SCHNUCKY

SCHNUCKY
MENCARI SESUATU YANG TAK KEMBALI



Arya mengangguk-angguk sejenak sementara Iswan mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Ia mengambilnya sebatang dan menjejalkan batangan tembakau itu ke bibirnya.


"Aku mau bilang sesuatu." ujar Arya.


Iswan hanya menggumam sambil menyalakan rokoknya.


"Aku akan menikah dalam tiga minggu ini." ujar Arya.


Iswan menyedot rokoknya dan menghembuskan asap dari bibirnya. Lelaki itu kemudian tersenyum dan menatap presdir tersebut.


"Bagus untukmu." komentar Iswan. "Siapa calon iparku itu?"


"Bawahanku di HRD." jawab Arya.


Iswan mengangguk-angguk. "Kau memang harus segera menikah." komentar Iswan lagi. "Setidaknya kau tidak akan uring-uringan mencari seseorang yang telah mati."


"Jika Muzdalifah yang kau pikirkan telah mati, kurasa kau salah, Iswan." bantah Arya.


Iswan terkekeh. "Aku memganggapnya telah mati. Aku nggak mau menganggapnya hidup, Arya." lelaki itu memajukan tubuhnya. "Kau tahu Arya?" desisnya dengan lirih. "Dosa kita kepadanya itu besar dan aku tak mau dia hidup lalu mengganggu ketenangan hidupku, meminta pertanggungjawaban dari segumpal ****** yang sama-sama kita tumpahkan dirahimnya, delapan tahun yang lalu!" desisnya dengan ketus lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Aku tak akan menyeretmu, Iswan. Kau tenang saja." ujar Arya menenangkan temannya yang gugup itu.


"Ya, aku tahu." ujar Iswan. Lelaki itu menuding-nudingkan ujung batang rokoknya yang membara ke hadapan Arya. "Tapi dengan kau menyambanginya, tentu akan terungkit kembali hal tersebut dibenaknya. Apa kau pikir dia akan merelakannya? Kita sudah memperkosanya dua kali Arya! Dua kali! Bergiliran lagi!" ungkit Iswan dengan lirih.


Arya terdiam. Iswan kembali memajukan tubuhnya.


"Haruskah kuceritakan kembali kepadamu kisah kita itu?!" tukas lelaki tersebut.


Iswan tak perlu menceritakannya. Arya sendiri membangkitkan memori brengsek itu dalam benaknya. Peristiwa delapan tahun lalu di SMU Prasetya tersebut.


...******...


Setelah insiden pemerkosaan gangbang itu, Iswan mengirimi Muzdalifah foto-foto tak senonoh dirinya yang dijepretnya sebelum meninggalkan kost gadis itu. Seminggu lamanya Muzdalifah tak masuk sekolah. Namun seminggu kemudian....


Iswan bersiut meminta perhatian Arya dan Rudi yang sementara saling mengundi untuk bisa menjewer telinga masing-masing lawannya jika suten-suten jari yang mereka mainkan menang.


Arya menoleh menatap Iswan. Pemuda itu menganggukkan kepalanya ke arah gerbang. Keduanya menatap seorang jilbaber yang berdiri menatap bangunan sekolah dengan pandangan cemas sedang lelaki parobaya yang kemungkinan adalah ayah gadis itu tetap berdiri disisinya.


"Dia muncul lagi, dunk." ujar Iswan.


Rudi menoleh menatap gerbang. "Astaga... nggak kapok juga dia ya?" tambah pemuda itu dengan lirih.


"Apakah dia mau membeberkan pemerkosaan itu kepada ayahnya?" gumam Arya dengan tatapan datar tapi dalam hatinya cemas.


"Bisa jadi." jawab Rudi.


"Apakah dia tak merespon apapun dari gambar-gambar yang kau kirimkan?" tanya Arya kepada Iswan.


Iswan menggeleng-gelengkan kepala sambil terus menatapi gerbang sekolah. Nampak keberadaan dua orang target tatapannya itu tersamarkan oleh beberapa gerombolan siswa-siswa yang berseliweran memasuki sekolah.


"Nanti kucari tahu..." ujar Arya.


Mereka bertiga mengamati Muzdalifah yang melangkah memasuki sekolah. Ketiganya melangkah menyusul menyeberangi jalan dan masuk pula ke sekolah. Tepat disaat itu terdengar deringan bel masuk.


...****...


Mereka bertiga hari itu tiba-tiba saja berubah layaknya intel yang terus-terusan mengamati kelas dimana Muzdalifah berada.


Rudi mengamati arloji dan menggumam. "Sudah hampir jam pulang nih." gumamnya dengan lirih.


"Kau meyakinkan kalau sehari ini, Schnecke nggak ke kantin?" tanya Iswan.


"Nggak..." jawab Arya.


Tak lama kemudian deringan bel pertanda kegiatan pembelajaran telah selesai, terdengar jelas. Seketika berhamburanlah semua siswa-siswa dari dalam kelas, mirip dengan rombongan hewan-hewan ternak yang keluar dari kandangnya.


Mereka bergerombol menyesaki koridor menuju lorong besar yang mengarah ke gerbang sekolah, mirip jamaah haji yang melakukan ibadah Sa'i, bedanya tujuan perjalanan mereka adalah dari sekolah menuju ke rumah masing-masing.


"Bro... aku nggak melihat Schnecke diantara mereka." seru Iswan.


Arya ikut-ikutan mengamati satu demi satu para peserta didik itu dan ia membenarkannya. Muzdalifah tak nampak diantara mereka.


Dimana perempuan itu?


"Celaka! Celaka!" seru Rudi menunjuk-nunjuk ke arah ruangan guru.


Arya mengikuti arah yang ditunjukkan Rudi lalu terkejut bersama-sama dengan Iswan, menyadari bahwa Muzdalifah masuk ke ruangan itu.


"Gawat! Gawat!" seru Rudi. "Dia pasti melaporkan pemerkosaan yang kita lakukan seminggu yang lalu, kepada para guru!" tukasnya dengan panik.


"Tenang, Rud! Tenang!" sergah Iswan.


"Aku akan memeriksanya." ujar Arya pada akhirnya. "Kalian tunggu aku di gudang sekolah."


"Bagaimana caranya kau masuk ke ruangan guru?" tanya Iswan.


"Ada aja..." kilah Arya dengan senyum dan mengedipkan matanya.


Pemuda itu meninggalkan Iswan dan Rudi yang saat itu juga bergerak ke gudang sekolah. Arya tiba diruangan guru. Ia melongokkan kepala mengamati ruangan tersebut.


"Ada apa Arya?" tanya seorang guru.


"Eh, ini Pak..." ujar Arya. "Apa boleh saya ketemu dengan Ibu Rahayu?" tanya pemuda itu.


"Oooh... Ibu Rahayu kayaknya ada kepentingan sedikit. Dia lagi keluar." jawab guru lelaki itu. "Memang ada apa?"


"Cuma mau diskusi tentang urusan kegiatan siswa saja Pak." kilah Arya.


"Tadi saya lihat ada seorang siswa yang masuk kemari." ujar Arya.


"Oooh... itu Muzdalifah. Dia sedang berdiskusi dengan Pak Basyir." jawab guru lelaki tersebut.


Arya mengangguk-angguk saja lalu melangkah menuju kubikel milik Ibu Rahayu.


Kubikel milik Ibu Rahayu memang bersebelahan benar dengan ruangan kepala sekolah. Jadi sangat strategis untuk menguping pembicaraan. Arya mulai duduk dikursi dan mendengarkan percakapan keduanya.


Terdengar suara bariton sang kepala sekolah. "Apa tak menyesal kamu berhenti sekolah, Ifah?" tanya Pak Basyir. "Apa kamu nggak kerasan disini?"


Setelah itu senyap lagi. Arya tak bisa mendengar apa yang dicakapkan Muzdalifah kepada Pak Basyir.


"Kamu nggak sayang dengan beasiswamu itu?" terdengar lagi suara Pak Basyir. "Ingat, Ifah. Abahmu, nggak akan mampu membiayai sekolahmu. Kamu lebih paham beliau ketimbang saya. Apa kau tak kasihan dengan Abahmu?"


Kemudian senyap lagi.


"Ifah. Saya sebagai sahabat ibumu, nggak tega benar membiarkan kau mengundurkan diri dari sekolah ini. Kau anak berbakat, Ifah. Jangan kecewakan saya." pinta Pak Basyir.


Kemudian senyap lagi.


Tak lama kemudian terdengar suara Pak Basyir. "Saya berikan kamu waktu untuk menimbang-nimbang keputusan itu. Jangan sia-siakan masa depanmu Ifah. Aku sendiri telah berjanji kepada Ibumu untuk bisa mengangkat derajatmu. Dan ingatlah Abahmu... hanya itu saja."


Arya langsung bangkit dan melangkah cepat meninggalkan kubikel itu.


"Eh, mau kemana kamu?" tanya guru lelaki itu. "Nggak jadi mau ketemu Ibu Rahayu?"


"Lain kali saja pak. Saya juga masih punya urusan lain." kilah Arya langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


Arya memutuskan menunggu Muzdalifah dilorong menuju gerbang. Tak lama kemudian jilbaber itu muncul.


Langkah Muzdalifah sejenak terhenti menyadari orang yang ingin dihindarinya berdiri dilorong itu. Gadis itu seakan tak mampu mengendalikan dirinya lagi dan mematung disana sedangkan Arya melangkah santai mendekati gadis itu.


"Ikut aku..." ujar Arya.


Muzdalifah tetap saja mematung dan menunduk. Dengan kesal, Arya menggenggam pergelangan tangan gadis itu dan menyeretnya melangkah menjauhi lorong.


"Saya mau dibawa kemana, Kak?" tanya Muzdalifah dengan gemetar.


"Diam!" sergah Arya dengan lirih dan ketus.


Mereka berdua tiba di depan gudang yang pintunya menguak sedikit. Arya memaksa Muzdalifah masuk kedalam gudang itu.


Muzdalifah terkejut menyadari Rudi dan Iswan juga ada disana. Gadis itu hendak berbalik namun tubuh Arya menghalangi jalannya. Pemuda itu mendorongnya hingga Muzdalifah terjejer beberapa langkah ke belakang.


Iswan menutup pintu gudang dan ia lalu mengepung Muzdalifah bersama-sama Rudi.


Muzdalifah hanya bisa berdiri mematung, wajahnya menunduk dalam dan ketiga pemuda itu benar-benar menyadari bawah tubuh gadis itu gemetaran. Kedua tangannya menggenggam erat tali tas selempangnya pertanda ia berupaya melawan rasa takutnya.


"Kamu berani juga ya, Schnecke?" ujar Iswan setengah berbisik.


"Kak... s-saya nggak m-mau lagi b-berurusan d-dengan k-kalian... biarkan s-saya pergi." ujar Muzdalifah dengan lirih dan gemetar.


"Enak saja!" sergah Iswan.


"K-kak... b-biarkan s-saya pergi..." pinta Muzdalifah memelas dengan wajah yang menunduk dan tubuh yang gemetar.


"Hohhoho.... nggak bisa begitu." tolak Iswan.


Muzdalifah, yang mungkin tak bisa membujuk mereka lagi memilih maju hendak menerobos tubuh Arya. Namun ukuran tubuhnya yang langsing itu tak sebanding untuk bisa mendorong tubuh seorang pemuda bertubuh proporsional.


Arya maju mendorong Muzdalifah hingga jilbaber itu terjungkal dilantai. Ketiga pemuda itu mulai mengerubutinya.


"Toloooong..." teriak Muzdalifah sekuat tenaga.


Dengan tangkas Arya maju membekap mulut Muzdalifah. Gadis itu meronta-ronta berupaya melepaskan diri.


"Diam! Kubilang diam!" sergah Arya.


Tapi Muzdalifah justru makin memberontak. Dengan kesal Iswan maju menarik tubuh Muzdalifah agar berdiri dan tiba-tiba pemuda itu maju menghantamkan tinjunya ke wajah Muzdalifah.


Muzdalifah berteriak kesakitan dan jatuh menimpa tubuh Arya yang berlutut menangkap gadis itu.


"Gadis brengsek! Kau mau ribut-ribut ya?!" sergah Iswan dengan kalap.


Iswan mencengkeram rahang Muzdalifah. Dengan beringas ia berkata, "Kamu tahu, Schnecke? Aku suka gadis pemberontak!"


"Tolong kak..." sedu Muzdalifah. "Lepaskan saya..." pintanya memelas ditengah rahangnya dicengkeram keras oleh Iswan.


Iswan justru terkekeh. "Kau salah besar. Aku justru mau kau puaskan milikku ini dengan mulut lancangmu itu. Buka!!!" sergah Iswan dengan kalap.


Muzdalifah yang merasa perjuangannya sia-sia tak bisa lagi berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melawan dalam sanubari segala perlakuan mereka yang menyakitkan sukmanya.


Setelah melampiaskan kemarahan mereka, Iswan menatap Muzdalifah. "Kau sudah merasai akibat perbuatanmu sendiri kan?" ujar pemuda itu menampar-nampar pelan pipi Muzdalifah.


"Sebaiknya kau keluar dari sekolah ini, dan jangan sekali-kali kau mengadu tentang hal ini kepada siapapun." ujar Iswan mengancam.


Muzdalifah kembali menunduk dan tubuhnya terguncang-guncang.


"Kau menangis Schnecke?" tukas Iswan lalu terkekeh. "Itu bagus. Berarti kau sadar kalau kau nggak cocok disini. Tinggalkan sekolah ini. Pergilah dari kehidupan kami."


Muzdalifah tetap menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Dengarkan aku." ujar Iswan mengeluarkan kata-kata menghina. "Jika kulihat lagi kau di sekolah ini lagi. Akan kubuat kau menyesal dilahirkan ke dunia. Paham?!" ancamnya lalu berdiri dan melangkah santai meninggalkan gudang.


Arya dan Rudi menyusul Iswan meninggalkan Muzdalifah yang menangis sesenggukan sendirian di gudang itu. []