
Ruang keluarga kediaman Datau-Datunsolang, kini ramai. Semua anggota keluarga berkumpul dan saling berbincang menghilangkan rindu karena jarang bertemu.
Kemunculan Anya menambah ramai suasana. Mirnawati benar-benar merasa bahagia dalam dua pekan kedepan sebab sang putri akan menemani hari-harinya.
Ruslan Datau, sang suami memutuskan untuk menetap dirumah selama anak perempuannya tinggal disana. Bagaimanapun, keluarga adalah yang terpenting. Apa gunanya semua harta berlimpah jika keluarga tak bahagia?
"Bagaimana studi kamu?" tanya Mirna.
"Alhamdulillah, Ma... sedikit lagi, segala usaha Mama akan memiliki hasil..." jawab Anya.
"Tapi.... tetap saja Mama akan kembali kesepian." rajuk Mirnawati sembari melengos.
Arya tersenyum. "Ya wajarlah Ma." ujarnya membela Anya. "Namanya juga calon ASN ya, pasti akan ditempatkan dimana saja diwilayah negara ini."
"Semoga saja ditempatkan di Gorontalo." ungkap Mirnawati.
Ruslan tertawa. "Mama ini kok setengah-setengah dalam merumuskan segala niat. Sudah syukur lho, Anya ikutin maunya Mama belajar disekolah kedinasan."
Anya tertawa pelan lalu mendekat dan merangkul ibunya. "Yaaah semoga saja keinginan Mama kesampaian ya?" ujarnya menenangkan sang ibu.
"Lho? Bukannya setelah lulus nanti kamu akan ditempatkan di Badan Sandi Negara?" tanya Ruslan.
"Nggak cuma BSSN yang memerlukan kami. Instansi pemerintahan lain juga perlu kok." bantah Anya lalu menggoda ayahnya.
"Atau... bagaimana kalau Anya nggak mau menandatangani kontrak ikatan dinas dan kerja saja diperusahaan kakak?" usulnya dengan wajah jenaka.
"Berarti nggak jadi PNS dong?" tukas Mirnawati.
Anya mengangguk-angguk dengan wajah jenaka. Mirnawati langsung menggeleng-gelengkan kepala tak setuju.
Anya tertawa sedang Ruslan hanya menggeleng-gelengkan kepala saja mendengar aspirasi penolakan Mirnawati.
"Kenapa Mama nggak masukkan Anya ke IPDN di Sumedang?" pancing Arya.
"Ya, kalau ke sana... mendingan saja Mama masukkan di ke Sepolwan di Kebayoran Lama." jawab Mirnawati dengan sedikit ketus.
Anya kembali tertawa. "Sudah, sudah..." ujarnya menengahi. "Ini kok malah jadi debat prokololo saja nih." gadis itu lalu menatap ibunya. "Ini juga Mama kok malah ikut arusnya Kakak? Mama tuh dihasut, tahu nggak?"
Mirnawati langsung memelototi Arya. "Oh ya?! Ooo jadi kamu mau juga di hajar ya?!"
Arya tertawa dan mengangkat tangan. "Sabar Ma, jangan marah dong." kilah Arya. "Aku kan hanya menyampaikan aspirasi... gimana sih? Mama kan seorang legislator, kok malah nggak mau dengar aspirasi anak sendiri... giliran aspirasi rakyat, wuiiiihhhh..." olok Arya.
Mirnawati langsung tanggap menjawab. "Eh, kalau itu ceritanya beda, Uyong! Mama duduk di kursi dewan memang untuk membela hak-hak rakyat. Kamu pikir enak jadi legislator? Banyak dosanya, tahu nggak?!"
Arya tertawa. "Ya sudah tahu pekerjaan rawan dosa, masih saja ditekuni."
Tiba-tiba Mirnawati berdiri dan menghentakkan kakinya. "Arya!" serunya dengan berang. "Kamu sudah berani mempertanyakan hal-hal yang bukan kewenangan kamu!"
Ruslan langsung menenangkan istrinya. "Sudah Ma... ini kok jadi kayak rapat paripurna saja." ujarnya. "Mama kok yang sudah pengalaman jadi legislator kok malah emosi mendengarkan aspirasi putramu?" olok Ruslan membelai-belai lengan istrinya. "Sudah... tenang saja. Anggap saja anjing menggonggong... kafilah tetap berlalu."
"Huange'elooo..." umpat Arya sambil tertawa. "Kok Papa malah sama-samakan aku dengan apula sih?!"
Ruslan tertawa menatap putranya. "Santai boy. ini Mama kamu lagi meradang, kamu malah nambah menghasut. Nggak takut kamu diterkam singa?!"
Akhirnya Arya dan Anya hanya tertawa saja melihat ayah mereka maling-malingtuang menenangkan Mirnawati yang masih merajuk gara-gara emosi berhasil dihasut oleh putranya sendiri.[]