SCHNUCKY

SCHNUCKY
SEPERCIK SALAM DARI SEBERANG



Trias mendengar suara dengung mesin fax yang disusul dengan melubernya berlembar-lembar kertas yang berisi tentang proses olah TKP yang dilakukan oleh Tim Forensik dan Satreskrim Polsek Paguyaman.


Reserse itu melangkah menuju meja dimana mesin itu bertumpu dan meraih sejilid penuh lembaran laporan olah TKP tersebut. Trias melepaskan kacamata Aviator dan menyisipkan benda itu dikerah kemeja belakangnya, mirip yang dilakukan oleh Chulbul P. Pandey dalam film Dabaang.


Memang postur tubuh lelaki itu mirip sedikit dengan karakter itu terkecuali wajahnya yang tidak terlalu tampan tapi memancarkan perbawa yang sangat kuat. Sebagai praktisi silat dan Langga linula Suwawa yang dipelajarinya langsung dari mendiang Bapu Ridhwan Mantulangi, membuat pancaran pesona kewibawaannya begitu memancar kuat.


Trias Eliasha Ali, adalah Kepala Unit Satuan Reserse dan Krimina di Polres Kota Gorontalo, dengan pangkat Ajun Komisaris (setingkat Kapten di karir kemiliteran) menggantikan posisi Kompol. Ekoriyadi Siregar, S.I.P, M.H yang dimutasikan ke Polda Sumatera Utara, kembali ke kampung halamannya.


Trias membaca deretan kalimat dalam laporan olah TKP. Beberapa saat ia menarik napas. Setelah itu ia membawa berkas itu ke meja kerjanya. Setelahnya, ia melangkah keluar dari ruangannya dan melangkah menyusuri koridor kantor tersebut.


Didepan kantor ia melangkah santai menuju lahan parkir dimana kendaraannya, Maung hitam terparkir. Baru saja ia menggapai gagang pintu, terdengar langkah cepat mendekatinya.


Trias menoleh memandang seorang bintara mendekatinya. Lelaki itu berdiri siap menerima laporan.


"Ada apa Opsir?" tanya Trias dengan datar.


"Anda mau kemana Pak?" tanya bintara itu.


"Aku mau istirahat sebentar." jawab Trias memperlihatkan arloji yang melingkari pergelangan tangan kekarnya. "Mungkin jam dua, saya balik ke kantor."


"Apa Bapak mau kutemani?" tanya bintara itu.


Trias tersenyum. "Nggak usah. Kau lakukan saja tugasmu." ujar lelaki itu lalu meraih gagang pintu kendaraan dan membukanya lalu masuk kedalam. Tak lama kemudian Maung hitam itu meluncur meninggalkan kantor Polres Kota Gorontalo.


Waktu telah menunjukkan pukul 12.05 p.m.


...****...


Arya mengantar Anya ke Bandara Udara Djalaludin Gorontalo. Gadis itu mengambil penerbangan siang sedang waktu telah menunjukkan pukul 12.07 p.m.


Kedua orang itu sudah menunggu ditempat penantian untuk menanti pesawat udara yang akan memberangkatkan mereka.


"Hubungi kami saat kau tiba di Bogor nanti." pesan Arya.


Anya hanya mengangguk.


"Mama sangat membutuhkan kabarmu disana." tambah Arya.


Anya kelihatannya tidak memperhatikan ucapan kakaknya. Arya mengerutkan alisnya.


Anya terhenyak dari sikapnya dan kembali menatap Arya. Lelaki itu mengedarkan pandang ke arah yang ditatapi Anya.


"Kamu nyari siapa?" tanya Arya lagi.


Anya hanya menatap kakaknya lalu tersenyum dan menggeleng lagi kemudian sibuk membenahi ranselnya. Lelaki itu lalu memandang sekitaran sejenak lagi dan kembali menatap adik perempuannya.


"Kalau ada apa-apa disana, kabari kami." ujar Arya.


Anya lagi-lagi mengangguk dan diam lagi membenahi ranselnya. Arya menyentuh bahu adiknya.


"Kau menunggu siapa?" tanya Arya.


Anya tak menjawab pertanyaan kakaknya dan tetap sibuk membenahi ranselnya.


...****...


Trias tiba dirumahnya dan sang istri, Saripah telah menantinya dengan wajah yang selalu menebar senyum.


"Assalam alaikum..." sapa Trias.


"Wa alaikum salam..." balas Saripah.


"Wah, Umma kelihatannya berbinar wajahnya. ada apa sih?" tanya Trias setengah menggoda.


"Anak lelaki kita menghubungi Umma tadi. Dia mengabarkan kegiatannya selama dua semester ini... Dan dia titip salam sama Abah." jawab Saripah.


Trias paham siapa anak lelaki yang dimaksudkan sang istri. Itu adalah Sandiaga, putra tertua pasangan dari Kenzie dan Azkiya yang sejak bayi telah dijodohkan dengan anak perempuan mereka, Inayah Amalia.


"Iyun nggak dititip salam?" pancing Trias.


"Umma pernah pancing, dia nggak merespon dan balik merubah topik bicara..." jawab Saripah lalu tertawa diikuti oleh Trias yang juga tertawa.


"Kurasa Iyun tak akan tidur semalaman jika dia mendengar calon suaminya itu menghubungi kita." balas Trias menyebut nama panggilan putrinya.


"Abah tahu saja kelakuan Iyun gimana..." sahut Saripah seraya mengajak suaminya memasuki rumah kediaman mereka yang asri.[]