SCHNUCKY

SCHNUCKY
AERYNA ZAHRA DATAU



Kamala hanya tersenyum-senyum saja mendengar segala ungkapan bernada keluhan dan kejengkelan setelah sekian lamanya ia berhasil menemukan orang yanga dicarinya selama delapan tahun belakangan ini.


Setelah Arya mengakhiri ceritanya, Kamala menghela napas dan berkomentar, "Mungkin memang benar yang diminta oleh ketiga orang itu, Arya."


"Benarnya dimana?" tukas Arya dengan alis berkerut.


"Bagaimanapun... jika dilihat dari tindakan yang diambil Muzdalifah kepadamu. Hal ini membuktikan bahwa dia masih belum melupakan apa yang pernah kalian lakukan terhadapnya. Perempuan itu mengalami trauma yang berat." ungkap Kamala.


Arya mendengus dan berdiri lalu melangkah menuju jendela dan memandang hamparan belantara kota Gorontalo.


"Kedatanganku adalah membina kembali hubungan yang baik dengan dia." ujar Arya. "Mengapa dia tak mengerti juga?"


"Karena perasaan perempuan itu sangat sensitif jika telah terluka sebelumnya." jawab Kamala. "Apalagi dia melihat wajahmu dan itu mengingatkannya kembali akan kenangan buruk disekolah itu."


"Tapi..." protes Arya berbalik menatap Kamala yang duduk santai di sofa.


"Selama seminggu, biarkan Muzdalifah menimbang-nimbang segalanya. Yakini saja perkataan ketiga orang itu. Seminggu kemudian, datanglah kesana dan hadapi dengan berani." usul Kamala.


Arya melangkah mendekati sofa dan duduk disisi Kamala. "Kamu nggak akan menemaniku?"


"Aku nggak mau menciptakan kecanggungan." jawab Kamala dengan halus menolak permintaan lelaki itu.


Arya mengangguk-angguk pada akhirnya. "Baiklah.... aku akan mengikuti saranmu." ujarnya.


...*****...


Arya sementara duduk sambil mengutak-atik beberapa aplikasi dalam gawainya. Lelaki itu saat ini berada di Bandara Djalaluddin, menunggu kedatangan sang adik, Anya yang sedang mengambil libur dua pekan menjelang akhir studinya di Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN) di Ciseeng, Bogor.



Anya mengambil penerbangan siang. Dalam penerbangan mungkin ia akan tiba dua jam lagi. Arya melihat sejenak dua batang jarum penunjuk waktu pada permukaan arloji dipergelangan tangannya.


Setengah jam lagi...


Arya kembali menenggelamkan diri dalam aktifitas mengawasi saham-saham perusahaannya yang sementara ditrading di Bursa Efek.


Kegiatannya terjeda ketika mendengar sayup lantunan adzan penanda waktu ashar. Arya menghela napas dan bangkit melangkah meninggalkan tempatnya, mencari letak musholla untuk melaksanakan ritual wajib dalam syariat agamanya.


Bangunan itu sunyi. Hanya Arya saja disana. Lelaki itu tak memperdulikan. Setelah mengambil air wudhu ditempat penampungan air, lelaki itu menjalankan kewajibannya menghadapkan seluruh jiwa dan raganya kepada Sang Khalik Yang Maha Tinggi.



Memang semenjak dihantui rasa bersalah itu, ketika ia lulus dari sekolah itu dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Ichsaan Gorontalo, mengambil jurusan Arsitektur di Fakultas Teknik, ia telah merubah gaya hidupnya menjadi agamis meskipun tidak religius.


Arya yang dulunya paling suka foya-foya, semenjak itu lebih aktif di organisasi rohis meski ia tak tertarik menjadi seorang aktifis dakwah, melainkan hanya untuk mendisiplinkan diri agar mendekatkan diri kepada Allah saja.


Wafatnya Rudi, semakin membuatnya menjauhi kebiasaannya yang dulu. Sedikitnya, lelaki itu mulai menapaki kehidupannya dengan sebaik-sebaiknya.


Mimpi buruk yang menghantuinya, kini jarang merasuki wilayah subsconsiusnya. Seperti usul Kamala. Ia akan memberikan jeda bagi ketiga lelaki itu meyakinkan Muzdalifah agar bisa menerima keberadaannya.


Ritual sholat Ashar itu baru saja dirampungkan ketika gawai disaku kiri celananya bergetar. Arya mengusap wajahnya dengan telapak tangan lalu bergerak merogoh sakunya mengeluarkan piranti komunikasi dan melihat layar gawai itu.


Menyadari bahwa yang menghubunginya adalah Anya, lelaki itu balik menghubungi lagi nomer itu. Tak lama kemudian terdengar jawaban panggilan.


📲 "Ya, Ayunda dimana?" tanya Arya tanpa basa-basi dan salam.


📲 "Dimana, dimana...." gerutu Anya. "Aku sudah di terminal, lagi menunggu kamu. Memang kamu dimana?" omelnya.


📲 "Sori, Rakanda masih di Musholla. Nanti segera kesana." jawab Arya menyebut istilah yang biasa mereka berdua gunakan pada masa kecil dulu. "Ayunda tunggu saja disana. Rakanda segera menyusul."


Arya mengakhiri percakapan seluler itu dan bangkit melangkah meninggalkan Musholla.


...*****...


Anya, lebih lengkapnya bernama Aeryna Zahra Datau berpenampilan gagah dengan seragam dinasnya itu. Sebagai seorang Taruna di Poltek SSN, ia dituntut berpenampilan pantas dan berwibawa.


Gadis itu mengenakan PDH warna khaki, lengkap dengan papan nama dan beberapa atribut yang menambah keanggunannya sebagai seorang Taruna disekolah kedinasan.


Gadis itu duduk dengan sikap tegak merupakan kebiasaannya yang sudah berlangsung selama hampir empat tahun dalam pendidikan bergaya semi militer dan sedikit lagi, Anya akan mengikuti ujian negara sebagai prasyarat akhir masa studinya sebelum akhirnya diangkat sebagai seorang aparatur sipil negara.


Tak lama kemudian dari keramaian, Anya melihat sosok Arya yang mendekat. Lelaki itu kemudian senyum saat berdiri dihadapan adik perempuannya.


"Sorry, Rakanda terlambat." ujarnya dengan lembut.


"Ya iyalah." omel Anya lagi sambil berdiri dan mengangkat Carrier bag. "Tapi bisa di maklumi." ujarnya kemudian lalu tersenyum lebar.


"Gayamu itu, nggak berubah sama sekali." komentar Arya kembali tersenyum.


"Cuma dihadapan Rakanda tersayang saja." kilah Anya. "Kalau dihadapan senior, wuih, bisa mampus aku kalau kedapatan bersikap beginian."


"Ayo... Papa dan Mama sudah menunggu dirumah." ajak Arya.


Keduanya melangkah meninggalkan tempat itu. Arya mengamati Anya yang melangkah santai mengendong carrier bag tersebut.


"Nggak berat?" tanya Arya.


"Nggak laah... ini sudah biasa." ujar Anya dengan santai dan senyum. "Efek setiap hari gendong ransel disetiap praktek lapangan. Jadinya yang enteng-enteng saja bawa ini."


Arya menggeleng-gelengkan sambil tersenyum. "Iya juga ya. Badanmu juga sudah berubah, lebih berbentuk." komentar Arya lagi.


"Jelaslah..." sahut Anya tanpa menatap Arya kemudian bertanya. "Kakak sendiri bagaimana kabarnya? Mama bilang ditelpon kalau Kakak sudah punya calon istri." gadis itu kemudian menatap kakak lelakinya. "Kenalin dong ke Anya."


"Iya... nanti Rakanda kenalkan ke Ayunda." jawab Arya dengan senyum sabar.


Mereka tiba di luar bandara dan melangkah menuju All New Avanza hitam yang terparkir ditaman parkiran. Arya kemudian membuka pintu belakang sedang Anya menjejalkan carrier bag disana. Lelaki itu menutup lagi pintu belakang itu dan membuka pintu depan lalu duduk ditempat kemudi sedang Anya duduk pula didepan, disamping Arya.


All New Avanza hitam itu kemudian bergerak meninggalkan area Bandar Udara Djalaluddin dan melaju menyusuri jalanan menuju utara.


"Memang disana kamu ngambil jurusan apa sih?" tanya Arya.


"Rekayasa Kriptografi." jawab Anya.


"Memang gunanya apa tuh?" pancing Arya.


"Kriptografi adalah teknik perlindungan informasi secara rahasia dengan menggunakan kode-kode tertentu." ujar Anya. "Nantinya, aku akan menjadi seorang aparatur sipil negara yang menekuni analisa kriptografi."


"Seorang analisis kriptografi?" gumam Arya sambil terus mengemudikan kendaraan dan mengawasi lalu lintas.


Anya mengangguk sambil tetap menatap jalan raya. Arya menghela napas. "Bukannya ada juga perguruan tinggi yang memiliki jurusan keamanan siber dan kriptografi?"


Anya tersenyum. "Iya juga sih."


Setelah itu keduanya diam saja menikmati perjalanan hingga kendaraan itu memasuki kawasan kota Gorontalo. []