
Anya masih diam memikirkan ungkapan kepantasan yang disodorkan oleh Mala dan Bonie. Gadis itu jadi kehilangan minat bicara sedang Bonie yang mengamatinya lalu tersenyum.
"Kamu tenang saja." ujar Bonie kemudian tertawa kecil. "Kami siap jadi juri untuk menentukan apakah dia pantas untuk kamu, atau nggak. Percaya temanmu ini." ujarnya menepuk dadanya dan tersenyum angkuh.
"Aku dan Nangsih siap jadi penyidik deh. Ditanggung rahasia terjamin." sambut Mala dan direspon oleh Nangsih dengan anggukan cepat.
"Sudah, jangan merajuk begitu." sahut Nella meremas lengan Anya dengan lembut. "Kami ada selalu untukmu, Sis."
Anya hanya tersenyum saja menanggapi ucapan teman-temannya. Sementara di panggung, Zais kelihatannya mengamati Anya sembunyi-sembunyi dan sesekali menyamarkannya dengan bercakap-cakap dengan para biduan yang duduk-duduk bersamanya di panggung itu.
Acara resmi itu berakhir menjelang pukul setengah sepuluh malam. Para undangan berbaris rapi menuju panggung pelaminan dan menyemangati dan menyalami kedua temanten tersebut untuk menjalani kehidupan mereka yang baru.
Bonie, Mala, Nangsih dan Nella bergantian memeluk dan menyalami Yuyun. Calon ibu rumah tangga itu mengangguk-angguk sambil senyum merespon pelukan sahabat-sahabatnya.
Bonie berbisik. "Doakan si bontot itu dapat jodohnya ya?" bisik wanita itu ke telinga Yuyun.
Yuyun mengernyitkan alis. "Siapa?" balasnya seraya berbisik.
"Ayo, bisik-bisik apa?" sela Anya dengan suara agak keras dibelakang Bonie. Kedua wanita itu tertawa.
"Maksudmu, dia?" tanya Yuyun seraya mengangguk ke arah Anya. Bonie hanya tersenyum.
Anya hanya mendengus sambil bercakak pinggang sedang Bonie sudah melangkah kepada pengantin laki-laki dan menyalaminya kemudian turun panggung menyusul ketiga temannya.
Anya mendekat dan menyalami Yuyun. Wanita itu tersenyum.
"Selamat menempuh hidup baru, ya Yun." ucap Anya dengan senyum. Yuyun tersenyum mengangguk maju memeluk Anya dengan lembut.
"Semoga lekas nikah ya?" ujar Yuyun. "Enak lho, nikah..."
Anya hanya tersenyum saja menanggapi ujaran pengantin baru itu. Anya melepas dekapan dan maju ke sisi pengantin laki-laki kemudian menyalaminya.
"Awas ya Do." ujar Anya mengancam meskipun senyum dibibirnya terus terkembang. "Kalau Yuyun tersakiti, mampus kamu."
Aldo, si pengantin dari Yuyun tertawa pelan dan menjawab, "Tenanglah Nya'a. Yuyun nggak bakalan nangis denganku... kecuali malam pertama saja." ujarnya mengakhirinya dengan tawa lagi.
Anya hanya mencibir lalu melepas jabatan tangannya kemudian melangkah menuruni panggung menyusul Bonie dan gengnya yang sudah menunggu didepan pintu.
Anya tiba dihadapan mereka. Mala langsung menodong. "Kamu bawa mobil kan? Pulang bareng yuk? Mumpung gratis..." pintanya sambil tertawa lalu disoraki oleh Nangsih dan Nella.
Anya mengangguk. "Ayo..." ajaknya.
Gadis itu melangkah duluan meninggalkan gedung menuju All New Avanza hitamnya yang terparkir beberapa blok dari tempat pagelaran resepsi pernikahan tersebut. Kelima wanita itu melangkah saling beriringan.
"Nya'a..." celetuk Mala. "Kalau kamu lulus nanti, kamu mau cari kerja di Jawa? Nggak pulang ke Gorontalo?"
Anya mengangkat bahu. "Lihat kedepannya bagaimana..." jawabnya dengan pelan.
"Pulang ke Gorontalo, dong." pinta Nella memelas. "Kita-kita nih sunyi kalau nggak ada kamu."
Anya tertawa. "Justru terbalik, Nyombreng." tukasnya. "Kalian kan pada sibuk dengan paitua kalian. Lha saya? Mendekam dengan bantal guling dong."
"Eh, ngomongin si laki-laki itu... siapa namanya sih?" ujar Mala lagi.
"Kasih tahu namanya dong. Kayak takut saja diambil orang." timpal Nangsih.
Anya tertawa. "Nggak apa deh di ambil orang, asal jangan kalian yang ngambil." ujarnya enteng.
"Eh, jangan begitu." seru Nella. "Kata-kata itu do'a." tegurnya.
Anya terdiam lagi. Bonie tertawa. "Kamu itu berlagak cuek, padahal ketakutan..." celetuknya.
"Takut kalau kata-katamu tadi di ijabah oleh Allah." ujar Bonie menakut-nakuti. Nangsih, Mala dan Nella tertawa mendengar ucapan Bonie.
Anya diam lagi. Nella menyeru. "Makanya jangan asal bicara, Nya'a. Istighfar..."
"Sudah ah, lama-lama bicara sama kalian kok tambah runyam." gerutu Anya yang kemudian disoraki lagi oleh keempat temannya.
"Jangan marah dong...." seru Nangsih dan Mala yang paling senang menjahili Anya. Gadis itu kembali senyum-senyum masam saja.
Mereka berlima tiba didepan All New Avanza hitam itu. Anya menyalakan sensor pembuka dan terdengar bunyi bip dua kali. Bonie mengambil tempat didepan sedang Nangsih, Mala dan Nella mengambil tempat dibangku tengah. Anya masuk kedalam mobil dan menutup pintu.
"Nggak ngelayap dulu?" celetuk Mala.
"Eh, sorry manyori ya? Aku terlanjur janji pulang cepat." sahut Anya membuat Mala menyorakinya.
"Uuuuhhh... nggak seru." sindirnya.
"Nanti deh kita jalan-jalan bareng lagi lain kali." kata Anya.
"Janji ya?" tuntut Mala. "Sebelum kamu balik ke Bogor, kamu harus nraktir kita-kita."
"Iya, aku janji." jawab Anya.
Bonie hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar tuntutan Mala. All New Avanza hitam itu kemudian melaju meninggalkan lokasi pelaksanaan resepsi pernikahan tersebut.
...*****...
Iswan sedang sibuk meneliti beberapa catatan dalam lembaran berkas itu. Bibirnya tak henti-hentinya menyedot batang sigaret yang nyaris tinggal puntung. Ketika ia merasakan batang rokok itu akan habis, Iswan kembali mengambil batang sigaret baru dan menyundutnya dengan bara dipuntung yang telah habis itu.
Ruangan itu gelap dan hanya diterangi oleh cahaya artifisial dari lilin yang menerangi sebagian kecil kamar itu. Lelaki itu memang paling senang mendekam dalam ruangan gelap, ditemani oleh beberapa bungkus rokok dan nyala lilin. Itu kebiasaannya sejak mendirikan perusahaan yang bergerak dibidang jasa pengamanan.
Tak lama kemudian pesawat telpon dimejanya berdering. Iswan meletakkan kertas itu dimeja dan tangannya terulur menjamah gagang telepon itu kemudian mengangkat dan meletakkan benda itu ditelinganya.
📞 "Halo?" ujar Iswan dengan pelan dan datar.
📲 "Bos... kami sudah melaksanakan apa yang bos suruh..." terdengar suara lelaki diseberang.
Arya mengangguk-angguk.
📞 "Bagus..." pujinya. "Lalu.... ada sesuatu yang berharga, bisa saya dengarkan dari kamu?" tanya Iswan kemudian menghisap lagi rokoknya dan menghembuskan asap tebal yang mengaburkan pemandangan dalam ruangan.
📲 "Ada Bos." ujar orang itu.
📞 "Katakan..." pinta Iswan kemudian memperbaiki duduknya.
📲 "Kami sudah menemukan letak lokasi dari perempuan yang Bos cari itu." jawab orang itu.
📞 "Bagus..." puji Iswan lagi. "Kirimkan alamatnya kepadaku."
📲 "Baik Bos..." ujar orang itu.
📞 "Apalagi yang kau ketahui?" tanya Iswan.
📲 "Perempuan itu bekerja dikedai transit." ujar orang itu.
📞 "Besok, bawa orang-orangmu. Kita akan menemui perempuan itu." perintah Iswan.
📲 "Siap Bos!" ujar orang itu.
Iswan meletakkan gagang telepon itu ketempatnya. Lelaki itu kembali mengisap rokoknya dan menghembuskan asap dari mulutnya. Sejenak kemudian, senyum licik terukir dibibir lelaki itu. Besok, adalah hal paling menyenangkan yang akan dilakukannya. []