
Arya jatuh sakit!
Keluarga Datau-Datunsolang benar-benar berada dalam kebingungan yang besar. Mereka tak tahu apa penyebab yang membuat putra pertama mereka drop dan menggeletak lemah dikamar VIP Rumah Sakit Daerah Aloei Saboe.
Pernyataan dokter yang mendiagnosis Arya, membuat Ruslan maupun Mirnawati hanya bisa mengerutkan alisnya.
"Aku tak tahu apa pemicunya." ungkap dokter itu. "Yang jelas, Arya mengalami mental breakdown yang sangat kuat menyentuh terdalam dari jiwanya, menyebabkan depresi yang berhasil melumpuhkan fungsi motorik ditubuhnya."
"Lalu... apa yang mesti kami lakukan, dok?" tanya Mirnawati dengan cemas.
Dokter itu menggeleng. "Sampai kita tahu apa penyebabnya, kita hanya bisa berdoa semoga Arya memiliki hati yang kuat sehingga ia bisa mengatasi sendiri masalahnya."
"Selama ini ia tak mengutarakan apa-apa kepada kami." keluh Ruslan. "Apakah ini berkaitan dengan masalah perusahaan?"
Dokter hanya bisa mengangkat bahunya. Anya menatap kedua orang tuanya. "Pa, Ma... aku mau ketemu dengan calon kakak iparku."
Mirnawati langsung terlonjak. "Ah ya! Kita belum mengabari Kamala perihal Arya yang drop." serunya.
"Hubungi dia, Mam." pinta Rusli.
Mirnawati mengangguk lalu mengeluarkan gawainya dari tas kecil dan menghubungi Kamala.
...******...
Kamala menatap tubuh Arya yang terbujur lemah dipembaringan. Sementara disampingnya Anya terus memperhatikan wanita itu. Merasa diperhatikan, Kamala menoleh menatap Anya.
"Kamu, adiknya?" tanya Kamala.
Anya tersenyum lalu mengangguk. Ia mengulurkan tangannya dan Kamala menyalami tangan gadis itu.
"Sejak kapan kalian saling kenal?" tanya Anya.
"Mau menginterogasi nih?" pancing Kamala sambil tersenyum.
"Arahnya kesitu sih." jawab Anya juga tersenyum. "Aku juga harus tahu bagaimana modelnya calon tatah iparku. Boleh, kan?"
Kamala tersenyum dan mengangguk. "Ya, tak apa-apa. Itu adalah bagian dari ta'aruf."
"Kabarnya, Tatah adalah seorang konselor." ujar Anya. "Apakah Tatah bisa memprediksi apa penyebab dari sakitnya Kakakku?"
"Bukankah dokter sudah mengungkapkannya kepada kalian?" tukas Kamala dengan senyum.
Anya menatap langit-langit ruangan dan mengangkat bahunya. "Iya sih... tapi belum terlalu jelas apa faktor penyebabnya."
"Mungkin Arya mengalami sesuatu peristiwa yang membuatnya syok sehingga membuatnya mentalnya jatuh." tebak Kamala.
"Peristiwa yang membuat syok?" gumam Anya. Gadis itu sejenak menatap kakaknya yang terbaring diam. "Apa yang membuatnya syok?" gumamnya dengan pelan.
Kamala lama menatap gadis itu. Ia mengamati Anya dengan teliti dan mengakui kalau gadis itu memiliki postur yang atletis. Bagaimanapun, Anya juga menjalani pelatihan dan kehidupan semi militer saat menimba ilmu disekolah kedinasan, dan itu membentuk tubuhnya sehingga lebih berisi dan kekar pada porsinya yang proporsional.
Seakan tahu ia diamati, Anya pun berujar, "Nggak usah menelanjangiku dengan tatapan itu, Tatah." tegurnya membuat Kamala langsung salah tingkah dan melengos menghilangkan rasa malunya.
"Tatah..." panggil Anya.
"Y-ya?" jawab Kamala dengan gagap.
"Tatah tahu nggak, apa yang menyebabkan Kakak jadi begini?" tanya Anya dengan datar.
Kamala menarik napas panjang dan memperbaiki duduknya.
"Tatah..." panggil Anya lagi.
Kamala kembali menatap gadis itu dan mendesah. "Jangan mendesakku, Anya." pintanya dengan lesu.
"Berarti Tatah tahu kalau Kakakku sakit karena apa. Iya, kan?" tebak Anya memicingkan mata.
Kamala diam lagi.
Anya menghela napas panjang. "Yaaahhhh... kalau Tatah nggak mau bilang juga nggak apa-apa." ujarnya dengan nada keluh dan pasrah. "Cuma kasihan... Kakak tak memiliki orang yang bisa mendukungnya pulih dari keadaan ini."
Kamala tersinggung dengan ucapan Anya dan ia mendengus. Anya mengerling kearah Kamala dengan alis yang terangkat sebelah.
"Tatah marah?" pancingnya.
Kamala hanya melengoskan wajahnya. Anya tersenyum.
"Aku harus berbuat apa supaya Tatah mau mengungkapkan penyebab sakitnya Kakakku?" pancing Anya lagi.
"Kenapa kau yakin kalau aku paham benar tentang sakitnya Arya?" tantang Kamala.
"Karena tatapan Tatah mengungkapkan demikian." ujar Anya. "Kita sama-sama seorang analisis Tatah. Bedanya hanya terletak pada spesialisasi yang kita geluti."
Kamala tiba-tiba menerbitkan senyum jahil. "Bagaimana jika kita melakukan sebuah kegiatan?" pancing wanita itu.
"Kegiatan?" ujar Anya dan balas memberikan senyum licik. "Kalau kegiatan itu bisa menyadarkan Kakak dari dropnya, aku akan melakukannya."
"Kamu yakin?" tuntut Kamala.
"Sudah, jangan banyak huangango. Ayo teruskan!" seru Anya dengan semangat.
"Jadi kamu menantang nih?" tukas Kamala tapi dengan senyum yang berubah licik.
"Lho? Kalau bukan karena Kakak, buat apa aku nguber-nguber begini?" balas Anya seraya memelototkan matanya yang lentik.
"Ini permainan asah otak." ujar Kamala.
"Memangnya aku ini masih anak kecil, pakai asah otak segala?" omel Anya.
"Mau nggak?" tantang Kamala, "Demi Arya, lho." hasutnya.
"Okey deh!" seru Anya.
"Kalau kamu menjawab benar, kamunya menang. Kalau jawabannya salah, aku yang menang." ujar Kamala.
Anya mendengus kesal. "Semua memang begitu kalau main asah otak." omelnya.
Kamala mengambil sebotol air mineral di nakas dekat pembaringan dan memperlihatkannya kepada Anya.
"Kalau kamu menjawab botol, kamunya menang." ujar Kamala menuturkan aturan mainnya.
"Lho? Kok sudah ada jawabannya?" protes Anya dengan bingung.
"Kalau begitu, enak dong." komentar Anya lalu tertawa pelan. "Berarti aku sudah menang dari sekarang." komentarnya dengan semangat.
"Kenapa begitu?" tanya Kamala.
"Tatah bayangkan saja." ujar Anya. "Kalau aku jawabnya botol, maka aku menang. Kalau aku jawab selain botol, aku kalah." ujarnya menjelaskan analoginya. "Kalau begitu, buat apa aku jawab yang lain? Jawabanku sudah pasti botol laaah..."
"Belum tentu..." sanggah Kamala.
"Sudah, ayo teruskan!" tantang Anya.
"Siap?" ujar Kamala.
Anya mengangguk mantap.
Kamala tersenyum licik. "Baik... ini pertanyaannya..." wanita itu berhenti sejenak untuk berpikir. Setelah itu ia lalu mengajukan pertanyaan.
"Pertanyaan pertama.... makananmu, apa?" tanya Kamala sambil menahan senyum.
Anya langsung kicep mendengar pertanyaan itu dan ia terjebak dalam pertanyaan yang diajukan Kamala.
"Kok sampai kesitu pertanyaannya?" protes Anya dengan bingung.
"Sudah... kalau nggak bisa jawab, ya kalah dong." ujar Kamala menghasut.
Anya mendengus kesal dan akhirnya berkomentar. "Gampang-gampang susah ya?"
Kamala menahan senyumnya. "Sudah, jawab saja. Makananmu apa?"
Anya mendengus lagi. "Berhubung ini permainan dan aku takut kalah... ya... enak nggak enak, makan botol!" jawab Anya dengan kesal.
"Kamu mau jadi kuda lumping ya?! Makan beling?" seru Kamala pura-pura kaget.
"Mau jadi kuda lumping kek, nggak kek, pokoknya makan botol!" tandas Anya lagi lalu tertawa ngakak.
"Ini kalau kau menang, apa yang akan kau lakukan?" pancing Kamala.
"Ya, kalau menang, saya mau syukuran." jawab Anya dengan polos.
"Ahaaaaa...." seru Kamala sambil tertawa. "Kamu kalah!"
"Lho? Kenapa begitu?" protes Anya lagi.
"Tadi kamu jawabnya, nggak pake botol!" jawab Kamala lalu tertawa lagi.
"Lho? Itu tadi sudah pertanyaan ya?!" seru Anya dengan kaget.
Kamala hanya tertawa saja. Anya mendengus.
"Wah, nggak adil tuh." komentarnya tidak puas. Kamala hanya terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Jadi tetap menantang nih?" pancingnya.
"Sebutkan pertanyaan berikutnya!" tantang Anya dengan gusar.
"Baik... pertanyaan kedua..." ujar Kamala dengan seringai licik lalu berujar. "Kakekmu siapa?!"
Anya berdecak kesal lagi. "La ilaha illallaaah..." gerutunya mengencangkan rahangnya. Setelah mengatasi emosinya, gadis itu menjawab, "Botol!"
"Kok, bapu kamu, botol?" olok Kamala lagi.
"Sudah diam! Bapu nggak tahu tuh." komentar Anya lagi dengan kesal.
"Masa sih Kakekmu botol?" olok Kamala lagi.
"De popo'oyo loma'o jo." omel Anya lagi. "Ma panggola tiyo, ja o tawa liyo boyito."
Kamala tersenyum lagi. "Pertanyaan ketiga... Nenekmu apa?"
Anya mendengus lagi. "Uhm.... Tatah nih kebangetan benar..." omelnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Kamala pura-pura polos.
"Pertanyaan yang lain dong." protes Anya.
"Berarti kalah nih." komentar Kamala menghasut.
"Aaahhh.... sialan." umpat Anya. "Nenek saya, ya botol deh!" jawabnya dengan pasrah campur jengkel.
Kamala tertawa lalu bertanya lagi. "Anakmu sebesar apa sih?"
"Botol!" seru Anya. Sebelum Kamala berkomentar lagi, gadis itu langsung menyela, "Anak kecil nggak tahu apa-apa!"
Kamala tertawa lagi, lalu bertanya, "Ini pertanyaan terakhir deh... kamu pilih Arya atau botol?" tanya wanita itu dengan cepat.
"Botooool!" seru Anya tanpa berpikir.
"Ahaaaa.... kamu kalah!" seru Kamala dan tertawa penuh kemenangan.
"Tatah sih licik, peraturannya Tatah yang pake." protes Anya.
"Yang penting, kamu kalah!" ujar Kamala dengan senyum puas.
"Jangan begitu dong, Tah..." ujar Anya memelas.
Kamala menghela napas. "Ya, sudahlah... aku akan katakan, apa yang membuat Arya jadi drop seperti ini." ujarnya.
"Nah, gitu dong." komentar Anya memuji."Ayo dong, jelaskan." pintanya.
Kamala menghela napas lagi. "Arya jadi begini gara-gara...."
TAP!!!!
Kamala terkejut dan menatap tangannya yang digenggam Arya dengan kuat. Anya ikutan terkejut.
"Kak! Kamu sudah sadar?!" serunya dengan senang.
Tapi Arya tak mengapresiasi kegembiraan Anya. Lelaki itu justru menatapi Kamala dengan tajam.
"Jangan pernah katakan apapun!" ujarnya dengan tegas kepada Kamala.[]