
"Mulai sekarang, kita akan terus memantau apa saja kegiatan yang dilakukan Schnecke selama ini." ujar Arya.
Rudi dan Iswan menatap Arya dengan tatapan lebih serius. Ketiganya seakan tak lagi berminat dengan makanan dan minuman dihadapannya.
"Sebuah tindakan akan sukses ketika direncanakan dengan baik dan penuh perhitungan." sambung Arya. "Kita bertiga tentu tak mau segala keinginan kita akan hancur ditengah jalan, kan?" ujarnya memandang Rudi dan Iswan.
"Uhm... kalau begitu, aku akan mencari tahu dimana Schnecke ini tinggal." usul Iswan. "Kalian tenang saja."
"Kau akan membuntutinya?" tanya Rudi.
"Sebagian besarnya begitu." jawab Iswan, "Sebagiannya adalah tanggung jawabmu, Rudi."
"Lho? Kenapa aku?" tanya Rudi.
"Kamu kan biangnya perpustakaan." ujar Iswan. "Kamu juga sudah dipercaya oleh Pak Ruslan, Bagian Administrasi dan Tata Usaha sekolah kita."
"Oh, aku paham maksudmu, Wan." ujar Arya lalu menatap Rudi. "Kau cari buku induk siswa dan cari data tentang Schnecke. Kau paham?"
Rudi mengangguk-angguk. Iswan tersenyum-senyum.
"Mulai sekarang, jalankan segalanya." ujar Arya.
Tak lama kemudian, Muzdalifah masuk lagi ke dalam kantin. Tatapannya bersirobok kembali dengan Arya dan teman-temannya. Iswan melempar senyum mesum dan mengedipkan mata membuat Muzdalifah bergidik dan lekas menyingkir dari situ.
...****...
Arya tersentak dari lamunannya. Ia menatap jam dinding. Penanda waktu itu telah menunjukkan pukul 02.27 dan itu sudah mampu membuat Arya menyingkirkan memori buruk itu dari benaknya. Lelaki itu kemudian memejamkan matanya, mengistirahatkan beban pikirannya.
Esok harinya, seperti biasanya. Arya kembali memperhatikan hamparan belantara kota Gorontalo dari jendela.
Tak lama kemudian, Laila, sekretaris pribadinya muncul membawa sebuah portofeule. Wanita itu menghentikan langkah, menatap presdirnya yang membelakanginya.
"Pak..." panggil Laila.
Arya menoleh sejenak menatap Laila lalu membalikkan seluruh tubuhnya kearah wanita itu dan melangkah mendekatinya.
"Ada apa Laila?" tanya Arya.
Laila tak menjawab, melainkan menyerahkan berkas portofeule itu kepada Arya. Lelaki itu menerimanya dengan alis berkerut. Ia membukanya sejenak lalu melihat isinya dan akhirnya mengangguk-angguk.
"Kamu dapat dari mana?" tanya Arya.
"Saya punya sahabat di DUKCAPIL Kota. Dia bersedia memberikan berkas ini setelah mendengar dalih yang saya utarakan." jawab Laila. "Sebenarnya ini melanggar kode etik profesinya. Tapi, saya berhasil meyakinkannya."
Arya tersenyum. "Terima kasih ya?"
Laila tersenyum lalu mengangguk. Wanita itu kemudian berbalik meninggalkan ruangan tersebut. Arya membawa berkas portofeule itu dan meletakkannya di meja kerjanya. Ia kemudian duduk dan mulai membuka-buka lembar demi lembar dari portofeule tersebut.
Namun rasa tidak puas kembali menjalari benak lelaki itu. Ini hanyalah sebuah arsip lama. Tidak ada arsip baru tentang orang yang dicarinya. Arya menutup kembali portofeule tersebut dan menyingkirkannya ke samping.
Arya baru saja hendak bangkit ketika pesawat telpon di mejanya berdering. Lelaki itu mengangkatnya.
📞 "Ya, Laila?" ujar Arya.
📞 "Tamu anda sudah tiba." ujar Laila. "Dia menunggu di lobby."
📞 "Aku akan kesana." jawab Arya kemudian meletakkan gagang telpon.
Lelaki itu melangkah meninggalkan ruangannya. Ia sempat mengerling ke arah Laila yang sedang duduk santai ditempatnya, asyik mengoleskan bedak tipis diwajahnya. Melihat Arya, wanita itu sempat menghentikan aktifitasnya dan melanjutkan kembali ketika Arya mengangguk dan melenggang langkah meninggalkannya sendirian disana.
Lelaki itu menuruni tangga dan tiba dilantai pertama. Ia menatap lobby dan menemukan tamu yang hendak ditemuinya sedang disuguhi oleh office boy dengan minuman dan cemilan.
Kedatangan Arya membuat office boy itu membungkuk hormat lalu berlalu meninggalkan tempat. Tamu itu menoleh dan tersenyum.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Arya." sapa lelaki berpostur gemuk itu.
"Sudah sepuluh tahun lebih." jawab Arya lalu duduk didepan lelaki itu. "Kau tak datang ke pemakaman Rudi."
Lelaki gemuk itu tertawa pelan. "Maafkan aku. Kesibukan menjeratku hingga tak bisa meluangkan waktu sekedar menghadiri pemakanan sahabatku sendiri."
Iswan, si lelaki gemuk itu terkekeh lagi. "Ya... kau justru terlihat kekar ketimbang sepuluh tahun lalu saat kita bertiga masih mengenyam ilmu pengetahuan di SMU Prasetya..."
"Kau sudah berhasil memacari Jasmin, hm?" sindir Arya.
Mendengar nama itu, Iswan hanya tersenyum masam. Arya mengangkat alisnya sebelah.
"Jarang sekali ada perempuan yang mau dengan lelaki obesitas, Iswan." ujar Arya. "Apakah kau nggak pernah sedikitpun menggerakkan tubuhmu di gym?"
"Hei, tidak semua orang obesitas itu membawa penyakit, men." bantah Iswan. "Kau lihat bukan? Aku sehat wal afiat." tandasnya sambil mengembangkan tangan.
"Terserah padamu saja." ujar Arya dengan senyum.
"Aku sebenarnya malas memenuhi undanganmu, Arya." ujar Iswan dengan wajah kesal. "Kau mengingatkan aku dengan memori terburuk dalam kehidupan kita bertiga."
"Kematian Rudi mengingatkan aku akan perempuan itu... yang nasibnya entah bagaimana sekarang ini." ujar Arya. "Kita telah merusak masa depan seseorang hanya karena kebencian yang tak beralasan."
"Jadi, pertemuan kita hanya membahas hal itu?" tukas Iswan. "Apa gunanya?"
Arya mengerutkan alis. Iswan membuang napasnya sejenak.
"Kau mau menenggelamkan dirimu dalam rasa bersalah itu, aku tak keberatan." tukas Iswan lagi, "Jangan libatkan aku dalam hal itu."
"Tapi kau yang mengusulkan hal gila itu untuk pertama kalinya." erang Arya.
"Dan kau turut andil dalam menghancurkan perempuan itu, Arya." balas Iswan memajukan punggungnya menudingkan telunjuk ke wajah lelaki tersebut.
"Jika kau tak mengusulkan hal yang edan itu, Muzdalifah tidak akan mengalami hal itu seukur hidupnya!" tukas Arya dengan lirih.
"Oh, sekarang kita bertengkar hanya gara-gara Muzdalifah yang sekarang entah dimana keberadaannya?" tukas Iswan menantang.
Arya terdiam.
"Kita bertiga, tanpa disangsikan telah menghancurkannya, Arya. Kita bertiga!" tandas Iswan. "Sekuat apapun kau menyangkalnya, kau tak akan bisa menyingkirkan kebenaran bahwa kau termasuk orang yang berperan dalam penghancuran masa depan perempuan itu."
Arya duduk membungkuk dan meremasi rambutnya lalu mengusapkannya ke belakang.
"Sejak kematian Rudi, entah kenapa bayang-bayang tentang Muzdalifah terkenang kembali. Ia menghantui benakku sekarang, dalam setiap mimpi." keluh Arya memelas. "Aku bahkan takut untuk tidur... aku kuatir dia datang dan mencekikku dalam mimpiku."
"Hanya satu cara untuk menyingkirkan rasa bersalahmu itu." ujar Iswan.
"Apa?" tanya Arya dengan mengharap.
"Mencari dan menemukan Muzdalifah hingga ketemu." jawab Iswan.
"Mustahil..." erang Arya. "Aku sendiri sudah menyelidiki dirinya bahkan sampai meminta kolegaku di DUKCAPIL kota untuk memberikan informasi tentang dia. Tapi semuanya sia-sia."
"Kau tidak mencari informasi ditempat yang benar." bantah Iswan.
"Kemana aku mencarinya?" tanya Arya dengan memelas lagi.
"Kau kan tahu, hanya dua orang yang kita kenal, akrab dengan Si Schnecke itu." ujar Iswan.
"Ibu Kartini dan... Pak Basyir?" tebak Arya dengan antusias.
Iswan mengangguk.
"Apakah Ibu Kartini masih menjagai kantin sekolah?" tanya Arya.
"Setahuku, saat kita lulus, Ibu Kartini sudah tidak lagi menjalankan usaha kantin. Dia sudah pulang ke kampungnya di Jawa sana..." ujar Iswan. "Jadi jalan satu-satunya hanya menghubungi Pak Basyir. Itupun kalau dia belum wafat."
"Kau tidak akan menemaniku?" tanya Arya.
Iswan tersenyum dan menggeleng. "Aku sudah punya kehidupan yang nyaman sekarang." ujarnya lalu bangkit. "Aku nggak mau tenggelam seperti kamu."
Arya membuang napas. Iswan melanjutkan, "Sebaiknya segeralah mencarinya, men." ujarnya sembari melangkah meninggalkan lobby tersebut menuju parkiran.[]