
Arya tak tahu berapa lama ia tergolek lemah dalam pingsan dan mengembara di alam subsconsius. Ia hanya tahu, ketika membuka mata, menemukan sesosok tubuh mengenakan pakaian serba hitam, menyandang sepucuk pistol yang diamatinya dengan benar merupakan senjata yang digunakan untuk menembaknya di kawasan depan toko swalayan waktu itu.
"Sudah siuman rupanya." ujar si sosok berpakaian hitam itu. Wajahnya tak bisa dikenali, tertutup oleh jelaga artifisial yang tercipta oleh sudut gelap dari ruangan yang tak tersentuh pantulan cahaya lampu.
Arya hendak bangkit ketika dirasainya nyeri yang menusuk lagi dibagian atas dada kanannya dan lelaki itu menyadari kemudian bahwa torso miliknya terselimuti sehelai benang pun. Sebuah luka menganga telah diperban dan kemungkinan yang pasti bahwa sosok dihadapannya pastilah yang melakukan hal tersebut.
"Jangan kuatir Arya." ujar suara sosok itu. Arya menyadari hal lain. Si pemilik suara menggunakan voice changer portable (alat pengubah suara) yang entah disembunyikannya dibagian mana. "Peluru yang bersarang ditubuhmu sudah ku keluarkan." sambung sosok itu.
"Kau kah yang membunuh Sakera dan perempuan di ranjang itu?" tanya Arya dengan suara serak.
Sosok itu terkekeh sejenak lalu mengangguk-angguk. "Ya... Akulah yang membunuhnya." jawab sosok itu terus terang. "Agak sulit juga meniru suaranya. Untunglah alat pengubah suara ini sangat bermanfaat. Buktinya... kau sendiri terkecoh."
Arya mendengus melampiaskan kekesalannya. Sosok itu menyambung ucapannya. "Mungkin jika kau tak terpancing rasa penasaran dan tak memasuki ruangan itu, kau tak mengira bahwa Sakera yang berada dihadapanmu malam itu adalah aku, bukan?" tebaknya.
"Itu karena aku mencium bau busuk bangkai dan anyir darah..." balas Arya sedikit meluruskan pendapat sosok tersebut. "Aku minta maaf, rencanamu rusak gara-gara rasa penasaranku."
"Ya... bisa dipahami bahwa aku memang sedikit kecewa." ujar sosok tersebut. "Tapi itu tak masalah. Semuanya sudah terjadi dan disinilah dirimu sekarang."
"Siapa sebenarnya kau? Apakah kita pernah memiliki suatu hubungan dimasa lalu?" tanya Arya.
"Tentu kau sangat mengenalku, Arya." jawab sosok itu. "Kita memang pernah memiliki koneksi yang singkat dimasa lalu."
"Hubungan seperti apa? Katakanlah.." pinta Arya.
Sosok itu terkekeh. "Penasaran ya?"
Arya mendengus. "Tentu saja aku penasaran. Apakah kau yang menembakiku di depan toko swalayan itu?"
"Apakah rasa sakit itu membuatmu marah?" pancing sosok itu.
"Terserah perkataanmu Arya." balas sosok itu. "Dengan senang hati aku akan membeberkan semuanya."
"Bagus... aku ingin dengar dari awal!" tukas Arya.
"Kau tentu tahu, seorang wanita yang pernah kau rogol beramai-ramai dirumahnya... dan di gudang sekolah..." ujar sosok itu.
Arya terperanjat. "Jadi... semua ini tentang Muzdalifah?!" tukasnya lagi. "Apakah kau saudaranya? Kerabatnya?"
"Apalagi yang kau tahu tentang dia, Arya?" pancing sosok itu.
"Sejak awal aku tahu, dia tidak memiliki saudara." jawab Arya. "Sebelum peristiwa itu aku sudah menyelidikinya sejak awal."
Sosok itu mengangguk-angguk. "Kau benar-benar menyadari kesalahanmu setelah itu?"
Arya mendengus. "Tentu saja. Apa kau pikir aku manusia tanpa hati? Persitiwa itu hanyalah ungkapan kekecewaan tanpa dasar terhadapnya. Kami terlalu memandang hina dirinya yang ternyata semua itu hanyalah kesalahan dari isu yang tak jelas. Entah siapa yang menyebarkan hal itu."
"Dan kau termakan isu itu." ejek sosok tersebut. "Kau terhasut... terlebih saat dia mengata-ngatai kalian di kantin sekolah. Kalian bertiga merencanakan sesuatu untuk memberinya pelajaran..."
"Tunggu! Aku tak pernah menceritakan hal itu kecuali kepada satu orang..." sela Arya.
Sosok itu tertawa dan melepaskan alat pengubah suara yang menempel dari sisi belakang lehernya kemudian melepaskan masker.
Seketika Arya terperangah.
KAMALA?! []