri kebingungan dikamar itu.
Jika itu Sakera... lalu yang tadi menyambutku siapa?!
Rasa mual langsung menusuk ulu hatinya dan seketika Arya mengeluarkan isi lambungnya.
HUEEEKKKK.....
Arya megap-megap dan menyeka sisa-sisa muntahannya lalu berbalik melangkah meninggalkan ruangan itu. Belum sempat ia menyadari, sebatang kayu langsung menghantam dahinya.
DUAGHHH... UGH...
Arya hanya sempat melenguh lalu menggeloyor pingsan didepan pintu. Sementara lelaki yang menggunakan wajah Sakera itu hanya menatapnya dengan tatapan ingin membunuh. []