
Arya sejenak terdiam lalu mencairkan suasana canggung itu dengan senyum datarnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Arya sekaligus menyapa lelaki itu.
"Trias Eliasha Ali... Ajun Komisaris." ujar Trias memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
Arya menjabat tangan opsir tersebut. "Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya lelaki itu kembali.
"Bisa kita bicara... disana?" tanya Trias menunjuk deretan mobil yang terparkir dijalanan.
Arya akhirnya mengangguk. Keduanya meninggalkan kediaman itu dan menuju tempat yang ditunjuk oleh Trias. Sejenak keduanya mencari tempat yang cocok dikawasan itu untuk bicara.
"Sejauh mana anda mengenal korban?" tanya Trias.
"Kami sahabat semasa SMU." jawab Arya. "Dia salah satu sahabat saya."
"Apakah akhir-akhir ini anda pernah menghubunginya?" tanya Trias lagi.
Arya tersenyum dan menggeleng. "Masing-masing kami punya kesibukan. Tapi kami pernah bertemu sesekali... meski tak dikatakan setiap kali."
"Kapan terakhir anda bertemu dengannya?" tanya Trias lagi seraya mengambil sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan dua batang kecil permen coklat.
"Tiga minggu yang lalu." ujar Arya.
"Pertemuan biasa?" tanya Trias lagi seraya mengangsurkan dua batang permen coklat itu kepada Arya. Lelaki itu menolaknya.
"Sebenarnya... saya pernah meminta dia mencari seorang wanita... mantan adik kelas kami." jawab Arya menyaksikan Trias yang membuka pembungkus salah satu permen coklat lalu memakan permen tersebut.
Trias mengangguk-angguk. "Ce-El-Be-Ka ya?" tebaknya sambil mengunyah permen kenyal itu.
Arya tertawa dan menggeleng. "Tidak juga."
"Siapa namanya?" tanya Trias.
"Kelihatannya anda sudah lari dari topik, Pak." tegur Arya sambil terkekeh.
"Santai saja... kita tidak tahu, kemana kisah ini akan berakhir." kilahnya. "Beritahukan namanya." pinta Trias.
"Muzdalifah Bakhtiar..." jawab Arya. "Dan dia diculik."
Arya menggeleng. "Saya nggak tahu. Silahkan anda hubungi saya polsek wilayah Paguyaman... anda akan menemukan kasusnya disana." jawab lelaki itu.
Trias mengangguk-angguk. "Baik... sampai disini dulu..." pungkasnya. "Tapi anda wajib datang saat saya minta keterangan dikemudian hari, ya?"
Arya mengangguk. "Ya, Pak."
Trias mengangguk dan tersenyum lalu melangkah meninggalkan Arya yang kembali masuk ke kediaman duka. Saat opsir itu membuka pintu mobil taktisnya, ia menghubungi bawahannya.
"Cari tahu tentang Muzdalifah kepada pimpinan satreskrim di polsek Paguyaman. Saya tunggu sekarang." ujar Trias setelah itu menyimpan gawainya dan masuk kedalam mobil.
Maung hitam buatan Pindad itu kemudian meluncur meninggalkan kompleks kedukaan.
...****...
Pemakaman Iswan Nusi telah selesai digelar. Arya menyampaikan pernyataan belasungkawa dan memberikan santunan melalui transfer rekening kepada keluarga yang berduka tersebut.
Lelaki itu kemudian melarikan All New Avanza hitamnya melaju menyusuri jalanan kembali ke kediamannya.
Sesampainya disana, Anya menyambutnya kembali.
"Tadi Kak Kamala datang menanyakan Kakak." ujarnya.
"Terus?" tanya Arya yang melangkah masuk kedalam rumah diikuti oleh Anya.
"Ya... kubilang Kakak lagi ke rumah duka." jawab Anya.
"Nggak ada lagi pertanyaan lain?" tanya Arya yang tiba didepan kamarnya.
"Dia menunggu Kakak dikantor." ujar Anya.
Arya mengangguk dan masuk kedalam kamar. Ia keluar lagi membawa handuk sejenak melihat kearah Anya yang sibuk mengamati tayangan ditelevisi.
"Kapan kamu balik ke Bogor?" tanya Arya yang menjauh menuju kamar mandi.
"Lusa..." ujar Anya dengan suara keras. "Besok juga Mama sama Papa balik."
Terdengar sayup-sayup suara Arya yang sedang mandi. Anya sendiri memang sudah mandi sejak pagi dan memilih mendekam dirumah dan bermalas-malasan. []