SCHNUCKY

SCHNUCKY
LELAKI YANG KECEWA



Arya menghentikan laju kendaraannya dan mematikan mesin. Namun ia belum berniat turun dari All New Avanza hitamnya, melainkan mengkonfirmasi secara visual alamat yang sesuai dengan catatan pemberian Iswan kepadanya.


Arya mengamati sebuah rumah bergaya sederhana dikelilingi taman yang asri. Setelah memastikan bahwa apa yang tertera dalam catatan sesuai dengan data pada Googlemap, Lelaki itu membuka pintu mobil dan melangkah keluar dari kendaraan tersebut.


Arya berdiri disamping mobilnya, perasaan lelaki itu masih ragu, namun ia memutuskan memberanikan diri mengayunkan sepasang kakinya memasuki halaman rumah tersebut.


Arya menyusuri taman yang dibelah oleh jalanan menuju rumah dan ia tiba didepan rumah.


"Assalamualaikum..." seru Arya dengan suara agak keras.


Suasana masih hening. Arya sejenak mengamati sekelilingnya dan kembali menatap ke arah rumah.


"Assalamualaikum..." serunya mengulang kembali.


"Wa alaikum salaam..." sahut suara dari dalam.


Terdengar samar langkah kaki mendekat dan muncullah seorang wanita parobaya. Ia tertegun sejenak mendapati seorang lelaki berpenampilan apik didepan tangga rumahnya, namun segera ia bersikap sebagaimana mestinya.


"Cari siapa nak?" tanya wanita parobaya tersebut dengan sopan.


"Apa benar ini rumahnya Pak Basyir Laiya, Bu?" tanya Arya dengan sikap santun.


"Ya, benar." jawab ibu itu mengangguk dengan sopan. "Anda siapa ya?"


Arya tersenyum. "Saya Arya Datau. Saya mantan muridnya Bapak di SMU Prasetya, Kota Gorontalo." jawabnya.


Wajah wanita parobaya tersebut kemudian menjadi cerah dan tersenyum lebar. "Oooo... Bapak masih di kebun. Sebentar dipanggilkan. Silahkan masuk dulu, nak." ajak wanita parobaya tersebut mempersilahkan Arya untuk memasuki rumahnya.


"Terima kasih." jawab Arya dengan simpatik lalu menaiki tangga dan duduk disofa beranda tersebut.


"Anak mau minum apa? Nanti saya sediakan." ujar ibu tersebut menawarkan.


"Nggak usah Bu." tolak Arya dengan santun. "Saat ini saya hanya ingin bertemu Pak Basyir." sambungnya.


"Oh, kalau begitu tunggu sebentar ya?" ujar wanita parobaya itu sembari masuk lagi ke dalam.


Arya mempergunakan kesempatan itu untuk menghubungi Kamala. Ia mengambil gawai dari saku jasnya dan memencet nomer tunangannya tersebut.


Terdengar panggilan masuk dan langsung dijawab. Suara merdu kekasihnya itu terdengar syahdu ditelinganya.


📲 "Assalamualaikum..." sapa Kamala mendahului Arya membuat lelaki itu tersenyum.


📲 "Wa alaikum salam, Miss Marvel." balas Arya lalu tertawa kecil.


📲 "Oooh, Mr. Schnucky rupanya." sahut Kamala. "Kenapa sayang?"


📲 "Nggak. Aku kangen saja. Jadi nelpon kamu." jawab Arya kemudian menghela napas panjang.


📲 "Begitukah?" goda Kamala lalu tertawa kecil. "Wah, kayaknya aku menjadi perempuan paling bahagia dimuka bumi ini."


📲 "Memangnya kenapa?" pancing Arya dengan senyum lebar.


📲 "Karena aku selalu dirindukan oleh kamu." jawab Kamala membuat Arya tertawa.


📲 "Eh, aku serius nih." tandas Kamala.


📲 "Ya, ya... aku tahu." sahut Arya. "Bagaimana pekerjaanmu disana?"


📲 "Kamu sendiri? Apakah sudah menemukan alamat itu?" balas Kamala.


Arya mengamati lingkungan disekitarnya. Lelaki itu mengangguk.


📲 "Aku sekarang lagi duduk diberanda rumahnya." jawab Arya.


📲 "Ya sudahlah. Aku nggak mau mengganggu kamu..." ujar Kamala.


📲 "Kamu nggak mengganggu sama sekali." sela Arya.


📲 "Selesaikan dulu tugasmu itu." ujar Kamala. "Aku tak ingin kau setengah-setengah dalam niatmu itu."


Arya terdiam sejenak.


📲 "Halo, Schnucky? Kamu masih disana kan?" pancing Kamala.


📲 "Ya, Sayang." jawab Arya.


📲 "Baik. Aku tutup telponnya ya? Selesaikan tugasmu, Sayang." ujar Kamala kemudian memutuskan pembicaraan seluler itu.


Arya menyimpan kembali gawai itu kedalam saku jasnya. Tak lama kemudian muncul lelaki parobaya berusia sekitara 62 tahun. Ia berdiri didepan pintu dan Arya langsung bangkit dan melangkah mendekatinya.


"Pak Guru...." sapa Arya yang langsung meraih tangan lelaki tua itu dan menciumnya dengan takzim.


"Arya? Kamu kah ini?" desis lelaki tua yang tak lain mantan kepala sekolah SMU Prasetya pada penghujung tahun dua ribuan.


Arya menegakkan tubuhnya. "Ya, Pak Guru. Saya Arya Datau, murid Bapak dulu." jawab lelaki itu.


Pak Basyir menggeleng-gelengkan kepala dengan kagum. "Bapak pangling melihatmu saat ini. Sudah sukses ya?"


"Alhamdulillah, berkat doa Bapak juga." jawab Arya dengan senyum santun.


Pak Basyir mempersilahkan Arya duduk kembali. Ia kembali melongok ke dalam. "Mar... Mar..." serunya memanggil istrinya.


Seorang wanita parobaya tergopoh-gopoh muncul. "Ada apa Pak?" tanya wanita tersebut dengan napas yang tak teratur.


Wanita parobaya itu mengangguk lalu berbalik ke dalam rumah sedang Pak Basyir ikut duduk bersama Arya diberanda.


"Maafkan ya, nak Arya. Rumah saya sederhana sekali." ujar Pak Basyir seraya merendah.


"Tapi asri dan menenangkan jiwa." sahut Arya menenangkan hati mantan kepala sekolahnya. Pak Basyir mengangguk-angguk.


"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Pak Basyir.


"Alhamdulillah sehat selalu. Bagaimana dengan Bapak?" jawab Arya.


"Seperti yang kau lihat Nak." balas Pak Basyir dengan senyum.


Arya mengangguk-angguk. Tak lama kemudian muncul lagi wanita parobaya itu menggenggam baki yang berisi dua buah cangkir berisikan teh dan setoples kue. Penganan itu kemudian diletakkan di meja.


"Silahkan dinikmati sajiannya." ujar Pak Basyir mempersilahkan sedangkan wanita tadi telah kembali masuk kedalam rumah.


Arya mengangguk lalu meraih cangkir dan menyeruput sedikit air teh yang disajikan.


"Kalau boleh Bapak tahu, apa maksud Nak Arya menyambangi Bapak disini?" tanya Pak Basyir.


Arya meletakkan cangkir itu dipiring dan duduk menegakkan tubuhnya disandaran kursi. "Maksud kedatangan saya kemari disebabkan oleh sebuah niat, Pak." jawab Arya. "Bapak mungkin kenal seorang perempuan yang merupakan adik kelas saya disekolah itu."


Pak Basyir memicingkan mata sejenak lalu mengangkat wajahnya menatap langit-langit beranda. Kemungkinannya ia berupaya mengorek lagi keterangan dalam memori-memori otaknya. Napasnya kemudian mendengus.


"Muzdalifah... dia kan maksudmu?" tebak Pak Basyir dengan datar.


Arya tersenyum. "Ya, Bapak benar."


Alis Pak Basyir langsung berkerut. "Kenapa dengan anak itu? Apakah ia memiliki urusan yang belum selesai denganmu?" selidik lelaki parobaya itu.


Arya menggeleng lalu menjawab. "Tidak... tapi saya yang memiliki urusan dengan dia."


"Urusan apa?" tanya Pak Basyir.


"Maafkan jika saya tak bisa mengungkapkannya kepada Bapak." jawab Arya dengan senyum sungkan.


Pak Basyir memperbaiki duduknya lalu menatap Arya dengan tajam. "Kamu tidak berbuat sesuatu yang tidak baik terhadapnya, kan?" selidik pria parobaya itu lagi dengan tatapan memicing sedikit.


Arya hanya menghela napas panjang lalu kembali memandang mantan kepala sekolahnya.


"Pak... bisakah Bapak memberitahu alamatnya?" tanya Arya dengan pelan dan sedikit memelas.


"Apakah kamu yang membully dia selama ini, Arya?" desis Pak Basyar dengan lirih.


Kembali Arya menghela napas namun lelaki itu menggeleng. "Tidak. Saya tidak pernah membully dia."


"Lalu? Untuk apa kau mencari dia?" selidik Pak Basyir.


"Pak... sekali ini aku memohon kepadamu... bisakah Bapak tunjukkan alamatnya kepada saya?" tanya Arya kembali memelas.


"Kamu tahu? Ifah meninggalkan sekolah karena tak tahan dibully. Bapak benar-benar berharap dia bisa belajar dengan tenang disana, tak memikirkan apapun selain nilai-nilainya." ungkap Pak Basyir. "Kepergiannya benar-benar mengecewakanku. Dia memilih tidak melanjutkan beasiswanya dan pulang ke kampung ditemani oleh Dahlan yang sudah sejak dulu sakit-sakitan dan menderita autis."


Arya diam menyimak semua penjelasan kepala sekolahnya. Pak Basyir kemudian menghela napas lagi. "Pak Dahlan, ayahnya sudah wafat beberapa tahun lalu..."


"Apakah Bapak masih berhubungan dengan Muzdalifah?" tanya Arya.


Pak Basyir tertawa pelan. "Kok demen sekali kamu mencari tahu alamat anak itu?" lelaki parobaya itu memajukan tubuhnya. "Kau menyukainya? Apakah kalian pernah pacaran?"


Lelaki parobaya itu lalu menegakkan tubuhnya. "Ifah tak pernah memberitahu Bapak tentang itu. Anak itu jujur sekali dengan saya. Dia tak pernah menyembunyikan apapun."


"Apakah Bapak memang dekat dengan keluarganya?" tanya Arya.


Pak Basyir menghela napas dan mengangguk-angguk. "Ibunya adalah teman akrabku semasa masa pendidikan dulu. Saking akrabnya, saya bahkan sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya. Itulah mengapa saya sendiri menganggap Ifah seperti anak saya."


Arya meneguk ludahnya. Pak Basyir kemudian mendesah lagi.


"Misna... itu nama almarhummah ibunya, wafat sebab melahirkan anak keduanya yang penuh resiko. Dan anak itu juga akhirnya nggak selamat. Keduanya dikuburkan berdampingan. Saya kemudian berinisiatif menyekolahkan Ifah ditempat saya mengajar dulu, yaitu sekolah kalian itu dengan jaminan beasiswa berprestasi karena Ifah adalah anak bertalenta sejak kecil." tutur Pak Basyir lalu tersenyum. "Kamu tahu? Anak itu benar-benar anak berprestasi. Sayangnya dia benar-benar memilih meninggalkan sekolah dan hidup dikampung."


"Apakah sampai saat ini, Bapak membiayai pendidikan dan kebutuhan Muzdalifah?" tanya Arya.


"Hanya sampai ia menamatkan pendidikan dikampungnya. Setelah itu anak tersebut memutuskan untuk tidak lagi bergantung padaku." jawab Pak Basyir.


Arya diam sejenak lalu menghela napas. Pak Basyir menatap mantan anak didiknya itu.


"Nak... Jujurlah kepadaku." pinta Pak Basyir. "Apakah kau adalah salah satu dari anak-anak yang membully dia saat itu hingga dia meninggalkan SMU Prasetya?"


Arya menjadi gugup dan Pak Basyir telah menerka dari sikap lelaki tersebut. Pria parobaya tersebut akhirnya mengangguk-angguk.


"Lalu untuk apa kau mencari Muzdalifah?" tanya Pak Basyir.


"Saya ingin menemuinya." jawab Arya. "Saya mohon, jika Bapak masih mengetahui alamat tinggal Muzdalifah, katakan kepada saya."


Pak Basyir mengangguk-angguk. "Baiklah... kelihatannya, kau memiliki suatu urusan dengan dia. Alamat anak itu ada di...."


Arya mencatat benar alamat yang dituturkan Pak Basyir kepadanya. Tak lama setelah itu ia tersenyum dan mengangguk.


"Terima kasih Pak. Kalau begitu, saya permisi sekarang hendak menuju alamat yang Bapak sebutkan itu." ujar Arya sembari bangkit.


"Jika kau punya salah kepadanya, berbuat baiklah. Semoga kesalahanmu akan dimakluminya." sahut Pak Basyir.


Arya tersenyum lalu pamit meninggalkan rumah tersebut. Pak Basyir memandangi punggung Arya yang menjauhi halaman itu dan lelaki itu akhirnya berbalik masuk kedalam rumah ketika Arya masuk kedalam All New Avanza hitamnya dan melajukan kendaraan itu menyusuri jalanan.[]