SCHNUCKY

SCHNUCKY
URUS SAJA BAHAGIAMU



DOR!!!


Arya mendengar tembakan. Tapi ia tak merasai sebijipun proyektil menembusi tubuhnya. Arya membuka mata dan menemukan Kamala jatuh terduduk memegangi telapak tangannya yang berdarah. Pistol dalam genggamannya telah menggeletak di lantai, beberapa jarak darinya.


"Kamala!!!" seru Arya dengan panik.


"Diam ditempat Pak Arya!" seru seseorang. Arya urung menghambur ke arah Kamala. Lelaki itu menatap ke arah pemilik suara.


Trias berdiri dengan santai mengarahkan lengan berototnya ke depan. Sepucuk revolver Raging Bull 545 Remington tergenggam ditangannya. Moncong senjata pabrikan Taurus dari Brazil itu menyemburkan asap tipis pertanda baru saja memuntahkan sebutir timah panas yang berhasil melukai Kamala sehingga ia tak sempat menembakkan pistolnya.


"Pak Trias?" cetus Arya dengan bingung.


"Kamala Laiya! Kamu dijerat dengan pasal 338 dan 340 KUHP tentang pembunuhan, pasal 378 KUHP tentang pemalsuan identitas dan Pasal 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang penyalahgunaan senjata tanpa ijin!" seru Trias sambil melangkah mendekati keduanya.


Kamala tertawa. "Kalian pikir, aku takut dengan ancaman itu?!" serunya tiba-tiba melompat tiarap meraih pistol yang menggeletak dilantai dan berbalik terlentang mengarahkan moncong SIG P229 ke arah Arya.


DOR!!


Arya tersentak ketika peluru 9x19mm Parabellum yang dimuntahkan oleh pistol dalam genggaman Kamala menembusi lengannya. Lelaki jatuh ke lantai memegangi lengannya yang berdarah diterjang peluru.


Kamala kembali hendak mengarahkan pistolnya ke arah Arya yang menggeletak dilantai ketika Trias kembali mengarahkan moncong revolver 545 Remington kepada Kamala, memuntahkan sebutir 9x19mm Luger menembus perut Kamala.


DOR!!!


Kamala tersentak dan terbaring diam. Tangannya yang menggenggam pistol itu terkulai dilantai. Trias menyarungkan revolver besarnya tanpa ragu. Opsir itu yakin targetnya tak akan lagi melakukan perlawanan.


Arya menatap nyalang ke arah Kamala yang terbaring diam. Lelaki itu perlahan merayap menjangkau tubuh Kamala dan menggapainya dalam pelukan.


Sementara Trias hanya diam dan memperhatikan dari jauh. Arya mengangkat kepala wanita itu dan membelai rambutnya. Lelaki itu lega ketika menyadari Kamala masih hidup. Napasnya masih ada meskipun tarikannya lemah.


"Kamala... Kamala...." panggil Arya dengan lemah.


"Kau... " ujar Kamala.


"Balas dendammu sudah terbalas Kamala..." ujar Arya. "Saatnya kau memikirkan dirimu... memikirkan kita..." ujarnya tetap membelai rambut wanita itu.


Kamala hanya tersenyum lemah. "Aku... nggak pantas disisimu... aku kotor... carilah perempuan lain..."


Arya menggeleng lemah. "Tidak... tidak... bagiku, kaulah yang pantas disisiku..."


Kamala membelai wajah Arya. "Jangan pikirkan sedihku... jangan pikirkan bahagiaku..." sejenak wanita itu meringis kesakitan lalu menyambung lagi. "Aku paling tahu tentang hatiku... urus saja... bahagiamu..." senyum wanita itu makin lama makin layu dan tatapan sayu itu akhirnya memejam kembali seiring dengan belaian lembut yang menyapu wajah tirus Arya itu turun dan akhirnya menggeletak dilantai.


Lengan kecil itu terkulai kembali dan Kamala melepaskan hidupnya. Arya hanya bisa menunduk pilu. Dari kejauhan, terdengar bunyi sirine dari kendaraan kepolisian yang mendekati Tempat Kejadian Perkara.


...****...


Arya menatap sebuah pusara.


...KAMALA T. LAIYA...


...Cinta dan Belahan Hatiku....


Lelaki itu mendesah sejenak sembari memperbaiki gips yang membalut lengannya yang dilukai oleh proyektil. Angin sepoi sore itu bertiup menyapu pelan wajah lelaki itu.


Sekarang kau sudah tenang. Tidurlah dengan damai disisi anak kita sayang. Aku selamanya tak akan meninggalkanmu....


Arya menarik napas lagi dan membungkuk meletakkan sekuntum bunga ke depan pusara lalu menyapu sejenak hamparan tanah yang masih basah. Setelah puas menjiarahi makam itu, Arya membalik tubuh dan melangkah meninggalkan makam itu menyusuri jalanan kecil yang membelah hutan kecil di kawasan itu.


..._-T A M A T-_...