
Arya bangkit dan Trias mengikutinya. Lelaki itu menatapi sang opsir.
"Apa Anda bisa memberiku harapan yang baik?" tanya Arya.
"Seperti apa?" balas Trias dengan senyum dikulum.
"Aku hanya ingin kasus ini segera selesai." ujar Arya dengan senyum hambar.
"Mengembalikan ibu dari anak itu ke pelukan Anda?" pancing Trias mengangguk samar ke arah pusara kecil tersebut.
Arya tak menjawab. Senyum hambar dan dua baris air mata yang mengalir memberi jawaban tentang apa sebenarnya yang berada dibalik hati pemiliknya. Trias mengangguk-angguk dengan pelan.
"Dengan doa yang penuh harap, aku pikir... Allah nggak akan membiarkan hamba-Nya terus menerus tenggelam dalam kesedihan..." jawab Trias penuh makna lalu tersenyum kembali. "Apakah kita bisa balik? Atau Anda masih ingin disini?" pancing Trias.
Arya mengangguk. "Baiklah, mari kita pergi." ajak lelaki itu pada akhirnya dan melangkah mendahului Trias meninggalkan dua hamparan pusara di petak itu.
Kedua lelaki itu menyusuri jalan setapak yang membelah rimbunan pepohonan pisang dan pepohonan lain yang bercampur hingga akhirnya mereka tiba di halaman belakang kedai.
Trias mendahului, "Kelihatannya saya memiliki urusan sedikit. Saya pamit duluan." ujarnya sembari mengangguk hormat kepada enterpreneur muda itu dan melangkah lebih dulu menuju Maung hitamnya. Tak lama kemudian, kendaraan taktis sipil itu meluncur meninggalkan lokasi tersebut.
Tanpa setahu Arya, sang opsir menghubungi koleganya di Polsek Paguyaman.
📲 "Lakukan cara bagaimanapun untuk menemukan DNA wanita itu. Saya tunggu laporan darimu." ujar Trias.
📲 "Siap Pak!" seru seseorang.
Trias mengakhiri percakapan selulernya dan kembali mengemudikan Maung Hitam itu meluncur menyusuri jalanan Trans Sulawesi tersebut.
...***...
Arya dihubungi secara seluler dari Kamala. Lelaki itu menerima panggilan itu pada saat All New Avanza hitamnya melaju dijalanan.
📲 "Aku tunggu kamu dirumah." ujar Kamala kemudian mengakhiri percakapan selulernya.
Arya meletakkan kembali gawainya di dashboard mobil dan segera menekan pedal gas agar kendaraan itu makin melaju.
Perjalanan dari Paguyaman itu ditempuh dalam beberapa jam dan All New Avanza hitam itu tiba di kediaman Kamala ketika malam telah menjelang.
Kamala telah menunggunya diberanda. Arya keluar dari mobilnya dan melangkah memasuki kediaman tersebut.
"Maaf membuat kamu menunggu." ujar Arya dengan senyum permintaan maaf.
Kamala hanya menghela napas dan membuang hawa itu dengan pelan lalu menjawab, "Sudahlah." ujarnya menepis. "Bagaimana keadaanmu hari ini? Aku tak melihatmu beberapa hari ini di kantor." tukasnya.
"Aku membantu pihak kepolisian mencari tentang Muzdalifah." jawab Arya.
"Ada apa lagi?" tanya Kamala dengan ketus. "Perempuan itu agaknya terus membayangimu hingga saat ini." sindirnya.
"Ya, aku paham jika kau ingin menebus kesalahanmu dimasa lalu." sela Kamala agak sedikit menaikkan tensi bicaranya. "Tapi, bisakah kau fokus dulu pada kehidupanmu saat ini? Aku melihat kau seakan bukan dirimu lagi."
Arya hanya tersenyum mendengar ucapan kekasihnya yang bernada keluhan itu. "Apakah kau membiarkan aku berdiri disini untuk dimarah-marahi?" tanya lelaki itu.
Kamala menarik napas dan mendengus pelan lalu berbalik melangkah ke dalam rumah, diikuti oleh Arya.
Arya masuk ke ruang tamu dan duduk disalah satu bagian sofa yang terdapat disudut dinding. Sementara itu, Kamala muncul dari ruang lainnya membawa nampan berisi dua gelas sirup dan setoples biskuit kemudian meletakkan penganan itu didepan Arya.
Lelaki itu meraih gelas dan meneguk sedikit sirup saat Kamala yang telah duduk disampingnya berujar.
"Aku mau resign..." ujar Kamala.
BYURRR....
Seketika Arya tersedak menyemburkan sebagian cairan sirup yang sempat diminumnya keluar dari mulutnya. Lelaki itu menatap kekasihnya.
"Kenapa?" tanya Arya.
Kamala mengeluarkan sebuah dokumen dari bawah rak meja dan meletakkan lembaran itu di pelataran meja tersebut. Arya meraih dokumen itu dan membacanya. Beberapa jenak alisnya terlihat bertaut-taut lalu datar kembali.
"Kau sudah memikirkan hal ini matang-matang?" pancing Arya dengan suara datar menyembunyikan emosinya yang mulai tersulut.
"Menurutmu?" balas Kamala.
Arya meletakkan lembaran itu di meja dan menatap wanita disampingnya.
"Kamu tahu kan kalau pernikahan kita tinggal dihitung hari?" ujar Arya mengingatkan. "Bagaimana bisa kau memutuskan untuk meninggalkan Gorontalo dengan beasiswa itu dan juga meninggalkanku?"
"Arya... ini peluang." ujar Kamala. "Aku sudah menunggunya lama."
"Dan apakah aku tidak masuk dalam penantianmu itu?" tekan Arya dengan suara agak lirih namun ketus.
Kamala kemudian diam, kelihatannya berpikir dan mengucapkan kata-kata yang bernada ragu.
"Kita bisa menundanya..." desisnya.
"Menunda?! Menunda katamu?" seru Arya dengan nada tinggi. Hati lelaki itu kesal. "Kau tahu bahwa aku maupun kau tidak lagi memiliki waktu untuk itu? Ibuku bisa jantungan mendengar kita menunda pernikahan!" tandasnya.
"Pikirkan dulu baik-baik, Arya." pinta Kamala.
Arya berdiri. "Kurasa tidak." tandasnya. "Aku berikan waktu kepadamu tiga hari untuk memutuskan apakah kau memilih aku, atau beasiswa itu." geramnya. "Pastikan untuk melakukan sholat istikharah sebelum membuat keputusan yang akan merubah kehidupanmu ke depannya."
Selesai mengucapkan ultimatum itu, Arya melangkah meninggalkan ruangan itu menuju mobilnya, tanpa sedikitpun dikejar oleh Kamala. All New Avanza hitam itu meluncur meninggalkan kediaman itu dikala jelaga malam telah meliputi angkasa ditabur bintang-bintang yang berkerlap-kerlip menyemarakkan malam yang tak ditemani rembulan itu. []