SCHNUCKY

SCHNUCKY
ORANG YANG TAK DIINGINKAN



"Aku selalu serius dengan apa yang kulakukan." bantah Arya dengan lembut. "Aku hanya menyerahkan sebagiannya kepadamu. Jawabanmu kepada Mama semakin meyakinkan bahwa apa yang kulakukan bukan sesuatu yang tidak boleh ditunda lagi."


"Kau banyak berkilah." tukas Kamala kembali tersenyum. "Ingat Arya. Dari sekian mata orang yang kau jajaki. Kau tak akan bisa membohongi mata seorang jaksa, reserse, dan psikolog... termasuk seorang konselor sepertiku."


Arya sejenak memanggil pelayan dan muncullah seorang lelaki berpakaian apik dan mengenakan celemek. Dengan isyarat, Arya meminta pelayan itu membersihkan meja.


Pelayan itu mengangguk dan melakukan pekerjaan tersebut. Setelah pelayan itu membawa pergi peralatan makan, Arya kemudian memajukan tubuhnya.


"Oh ya?" pancing Arya.


Kamala kembali tersenyum menanggapi pancingan lelaki itu. Arya mengangguk-angguk.


"Sekarang, katakan padaku... apa yang ada dalam benakku jika kau mampu menerka isi otakku lewat tatapan mata itu. Silahkan." tantang Arya.


Kamala juga akhirnya mendekatkan tubuhnya dan wajahnya kemudian kedua matanya memicing menatap kedua mata Arya. Tak lama wanita itu kembali tersenyum.


"Apa yang ada di isi otakku?" tanya Arya.


"Sebaiknya kau mengantarku pulang." jawab Kamala.


Arya menegakkan tubuhnya. "Lho? Kenapa?" tanya lelaki itu mengerutkan alisnya.


Kamala memperlihatkan lengannya yang dilingkari arloji. "Ini sudah pukul sepuluh malam, Arya. Kasihan ART dirumahku. Mungkin dia sudah terkantuk-kantuk ditempatnya hanya menunggu kepulanganku."


Arya tersenyum. "Ya sudah. Mari kita pulang." Lelaki itu kemudian mengeluarkan dompetnya dan merogohkan lima lembar rupiah berwarna biru lalu meletakkan uang-uang kertas itu di meja makan.


Kamala ikut bangkit dan melangkah keluar diikuti oleh Arya. Mereka menyusuri taman kecil dan tiba ditempat parkir.


"Sebelumnya, bisakah kita singgah ke Pasar Jajan?" pinta Kamala. "Aku mau membelikan jajanan kesukaan ART ku itu."


Sekali lagi Arya mengangguk. Tak lama kemudian All New Avanza hitam tersebut keluar dari taman parkir dan kembali melaju ke jalanan.


...*******...


Arya sedang memeriksa beberapa file yang diberikan Laila, ketika pesawat telepon di meja kerjanya berdering. Arya menjeda kegiatannya sejenak dan mengangkat gagang telepon lalu mendekatkan speakernya ke telinganya.


📞 "Ya..." jawab Arya mengepitkan gagang telepon tersebut diantara leher dan pundaknya lalu kembali memeriksa beberapa file yang tanggung untuk dijeda.


📞 "Orang bernama Iswan datang menemui Bapak. Dia sekarang ada di Lobby." ujar Laila.


📞 "Aku akan kesana." ujar Arya.


Percakapan lewat telpon itu berakhir dan Arya meletakkan kembali gagang telepon itu dan menutup berkas terakhir yang diperiksanya. Lelaki itu bangkit dari tempat kerjanya dan melangkah santai menuju pintu.


Setelah mengangguk sejenak ke hadapan Laila, sang presdir melangkah kembali menyusuri koridor dan tiba ditangga. Ia menurunnya dan tiba di kubikel resepsionis.


Arya mengedarkan pandang dan menemukan Iswan duduk disalah satu sofa di ruangan itu sembari membawa koran terbitan hari itu. Arya mendekatinya.


"Sudah lama menungguku?" tanya Arya mengagetkan Iswan yang langsung melipat koran itu dan meletakkannya pada kantong disisi sofa.


"Kau selalu saja mengagetkan aku." gerutunya.


"Aku memang selalu begitu." ujar Arya kemudian duduk di sofa menghadap ke arah Iswan. "Ada yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Ah ya." ujar Iswan kemudian merogoh saku dalam jasnya dan mengeluarkan secarik kertas lalu menyodorkannya ke arah Arya.


"Apa itu?" tanya Arya yang tak mengulurkan tangannya menyambut kertas itu.


"Yang kamu minta." jawab Iswan kembali menyodorkan lagi kertas itu.


Kali ini Arya mengambil kertas itu dan membacanya. Lelaki itu kemudian menatap Iswan.


"Ini alamat siapa?" tanya Arya.


"Ini alamatnya Pak Basyir, yang kau cari-cari itu." jawab Iswan dengan kesal.


Arya terlonjak kaget. "Oh ya?" responnya dengan senyum terkembang. "Bagaimana caranya kau mendapatkannya?"


"Kamu tak perlu tahu." jawab Iswan dengan angkuh. "Kau sekarang hanya tinggal melakukan apa yang kau inginkan."


"Ya. Tentu saja." ujar Arya.


Jauh beberapa jarak, seseorang mengamati kedua lelaki itu. Tatapan matanya membesi.


Dia harus kusingkirkan...


Sanubari si pengintip itu seakan menghasutnya untuk melakukan sesuatu kepada orang yang tak diinginkannya itu.[]