
Arya hampir-hampir tak mempercayai penglihatannya sendiri. Sosok itu menelajangi wajahnya dan menampakkan seraut wajah yang begitu dikenalnya dengan baik bahkan ia jatuh cinta kepadanya.
"Kamala?" desis Arya tak percaya.
"Kenapa Arya? Kaget?" pancing Kamala dengan senyum mengejek.
"Apa yang kau lakukan disini? Ayo, mari kita pulang dan akhiri saja drama ini..." ajak Arya dengan kesal hendak bangkit.
"Jangan beranjak dari tempatmu, Arya." ujar Kamala menodongkan moncong pistol ke arah Arya. "Aku nggak lagi main drama."
Arya mendengus lagi. "Oh ya? Kau memang pemain drama paling hebat Kamala." tukas Arya. "Untuk apa kau menembakku? Apa kau mau menjadikan aku kelinci percobaan dari proyektil yang kau sarangkan di dadaku?"
"Sst... diamlah Arya." desis Kamala sambil menggoyang-goyangkan moncong pistol jenis SIG P229 buatan Swiss ke arah Arya membuat lelaki itu tak berani bangkit dari kursi. "Setidaknya kau berterima kasihlah... peluru itu sudah kukeluarkan dari tubuhmu. Jangan membuat masalah yang menyebabkan aku harus melubangi lagi dada kirimu dengan peluru."
"Setidaknya, berikan aku alasannya." dengus Arya dengan kesal. "Apa kau segitu bencinya karena aku memberikan pilihan paling sulit padamu?"
"Bukan karena itu pula..." jawab Kamala menurunkan pistolnya. "Tapi lebih ke arah untuk memberikan kamu pelajaran betapa sakit rasanya ketika kau tak menemukan keadilan atas peristiwa yang menimpamu."
"Tentang Muzdalifah lagi?" desis Arya. "Apakah kau terobsesi dengan kesialan yang menimpanya dan berniat menjadi hakim untuk memberikannya keadilan? Muzdalifah sudah wafat, Kamala. Dia sudah tenang disana. Kenapa lagi kau mengungkitnya dengan menyakitiku?"
"Muzdalifah belum mati, Arya." ujar Kamala. "Perempuan yang kau sangkakan telah mati itu masih hidup sampai sekarang."
"Jangan merusak kenanganku tentang dia, Kamala. Muzdalifah sudah wafat." sela Arya dengan datar.
"Aku nggak bohong, Arya." tandas Kamala. "Muzdalifah masih hidup!"
"Tidak mungkin! Lalu siapa yang berada di kuburan itu?! Apa kau mau membodohiku, Kamala?!" bantah Arya dengan emosi.
"Perempuan itu doppleganger! Sebuah kebetulan yang sangat pas." ujar Kamala tak kalah sengitnya.
Arya tertawa menegaskan bahwa ia tak mau dipermainkan.
Kamala ikut tersenyum. "Kau mau tahu dimana dia sekarang?" pancingnya.
"Tentu saja!" seru Arya dengan tanggap.
"Untuk apa?" desis Arya mengulangi pertanyaan Kamala. "Kau masih menanyakan untuk apa?"
"Mengaku dosa?" pancing Kamala kembali memamerkan senyum mengejek.
Arya mendengus dan memicingkan mata. "Bukankah kau semestinya sudah berada di luar negeri mengejar program magistermu itu?" selidik lelaki itu setengah menyindir.
Kamala tertawa sekilas lalu menggeleng. "Nggak. Itu hoax sayang. Aku nggak pernah ke luar negeri."
"Jadi..." ujar Arya tergagap. "Kupikir... k-kau..."
"Kau memang bodoh. Mau saja ditipu." ejek Kamala lagi. "Sekarang katakan padaku, Arya... dan jawablah dengan jujur..."
"Tentang apa?" tanya Arya.
"Apakah kau... mencintai... Muzdalifah?" pancing Kamala kembali mengangkat pistol dan menempelkan moncongnya di dagu Arya.
"Kau tahu bahwa aku mencintaimu, bukan orang lain." jawab Arya dengan datar.
"Kau tak mengetahui masa laluku..." ujar Kamala dengan senyum.
"Aku tak butuh masa lalumu..." ujar Arya.
"Menarik..." sahut Kamala dengan senyum, masih menempelkan moncong SIG P229 tersebut ke dagu lelaki itu. "Bagaimana jika perempuan yang kau cintai ini memiliki masa lalu yang kelam?"
"Setiap orang memiliki masa lalu yang kelam." jawab Arya. "Kita bisa menata masa depan bersama-sama... bukan terpenjara dalam masa lalu."
Kamala tersenyum. "Meskipun aku pernah diperkosa bergiliran oleh tiga orang laki-laki dimasa lalu?" pancingnya.
Arya menelan ludah sesaat, menenangkan gejolak emosinya lalu menjawab. "Aku... a-aku akan ikhlas menerimanya..."
Kamala tersenyum.[]