SCHNUCKY

SCHNUCKY
BAHKAN SEMUT BISA TERLUKA HATINYA



Mirnawati sedang memasak untuk sarapan pagi. Anggota keluarga Datau-Datunsolang itu telah bangun dan beraktifitas sejak pagi pukul empat. Ruslan sendiri hari ini akan meninjau lagi perkebunannya di area pedalaman Boalemo. Mirnawati kali ini berinisiatif menemani suaminya selama seminggu.


Arya menutup mushaf Al-Qur'an dan mencium sampulnya dengan khusyuk sebagai bentuk penghormatan kepada kitab suci agamanya tersebut. Lelaki itu kemudian meletakkan benda itu diatas nakas.


Semenjak mimpi buruk tentang Muzdalifah datang menghantuinya, lelaki itu benar-benar tenggelam dalam ritual itu. Selain sebagai sunnah yang bersiap mu'akkad, membaca Al-Qur'an juga berhasil menenangkan jiwanya yang kalut sebab dirundung terus oleh mimpi buruk itu.


Namun ketika ia bertemu Kamala, perlahan-lahan mimpi itu mulai jarang mendatangi tidurnya. Ditambah dengan bertemu langsung dengan Muzdalifah, meskipun perempuan itu belum benar-benar menerima kedatangannya, setidaknya Arya sudah tak diganggu lagi oleh mimpi-mimpinya.


Entah kenapa keinginannya untuk menemui Muzdalifah muncul dan mendesak-desaknya untuk segera pergi. Lelaki itu berupaya menenangkan perasaannya.


Mungkin dia saat ini sedang memikirkanku...


Arya tersenyum mengingat kemungkinan tersebut. Lelaki itu bangkit dan melepaskan pakaiannya. Ia meraih handuk lalu keluar dari kamar. Jam di dinding kamarnya telah menunjukkan pukul 5.30 pagi.


Kamar mandi itu terletak di ujung ruang belakang, bersisian dengan dapur dimana Mirnawati sedang melakukan kegiatannya.


Anya keluar dari kamar mandi mengenakan piyama mandi dan handuk yang diikatkan dikepalanya untuk mengeringkan rambut, meski rambut gadis itu sudah dibuat pendek mengikuti aturan yang diterapkan oleh sekolah kedinasan.


"Eh, kamu mau kemana? Pagi-pagi sudah mandi?" tanya Arya.


"Yeee... mandi pagi itu baik untuk kesehatan." ujar Anya.


Arya terkekeh. "Biasanya nggak. Dulu saja kamu kalau disuruh bangun dan mandi pagi, pasti kamu dawdling supaya dimarahi Mama terus-terusan." oloknya.


"Adat-istiadat di asrama..." ujar Anya ikut terkekeh. "Lama-lama jadi kebiasaan....sudah ah, ayo mandi." ujarnya lalu menyingkir dan melangkah meninggalkan Arya.


Anya melewati ibunya yang sementara memasak. Ia menyapa. "Masak apa, Ma?"


Mirnawati diam tak merespon pertanyaan putrinya. Anya mencibir dan mendengus lalu melangkah pergi diikuti oleh tatapan sinis wanita parobaya itu.


Ruslan sudah ada diruang keluarga sedang menonton berita di televisi. Sementara itu Mirnawati yang selesai dibantu oleh ART telah menyelesaikan pekerjaannya dan menata semua hidangan itu di meja makan. Wanita itu sejenak menoleh ke dinding menatap si penanda waktu yang bertengger disana.


Sudah pukul enam... saatnya mandi dan bersiap-siap....


Mirnawati masuk ke kamar dan membersihkan diri dikamar mandi mereka yang terletak dalam kamar.


Arya sudah selesai dan keluar dari kamar mandi dan bergerak menuju kamarnya. Sementara Anya sudah muncul lagi mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung, dan celana jeans belel. Rambutnya yang pendek itu sebagiannya dikuncir ke belakang, mirip dengan gaya kunciran Ayame, karakter favoritnya karena dulunya Anya suka memainkan game strategi Tenchu di Playstation.


"Berita apa Pa?" sapa Anya sambil duduk disisi ayahnya kemudian mengambil sekeping kerepek pisang dipiring yang tergeletak dimeja kecil depan sofa yang mereka duduki berdua.


"Berita-berita picisan saja...." jawab Ruslan dengan pelan sambil menganggukkan kearah layar LED televisi.


Anya mengangkat alis dan mengangguk-anggukkan kepalanya dan memperhatikan layar televisi yang menampilkan beberapa berita.


"Nya..." ujar Ruslan kepada putrinya.


Anya menoleh menatap ayahnya. Ruslan mendehem lalu bertanya. "Kapan kamu ujian akhir?"


"Dua minggu setelah liburan ini." jawab Anya ditengah aktifitasnya mengunyah kerepek pisang itu.


"Apa semuanya sudah dipersiapkan?" tanya Ruslan yang masih tetap menatap layar televisi.


"Kalau itu aman, Pa." jawab Anya juga memperhatikan layar televisi. "Kan semua administrasinya sudah diselesaikan. Kalau perkara kesiapan, Insya Allah, Anya sudah siap menjalani ujian akhir. Doakan ya Pa?"


Ruslan tersenyum sambil meraih remote dan menekan salah satu tombol mengalihkan channel untuk mendapatkan tayangan yang diinginkannya.


"Kami selalu mendoakan kamu Nak. Apapun untuk kebahagiaanmu, kami akan selalu mengupayakannya." jawab Ruslan.


"Makasih Pa..." sahut Anya dengan senyum.


"Tapi kalau lulus nanti... kamu memang harus tetap di Bogor?" tanya Ruslan.


"Tergantung..." jawab Anya. "Toh bukan hanya Badan Sandi Negara yang memerlukan seorang analisis kriptografi, tapi instansi pemerintah lain yang bidangnya sebagian berhubungan dengan itu."


Ruslan mengangguk-angguk. Anya terkekeh. "Kenapa? Kalian nggak mau Anya jauh-jauh kerjanya?" goda anak perempuan itu lalu tertawa.


"Ya nggak mungkin Papa dan Mama mengandalkan Arya." ujar Ruslan. "Tugas anak perempuan itu mengurus orang tuanya, meskipun dia telah bersuami. Bukan berarti dengan itu dia boleh membantah perintah suaminya." pria parobaya itu lalu mengalihkan tatapannya dari layar televisi kepada Anya.


"Betul ketika seorang perempuan menikah, ia berkiblat kepada perintah suaminya. Tapi, manakah seorang suami yang tega melarang istrinya mengurus ayah atau ibunya yang sudah tua? Papa saja tidak pernah melarang mama kalian mengurusi kedua orang tuanya sampai wafat, karena Papa tahu, hanya anak perempuan yang bisa melakukan itu. Anak laki-laki nggak akan bisa melaksanakan tanggung jawab tersebut."


Anya mengangguk-angguk lalu tersenyum. "Ya, kalau begitu, Papa doakan saja Anya dapat jodohnya yang perhatian kepada orang tuanya dan mertuanya."


"Amiin..." sahut Ruslan juga mengangguk-angguk.


Arya keluar dari kamarnya. Ruslan menatap putranya dengan alis berkerut.


"Refreshing, Pa...." kilah Arya. "Kalau diam-diaman dalam rumah, justru malah tambah stress. Papa kan tahu kalau Arya ini gila kerja."


"Tapi kan kamu masih sakit." tukas Ruslan lagi.


"Nggak... itu kan sudah berlalu." sanggah Arya lagi. "Yang jelas, Arya masih harus merehatkan diri dulu."


"Ayo sarapan...." seru Mirnawati dari ruangan makan.


Anya dan Ruslan serentak bangkit dan menyusul Arya melangkah ke ruang makan. Mereka kemudian duduk mengelilingi meja yang telah terhampar berbagai jenis hidangan dipiring-piring.


"Waaah... kelihatannya enak nih." seru Anya dengan tatapan berbinar.


"Memang selama ini masakan Mama nggak enak ya?" sembur Mirnawati tiba-tiba.


Anya kaget namun heran kemudian. Gadis itu menatap ayah dan kakak lelakinya lalu kembali menatap ibunya.


"Mama kenapa sih? Kok pagi-pagi begini sudah macam kucing mau bertengkar saja." tanya Anya dengan risih sambil duduk dikursi.


Arya dan Ruslan juga ikut duduk dan menatap kedua perempuan itu beradu pandang. Anya langsung mengangguk-angguk paham.


"Oooh... Anya tahu nih." tebaknya. "Mama marah karena komentar Anya kemarin sore, begitu?"


"Sudah tahu, nanya!" gerutu Mirnawati sambil mencibirkan bibirnya.


Ruslan hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Arya juga tetap menonton keduanya.


"Oooh, jadi ketika Mama bicara begitu, Mama pikir saya nggak sakit hati?" pancing Anya. "Apakah karena Mama mengaku orang tua lalu seenaknya begitu?"


"Eh, mulai tahu ngomong kamu ya?" seru Mirnawati.


"Maaa...." tegur Ruslan.


"Ma... nggak apa-apalah kalau Mama nggak suka penampilanku... itu kan seleranya Mama." ujar Anya. "Apa karena Mama nggak suka lalu Mama berhak menghina Anya ssampai segitunya? Coba kalau orang lain yang Mama begitukan. Apakah mereka masih tertawa dan menganggap kata-kata Mama itu candaan?"


Mirnawati hanya mendengus dan pura-pura tidak mendengar perkataan putrinya. Ia mengambil piring milik suaminya dan menyendokkan nasi ke pelataran piring tersebut dan mengembalikan piring yang penuh makanan itu ke hadapan Ruslan.


"Yang ada, Mama malah di gampar sama mereka." gerutu Anya yang mulai kehilangan minat untuk sarapan.


"Apa? Kamu mau gampar Mama? Mau coba-coba?" tukas Mirnawati berbalik menatap Anya dengan mata melotot.


"Siapa yang mau gampar Mama?" sanggah Anya. "Ma, bercanda juga ada batasannya. Kalau orang yang dibecandai sakit hati, itu bukan lagi bercanda namanya..."


"Kamu sakit hati?!" todong Mirnawati dengan sengit.


"Ma... siapapun kalau dicandai kelewatan juga nggak akan suka." balas Anya dengan sengit pula.


"Ya sudah!" pungkas Mirnawati. "Kalau kamu sakit hati, balas saja ke Mama." wanita parobaya tersebut kemudian mengangkat dagu dan melengos. "Mama sudah biasa disakiti sama anak-anak, terlebih kamu ini."


"Yeeee...." sembur Anya. "Anya bilang begini juga supaya nggak balas-balasan." tukasnya. "Apa gunanya main balas-balasan hanya gara-gara perkara begini? Dendaman amat jadi orang tua." gerutu Anya langsung bangkit dan menyorong lagi kursi kedepan. Ia tak jadi sarapan.


"Sudah ah, yang penting Anya sudah ngomong, terserah Mama mau naggapinya gimana." ujar gadis itu hendak pergi.


"Eh, eh, main tinggal saja." sergah Mirnawati mulai gusar. "Mau kemana kamu?"


"Anya mau sarapan diluar saja." jawab Anya memperlihatkan arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Ia mengetuk pelan kaca arloji itu. "Sudah terlambat nih mau ke Perpustakaan dan Arsip Daerah."


Anya melangkah pergi dan meninggalkan Mirnawati yang sewot marah-marah sendiri. Arya akhirnya tak perduli dan menyendok nasinya sendiri, juga lauk dan sayurnya kemudian makan mengikuti ayahnya yang berlagak cuek, menganggap pertengkaran yang berlangsung tadi dimeja makan seakan-akan tak pernah terjadi.


"Lihat anakmu, Pa!" seru Mirnawati menunjuk-nunjuk pintu garasi. "Mentang-mentang sedikit lagi jadi PNS, dia mulai seenaknya terhadap ibunya." ujarnya.


Arya menggeser piringnya ke tengah lalu bangkit. Mirnawati menatapi lagi anak lelakinya.


"Lho? Kau mau kemana?" tanya Mirnawati dengan heran.


"Merehatkan pikiran dengan jalan-jalan." jawab Arya pelan.


"Tapi kan kamu baru saja sembuh dari sakit." protes Mirnawati. "Beristirahatlah dulu dirumah."


"Nah, Mama kan hari ini barengan Papa ke Boalemo. Kalau begitu saya sendirian dong." ujar Arya dengan senyum.


"Ah, dasar anak-anak sudah nggak mau menurut. Mentang-mentang sudah besar, sudah merasa dewasa, berani menyanggah ini dan itu." omel Mirnawati dengan kesal.


Arya hanya senyum meladeni omelan ibunya dan meninggalkan wanita parobaya tersebut mencak-mencak sendirian ditemani oleh suaminya yang setia mendengarkan monolog yang keluar dengan lancar dari mulut rempongnya itu.[]