SCHNUCKY

SCHNUCKY
MISTERI MUZDALIFAH



Koni Kumaat, pria asal Minahasa yang bekerja di kedai itu sedang memindahkan beberapa kotak kayu berisi sayuran segar dari dalam boks mobil, ketika sebuah Daihatsu Sigra silver berhenti ditepi jalan.


Koni menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap seorang lelaki berpenampilan parlente dikawal oleh dua orang lelaki bertampang seram, keluar dari mobil itu.


Lelaki itu sejenak merogoh kantongnya mengeluarkan sebungkus rokok dan menarik sebatang didalamnya dengan jepitan bibirnya. Lelaki seram disisinya mengulurkan korek gas yang sudah dinyalakannya ke hadapan lelaki tersebut.


Ia menyorongkan wajahnya agar ujung batang sigaret filter itu tersundut oleh api yang keluar dari batang korek. Setelah itu ia menarik kembali wajahnya dan merokok sejenak dengan nikmat.


"Benarkah disini tempatnya Como?" tanya lelaki itu sejenak menoleh kepada lelaki berambut panjang disisinya.


"Ya!" jawab lelaki bernama Como itu dengan singkat.


Koni yang tersita perhatiannya memutuskan mendatangi tiga orang itu. Dengan wajah penuh rasa ingin tahu ia mendekat.


"Mo cari sapa ye?" tanya Koni dengan wajah yang menegak agak miring sedikit. Itu adalah gayanya ketika mengintrogasi seseorang.


Lelaki perokok itu adalah Iswan yang bertekad hendak menemui orang yang dicarinya. Ia menatap Koni sejenak lalu menatap lelaki bertampang seram yang memegang korek gas.


"Kau uruslah Beni." ujar Iswan seraya melangkah memasuki kedai ditemani oleh Como.


Beni menatap Koni dengan lama. Koni terhasut dengan gaya tatapan lelaki bertubuh kekar itu.


"Kiyapa ngana ba haga-haga bagitu???" tanya Koni dengan tatapan tidak suka.


Beni hanya tersenyum sinis. "Kau kerja disini?" tanya lelaki sangar itu.


"Bukan cuma ba karja, mar kita juga yang punya tempat ini." jawab Koni dengan ketus.


Beni mengangguk-angguk. Lelaki itu mengulurkan tangan dan menepuk pundak Koni berkali-kali.


"Kalau bagitu, ba karja jo bae-bae." ujar Beni yang tersenyum lalu meninggalkan Koni sendiri.


Jika tak mengingat bahwa ia sementara bekerja, Tentu sudah dilumatnya wajah si lelaki sangar itu dengan parang dalam genggamannya.


Beni masuk ke dalam kedai dan mendapati majikannya yang dijagai Como duduk disudut ruangan. Ia mendekatinya.


"Bagaimana Beni?" tanya Iswan dengan datar.


"Selesai, Boss." jawab Beni dengan santai.


Iswan mengangguk-angguk. "Pergilah ke laki-laki yang berada disana, dan tanyakan tentang Muzdalifah." perintah lelaki itu.


Beni mengangguk dan melangkah menuju seseorang yang ditunjuk itu. Saifulhadi yang sedari tadi mengamati dari tempatnya memicingkan mata saat Beni datang mendekatinya.


"Permisi..." sapa Beni dengan datar.


Saifulhadi mengangguk. "Ya, ada yang bisa dibantu?"


Beni mengangguk. "Apakah saya bertemu dengan Muzdalifah?" tanya lelaki sangar itu.


Mendengar nama Muzdalifah disebut, langsung membuat Saifulhadi menaruh perhatian. Lelaki itu curiga. "Kenapa ya?" tanya lelaki itu.


"Muzdalifah bekerja disini, kan?" selidik Beni dengan alis terangkat sebelah.


"Apakah anda temannya? Setahuku Muzdalifah tak pernah bilang kalau anda itu temannya." todong Saifulhadi dengan datar.


Beni mendengus. "Bukan saya. Tapi bos saya." jawabnya seraya mengangguk ke arah Iswan yang sementara bicara dengan Como.


...*****...


Ditempatnya, Iswan memberi instruksi kepada Como untuk mencari sendiri orang yang diinginkannya. Iswan mengirim wajah perempuan itu ke gawai si lelaki berambut gendong itu melalui aplikasi Bluetooth.


"Aku yakin lelaki yang sementara ditanyai Beni akan menyembunyikan Muzdalifah, atau tak akan menunjukkan posisi dimana perempuan itu sekarang." ujar Iswan.


Como mengangguk dan kemudian keluar dari tempat itu sementara Iswan kembali mengamati Beni yang masih sementara menginterogasi Saifulhadi sambil tetap merokok dengan nikmat.


...*****...


"Kelihatannya, anda dan majikan anda itu sia-sia datang kemari." ujar Saifulhadi dengan senyum. "Saat ini, Muzdalifah yang kalian cari sementara tak berada ditempat."


"Dimana perempuan itu sekarang?" tanya Beni.


Saifulhadi mengangkat bahu. "Kalau itu saya nggak tahu." jawabnya. "Cuma memang saat ini Muzdalifah sedang merencanakan pernikahan dengan tunangannya."


Beni mengangguk-angguk lalu kembali meninggalkan Saifulhadi dan menuju kearah Iswan yang sedang asyik menghembuskan asapnya, membentuknya dalam bentuk lingkaran.


"Boss, perempuan itu nggak ada disini sekarang." ujar Beni.


Iswan tersenyum dan mematikan rokoknya di asbak. Ia mengerling kearah Beni yang kemudian sedikit menunduk sebab merasa takut dengan tatapan lelaki tersebut.


"Kamu yakin?" pancing Iswan.


"Sebenarnya sih nggak yakin, Bos." jawab Beni. "Tapi saya sudah nggak ada bahan pembicaraan lain untuk memancing orang itu memberitahukan dimana Muzdalifah."


Iswan mengangguk-angguk. "Baik. Duduklah disini dan tunggu Como menemukan kebenarannya." ujar lelaki itu kemudian mengamati Saifulhadi yang meninggalkan meja melangkah keluar dari kedai melewati pintu yang lain.


"Bersiaplah Beni..." ujar Iswan kemudian mengambil lagi sebatang sigaret filter kemudian menyulutnya dan mengisap serta menghembuskan asapnya. "Kurasa orang itu menghubungi teman-temannya untuk menemui kita."


Ternyata yang diperkirakan oleh Iswan terjadi juga. Tak lama kemudian Saifulhadi muncul bersama Koni dan beberapa orang laki-laki bersenjata parang. Rombongan itu kemudian mendekat dan berdiri dihadapan Iswan yang duduk dengan tenang dikursinya sedang Beni berdiri siaga dibelakang majikannya.


"Ngko yang ba cari Muzdalifah?!" tanya Koni dengan menyergah sedang tangannya telah erat memegang peda.


Iswan memicingkan matanya lalu melipat tangannya ke dada. "Ngana, dia pe siapa?" balas lelaki itu dengan tenang sedangkan Beni dibelakangnya telah meraba senjata yang terselip di celananya.


"Ngko tidak usah banya mulu disini." tandas Koni. "Tumudu saja apa yang nyaku tanya."


Iswan memiringkan kepalanya dengan alis berkerut. Lelaki itu kemudian bangkit perlahan dari kursi dan melangkah santai hingga yiba dihadapan Koni dan Saifulhadi yang berdiri dibelakang lelaki Minahasa itu.


"Aku teman sekolahnya." jawab Iswan, "Sekarang panggilkan Muzdalifah. Kami ingin bertemu."


Koni tertawa keras sambil menatapi teman-temannya lalu kembali menatap Iswan.


"Dia tidak ada disini sekarang." ujar Koni. "Sekarang Nyaku minta niko deng gai-gai ini pi pigi sekarang juga!" usirnya dengan lantang.


"Nepa Ngko senyum-senyum macam yaki?!" ejek Koni.


Iswan tetap saja tersenyum dan tiba-tiba...


DUAAGH...


OHHHH....


Tak ada siapapun disana, termasuk Beni yang sempat melihat betapa cepatnya kaki Iswan terangkat dan menendang perut Koni dengan keras membuat lelaki Minahasa itu melenguh dan jatuh terduduk merasai seakan perutnya jebol.


DUAGH...


UGH...


Saifulhadi terkejut tapi tak sempat mengantisipasi serangan berikutnya yang diarahkan Iswan ke rahangnya. Tapak sepatu itu menghantam telak rahangnya membuat Saifulhadi terpelanting dengan keras.


Beni tak menunggu lama untuk bertindak. Ia mencabut pistol dan mulai menembak.


DOR! DOR! DOR! DOR!


Empat orang lelaki yang dibawa Koni untuk membantu mengeroyok Iswan, jatuh dengan kaki yang tertembak. Mereka mengaduh kesakitan dan tak mampu lagi bangkit sebab didera sakit akibat tertembus peluru.


Iswan menatap Beni. Lelaki sangar itu paham dan langsung tanggap maju menyeret Koni ke kursi lalu mengingatnya. Iswan juga menyeret Saifulhadi ke kursi dan mengikatnya pula.


Iswan kemudian melangkah memutari kedua lelaki yang terikat dikursi itu sedang Beni mengawasi empat laki-laki yang duduk kesakitan menahan nyeri kaki yang tertembus peluru. Iswan berdiri dihadapan kedua lelaki itu.


"Aku tahu, kalian melindungi perempuan itu." ujar Iswan dengan datar. "Tapi kalian salah jika berpikir aku akan menyerah saja dengan segala tindakan kalian itu."


"Kata pengawalmu, kau adalah salah satu teman dari Muzdalifah. Tapi mengapa kau memperlakukan kami seperti ini?" sergah Saifulhadi.


"Aku memang mantan kakak kelasnya." ujar Iswan mengangguk-angguk. "Tapi aku tidak seperti..." lelaki itu nampak mengingat-ngingat sesuatu lalu menatap Saifulhadi dengan alis berkerut. "Kalian sudah kenal lelaki bernama Arya, kan?" tebaknya.


"Kau... apakah kau yang bersama-sama dengan Arya... memperkosa Muzdalifah?!" tebak Saifulhadi dengan berang. Disisinya Koni yang kaget langsung mengumpat.


"Pemai! Kudacuki! Tailasso deng ngana!!!" sergah Koni dengan kemarahan yang meluap. "Binatang! Memang ngana lebe bagus jatong memang di lubang neraka!"


Iswan tertawa mendengar umpatan tersebut. "Silahkan memaki sesukamu... umurmu juga sudah nggak panjang lagi." ujar Iswan kemudian menatap peda milik si lelaki minahasa yang tergeletak dilantai lalu memungutnya.


"Bagaimana pendapatmu, jika kuhabisi dirimu dengan senjatamu sendiri?" tanya Iswan.


"Mati itu perkara takdir. Ini hari deng beso, kalau memang kita mati, ya mati." ujar Koni dengan ketus dan menyeringai sinis. "Kalau ngana memang suka mo ba tabas, beken kemari jo. Nya usah banyak bicara."


Iswan tersenyum dan mengangguk-angguk. "Ku akui keberanianmu." ujarnya dan langsung mengayunkan peda.


CRASSSSHHHH....


Senjata itu langsung tertancap dibatok kepala Koni. Lelaki itu tersentak sejenak menerima hujaman peda itu, setelah itu ia melepaskan nyawa selembarnya dengan tubuh yang bermandikan darah, mengalir dari batok kepalanya yang tertancap senjata itu.


Saifulhadi sendiri tak menyangka jika Iswan sesadis itu, bahkan ia tak menampakkan rasa apapun ketika menghabisi lelaki minahasa itu. Tatapannya datar. Iswan sendiri hanya menghela napas lalu menghembuskannya dengan pelan setelah melakukan hal tersebut.


Beni yang paham arti hembusan napas itu kembali mengarahkan moncong pistol kearah empat lelaki yang terluka dan seketika menembak.


DOR! DOR! DOR! DOR!.....


Empat kali bunyi letupan keras dari moncong Colt M 1911 milik Beni dan sedetik kemudian keempat lelaki itu terkapar tanpa nyawa dilantai.


Iswan menatap Saifulhadi, satu-satunya lelaki yang hidup diruangan itu. Ia tersenyum.


"Kau akan menyesal bermusuhan denganku." ujarnya dan beberapa saat kemudian dari pintu belakang muncul Como menyeret seorang wanita yang terikat dan mulutnya dibekap kain.


Lelaki berambut gondrong itu menyeret si wanita yang tak lain adalah Muzdalifah ke hadapan Iswan. Wanita itu terhenyak dengan mata membelalak menyaksikan lantai penuh darah dengan empat lelaki menggeletak disana. Semakin kaget ia menyaksikan mayat Koni yang duduk terikat, tertancap peda dibatok kepala. Ia ingin menjerit tapi mulutnya tersumpal kain sehingga yang terdengar hanyalah gumaman.


Iswan menatap pengawalnya. "Bagus, Como." puji lelaki itu dengan datar dan Como hanya membalasnya dengan anggukan.


Iswan menatapi Muzdalifah yang terbekap mulutnya. "Hai, Schnecke... kita ketemu lagi." sapanya.


Muzdalifah menggumam-gumam tak jelas membuat Iswan mengangguk-angguk dan meminta Como melepaskan sumpal kain dimulut wanita itu.


Como melepaskan bekapan kain itu. Iswan kemudian memegang dagu perempuan tersebut. "Bagaimana perasaanmu saat bertemu lagi denganku, Schnecke?" tanya Iswan.


"Siapa kamu?! Mengapa kau membunuhi mereka?!" sergah Muzdalifah dengan berang.


Pertanyaan wanita itu membuat Iswan langsung mengerutkan alisnya meski lelaki itu tetap menebar senyum.


"Kau tak mengenaliku, Schnecke?" tukas Iswan dengan heran. "Kau benar-benar tak mengenaliku?"


Muzdalifah melengos menatap Saifulhadi yang sementara menatap Iswan dengan tatapan membara. Iswan menggeleng-gelengkan kepala.


"Kau sudah melupakan peristiwa dirumahmu siang itu? Juga peristiwa digudang sekolah?" ungkit Iswan dengan seringai kejam. "Apa kamu sudah lupa, akulah yang memenuhi rongga mulutmu dengan cairanku. Apa kau lupa?!" sergah Iswan.


Mata Muzdalifah membelalak. "Kau! Ya, aku ingat sekarang! Kau!... Kau!"


"Apa? Sebut, sebutlah namaku, Schnecke!!!" seru Iswan dibarengi sensasi aneh melihat wanita itu.


Namun Muzdalifah tak sekalipun menyebut nama lelaki itu membuat Iswan akhirnya kesal. "Kenapa? Kau lupa namaku?"


Iswan tertawa lalu menatap Como dan Beni bergantian. "Kalian lihat? Dia bahkan lupa dengan pemerkosanya sendiri!" seru Iswan sembari tertawa penuh kekesalan.


Tiba-tiba Iswan mengayunkan tamparan...


PLAKK!!!!


AAAAKKKKHHH...


Muzdalifah menjerit dan tubuhnya terpelanting, membuat Saifulhadi yang diam langsung bereaksi. "Jangan lukai dia!! Jika kau mau, lukai saja aku!!!"


Iswan menatap Saifulhadi. "Kalian pasti menyembunyikan sesuatu." tukas lelaki itu lalu jongkok didepan Muzdalifah yang terbaring menahan sakit.


"Katakan..." pinta Iswan mendekatkan wajahnya kehadapan wanita itu. "Siapa kau sebenarnya?"[]