SCHNUCKY

SCHNUCKY
TIGA LELAKI BERSENJATA TAJAM



"Tunggu!!!" seru Arya langsung menghentikan makannya dan bangkit berlari menyusul wanita yang sementara berlari itu.


Kejar-kejaran itu bersambung diluar. Wanita itu berlari menyusup diantara hamparan batang-batang pepohonan yang tumbuh disana. Arya tetap mengejar meski harus beberapa kali merutuk sebab bayangan wanita itu selalu terhalangi oleh cabang dan ranting tetumbuhan.


"Ifah! Tunggu!" seru Arya dengan keras sambil terus mengejar.


Sementara dibelakangnya, Arya menyadari beberapa langkah kaki datang mengejar dan menyusulnya pula.


Ada apa ini? Kenapa mereka mengejarku?


Arya menghentikan larinya dan berdiri menyongsong beberapa lelaki yang tiba-tiba muncul disana.


"Siapa kalian? Mengapa kalian mengejarku?" todong Arya dengan sikap tegak namun siaga.


Lelaki-lelaki itu ternyata menggenggam senjata. Ada sabele, clurit dan lilang. Mereka berdiri dengan sikap mengancam.


"Tunggu... ada apa ini?" seru Arya dengan wajah yang marah.


"Kenapa kau mengejar perempuan itu?" sergah lelaki yang menggenggam lilang. "Apa salahnya kepadamu?"


"Nggak. Nggak. Kalian salah paham." ujar Arya berupaya menetralisir keadaan. "Saya..."


"Alah... kamu tak usah banyak bacot disini." seru lelaki lagi dengan aksen madura. Dia menggenggam clurit yang sudah terlanjur diangkatnya hendak ditebaskan ke arah Arya.


SWINGGGG....


Arya sigap menghindar. Clurit itu meluncur turun hanya sesenti saja dari tubuhnya. Si penyandang lilang tak memberi Arya kesempatan untuk mengatur sikap waspadanya. Ia maju mengayunkan senjatanya.


WUKKKKK....


Arya lagi-lagi kembali membuang tubuhnya menjauhi sabetan pedang panjang khas pedalaman Minahasa itu. Ia menjauh dan berdiri beberapa jarak dari ketiga lelaki itu.


"Tunggu dulu. Saya tak bermaksud jahat sama perempuan itu..." seru Arya berupaya memberikan penjelasan.


Si lelaki penyandang sabele mengacungkan ujung senjatanya kepada Arya.


"Kamu itu orang asing. Kok berani-beraninya mengejar perempuan itu? Apakah kau mengenalnya?" tukas lelaki itu.


"Dia mantan adik kelasku dulu." jawab Arya.


"Kalau memang begitu, mengapa dia melarikan diri darimu?!" tukas lelaki itu lagi. Sejenak kemudian wajahnya membesi dan matanya memerah. "Jangan-jangan...."


"Hei, jangan salah sangka dulu." ujar Arya kembali.


Kedua lelaki bersenjata tajam itu langsung memenuhi perintah lelaki bersenjata sabele itu dan maju pula mengayunkan senjatanya.


Gawat! Aku harus keluar dari tempat ini!!!!


Arya langsung melesat berlari lagi dan kali ini ia mengandalkan kecakapan larinya yang dibilang cepat untuk ukuran usianya.


"Kejar! Jangan sampai lolos!" seru lelaki yang menyandang lilang.


Mereka bertiga mengejar. Arya memilih keluar dari rerimbunan itu dan tiba kembali dikawasan kedai. Ia berlari menuju All New Avanza hitamnya dan cepat-cepat membuka pintu mobil itu, mengambil sesuatu di laci dashboard mobil.


Beberapa saat kemudian ketiga lelaki bersenjata tajam itu muncul pula dan mengejar ke arah Arya.


Tiba-tiba Arya berdiri lagi dan mengarahkan moncong pistol SIG P225 ke arah lelaki yang paling depan.


Melihat senjata api yang digenggam oleh Arya, langsung menciutkan nyali ketiga lelaki itu sehingga mereka menghentikan langkahnya. Arya memicingkan matanya.


"Aku tak segan memuntahkan masing-masing dari kalian, peluru dalam pistol ini jika berani melangkah sekali saja." ancam Arya dengan rahang yang mengencang.


Ketiga lelaki itu saling berpandangan. Akhirnya si penyandang sabele kemudian menurunkan senjatanya dan bicara dengan nada yang mulai lembut.


"Jika memang dia itu adik kelasmu, mengapa dia melarikan diri?" selidik lelaki itu.


Arya hanya mendengus. "Kalian tidak perlu mengetahuinya." ujarnya sembari mengacungkan moncong pistol itu ke mereka bertiga.


"Kami perlu tahu!" balas si pemegang lilang dengan marah. "Kau membuat salah satu pegawai kami lari lintang pukang ketakutan. Apa kau pikir hal itu tidak akan berimbas bagi kedai kami, hah?" sergahnya.


"Okey, aku minta maaf jika hal itu menyebabkan kerugian bagi kalian." ujar Arya kemudian mengangkat pistolnya. "Bisakah kita sama menyimpan senjata dan bicara didalam dengan baik-baik?" usulnya.


Usulan itu langsung disambut baik oleh ketiga orang itu. Mereka mengajak kembali Arya kedalam sambil memasukkan senjata mereka kedalam sarungnya. Arya pun menyelipkan senjata apinya kebalik celana dipinggang.


Mereka berempat kemudian masuk kedalam kedai dan duduk kembali ditempat dimana Arya duduk pertama kali. Hidangan ayam lalapannya belum sepenuhnya habis.


"Habiskan makanmu." perintah lelaki beraksen Madura.


"Aku sudah tak berselera makan." ujar Arya.


Lelaki madura itu mendengus. "Aku tak perduli! Habiskan makanmu!" ujarnya dengan nada yang mulai meninggi.


"Maafkan saudaraku ini." ujar si lelaki satunya. "Ia memang paling tidak suka melihat orang yang menghambur-hamburkan makanan."


Arya meski dengan jengkel, terpaksa juga kembali menikmati makanan tersebut sedang ketiga lelaki itu menunggunya dengan sabar.[]