SCHNUCKY

SCHNUCKY
PENGANTAR HATI



Anya melajukan All New Avanza hitam milik kakaknya menyusuri jalanan kota. Tapi gadis itu masih malas untuk segera tiba dirumah. Anya memilih menyusuri jalanan yang mengarah ke selatan.


Ia tiba dikompleks wisata kota, Taman Nani Wartabone, terus memarkir kendaraannya dan melangkah santai menyusuri trotoar menikmati udara malam yang larut.


Anya tiba dikawasan kedai outdoor yang banyak bertebaran di pinggiran trotoar. Kawasan lapangan Taruna Remaja itu sebagiannya memang telah dilokalisasi oleh Pemerintah Kota sebagai lokasi Pasar Jajan, dan sebagiannya dilokakisasikan di wilayah Pasar Rakyat Liluwo.


Anya memutuskan untuk singgah sejenak melepas penat pikirannya karena sibuk memikirkan kakaknya yang bersikap tertutup dengan sakitnya.


Seorang anak kecil membawa selembaran menu hidangan muncul dan memberikan benda itu kepada Anya.


Anya mengamati menu-menu yang tertera didaftar itu lalu menuliskannya pada blocknote kecil yang ada dimeja. Anak kecil itu merobek kertas pada blocknote itu dan meninggalkan Anya.


Gadis itu memperbaiki rambutnya lalu duduk lagi dan mengeluarkan gawainya. Gadis itu memberitahu ayahnya lewat aplikasi chatting, mengabarkan kalau Arya sudah siuman dari sakitnya dan sementara dijaga oleh Kamala.


Setelah mengetikkan pesan itu, Anya memasukkan lagi gawainya ke saku. Tak berapa lama muncul seorang pemuda berpenampilan kasual menggenggam sebuah gitar. Kelihatannya pemuda itu adalah pengamen jalanan.


Ia mendekati Anya yang sedang duduk dan menyapa dengan sopan. "Permisi Mbak. Boleh saya mengamen?" tanya pemuda itu dengan santun.


Anya sejenak mengamati pemuda itu lalu mengangguk. Pemuda itu dengan senyum, kembali bertanya.


"Lagunya mau yang bagaimana, Mbak?" tanya pemuda itu lagi.


Anya menghela napas lagi. "Terserah kamu sajalah." ujarnya dengan malas.


Pemuda itu mengangguk-angguk lalu mengamati Anya sejenak. Kemungkinan sedang menyelami perasaan gadis itu. Setelah itu ia mulai memetik dawai-dawai gitarnya dan menyanyikan lagu yang dinyanyikan Ava Max bersama Dj, Alan Walker tapi dalam irama lambat.


Anya mengenali lagu itu. Memang lagu yang dinyanyikan Ava Max yang berjudul I'm Not Gonna Make It Alone. Pemuda itu sengaja membawakannya dengan mode hymne membuat Anya tertarik lagi untuk mendengarkan setiap melodi yang keluar ketika dawai-dawai itu dipetik, menyatu bersama suara merdu si pengamen itu.


Berberapa pengunjung juga sedikit teralihkan perhatiannya kepada pengamen itu. Lagu yang dibawanya meski terdengar slow namun merasuk dan mendamaikan perasaan.


Pemuda itu selesai membawakan lagu itu selama lima menit, memanjakan telinga dan perasaan Anya yang mendengarkan lantunan lagunya. Pemuda itu membungkuk datar dengan senyum sopan yang tertebar.


Anya melambaikan tangan memanggil pemuda itu. Ia mendekat, berpikir bahwa gadis itu akan memberinya uang sebagai bayaran sebab ia telah membawakan lagu.


"Duduklah disitu." ujar Anya memerintahkannya untuk duduk disisinya.


Pemuda itu mengikuti keinginan gadis itu, meski ia heran. Anya memanggil lagi anak kecil yang membawa selembaran menu. Setelah anak kecil itu tiba dihadapan Anya, gadis itu menatap pemuda itu.


"Pesanlah... makanlah sepuasmu." ujar Anya.


Pemuda itu makin bingung. Anya tersenyum. "Tenang saja Bro. Kamu tetap dibayar kok, ini hanya bonus saja karena kamu nyanyinya bagus." ujarnya. "Nah, makanlah. Aku yang traktir."


Pemuda itu akhirnya mau juga memesan meski ia memesan yang paling murah sebab canggung dengan perlakuan Anya.


"Lho? Kok hanya sirup alpukat sih?" tanya Anya kemudian geleng-geleng kepala. "Kamu kira aku nggak bisa bayarin kamu?"


Pemuda itu tersenyum lagi. "Bukan Mbak. Saya kebetulan sudah makan tadi. Jadi minuman itu untuk menyegarkan tenggorokan dan kerongkongan saya yang seret karena kehausan." jawabnya dengan sopan. "Bukan tidak menghargai Mbak. Tapi benaran saya hanya haus saja. Makanya hanya mesan minuman."


"Terserah kamu sajalah." ujar Anya pada akhirnya. Pemuda itu mengangguk.


Anya sesekali mengerling ke arah pemuda itu, sementara pemuda tersebut hanya memandang para pengunjung. Ia tak berani memandang gadis itu.


"Kamu itu musisi ya?" tanya Anya memancing percakapan.


"Bisa dikatakan begitu, karena saya suka nyanyi dan bermain musik." jawab pemuda itu.


"Berarti sudah pernah rekaman dong." celetuk Anya sambil tersenyum.


Pemuda itu tertawa pelan. "Kalau yang itu, masih sangat jauh dari kenyataan." jawabnya sambil membungkuk-bungkuk sopan.


"Kenapa? Suaramu itu merdu. Kamu bisa jadi penyanyi tenar nanti." sahut Anya sembari memperbaiki duduknya.


"Saat ini saya lebih menfokuskan dulu untuk penyelesaian pendidikan." jawab pemuda itu. "Setelah itu, nanti deh mau mikir apa."


"Ooo kamu mahasiswa?" tebak Anya dengan tatapan polos dan mata lentiknya yang melebar.


Pemuda itu tersenyum dan mengangguk dengan sopan. Anya tersenyum lebih lebar. Sejenak pikirannya yang mumet gara-gara kelakuan Arya sedikit hilang dari benaknya.


"Semester berapa?" tanya Anya lagi dengan sikap penuh minat.


"Alhamdulillah, sebulan lagi sudah mau sidang skripsi." jawab pemuda itu mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar.


"Waah... hebat dong. Ngambil jurusan apa sih, kuliahnya dimana?" tanya Anya lagi.


"Saya ngambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuludin." jawab pemuda itu lagi.


"Wuah, IAIN Sultan Amai, ya?" seru Anya lagi.


Pemuda itu hanya mengangguk lagi dan tersenyum. Anya memajukan tubuhnya.


"Tapi kok suka musik? Memang kamu ikut Unit Kegiatan Seni?" tanya Anya.


"Ini adalah hobi... nggak perlu masuk Unit Kegiatan Seni untuk menyalurkan hal itu." ujar pemuda tersebut.


Tak lama kemudian muncul seorang dewasa membawa baki berisi sepiring hidangan dan dua buah minuman. Sepiring hidangan dan segelas minuman tersebut diletakkan dihadapan Anya, sedang minuman jus alpukat diletakkan dihadapan pemuda tersebut.


"Eh, lama ngomong, kita belum kenalan." ujar Anya.


Pemuda itu kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan sopan.


"Saya Zais Gun Mohammad." ujar pemuda itu memperkenalkan dirinya. "Mbak boleh memanggil saya, Zais." sambungnya dengan sopan.


"Mbak, mbak. Memangnya saya sudah tua dipanggil mbak?" omel Anya namun sejenak kemudian senyumnya muncul lagi. "Saya Aeryna Zahra Datau, panggil saja Anya."


Zais mengangguk santun. Anya kembali tersenyum. "Ayo, minum." ajaknya.


"Terima kasih." jawab Zais kemudian meraih gelas berisi jus alpukat itu. Sejenak bibirnya komat-kamit kemudian menyeruput minuman tersebut. Setelah berdecap-decap pelan, Zais mengangguk-angguk dan meletakkan kembali gelas minuman itu dimeja.


Anya sendiri menikmati hidangan pesanannya sembari mengundang percakapan lagi.


"Sudah berapa lama ngamen?" tanya Anya disela-sela kegiatan makannya.


"Baru beberapa hari." jawab Zais. "Ini hanya ikhtiar saja untuk mencukupi biaya pendidikan. Sudah cukup saya menyusahkan orang tua demi pendidikan ini. Biarlah saya mencobai peruntungan mencari rejeki Allah melalui cara ini."


Anya mengangguk-angguk sejenak lalu menikmati lagi makanannya. Zais menatap gadis itu.


"Maaf, jika saya lancang." ujar Zais. "Mbak Anya..."


Anya langsung mengangkat telunjuknya membuat Zais menjeda kalimatnya. Anya sejenak menelan makanannya lalu menatap Zais.


"Yang tua-an siapa sih?" ujar Anya, "Saya masih dua puluh tahun."


Zais membulatkan bibirnya lalu tersenyum. "Kalau begitu saya panggil saja dengan sebutan Adek.... Dek Anya nggak keberatan?"


Anya tersenyum dan mengangguk-angguk kemudian meneruskan lagi kegiatan makannya.


Zais menghela napasnya lagi lalu bertanya. "Dek Anya kelihatannya bertubuh atletis... Dek Anya... polwan ya?" tanya lelaki itu dengan hati-hati.


"Kalau iya, memang kenapa?" tanya Anya lagi lalu menatap Zais membuat pemuda itu menelan saliva dan tersenyum canggung.


"Ya, nggak apa-apa sih..." jawabnya dengan pelan.


"Kenapa? Takut sama polisi ya?" pancing Anya menahan senyum.


Zais hanya tersenyum namun kentara sekali pemuda itu menjadi canggung. Anya kemudian tertawa lagi.


"Nggak, saya bukan polwan. Takut amat sih?" goda Anya. "Saya mahasiswi kok, sama seperti Kak Zais. Tapi saya kuliah di Bogor."


Zais kembali membulatkan bibirnya dan mengangguk-angguk. Anya menggoda lagi. "Sekarang nggak takut lagi, kan?"


Zais tertawa pelan dan mengangguk-angguk. Anya lalu menjawab. "Tubuh atletis saya itu karena sering nge-gym." kilahnya. "Makanya nampak berbentuk."


Zais mengangguk-angguk lagi. Anya tertawa. "Kenapa? Mirip atlit MMA ya?"


Zais menggeleng. Ia menjawab, "Mirip model di majalah." ujarnya.


"Ah, masa sih?" ujar Anya tersipu.


Zais hanya tersenyum saja lalu kembali meraih gelas dan meneguk jus alpukat tersebut. Ia kembali bicara setelah meletakkan gelas itu.


"Lagi liburan ya?" tanya Zais.


Anya mengangguk.


Zais kembali menghela napas lagi. Ia tersenyum dengan santun.


"Kalau Dek Anya nggak keberatan... bisakah saya pamit?" tanya pemuda itu dengan sopan lagi.


"Wuah, sudah mau cabut nih?" seru Anya langsung mengeluarkan dompetnya dan merogohkan dua lembar uang kertas nominal dua puluh ribuan dan meletakkannya di meja. Setelah itu ia mengangsurkan selembar lima puluh ribuan kepada Zais.


"Wah, kebanyakan Dek." ujar Zais.


"Ambil saja semuanya." ujar Anya.


"Tapi..." ujar Zais lagi.


"Sudah, itu rejeki Kakak..." desak Anya sembari memaksa meletakkan uang kertas itu ke telapak tangan Zais.


"Wah, makasih ya?" ujar Zais dengan malu.


"Nggak usah malu. Kan usahanya halal. Mendingan ngamen daripada mengemis?" ujar Anya.


Dengan sopan, Zais pamit meninggalkan tempat itu sementara Anya juga bangkit dan melangkah menyusuri trotoar menuju All New Avanza hitam milik kakaknya yang terparkir agak jauh.[]