
Arya memutuskan tidak kembali ke rumahnya melainkan singgah ke rumah Kamala. Wanita itu telah dihubungi sebelumnya. Kamala mengiyakan dan menunggu kedatangan calon suaminya itu.
All New Avanza hitam milik Arya tiba didepan Kediaman Kamala saat menjelang maghrib. Lelaki itu keluar dari mobil dengan kuyu dan melangkah lesu memasuki halaman rumah itu.
Kamala keluar dan menyambut. "Kamu ini, masih sakit kok malah ngelayapan kemana?" omelnya. "Itu, Mama kamu tuh malah ngomel-ngomel ke aku. Kok aku yang jadi pelampiasan kemarahannya sih?"
Arya tak menjawab, ia terus melangkah dan terasa ia gemetar. Kamala menyadari ada yang ganjil dengan kekasihnya langsung membimbing lelaki itu masuk dan mendudukkannya ke sofa.
Wanita itu melangkah ke kulkas dan membukanya lalu mengambil sebotol air dingin dan tak lupa mengambil pula gelas kemudian melangkah kembali ke arah Arya yang duduk menundukkan kepalanya.
"Minumlah dulu." Kamala menawarkan segelas air dingin yang baru saja dituangkannya dan disodorkannya ke arah Arya.
Kamala melihat tangan lelaki itu gemetar terangkat meraih gelas yang disodorkan Kamala. Arya membawa gelas itu ke mulutnya dan meneguk beberapa kali air dingin itu.
Kamala menyapu-nyapu punggung Arya dengan lembut. Arya meletakkan gelas dan perlahan menatap Kamala.
"Ms. Marvel..." ujar Arya dengan pelan.
Kamala menatap Arya dengan penuh perhatian. Wanita itu terkejut namun segera disamarkannya saat melihat dua titik air mata mengalir menjebol dinding kelopak mata lelaki tersebut.
"Terjadi... pembunuhan dikedai tempat Muzdalifah bekerja..." ujar Arya membuat Kamala benar-benar tak bisa menyamarkan kekagetannya.
"Ceritakanlah Schnucky..." pinta Kamala dengan datar dan memaksa.
Arya menceritakan semuanya. Kamala menarik napas. "Dan... Muzdalifah?" tanya wanita itu.
"Aku... aku tak tahu... mudah-mudahan dia tak apa-apa..." ujar Arya dengan pilu. "Oooh... aku tak mau berprasangka jelek." ungkapnya seraya menutup wajah. "Tapi wajah perempuan itu terus muncul dalam benakku."
Kamala langsung meraih Arya dalam pelukannya dan membelai rambut kepala bagian belakang lelaki itu. Perlakuan itu meluruhkan gengsi Arya sebagai lelaki. Ia menangis, menumpahkan kesedihan dan rasa bersalahnya di pundak kekasihnya.
...*****...
Sakera mengenakan pakaian khas seorang warok. Sebuah kaos oblong bergaris-garis merah putih dibalut pakaian hitam lengan panjang yang terbuka. Celana cangkring hitam membalut bagian bawah dipadu dengan sebuah ikat pinggang lebar bergesper besar melingkar dipinggang. Kepalanya terbalut suluk bercorak batik geringsing merah anggur. Tangan kanannya menggenggam celurit besar yang khusus digunakan untuk mengadu nyawa.
Sakera memang akan melakukan ritual carok, yaitu pertarungan membela kehormatan dari Muzdalifah yang dicintainya. Perempuan itu diculik oleh Iswan dan disekap di wilayah Leato bagian selatan.
Iswan telah menyiagakan anak buah-anak buahnya menjagai kawasan itu. Siapapun yang mendekat tak perlu ditanya, langsung dibunuh, begitu instruksi yang diterima dari lelaki itu.
Sakera telah berdiri beberapa meter dari kawasan itu. Ia baru saja hendak melangkah masuk saat gawai yang tersimpan dalam sabuk lebarnya bergetar.
DRTTT...DRRRTTT... DRRRRTTT...
Sakera mengeluarkan gawai dari saku sabuknya dan mendekatkannya ke telinga.
π² "Halo..." ucap Sakera dengan datar dan tajam.
π² "Dimana posisimu?!" tanya seorang wanita ditelepon itu. Sakera mendengus.
π² "Aku berada disarang musuh." jawab Sakera. "Mereka semua harus membayar semua hutang darah itu."
π² "Iya, aku tahu." ujar wanita itu. "Tapi dimana?"
Sakera kemudian memberitahu alamat yang ditujunya. Setelah itu ia menyambung. "Aku akan melangkah sekarang." ujarnya lagi.
π²"Jangan." cegah wanita itu. "Tunggu kedatanganku."
Sakera terkekeh sinis. "Ini semua adalah pertanggungjawaban sampeyan. Saya akan melakukan kewajiban saya sebagai seorang laki-laki. Jika ada yang terjadi dengan tunangan saya, kamu yang akan membayarnya!" tukas lelaki itu kemudian memutuskan saluran telepon.
Lelaki itu melangkah penuh keteguhan. Cengkraman tangannya pada gagang celurit makin jauh makin erat saja.
"Hei! siapa disana?!" seru seorang lelaki berpakaian hitam yang mengarahkan senapan jenis M16A1 kepada Sakera.
Sakera terus melangkah dan membungkam mulutnya. Tangannya yang menggenggam celurit terkembang. Penjaga itu langsung mengarahkan moncong M16A1 ke arah Sakera.
Dengan sigap, Sakera melemparkan celurit kearah orang itu.
JLEB!!!
UGH...
Senjata itu menancap tepat didada si penyandang senapan tersebut sebelum ia sempat menembakkan pelurunya. Lelaki itu rubuh dengan celurit menancap didadanya. Sakera maju dan mencabut senjata tersebut lalu melangkah lagi masuk kedalam.
Gerakan senyap yang dilakukannya, membantunya mengurangi jumlah orang yang akan menyergapnya kelak. Sakera mengandalkan tubuhnya yang ringan itu melesat dikeheningan dan kegelapan malam itu, menghabisi satu persatu penjaga yang bercokol disana.
Sakera memang tak pandai menggunakan senjata api. Tapi dia lebih yakin dengan kemampuan digdaya yang dimilikinya sebagai seorang pendekar. Lelaki itu, memang mempelajari beberapa ilmu keperwiraan untuk menjaga dirinya. Dalam kerusuhan Sampit menghadapi amukan orang-orang Dayak, sebenarnya Sakera sudah berniat untuk perang sabil. Namun keluarganya melarangnya dan mengajaknya mengungsi meninggalkan segala harta benda yang susah payah mereka kumpulkan ditanah Kalimantan, dan menempuh hidup baru di Sulawesi.
Kerusuhan Sampit dan Sambas telah berlalu dan kedua suku akhirnya hidup damai kembali. Namun Sakera dan keluarganya memilih untuk tetap berada di Bojonegoro, Gorontalo. Tidak lagi menginginkan kembali ketanah perdikannya di Kalimantan.
Kini sekian lama ia membina kehidupan yang tenang, berkenalan dengan Saifulhadi yang mengajaknya patungan mendirikan usaha kuliner dan Koni Kumaat yang orang perantauan dari Minahasa, mengisi hari-hari tenangnya.
Kehidupannya semakin berwarna saat seorang gadis berjilbab, memperkenalkan diri sebagai Muzdalifah Bakhtiar melamar kerja disana. Benih cinta tumbuh diantara mereka dan Sakera dengan rela menerima masa lalu gadis itu yang suram. Penentuan hari pernikahan mereka tinggal dihitung dengan jari.
Beberapa pengawal harus rela kehilangan nyawa sia-sia sebab Sakera dengan mengandalkan ajian panglimunan, menghabisi satu persatu para penjaga itu.
Sakera tiba disebuah bangunan besar tak terurus. Ia melangkah memasuki bangunan itu.
...*****...
Disebuah ruangan yang kumuh tak terpakai, terdengar sayup-sayup suara-suara bernada erotis. Seorang gadis menelungkup dikotak kayu besar sedang pakaian bagian bawahnya terangkat ke atas menampakkan kedua tungkai kakinya menapak tanah nan membuka lebar.
Disana seorang lelaki dengan buas mendorong dan menarik pinggulnya dengan ritme yang teratur berpadu dengan ******* tertahan yang keluar dari mulut jilbaber itu manakala si lelaki durjana tersebut melesakkan benda miliknya kebagian paling pribadi milik perempuan itu.
Ditengah aktifitasnya merudapaksa, lelaki itu tetap memaksa si jilbaber untuk memberitahukan hal-hal bersifat rahasia kepadanya.
"Selama kau... tak ... mengatakannya..." geram si lelaki yang tak lain adalah Iswan, kemudian mengintimidasi lagi dengan ancaman. "Aku akan terus melakukan hal ini kepadamu, sampai perutmu bengkak mengandung benihku!"
Jilbaber dihadapannya, meski terlihat lemas tanpa daya karena rudapaksa yang ditimpakan Iswan kepadanya, lebih memilih diam dan membiarkan dirinya dianiaya sedemikian rupa ketimbang mengatakan hal yang sebenarnya.
"Katakan! Kamu bukan dia, kan?!" sergah Iswan dengan jengkel menarik jilbab perempuan itu. Si jilbaber itu menjerit kesakitan, namun sekedar jeritan saja. Selebihnya ia tetap saja memilih diam.
Iswan menjadi makin jengkel dan makin melakukan siksaan melalui tindakan rudapaksanya membuat si perempuan itu menggigiti bibir bukan karena menikmati, melainkan berupaya sekuat tenaga menahan nyerinya siksaan amoral itu.
"Teruslah diam!" seru Iswan dengan kasar.
Sementara Sakera yang tiba diruangan itu, terperangah kaget melihat pemandangan menjijikkan itu. Amarahnya seketika meluap dan dia meradang.
"PATΓ'!!!!!" teriaknya dengan kalap dan maju berlari ke arah Iswan seraya mengangkat cluritnya.
Anehnya Iswan tenang saja menyongsong serangan itu. Masih tenangnya dia merogol perempuan yang menunggingnya itu.
Ketenangan lelaki itu terjawab saat dua sosok lelaki berpakaian hitam pula muncul dan menghadang gerak Sakera. Keduanya tak lain adalah Como dan Beni.
"Ya, layani dia dulu." seru Iswan sambil terus menggenjot tubuh perempuan itu. "Aku selesaikan dulu hasratku!" serunya sambil terus menggeram kesenangan.
"Dasar amoral sampeyan semua! Kupancung leher kalian!!!" teriak Sakera maju mengayunkan celurit.
Como dan Beni ternyata memang telah mempersiapkan dirinya masing-masing dengan sebilah sumala lalu maju mengeroyok Sakera.
Ditengah siksaan rudapaksanya itu, si wanita menatap Sakera yang sementara berjuang membela harga dirinya yang sementara diperkosa oleh Iswan. Air matanya mengalir dalam perasaan bersalah.
Maafkan aku Sakera... aku sudah tak layak lagi untukmu.... setelah ini... Ijinkan aku mengakhiri hidupku sendiri...
Jilbaber itu menutup mata dan mematikan seluruh pancaindranya. Segala siksaan yang menerpanya seakan tak dirasakannya lagi. Sementara Iswan yang terus melesakkan senjata tumpulnya berkali-kali kemilik wanita itu merasai bahwa makin lama, tubuh jilbaber itu mulai mendingin.
Alis Iswan berkerut dan ia segera mencabut senjatanya yang masih mengacung kuat itu. Lelaki itu memeriksa urat nadi dileher si wanita itu dan menyadari bahwa jilbaber itu tewas dalam rudapaksa itu.
Dengan kesal, Iswan memasukkan bendanya kembali ke celananya dan membiarkan mayat jilbaber itu menelungkup dikotak kayu itu dengan penampilan terhina.
Ia mendatangi pertempuran. "Minggir! Biar ku habisi lelaki ini!" seru Iswan.
Namun tepat pada saat yang sama sesosok tubuh juga muncul dan terjun dalam pertempuran tidak seimbang itu. Sosok itu berhasil menendang Iswan sehingga lelaki itu terjungkal ke belakang.
Sakera tahu siapa yang menolongnya sehingga ia tak memperdulikannya seraya terus menyerang Como maupun Beni yang datang menyerangnya.
Iswan bangkit dan menegaskan sosok itu adalah seorang perempuan yang nampak kentara dari buah dadanya yang membulat kencang dibalik pakaian hitamnya. Wanita itu mengenakan cadar mirip ninja dan berdiri tegak dihadapannya.
"Heh? ***** darimana lagi ini?!" sergah ikut bangkit dan memasang sikap bertarung.
"Kamu akan segera menemui kematianmu." ujar sosok itu lalu maju menyerang Iswan.
Iswan menyongsong serangan itu dengan tenang. Ia seorang petarung sejati dan pernah berlatih seni Karate-dΕ disebuah organisasi terkenal. Berbekal itu ia menjalani hidupnya di dunia bawah selain mengandalkan otak licinnya. Iswan memang salah satu mafia ternama dalam lingkupan dunia underground.
Lelaki itu menghindar dan maju melayangkan tendangan membalas serangan si wanita. Untungnya sosok itu juga berhasil menghindari tendangan mikazuki yang dilayangkan Iswan. Lelaki itu menyusulnya dengan tendangan ushiro untuk memberi efek agar penyerangnya memghindar jauh.
Sosok itu tak menyerah. Ia maju kembali dan kali ini Iswan maju pula melayangkan tendangan ke depan, mengincar wajah sosok tersebut. Sosok itu menghindar untuk mementahkan serangan lawannya.
Iswan kembali menyerang dengan teknik mawashi geri untuk mendesak pula sosok itu jika ia mendekat.
Tanpa disangka, sosok itu justru maju sambil menyilangkan tangannya membentuk tangkisan disisi kepala sehingga tendangan mawashi yang dilayangkan Iswan hanya mengenai tangan tersebut.
Sosok itu maju melayangkan tinju seiken ke dada Iswan. Lelaki itu tersentak menerima hujaman tinju itu. Sosok itu tak memberi kesempatan. Ia menghantamkan lagi tinju nakadaka ke arah dada Iswan.
Sekali lagi lelaki itu tersentak dan memuntahkan darah segar. Sosok itu kembali menghantamkan tinju hiraken menghujam tepat ditulang xiphoid, meretakkan tulang itu menghujam ke bagian uluhati si lelaki durjana itu.
Iswan tersentak lagi untuk kesekian kalinya. Matanya membelalak lebar menatap nyalang kepada sosok itu. Perlahan tubuhnya luruh dan rubuh ke lantai, mengejang sesaat dan akhirnya diam untuk selama-lamanya.
Sosok itu mendekati tubuh jilbaber yang menelungkup diam itu lalu memeriksanya. Sejenak kemudian terdengar isak lirih menangisi mayat wanita yang teraniaya itu.
Sosok itu kemudian menggendong mayat tersebut dan melangkah meninggalkan tempat tersebut. Sementara Sakera juga telah berhasil menghabisi Como, dan sedikit lagi pria itu akan menghabisi Beni.
Tubuh pengawal terakhir itu akhirnya roboh dengan luka sabetan celurit dipundaknya. Beni melepaskan nyawanya dan Sakera meninggalkan tempat tersebut menyusul sosok yang telah lebih dulu melarikan calon istrinya entah kemana.[]