SCHNUCKY

SCHNUCKY
HOROR IN ESCAPE



DOR!!!


Arya merasa hanya Allah yang menggerakkan simpul refleksi dalam syaraf-syarafnya hingga dirinya dengan begitu cepat menghindar meskipun ia merasa bahwa ia benar-benar berada dalam paralysis motorik.


Orang itu menggeram dan kembali mengarahkan pistolnya.


DOR! DOR! DOR!


Keinginan bertahan hidup memacu Arya untuk terus menghindar meski pada akhirnya tembakan ketika berhasil melukai bagian atas dari dada kanannya.


Luka tembakan itu tak menjangkau paru-paru namun cukup menyisakan nyeri teramat sangat. Dalam seringai kesakitannya, Arya berupaya terus menyembunyikan dirinya.


Kelihatannya si penembak juga tak berminat untuk menginginkan kematiannya. Meyakini kalau Arya telah merasai sebutir proyektil yang ditembakkannya membuat penembak itu menurunkan pistolnya dan berbalik melangkah meninggalkan tempat itu.


Arya bangkit memastikan bahwa dirinya tak akan lagi mengalami hal yang mengerikan. Beringsut-ingsut, ia mengintip dari balik boks sampah besar.


siapa dia? Apakah dia mengenalku? Aku harus memastikan...


Penembak itu memasuki sebuah toko swalayan. Arya bangkit perlahan sambil memegangi bagian dada atasnya yang luka. Baju itu sebagiannya telah dibasahi darah bercampur keringat.


Menahan nyeri yang menusuk dada, Arya memaksakan langkah mengejar penembak itu. Ia melangkah dengan ayunan langkah yang sedikit terseok-seok sebab menahan sakitnya luka tembak yang dideritanya. Lelaki itu tiba didepan toko swalayan tersebut.


Arya perlahan mendorong pintu dan mulai memasuki toko. Alisnya langsung terangkat heran. Tak ada pegawai satupun di meja kasir. Begitupun yang menjagai stan-stan dagangan. Lelaki itu mengedarkan pandangan.


Aneh... kemana pegawai-pegawai lainnya???


Arya melangkah dengan waspada sembari tetap menekan bagian pakaiannya yang koyak karena luka tembakan. Ia tiba di stan obat-obatan dan tanpa sungkan langsung meraih beberapa gulungan kain kasa dan perban di rak tersebut.


CEKLEK!!!


"Halo? Siapa disana?" tanya Arya dengan nada tinggi lalu meringis lagi menahan nyeri.


Tidak ada jawaban. Ruangan itu tetap saja menampilkan kesunyian yang mencekam. Arya menarik napasnya dengan dalam lalu kembali melangkah menuju pintu kecil itu.


"Halo? Siapapun, jawablah aku!" seru Arya lagi sambil terus melangkah.


Ia melewati pintu itu dan menemukan lorong panjang. Arya menatap papan peringatan yang terpampang di dinding.


...KHUSUS PEGAWAI!!!...


...YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK!!...


Arya menyadari sesuatu. Kelihatannya lorong itu menuju ke gudang penyimpanan sekaligus ****** pekerja. Arya terus melangkah menyusuri lorong panjang itu. Ia melewati gudang penyimpanan yang terkunci dan dua ruangan ****** khusus pegawai hingga akhirnya ia menemukan lagi sebuah pintu kecil.


Pintu itu tertutup tapi tak terkunci pertanda seseorang baru saja melintasi pintu tersebut. Arya tiba disebuah ruangan lapang. Kelihatannya wilayah parkiran atau lahan tak terpakai.


Kemana orang itu???


Arya mendengus dan sekali lagi meringis menahan nyeri. Ia menekan luka di bagian atas dadanya dan sejenak kemudian menyadari bahwa ia baru saja mengambil beberapa peralatan P3K di rak obat-obatan.


Arya membuka bajunya dan menempelkan kain perban dan melapisinya dengan kain kasa lalu merekatkan benda itu dengan plester. Lelaki itu kembali meringis menyadari peluru yang bersarang dibagian atas dada kanannya itu belum dikeluarkan.


Aku harus menemui orang itu... siapa tahu dia mengetahui siapa yang membenciku...


Arya kemudian melangkah pelan dan sedikit sempoyongan meninggalkan tanah lapang tersebut. []