SCHNUCKY

SCHNUCKY
KECURIGAAN



Kanit Reskrim Polsek Paguyaman, AKP. Sutrisno Koyo, S.I.K bersama Trias dan Arya mengunjungi lagi kedai yang menjadi TKP pembunuhan itu. Arya sendiri merasakan perutnya mual menatap tempat pembunuhan itu. Seakan-akan masih segar dalam ingatan para pembunuh itu membantai Syaifulhadi dan Koni Kumaat, beserta genangan darah yang membanjiri lantai.


Trias melirik wajah Arya yang menampakkan wajah ngeri yang berupaya disembunyikan. Sutrisno melangkah mendekati kursi dimana mendiang Koni Kumaat duduk.


"Lelaki Minahasa itu duduk disini sedangkan pemilik kedai itu duduk disana," tutur Sutrisno menunjuk sebuah kursi yang tergeletak beberapa senti dari kursi yang diduduki Koni Kumaat. "Keduanya tewas dengan menggenaskan."


"Aku sudah melihat potretnya." ujar Trias kemudian tersenyum. "Sadis juga ya?"


Arya mengangguk. "Aku tak menyangka mereka tewas dengan cara seperti itu."


Trias tersenyum. Nggak ada apa-apa dibanding yang dilakukan Chiyome... ujarnya membatin lalu menghela napas. Trias menatap Sutrisno.


"Bagaimana perkembangan kasusnya? Ada sedikit kemajuan?" tanya Trias.


Sutrisno hanya tersenyum hambar. Trias langsung paham arti senyuman tersebut. Lelaki itu kembali mengangguk dan menggerataki seluruh ruangan itu. Trias berjalan-jalan sembari terus menatapi keseluruhan ruangan itu hingga ke sudut-sudutnya.


Trias menatap Arya. "Ada sesuatu yang hendak kau sampaikan kepadaku?"


Arya menatapnya dan Trias kembali mengangguk. "Apa saja..." tambahnya mengembangkan tangan.


Arya menghela napas. "Ijinkan aku meninggalkan tempat ini." pintanya.


"Kemana?" tanya Trias.


"Maaf... hal ini bersifat pribadi." jawab Arya dengan senyum tak nyaman.


Trias mengangguk mengizinkan. Arya berbalik meninggalkan lokasi itu. Langkahnya terayun keluar dari kedai. Arya melangkah memutar ke jalan setapak yang mengarah ke pepohonan pisang yang bercampur pepohonan lainnya.


Langkah lelaki itu berhenti disebuah petak tanah yang diatasnya berdiri sebuah rumah yang tak ditempati lagi. Arya melewati pekarangan itu hingga akhirnya menemui sebuah petak yang dihampari dua buah kuburan.


Arya mengerutkan dahi melihat sebuah kuburan baru yang kelihatannya belum terlalu lama. Arya menatapi nama yang terpahat pada insan.


Ningsih? Siapa dia?


Arya kemudian mengambil gawainya dari saku dan menghubungi Sakera. Beberapa saat itu menunggu panggilan itu dijawab hingga akhirnya terdengar suara lelaki yang dikenalnya keluar dari perangkat audio speaker gawai itu.


📲 "Ya, Arya..." seru suara lelaki diseberang.


📲 "Aku mau tanya kepadamu." tukas Arya, "Siapa perempuan yang nisannya disamping pusara anakku?" tanya lelaki itu.


📲 "Itu kerabatku." jawab Sakera.


📲 "Beberapa hari yang lalu." jawab Sakera. "Sudahlah, jangan ganggu kerabatku itu. Biarkan dia beristirahat dengan tenang disana." pungkas Sakera dengan sedikit ketus.


📲 "Baiklah..." sahut Arya mengalah. "Apakah kau menemukan berita tentang Muzdalifah?"


📲 "Kupikir penculik itu menghubungimu." balas Sakera menukas. "Aku sama sekali tak dihubungi oleh mereka."


📲 "Jika ada perkembangan, tolong hubungi aku." pinta Arya.


📲 "Okey..." jawab Sakera sembari mengakhiri pembicaraan seluler itu. Arya akhirnya menyelipkan gawai itu kedalam kantongnya.


Arya kembali melangkah mendekati kuburan kecil itu dan berjongkok disisinya. Dibelainya tanah kuburan itu dan sebersit senyum muncul di bibir lelaki itu.


"Bagaimana kabarnya, nak?" sapa Arya dengan lirih. "Maafkan Papa... baru kali ini Papa menyambangimu. Mamamu sekarang entah dimana... penculik itu sampai sekarang tak pernah menghubungi Papa..." desah Arya dengan lesu.


Lelaki itu lama menatapi gundukan kuburan itu dan tangannya memegang nisan kuburan tersebut agak meremas.


"Apakah ini anakmu?" tanya seseorang yang langsung membuat Arya menoleh menatap si pemilik suara itu.


Trias melangkah mendekat dan akhirnya jongkok disisi Arya, ikut memandangi pusara itu. Arya kembali pula menatapi pusara kecil tersebut.


"Sebuah kesalahan masa lalu." jawab Arya dengan pelan.


"Ibunya?" tanya Trias tanpa menoleh.


"Sekarang dalam pencarian Anda." jawab Arya lagi membuat Trias terlonjak sedikit dan menatap Arya.


"Muzdalifah?" desisnya dengan lirih.


Arya mengangguk. Trias kembali menatap pusara kecil itu sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke pusara yang besar. Sebuah nama yang tertera pada nisan membuatnya memicingkan mata sejenak.


"Itu saudari Anda atau kerabat?" tanya Trias tiba-tiba.


Arya menggeleng. "Itu kerabat dari Sakera yang belum lama ini wafat dan dimakamkan disini."


"Ini tanah miliknya?" selidik Trias dengan wajah yang dibuat sesantai mungkin.


"Ini tanah perdikannya." ujar Arya membuat Trias tersenyum saat Arya mengemukakan kalimat sarkas itu. Tanah perdikan hanya ada dijaman kerajaan hingga masa penjajahan. Tidak ada lagi hak istimewa semacam itu sebab seluruh tanah yang tersebar di wilayah Republik Indonesia dikenakan pajak.


Trias kembali menatap nama yang tertera di nisan itu, mengingatkan dirinya akan sebuah nama yang sempat diungkap saat olah TKP di wilayah Leato dilakukan. Sebuah syak wasangka menyelundup kedalam benaknya.[]