
lima hari telah berlalu dan Arya menjalani hari-hari dengan tidak sabar. Bagaimanapun ia ingin segera melewati sepekan itu agar bisa kembali ke kedai tersebut dan menemui Muzdalifah.
Arya bersama beberapa karyawan lain duduk-duduk di lounge melepaskan penat setelah beberapa jam berkutat dengan pekerjaan. Para karyawan menikmati makan siang mereka, sedang Arya tak sedikitpun memesan menu makan siang, melainkan meminta koki untuk membuatkannya es krim dan sepiring cemilan parutan stik pisang Goroho.
Arya menggigit-gigit stik pisang itu pelan-pelan sambil mengawasi lagi poin-poin saham perusahaannya yang sementara ditradingkan para spekulan di Bursa Efek.
Langkah sepatu terdengar jelas dilantai mendekati tempat dimana Arya duduk. Lelaki itu menjeda kegiatannya dan menoleh.
"Sudah lama?" tanya Kamala yang kemudian duduk dihadapan Arya sembari meletakkan baki berisi menu hidangan siang. Wanita itu menatap segelas besar se krim dan sepiring stik pisang didepan Arya.
"Kamu.... nggak makan siang?" tanya Kamala dengan pelan.
Arya tersenyum. "Memang ini apa kalau bukan makan siang?" kilah Arya.
"Itu kan hanya menu snack, bukan menu untuk lunch, Schnucky." bantah Kamala sembari mengambil sendok dan mulai mengaduk nasi.
"Aku masih malas makan." kilah Arya lagi kemudian menyibukkan diri mengamati poin-poin sahamnya.
Kamala tersenyum kemudian menyendok nasi bersama sayur dan lauknya. Arya mengerling sejenak kearah wanita itu lalu kembali sibuk mengamati poin-poin saham di aplikasi Bursa Efek.
"Kamu kepikiran sama Muzdalifah?" pancing Kamala.
Arya memilih untuk tak menjawab pertanyaan wanita itu. Kamala tersenyum lagi.
"Schnucky... kelihatannya hatimu sudah bercabang dua..." komentar Kamala.
Arya tersenyum lalu meletakkan gawainya di meja. Lelaki itu menatap Kamala kemudian menyendok es krim dan melahapnya.
"Apanya yang selingkuh? Kamu jangan asal menuduh Miss Marvel..." kilah Arya.
Kamala tersenyum lagi. "Schnucky... Tinggal dua pekan lagi, pernikahan kita akan digelar, tapi kau justru kepikiran dengan perempuan itu. Apakah itu bukan disebut selingkuh?"
Arya tertawa pelan lalu mengambil kembali sebatang stik pisang dan memakannya. "Kamu saja yang berpikiran begitu, Miss Marvel... aslinya, aku tetap memikirkanmu, kok."
"Memanipulasi pikiran sendiri dan menganggap setiap alur yang dibuat adalah kebenaran yang tak ingin dibantah." komentar Kamala.
"Nggak usah bermain-main dengan analogi pemikiran itu..." ujar Arya. "Aku nggak sebejat yang kamu tuduhkan."
Kedua orang itu kemudian diam dan memilih menikmati hidangan mereka masing-masing. Tak lama kemudian gawai dimeja bergetar lagi.
"Handphone kamu..." ujar Kamala mengangguk kearah piranti yang bergetar dan berdengung itu. "Siapa tahu dari Muzdalifah..." godanya lagi.
Arya menatap kesal kearah Kamala lalu mengambil gawai tersebut dan memeriksa panggilan. Tak lama kemudian ia tersenyum.
"Kamu salah..." ujar Arya kemudian menjulurkan lidah ke arah Kamala, mengoloknya.
"Memangnya dari siapa?" tanya Kamala.
"Dari Iswan." jawab Arya memperlihatkan nama si pemanggil yang tertera pada layar gawai ke hadapan Kamala. "Kamu kalah, Miss Marvel. Kau harus mengikuti apa kemauanku."
"Hei, sejak kapan kita taruhan?" protes Kamala.
"Sejak tadi." jawab Arya seenaknya.
"Enak saja kamu bicara, Schnucky!" sembur Kamala sembari berdiri dan hendak berlalu.
"Hei, mau kemana?" tanya Arya.
"Balik ke ruanganku. Minat makanku sudah hilang gara-gara ucapanmu itu." ujarnya dengan angkuh lalu berbalik melangkah meninggalkan Arya yang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
...*****...
Sore itu, seperti biasanya. Lepas kerja kantoran, Arya melesatkan All New Avanza hitamnya ke kafe yang biasa dikunjungi Iswan bersama gundik-gundiknya.
Kendaraan itu berhenti tepat didepan kafe itu. Arya keluar dari mobilnya dan melangkah santai memasuki kafe.
Kafe itu tidak seramai malam. Hanya beberapa pengunjung yang sebagiannya para warga sosialita, menghabiskan waktu sore mengobrol ngalor-ngidul tentang apa saja.
Iswan duduk ditempat favoritnya, tanpa ditemani gundik-gundiknya. Arya merasa heran sebab biasanya Si Cassanova selalu berada disana ditemani betina-betina nafsunya itu.
"Sudah lama menunggu?" tanya Arya yang kemudian duduk disamping lelaki itu.
Arya kemudian memesan minuman kepada pelayan kafe tersebut. Setelah itu ia kembali menatapi Iswan yang sementara asyik menyeruput kopi kesukaannya.
"Ada apa kau memanggilku kesini?" tanya Arya.
"Apa kau sudah menemukan Schnecke?" pancing Iswan menyebut istilah yang pernah mereka gunakan untuk menyebut orang yang mereka targetkan.
"Jangan sebut dia Schencke, Iswan." pinta Arya menggerutu.
Iswan tertawa pelan. "Kenapa? Bukankah kau yang menamainya dengan istilah itu? Masih ingat, kan?" ungkitnya.
"Aku menyesal memberinya nama itu." ujar Arya.
"Tak ada salahnya dengan nama itu, Arya." ujar Iswan.
"Jangan sebut lagi perempuan itu Schnecke, Iswan. Dia punya nama..." tuntut Arya.
"Okey, okey... fine... jangan marah." ujar Iswan sembari mengangkat tangannya. Arya kembali mendengus menegaskan kemarahannya. Iswan tersenyum lagi.
"Kau sudah menemukan Schne... maksudku, Muzdalifah?" tanya Iswan seraya mengangkat alisnya sebelah.
Arya menghela napas. "Aku menemukannya..."
"Terus?" desak Iswan.
"Dia melarikan diri... dia tak mau menemuiku." sambung Arya lagi.
Seketika Iswan tertawa lalu menyeruput lagi kopi kesayangannya. Arya memandang lelaki itu dengan kesal.
"Kayaknya... kau senang sekali mendengar dia tak mau menemuiku." tukas Arya.
Tak lama kemudian pelayan datang membawa baki berisi segelas kopi dan cemilan. Kedua hidangan itu diletakkan dihadapan Arya. Lelaki itu berterima kasih dan pelayan itu mengangguk dengan santun lalu meninggalkan kedua lelaki itu disana.
Iswan menyeruput lagi kopi dan berujar. "Terang saja dia tak mau menemuimu. Trauma itu masih tercetak jelas di memori otaknya, Arya!" tandas Iswan lalu tertawa lagi. "Aku menjamin kau akan sia-sia melaksanakan niatmu itu."
"Aku tak akan menyerah." tandas Arya dengan tegas. "Aku yakin, selama niatku baik, ia akan menemuiku."
"Seyakin itukah?" sindir Iswan.
Arya mengangguk-angguk lalu mengambil gelas dan menyeruput isinya. "Lagipula... besok, aku akan kembali kesana."
"Kemana?" tanya Iswan lagi.
"Ke kedai, dimana dia bekerja." jawab Arya.
"Dimana itu?" tanya Iswan.
Arya mengernyitkan alisnya. "Wah... mengapa kau tanyakan hal itu?" selidik Arya dengan curiga. Iswan hanya tersenyum saja.
Arya mendengus dan menyeruput kopinya lalu bangkit seraya merogoh saku, mengeluarkan dompet. Ia mengeluarkan selembar lima ribuan dan meletakkan uang itu di meja.
"Kutraktir kau minum." ujar Arya dengan ketus lalu melangkah pergi.
"Kudengar Anya sudah pulang." ujar Iswan.
Arya sejenak berhenti. Iswan kembali berujar. "Sampaikan salamku."
"Sampaikan saja sendiri." ujar Arya lalu kembali melangkah pergi.
Iswan terkekeh dan mengambil gawainya kemudian memencet nomor. Ia menghubungi seseorang.
📲 "Halo?" sahut seseorang dari seberang.
📲 "Amati terus segala perilaku Arya dan kabarkan padaku." ujar Iswan kemudian memutuskan pembicaraan seluler lalu kembali menyeruput kopi kesukaannya. Ia mendesah.
Aaaahhhhh.... jangan terlalu senang dulu, Arya. Kartumu di tanganku....
Kedua tatapan Iswan mengisyaratkan kelicikan.[]