SCHNUCKY

SCHNUCKY
PAKAIAN SIAPA???



Ruslan mengemudikan All New Avanza hitam milik putranya dijalanan sementara Arya memilih duduk dibangku tengah. Mirnawati sendiri memilih duduk disisi suaminya. Dalam perjalanan balik menuju kediaman itu, Mirnawati masih saja mengungkit soal kemesuman yang diungkapkan oleh suaminya diruangan VIP siang itu.


Ruslan kembali menjelaskan. "Itu kan sudah hal yang alamiah, Ma. Saya kasih contoh lagi. Mama tahu binatang Panda, kan?"


"Ya semua juga tahu, yang namanya Panda ya, gimana." sela Mirnawati dengan sewot.


"Mama tahu nggak kenapa komunitas Panda makin langka?" pancing Ruslan.


"Ya, karena sering diburu. Apa lagi?" jawab Mirnawati sekenanya.


"Salah Ma. Nggak ada pemburu yang tertarik memburu Panda." jawab Ruslan.


"Lalu? Kenapa mereka bisa langka?" tanya Mirnawati.


"Karena reproduksinya..." jawab Ruslan.


"Kenapa dengan reproduksinya? Apakah karena Panda hanya melahirkan seekor anak saja dalam setahun?" tanya Mirnawati.


"Bukan itu, Ma." sanggah Ruslan sambil terus memperhatikan jalanan yang ramai oleh kendaraan yang berseliweran.


"Habis? Apa dong?" tanya Mirnawati.


"Panda sangat susah berkembang biak karena jantannya sangat polos, nggak tahu caranya kawin. Mesti diajari dulu." jawab Ruslan lalu tertawa.


"Ah, yang benar saja!" seru Mirnawati tak percaya.


"Yang dibilang Papa itu benar, Ma." tambah Arya lagi.


"Arya! Kamu diam saja." sergah Mirnawati dengan ketus.


"Mama ini diberitahu yang benar malah nggak percaya." ujar Arya dengan kesal.


"Eh, Mama suruh diam kamu bukan untuk membahas panda yang nggak tahu caranya kawin. Tapi supaya kamu lebih rileks supaya bisa cepat sembuh! Tahu nggak?!" balas Mirnawati memelototkan matanya dengan marah.


Arya kembali diam dengan senyum masam. Ruslan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil terus mengawasi jalan raya.


"Besok, kamu cuti sementara ya?" pinta Ruslan.


"Tiga hari saja ya Pa?" ujar Arya memelas.


"Nggak. Cutinya dua pekan. Kamu kerja saja dari rumah... work from home, begitu." jawab Ruslan. "Nanti kalau sudah benar-benar sehat, barulah kamu kerja lagi dikantor."


"Sekalian mempersiapkan pernikahan kalian." sambung Mirnawati. "Suruh Kamala sering datang untuk jagai kamu dirumah."


"Nggak mau ah." tolak Arya. "Dia itu pegawaiku Ma. Masa mau disuruh jagai aku?" protesnya.


"Kan sebentar lagi, dia akan jadi istrimu, Arya." balas Mirnawati dengan sengit. "Pokoknya suruh dia juga cuti untuk jagai kamu."


"Kamala bukan babysitter, Ma." ujar Arya.


"Yang bilang babysitter, siapa? Kamu kan? Mama hanya ingin ia belajar untuk melayani kamu, supaya begitu resmi, nggak kagok lagi." ujar Mirnawati. "Dia kan wanita karir..." sambung wanita parobaya tersebut.


"Nanti saya hubungi Kamala." ujar Arya. "Tapi saya nggak mau maksa dia jika dia lebih fokus ke pekerjaannya."


"Woh, Mama ini biar wanita karir, masih juga bisa ngurus papamu, Arya." sahut Mirnawati. "Lihatlah Mama... bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga meskipun Mama sibuk sebagai seorang legislator."


"Tiap orang beda, Ma." sanggah Arya.


"Alah, disamakan juga pasti bisa." tandas Mirnawati dengan ketus.


Arya kembali membuang wajah menatap pemandangan lewat jendela. Ruslan sendiri kembali menggeleng-gelengkan kepala.


"Kamu tiap kali selalu geleng-geleng kepala, Pa." tegur Mirnawati. "Itu lagi ngapain? Lagi bertahlil ya?" olok wanita parobaya tersebut.


"Nggak usah maksa-maksa Arya dan Kamala, Ma." ujar Ruslan. "Sudah cukup Anya kau atur-atur jalan hidupnya. Syukur juga dia nggak membantah dan menjalani apa yang kamu perintahkan kepadanya."


"Lalu?" tanya Mirnawati.


"Arya mungkin beda gaya pemikiran dan sikapnya. Nggak boleh kamu menerapkan pendidikan yang sama pada dua orang yang berbeda sikap dan kepribadian." tegur Ruslan.


"Ah, Papa mau ikut-ikutan campuri urusan anak-anak." tukas Mirnawati dengan ketus.


Mobil akhirnya tiba dikediaman Datau-Datunsolang. Ruslan menekan klakson mobil, memberitahu kedatangan mereka.


"PEEEP.. PEEEEE...PPPP..


Tak lama kemudian Anya keluar setengah berlari menuju pagar dan menggesernya. Kendaraan itu akhirnya masuk ke dalam halaman rumah. Ruslan mematikan mesin mobil dan keluar dari kendaraan itu, disusul Mirnawati dan Arya yang juga keluar dari mobil.


"Ma, paketnya sudah saya taruh di meja sofa diruang keluarga." ujar Anya.


Mirnawati mengangguk. Ruslan menatapi putrinya.


"Aduh, anaknya Papa yang cantik ini... mau kemana?" tanya Ruslan dengan senyum.


"Oooo... ke kondangan, Pa." jawab Anya dengan sikap manja.


"Ini.... baju siapa yang kau pakai?!" tanya Mirnawati tiba-tiba sambil memelototi pakaian yang dikenakan Anya.


"Milik Anya sendiri, Ma." jawab Anya kemudian berputar-putar mirip peragawati.


"Ih, kok begitu sih responnya Mama?" tukas Anya dengan alis berkerut. "Mama nggak senang, kalau Anya pakai pakaian tertutup? Kan Mama dulu selalu protes kalau Anya pakaiannya agak terbuka?"


"Iya, Mama tahu." ujar Mirnawati lagi, "Tapi tetap saja gayanya kampungan sekali." cerocos wanita parobaya tersebut membuat Arya dan ayahnya langsung memperlihatkan wajah masam kearah Mirnawati.


"Belinya dimana nih?!" tanya Mirnawati lagi.


Tapi Anya memilih tak meladeni pertanyaan ibunya. Perasaan gadis itu terlanjur ilfiil dan speechless sebab tak menyangka mendapat respon yang diluar ekspektasinya. Gadis itu menatap Arya.


"Kak, pinjam mobilnya dong." ujar Anya menengadahkan tangan kearah Arya.


Ruslan yang sejak tadi menggenggam kunci mobil langsung memberikannya kepada putrinya. "Jangan pulang malam ya?" pesannya.


Anya mengangguk santun lalu berbalik menuju All New Avanza hitam yang terparkir dihalaman.


"Ya, inilah dia, ibu-ibu pengajian dari kampung sebelah..." sorak Mirnawati mengolok putrinya yang sementara membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.


Sementara Arya dan Ruslan yang malas memilih melepaskan penatnya. Ruslan langsung masuk kedalam rumah sedangkan Arya masih duduk diberanda.


Anya menyalakan mesin kendaraan dan Mirnawati yang belum puas menyoraki putrinya, berulah lagi.


"Duuuh... baju gaya pengajian kampung masih dipake saja?" seru Mirnawati sengaja mengeraskan suaranya sembari berbalik dan melangkah memasuki beranda. "Kasihan sekali anakku, fashion gaya kampungan begitu. Perasaan dari dulu, fashion keluarga kita bagus-bagus saja. Nggak ada yang macam begini."


Anya sakit hati juga disindir seperti itu. Sebelum mengemudikan All New Avanza hitamnya keluar dari halaman, ia menjawab.


"Nggak usah bicara. Nggak ada yang minta komennya Mama." cetus Anya.


"Kurang ajjjaaar yaaa?!" seru Mirnawati membalik namun Anya sudah keburu melarikan All New Avanza hitam itu meninggalkan kediaman.


Akhirnya Mirnawati hanya mencak-mencak sendirian sambil masuk kedalam rumah. Arya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala lagi melihat tingkah ibunya. Mirnawati memang selalu tidak sepaham dengan sikap putrinya, namun Anya tetap saja selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ibunya.


Mirnawati memang berwatak tegas dan arogan. Itu adalah pembawaannya yang paling khas dan itulah yang menyebabkan ia bisa meraih kursi di jajaran anggota DPRD. Selain itu ia memang bermulut pedas jika bicara tentang sesuatu yang tak sesuai dengan keinginannya.


Meskipun begitu, rakyat tetap saja memilihnya karena bagi mereka, mungkin kepedasan tutur kata Mirnawati bisa ditolerir karena ia selalu membela hak-hak mereka. Mirnawati bahkan berani bersitegang dengan pejabat jika memang hal tersebut berurusan dengan kepentingan rakyat. Masih banyak yang berdiri dibelakangnya.


Adapun Anya, sekilas ia bisa dibilang pemberontak. Berbeda dengan Arya yang penurut. Anya juga tak segan konfrontasi dengan sang ibu jika ada ketidak adilan yang ia rasakan dalam pengasuhan ibunya itu. Tapi pada dasarnya ia seorang yang sangat menyayangi ibunya.


Arya sebenarnya tahu bahwa keinginan Anya setelah lulus dari sekolah menengah adalah melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Gorontalo, mengambil jurusan agribisnis di fakultas ilmu pertanian. Tapi sang ibu justru mendahului sang putri dengan mendaftarkannya di sekolah kedinasan melalui jalur online sejak Anya duduk dibangku kelas 12, hanya karena gadis itu memilih jurusan IPA.


Anya, meskipun seorang gadis yang luarnya tomboi dan andro serta menyukai pakaian-pakaian junkies, akhirnya patuh dan mengikuti keinginan ibunya. Ia berhasil lulus dalam seleksi dan sedikit lagi meraih gelar Sarjana Terapan (S.Tr) dibidang Analisi Kriptologi.


Meskipun terkesan bebas, Anya justru sangat menjaga dirinya dan tak pernah sekalipun menjajaki dunia pacaran. Anak itu kelihatan dingin, dan makin nampak sangar dengan tubuhnya yang berbentuk sebab melatih fisiknya di gym pribadi maupun sasana kampus. Apalagi dia seorang renshi. Tidak ada lelaki yang akan berani mendekati tanpa seijinnya.


Arya mendesah panjang dan meraih handphone dari dalam sakunya, kemudian menghubungi Kamala. Tak lama kemudian, panggilannya dijawab.


📲 "Halo?" sapa Kamala.


📲 "Assalamualaikum...." balas Arya dengan pelan.


📲 "Wa alaikum salam..." sahut Kamala lalu tertawa dan menyambung, "Maaf... nggak salam tadi."


Arya tersenyum.


📲 "Nggak apa-apa." jawabnya. "Kebiasaan memang sukar untuk dirubah." sambungnya.


📲 "Bagaimana keadaanmu, Schnucky?" tanya Kamala dengan suara yang lembut.


📲 "Alhamdulillah, aku sudah balik ke rumah." jawab Arya.


📲 "Oh ya?" pekik Kamala dengan senang. "Alhamdulillah... berarti kamu sudah bisa masuk besok ya?"


📲 "Nggak." jawab Arya.


📲 "Yaaaaah..." desah Kamala dengan kecewa.


📲 "Aku mau ambil cuti seminggu untuk rehat." ujar Arya. "Sekalian aku mau memastikan apakah perayaan pernikahan kita akan berjalan dengan lancar."


📲 "Aku nggak suka pernikahan besar-besaran." ujar Kamala. "Yang sederhana saja. Yang penting, sakralnya itu."


📲 "Kalau yang itu, kayaknya Mama nggak setuju lho." ungkap Arya.


📲 "Ini yang mau nikahan kamu atau mamamu, sih? Bikin repot saja." gerutu Kamala.


📲 "Pokoknya kamu nggak usah kuatir." ujar Arya. "Aku yang akan persiapkan semuanya."


📲 "Besok, aku ke rumah ya?" pinta Kamala.


📲 "Justru itu yang mama mau." sahut Arya. "Beliau mau kamu turun langsung merawat aku."


📲 "Ooo... ini kayak seleksi calon mantu nih." celetuk Kamala lalu tertawa.


📲 "Aku tunggu besok ya?" ujar Arya, "Assalamualaikum...."


📲 "Wa alaikum salam, Schnucky..." balas Kamala kemudian memutuskan percakapan seluler tersebut.


Arya menyimpan handphone itu disakunya dan ia kemudian bangkit masuk ke dalam rumah.[]