SCHNUCKY

SCHNUCKY
TANTANGAN UNTUK SEBUAH HARAPAN



"Sudah cukup." ujar Arya dengan ketus dan menyorongkan piring-piring hidangan itu ke tengah meja kemudian menatapi ketiga lelaki yang duduk dihadapannya.


"Sebelumnya aku hendak memastikan dulu." ujar Arya mengambil tisu kertas dari tempatnya kemudian mengelap bibirnya dan meletakkan tisu itu di piring.


"Perempuan itu bernama Muzdalifah, kan?" todong Arya memicingkan mata.


Ketiga lelaki itu saling berpandangan. Si Tole*) kemudian mengangguk. "Iyo, depe nama memang Muzdalifah. Kong kiyapa?"


Tole \= sebutan atau panggilan umum yang digunakan untuk memanggil anak laki-laki dikalangan orang Sulawesi Utara (Tidak termasuk Gorontalo). Itu adalah panggilan yang kasar. Adapun panggilan santunnya adalah Nyong, Ungke, atau Uyong.


Arya mengangguk-angguk, "Alhamdulillah, kalau memang itu namanya." ujar Arya menatapi Si Tole tersebut. "Seperti yang pernah kukatakan pada kalian di rimbunan sana kalau dia adalah mantan adik kelasku di sekolah menengah umum. Hanya saja ia berhenti di pertengahan semester."


"Kenapa dia berhenti?" tanya Si Tole.


Arya mendehem sejenak, lalu menjawab, "Aku tak bisa mengatakannya."


"Kau punya kesalahan kepadanya?" selidik si lelaki satunya yang bersenjatakan sabele. "Menilik kelakuan dia tadi, tentunya kau pasti melakukan hal yang tidak baik kepadanya pada waktu itu. Apakah perkiraan saya ini benar?!"


Arya mendehem lagi tapi tak menjawab. Si Tole langsung mendengus. "Rupanya ngana ini termasuk juga setang ye? Kuda cuki deng ngana memang!" umpat si lelaki minahasa itu.


Arya memicingkan mata menatap Si Tole dengan pandangan tak senang. "Aku tak perduli kau mengataiku apa. Tapi, aku saat ini hanya menginginkan satu hal saja."


"Apa itu?" tanya lelaki bersenjata sabele.


"Aku ingin bertemu dengan Muzdalifah." jawab Arya. "Aku harus bertemu dia."


"Untuk apa sampeyan bertemu dengan dia, kalau urusannya hanya untuk menyakiti dia lagi?!" ujar si lelaki Madura itu dengan tatapan mencorong.


"Untuk membersihkan masa lalu." jawab Arya.


"Ternyata sampeyan ini benar-benar korang ajher! Sudah melakukan kesalahan yang membuat orang lain trauma. Pate'!!!" umpat si lelaki Madura sambil berdiri dan menggenggam lagi cluritnya.


"Sopankan sedikit bahasa anda, Pak!" tegur Arya dengan nada datar dan tatapan yang dingin pula ke arah si lelaki Madura. "Sehina itukah saya dimatamu?!"


"Coloknah jereyah!!! Sampeyan yang harus perhalus budi bahasa! Jancouk!!!" balas lelaki Madura itu mengumpat lagi.


"Diamlah Sakera!" sergah si lelaki lokal itu seraya menggebrak meja.


Sakera, nama si lelaki Madura itu terdiam juga dengan gebrakan meja itu. Si lelaki lokal kemudian menghela napas meredakan emosinya. Ia menatap Arya kembali.


"Maafkan sahabat saya ini. Dia memang bersumbu pendek. Tapi dia marah karena alasan yang benar. Jika dia mengumpat anda, itu berarti anda memang pantas untuk itu." ujar si lelaki lokal tersebut.


Arya hanya mendengus lalu menegakkan duduknya. "Saya, Arya Datau. Perkenalkan diri kalian supaya kita bisa lebih akrab untuk bicara."


Lelaki lokal itu tersenyum. "Nama saya Saifulhadi Koniyo. Tapi kau boleh memanggilku Apulu, atau Pulu saja." ujarnya memperkenalkan diri lalu memandang Si Tole disisi kirinya. "Kalau yang ini, namanya..."


"Kita bisa kase kanal kita pe diri sandiri." sela Si Tole dengan ketus dan mengulurkan tangan. "Ngana bakudapa dengan jago dari Manguni, Koni Kumaat." ujarnya dengan nada datar dan tatapan tajam.


Arya tak surut berani. Ia maju menjabat tangan lelaki minahasa itu. Sedang Apulu hanya tersenyum dan mengangguk ke arah si lelaki Madura.


"Kalau dia, tentu kau sudah tahu namanya." ujar Apulu.


Arya tersenyum. "Sakera..." ujarnya mengeja.


"Sakera Imron." ujar lelaki Madura itu dengan lantang lalu menudingkan cluritnya ke arah Arya. "Dan saya tak segan hendak carok sama sampeyan demi Muzdalifah!"


"Kamu menyukainya?" todong Arya kemudian dengan tatapan memicing.


"Sampeyan tidak usah tanya-tanya alasannya!" sergah Sakera dengan berang.


Arya kembali mendengus dan menatap Apulu. "Terus terang, niat saya memang hendak menemui Muzdalifah, atau Ifah, begitu kami memanggilnya saat dia masih sekolah."


"Dimana alamatnya?" tanya Arya. "Apakah ia tinggal di kedai ini?"


"Dia punya famili yang tinggal beberapa jarak dari sini..." jawab Apulu.


"Pertemukan aku dengannya." pinta Arya dengan penuh harap. "Aku tak akan melupakan pertolonganmu, kawan."


"Kami bukan kawanmu." ujar Apulu dengan polos membuat Arya terdiam sedangkan Koni dan Sakera justru tertawa senang melihat lelaki dihadapan mereka terdiam dengan ujaran sahabat mereka.


"Sebaiknya, ngana pi bale pulang jo, kong pi ba poro saja pa ngana pe rumah." olok Koni lalu tertawa lagi dibarengi oleh Sakera.


"Kelihatannya yang dikatakan oleh sahabat saya dari Minahasa ini, ada benarnya juga Bro." sambung Apulu dengan senyum. "Pulanglah dan pikirkan kembali keinginanmu untuk bertemu dengan Ifah."


"Aku sudah memikirkannya masak-masak." sahut Arya kembali dengan senyum. "Aku tak akan kembali sebelum aku bertemu dengan Ifah."


Seketika kedua mata Sakera maupun Koni langsung melotot penuh kemarahan.


"Rupanya sampeyan mau juga di carok?!" sergah Sakera menggertak.


"Atau mau rasa itu kabasaran? Nanti kita mo manari akan pa ngana pe muka. Kong siap-siap jo kase tu kepala pa kita heh?!" sambung Koni.


Arya tertawa pelan. Apulu mengernyitkan alisnya. "Apa kau pikir kedua temanku ini tak berani melakukannya?" pancing Apulu.


Arya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa pelan.


"Jancouk!!!!" sergah Sakera dengan amarah yang nyaris tak mampu dikendalikannya. Kedua matanya memang telah memerah dan urat-urat bersembulan dari leher dan pelipisnya.


Arya berdiri. "Jika kalian memang tidak puas untuk merobohkanku, aku mempersilahkan kalian untuk mengeroyokku diluaran sana." tantangnya sambil menunjuk bahu jalan. "Mau pakai senjata atau nggak, aku sudah nggak perduli. Kita berempat sama-sama punya senjata. Jadi... marilah jika kalian ingin."


Arya melangkah hendak pergi ketika panggilan Apulu terdengar. Lelaki itu berhenti sejenak lalu menengok menatap Apulu yang masih duduk tenang ditempatnya.


"Kenapa? Kau berubah pikiran?" tanya Arya dengan senyum mengejek.


Apulu tersenyum lalu bangkit dan melangkah mendekati Arya hingga jarak diantara mereka saling berhadapan saja.


"Atau begini saja." usul Apulu. "Jika kau memaksa, maka persoalan tidak akan selesai dan justru makin kisruh. Jadi bagaimana kalau kau kembali dahulu dan baliklah seminggu kemudian?"


"Apa jaminanmu?" tantang Arya.


"Insya Allah, Ifah akan menemui kamu." ujar Apulu.


Arya memicingkan matanya lagi. "Kau tak akan mungkir dengan janjimu?"


"Insya Allah..." hanya itu jawaban yang dilontarkan Apulu.


Lama juga Arya menimbang-nimbang usulan lelaki dihadapannya. Akhirnya Arya mengangguk lalu melangkah meninggalkan tempat itu.


Tiba-tiba Koni teringat sesuatu dan langsung menyeletuk. "Eh, dia itu belum ba bayar depe makanan kong so langsung pigi, pemai!!!" gerutunya dengan lantang.


Apulu hanya tersenyum saja lalu melangkah menuju meja kasir sambil mengeluarkan gawainya dan menekan nomor seseorang kemudian menghubunginya.


📲 "Ya, ada apa?" ujar seseorang dalam suara gawai itu.


📲 "Misi terlaksana..." ujar Apulu dengan nada datar. "Selanjutnya bagaimana?"


📲 "Tetap pada semula." jawab orang itu.


Apulu mengangguk lalu mengakhiri pembicaraan itu dan menyimpan kembali gawainya. []