SCHNUCKY

SCHNUCKY
TUNTUTAN SANG WAROK



Sebuah makam baru dari gundukan tanah yang masih basah terdapat dihamparan tanah itu. Sebuah pusara tertancap disana. Seorang lelaki berpakaian hitam-hitam melapisi kaos dalamnya yang bergaris-garis merah-putih berdiri menatap gundukan tanah makam itu.


Diseberang makam juga duduk bersimpuh seorang wanita. Ia mengusap-usap tanah makam itu dengan tatapan datar.


"Pernikahan kami tinggal menghitung hari..." ungkap lelaki itu membuka percakapan. "Keluarga besarku sudah setuju dan menginginkan kami segera bersatu..."


Kata-kata pancingan itu tak menerbitkan komentar dimulut wanita itu. Ia masih bungkam. Hawa subuh yang dingin masih menghembus menusukkan aura-aura dinginnya ke permukaan kulit kedua manusia yang memaku diri memandang makam tersebut.


Sakera, si lelaki berpakaian serba hitam itu mendesah lagi. "Tapi semuanya kini pupus..." ujarnya dengan suara serak mengandung kepiluan. "Apa lagi yang diharapkan dari kepergian Ningsih?"


Wanita itu menghela napas lagi tapi tak sedikitpun memunculkan keinginan untuk bicara. Ia masih tetap bungkam.


"Musdalifah... kamu membuatnya menanggung semua ini..." tukas Sakera dengan datar dan berat. Kedua mata lelaki itu memerah menyimpan sisa airmata yang sudah malas mengalir dan lebih memilih untuk menggenang saja di sisi dinding kelopak mata lelaki itu.


"Dia telah rela mengikuti semua yang kau inginkan... dan akhirnya membawanya menuju liang lahat..." sambung Sakera lagi.


"Dia telah menyanggupinya jauh sebelumnya." jawab wanita itu pada akhirnya. "Ningsih sudah siap dengan segala resikonya..."


"Oh, akhirnya bicara juga kau!" sindir Sakera kemudian mendengus, "Ya... dia memang sudah mengatakan semuanya kepadaku..."


"Berarti, kau tak punya alasan menuduhku seperti itu!" balas wanita itu tanpa memandang Sakera. Ia masih fokus pada gundukan tanah basah dihadapannya.


"Ketetapan hatiku mutlak!" ujar Sakera. "Kau penyebab kematiannya!" hujatnya.


"Kematiannya disebabkan oleh tindakan rudapaksa, bukan olehku!" sanggah wanita itu serentak berdiri dan kali ini ia benar-benar menantang tatapan Sakera yang masih mengandung dendam.


"Tapi kau yang membawanya ke arah sana!" balas Sakera, "Jika sedari dulu, Ningsih tidak menyanggupi keinginanmu, akhirnya tidak akan seperti ini! Kami akan berumah tangga, jauh dari segala keruwetan yang kau timbulkan."


"Kau mengenal Ningsih belum lama, Sakera!" sanggah wanita itu lagi. "Kau mengenalnya hanya ketika ia menyandang nama dan misiku untuk membuat musuh-musuhku tumbang. Jauh sebelum kau mengenalnya, akulah yang pertama kali menemukannya." tandas wanita itu dengan sikap angkuh.


"Akulah yang mengangkatnya dari lembah kebobrokan... Akulah yang mendandaninya, memberinya wajah baru dan penampilan baru..." Wanita itu menatap Sakera lalu mendengus, "Apakah dengan wajah lamanya membuatmu tertarik, Sakera?" pancing wanita itu kemudian tersenyum dengan tatapan sinis. "Kupikir lelaki manapun, meskipun jatuh cinta tetaplah mengedepankan pikiran rasionalnya..."


"Cukup Sakera! Bicaramu sudah ngawur!" sergah wanita itu.


"Tidak! Aku masih waras Musdalifah!" sanggah Sakera. "Dan aku menuntutmu!"


"Oh ya? Berani benar kamu!" sergah wanita itu.


"Ya! Aku menuntutmu atas kematian Ningsih!" seru Sakera dengan keras.


"Apa tuntutanmu?!" tantang wanita itu.


"Kau harus menggantikannya!" tuntut Sakera.


"Kau akan membunuhku?! Apa kau pikir kau sanggup mengayunkan sabitmu kepadaku?!" ejek wanita itu dengan senyum sinis.


"Aku tidak akan menuntut darahmu!" ujar Sakera.


"Oh ya? Lalu apa yang kau tuntuy dariku?!" tanya wanita itu.


"Kau harus menggantikan posisi Ningsih sebagai pengantinku!" tuntut Sakera.


"Kau sudah gila!" tukas wanita itu.


"Kalau kau menolak, aku akan membeberkan semuanya kepada orang itu... kujamin kau tak akan mendapatkan balas dendammu itu." ancam Sakera.


Rahang wanita itu mengencang mendengar ancaman lelaki Madura itu. Ia tahu, Sakera tidak pernah main-main dengan ucapannya. Lelaki itu berbalik meninggalkan wanita itu sendirian disisi makam tersebut.


Nampak sang fajar mulai mengintip diufuk timur yang mulai dilapisi hamparan lazuardi.[]