
All New Avanza hitam itu baru saja memasuki lahan parkir kediaman Datau-Datunsolang ketika Anya muncul dan mengejar Arya yang keluar dari kendaraannya.
"Kakak dari mana saja?" tanya Anya dengan nada cemas.
Arya menangkap keganjilan pada nada suara adiknya. "Kenapa kamu menanyakan hal itu?" balas Arya. "Aku baru saja dari rumahnya Kamala." Lelaki itu memicingkan matanya. "Kenapa?"
"Kakak nggak dengar berita?" pancing Anya.
"Berita apa?" tanya Arya dengan lirih.
"Kak Iswan mati dibunuh orang!" seru Anya.
HAH?!
Arya terhenyak kaget. "Jangan main-main kamu!" sergahnya.
"Siapa yang main-main?" sanggah Anya. "Sudah ada diberita kok!"
Arya tidak jadi masuk kedalam rumah dan kembali masuk ke kendaraannya. All New Avanza hitam itu kembali meluncur meninggalkan kediamannya.
...****...
Trias berdiri disisi salah satu petugas forensik yang sedang mengotopsi mayat Iswan yang membujur dimeja. Reserse itu mengamati dengan seksama apa yang dilakukan dokter itu. Otopsi itu berlangsung selama satu jam.
"Bagaimana Dok?" tanya Trias ketika dokter itu telah merampungkan tugasnya.
Sejenak dokter itu menghela napas lalu memberikan keterangan.
"Korban sempat melakukan persenggamaan sebelum akhirnya meninggal." ujar dokter itu menunjuk alat kelamin Iswan. "Dibatang dzakar itu masih tersisa cairan senggama dan air mani yang bercampur."
"Terus... warna memar dibagian sternum dan xiphoid itu?" tanya Trias dan kemudian menebaknya sendiri. "Apakah kematiannya diakibatkan oleh pukulan pada wilayah itu?"
Dokter itu tersenyum. "Anda sendiri sebagai pakar beladiri, tentu tahu hal itu." ujarnya. "Bagian xiphoid retak dan menusuk kedalam menyebabkan cedera ulu hati. Selain itu kelihatannya pelaku menghantam dada bagian kiri korban mengakibatkan commutio cordis..."
"Commutio cordis?" gumam Trias dengan lirih.
Dokter itu mengangguk. "Gangguan fungsi jantung akibat adanya benturan keras... jantung dipaksa berhenti berdetak... itu juga yang menjadi penyebab kematian korban."
"Berarti pelaku melayangkan pukulannya dengan kecepatan 48 km/jam..." tebak Trias.
Dokter itu tersenyum kembali. Trias membuang napasnya. "Anda sudah menghubungi keluarganya?"
"Sudah... kemungkinan sedikit lagi mereka akan menjemput mayat ini." ujar dokter itu.
"Bagaimana dengan korban-korban yang lainnya? Apa anda bisa menebak karakter senjata yang dimiliki pelaku?" tanya Trias.
Dokter itu menggeleng. "Sayang sekali, Komandan... saya tidak tahu."
Trias tak bisa lagi menemukan jalan. Ia menghubungi sahabatnya. Tak lama gawai itu memperdengarkan panggilan yang dijawab.
📲 "Halo, Assalam alaikum..." sapa seorang lelaki diseberang.
📲 "Ken... kamu punya waktu nggak saat ini?" tanya Trias.
Sejenak terdengar suara tawa diseberang.
📲 "Kamu itu lagi ada urusan apa kok tanya waktu saya?" tanya lelaki diseberang yang tak lain adalah Kenzie, sahabat karibnya.
📲 "Kamu punya waktu nggak?" tanya Trias lagi.
📲 "Bilang dulu, ada apa?" tanya Kenzie.
📲 "Aku minta tolong sama kamu. Bisa kalian berdua datang ke...." Trias memberitahu alamatnya. "Aku tunggu sekarang."
📲 "Lho? Berdua?" tanya Kenzie.
📲 "Ya... kamu sama Chiyome, kutunggu sekarang." jawab Trias. Chiyome adalah nama asli dari wanita bernama Azkiya Zahra. (Untuk lebih mengenal tentang Chiyome dan Kenzie, silahkan membaca novel berjudul Lazuardi Cinta.)
📲 "Okey... tunggu sebentar." ujar Kenzie dan komunikasi seluler itu terputus.
...****...
Suasana duka melingkupi keluarga Nusi. Kematian Iswan yang menggenaskan itu menggoncangkan semua anggota keluarganya. Suara tangis dan ratapan terdengar sahut-sahutan memenuhi suasana duka tersebut.
Arya tiba ditempat dan bergabung dengan komunitas warga yang bersimpati atas wafatnya lelaki tersebut.
Tak berapa lama kemudian ambulans yang membawa jenazah Iswan tiba dikawal sebuah mobil patwal dan sebuah lagi mobil taktis warna hitam.
Raungan ratapan bercampur tangisan terdengar lagi saat jenazah Iswan yang dibungkus kantong mayat itu dikeluarkan dari dalam mobil ambulans dan dibawa kedalam rumah.
Arya ikut berdiri dan melangkah masuk kedalam rumah, sekedar ingin melihat wajah Iswan untuk yang terakhir kalinya. Kantong mayat itu dibuka dan jenazah Iswan dikeluarkan dengan hati-hati kemudian disemayamkan di ranjangnya. Para anggota keluarga mengelilingi ranjang itu dan menangisi lelaki tersebut.
Arya telah puas memandangi wajah sahabatnya itu lalu membalik keluar dari ruangan. Tepat ketika ia tiba diruang tamu, langkah lelaki itu tertahan saat Trias muncul dihadapannya.
"Bisa kita bicara, Pak Arya Kusuma Datau?" tanya opsir tersebut dengan suara yang mengintimidasi.[]