SCHNUCKY

SCHNUCKY
DIDALAM SENDIRI AKU MENYAPAMU...



Zais berdiri ditengah hamparan ilalang yang memenuhi sekitaran lapangan landas pacu. Tubuhnya tersamar oleh batang-batang ilalang yang memghampar disana, seakan dirinya bagian dari wilayah itu.


Tatapannya terarah ke langit yang dihiasi jelaga malam bertabur kerlipan bintang gemintang yang menyebar membentuk konstelasi-konstelasi tertentu disana.


Rembulan telah lama menyembunyikan dirinya digundukan mega yang tercemar putihnya oleh kelabu akibat kandungan air yang memberatinya.


Lelaki itu sejak lama berada disana, tapi tak sedikitpun beranjak. Ia hanya memandang ujung langit dimana pesawat terbang yang membawa Anya kembali ke Bogor untuk menyelesaikan masa studinya yang sedikit lagi berakhir.


Lelaki itu mendengar kabar dari salah satu sahabat gadis itu, bahwa dirinya akan kembali ke Bogor, mengambil penerbangan siang.


Sejak mentari menggelincir sedikit ke arah barat, Zais telah berada disana, tapi tak sedikitpun tergerak kakinya untuk memasuki terminal, dimana Anya sejak tadi celigukan mencarinya sampai-sampai tak menghiraukan Arya yang beberapa kali memberikan pesan dan petuah.


Lelaki itu sadar bahwa benaknya dihinggapi oleh sebuah perasaan yang memaksanya untuk terus mengingat Anya. Didalam kondisi apapun, bahkan terbawa dalam mimpinya, sang gadis datang menyambanginya beberapa kali, bahkan dalam mimpi-mimpi erotisnya yang membuat kelelakiannya menemukan pelampiasan alamiah.


Namun lelaki itu sadar juga jika jarak antara dirinya dan Anya begitu jauh, bahkan mungkin mengarah kepada utopia, jika ia mengharapkan sang pujaan menjadi miliknya sepenuhnya.


Angin malam menghembus mengembalikan kesadaran si lelaki dari ambang khayalnya tentang Anya.


Zais menghela napas dan menghembuskannya mengeluhkan kelemahan dirinya yang tak mampu mengucapkan kata cinta secara terang-terangan. Dia jatuh cinta kepada Anya, tapi malu mengungkapkan perasaan sebab takut jika perasaannya tak akan kesampaian.


Strata sosial seringkali menjadi penghalang besar bagi dua hati yang saling jatuh cinta. Zais merasa perbedaan yang sangat besar diantara mereka.


Lelaki itu akhirnya membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan lesu. Langkahnya gontai dan tersuruk-suruk menabrak rerumputan tinggi. Perlahan tubuhnya tersamar dalam jelaga malam yang mengaburkan dan akhirnya mensirnakan tubuhnya dalam samar malam.


...*****...


Kamala mondar-mandir dikamarnya. Ucapan seorang lelaki dalam chatting itu mengganggu pikirannya kembali.


Dalam waktu tiga hari, aku menunggu. Jangan memaksaku membocorkan semuanya kepada lelaki itu... sekarang kamu milikku, bukan lagi miliknya. Jauhi lelaki itu, sekarang!


"Dasar brengsek!!!" umpat Kamala.


Dia merasa buntu sekarang. Permainan itu mulai memakan korban dan akhirnya moncong bencana itu mengarah kepadanya. Semuanya berubah dengan kematian wanita peniru itu. Jika saja ia tidak tewas, tentunya ia tak akan terperangkap dalam keputusan ini.


...*****...


Akhir-akhir ini, Arya yang tak biasanya menyesap asap tembakau, kini mulai menggemari batangan pembakar paru-paru itu. Untungnya ia bukan perokok aktif sehingga tidak sampai terjerumus kedalam kecanduan.


Siapa perempuan yang dirogol oleh Iswan? Apakah pembunuhannya murni disebabkan oleh tindakan menjaga kehormatan, atau memang sebuah pembunuhan berencana yang bertepatan dengan penculikan?


Arya harus menemukan jawabannya. Lelaki itu melangkah meninggalkan rumah dan tak lama kemudian All New Avanza hitam itu meluncur dan melaju meninggalkan kediaman tersebut.


...*****...


Anya baru saja hendak beranjak tidur karena waktu sedikit lagi menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu sudah aturannya dan tak siapapun boleh membantah.


Gadis itu baru saja menyentuhkan kepalanya dengan bantal, ketika gawainya bergetar. Ia mengurungkan tindakannya dan memilih melayani pengunjung seluler yang datang memgganggunya.


📲 "Halo?" sapa Anya.


📲 "Hai, Dek..." balas suara itu.


Anya tersenyum dan perlahan wajahnya mencerah. Seketika kantuk terusir dari kelopak matanya.


📲 "Kak Zais..." sahut Anya dengan lembut dan lirih.


📲 "Maaf, Dek... aku tak bisa mengantarmu." ujar Zais dengan sendu.


📲 "Nggak apa-apa... aku sudah cukup puas, melihat Kak Zais..." jawab Anya lagi.


📲 "Melihatku?" tanya Zais dengan heran.


Anya mengangguk saja.


📲 "Hm-em... Kak Zais berdiri dihamparan rumput, lima ratus meter dari landasan pacu..." ujar Anya. "Aku melihatmu... dan memotretmu..."


📲 "Kau memotretku?" tanya Zais lagi dengan takjub.


📲 "Ya... potretnya nanti kucetak dan kuletakkan didalam dompetku... supaya setiap saat... aku melihat Kakak, seakan Kakak ada disini pula..." jawab Anya dengan tenang dan lembut.


Zais tak bisa lagi mengeluarkan mitraliyur kalimat yang sudah disusunnya sejak lama. Ucapan gadis itu menyejukkan hati, namun disaat yang sama juga menorehkan luka pakewuh yang sulit dihapusnya.[]