SCHNUCKY

SCHNUCKY
IN THE NAME OF VENGEANCE



Kamala tersenyum. "Kau sungguh-sungguh, Arya?"


Arya hanya mendesah lemah. "Dengan cara macam apalagi harus ku ungkap supaya kau yakin bahwa aku sungguh-sungguh?" tukasnya.


Kamala tersenyum dan mengangguk-angguk. Wanita itu kemudian mengangkat wajah menantang tatapan lelaki yang dipenuhi dendam kerinduan.


"Aku beberkan satu rahasia kepadamu." ujar Kamala tiba-tiba. "Aku telah membunuh salah satu perogol itu. Aku sangat puas, Arya."


"Kau sudah membunuh?" desis Arya tak percaya. "Siapa yang kau bunuh, Kamala?"


"Tentu saja orang yang memperkosaku, Arya." jawab Kamala. "Aku membunuhnya setelah dia menggagahi kembaranku...."


"Tunggu..." sela Arya. "Kau bilang kembaranmu? Kau membunuhnya setelah dia membunuh kembaranmu?"


"Ya! Lelaki itu berpikir bahwa wanita yang dirogolnya itu adalah aku... sayangnya perempuan itu tewas akibat pemerkosaan yang brutal. Aku membalaskan dendamnya! Aku membuatnya tersiksa sebelum meregang nyawa." tutur Kamala dengan seringai kepuasan.


Arya mendesis. "Kau... gila..."


"Katakan saja begitu..." ujar Kamala setelah itu ia tertawa panjang. Setelah puas melengkingkan tawanya, wanita itu melanjutkan. "Kau mau tahu, siapa lelaki yang pernah merogolku?" pancingnya.


Arya hanya diam menunggu jawaban. Kamala dengan senyum psikopatik menutur. "Iswan..."


Mata Arya seketika melebar.


"ISWAN?! MAKSUDMU, ISWAN..." seru Arya dengan gagap.


"Ya! Iswan sahabatmu!" seru Kamala dengan suara meninggi. "Kawanmu! Sahabatmu! Kalian bertiga! Pemerkosa itu kalian bertiga!!!" jeritnya dengan kalap lalu melayangkan tamparan.


PLAK!!!!


Arya tertampar! Setitik darah mengalir dari sudut bibir lelaki itu.


"Kau..." desis Arya berupaya menebak. "Muzdalifah?"


Kamala tertawa. "Kenapa? Kau pangling? Apa aku harus pakai jilbab supaya kau hafal perempuan yang pernah kau perkosa?!" Wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajah Arya.


"Bukankah kau yang mencicipiku pertama kali, Arya? Masih ingat? Dikamarku... di kost itu..." ujar Kamala dengan geram. "Bagaimana? Enak?"


Arya melengos malu dan Kamala meraih dagu Arya lalu mengarahkan wajah lelaki itu kembali menatap Kamala.


"Ayolah Arya... katakan padaku..." tuntut Kamala. "Ketika kau menembusi diriku... bagaimana rasanya? Enak?" tanya Kamala dengan lirih.


"Lho? Kok mewek?" tukas Kamala dengan senyum mengejek. "Aku kan cuma tanya... kok malah nangis?"


Setelah menenangkan hatinya, Arya kemudian menjawab. "Semestinya sejak dulu aku curiga bahwa kau memang dia. Meski waktu telah merubah sebagian wajahmu namun..." lelaki itu mendesah panjang dan menghindari tatapan wanita itu, menatap langit-langit ruangan.


"Tapi... rasa bersalah itu selalu menghantui..." ujar Arya kemudian menatap Kamala. "Dan... aku terkena karma... aku jatuh cinta padamu."


"Oh... kau jatuh cinta?" pancing Kamala. "Padaku? Kau jatuh cinta padaku?"


"Tapi aku bersyukur... aku jatuh cinta padamu... aku sangat bersyukur..." tambah Arya.


Kamala langsung menodongkan moncong pistolnya ke wajah Arya. "Katakan mengapa..." tuntutnya. "Jika alasannya masuk akal, akan kubiarkan kau hidup."


"Aku tidak punya alasannya." jawab Arya. "Yang jelas... aku hanya menyadari perasaanku terhadapmu sampai kini..."


Kamala tertawa panjang dan Arya menyaksikan mata wanita itu basah. Kamala menangis.


"Ka... Muzdalifah..." panggil Arya dengan lembut.


"JANGAN SEBUT NAMA ITU!!!" jerit Kamala dengan histeris. "DIA SUDAH MATI! SUDAH MATI!" wanita itu kemudian menekankan moncong SIG P227 ke dahi Arya. Mata Kamala mencorong bengis.


Arya mengangguk-angguk. "Baik. Baik... Dia sudah mati.... Sekarang... maukah kau kembali kepadaku? Mari kita mulai hidup yang baru."


Kamala menggeram. "Kau harus mati. Kalian bertiga harus mati!" geramnya sembari tetap menekankan moncong pistol buatan Swiss itu ke dahi Arya.


"Kamala... Rudi titip pesan kepadaku... dia sangat menyesal atas perbuatannya padamu... dia bahkan berharap ditarikan napas terakhirnya, kau bisa memaafkannya..." ujar Arya dengan gemetar. "Dan Iswan... dia sudah mendapatkan karmanya. Kau sudah membunuhnya...."


"Tinggal kau yang masih hidup." geram Kamala dengan bengis.


"Kamala... aku mencintaimu..." ujar Arya dengan lembut berupaya membujuk wanita itu agar tidak bertindak gila.


"Kau pembohong!" teriak Kamala lagi. "Aku akan membunuhmu!"


Arya tersenyum dengan mata yang basah. "Jika pelukku tak lagi menjadi tempat terhangatmu... jika kata-kataku tak lagi menjadi jaminan kepercayaanmu, jika cintaku tak sedikitpun menumbuhkan rasa kasih dihatimu... baiklah... silahkan..." ujar lelaki itu. "Aku rela kau habisi sekarang... tapi patut kau ingat Kamala... aku selamanya tak akan meninggalkanmu..."


Arya perlahan memejamkan mata menunggu keputusan akhir diatas nama pembalasan dendam. Perlahan Kamala menarik pelatuk pistol.


DOR!!!! []