
Arya mengendarai All New Avanza hitamnya membelah jalanan Pasar Minggu Kecamatan Suwawa.
Lelaki itu hendak menemui Trias yang saat itu sedang bersama sahabatnya disalah satu desa yang terdapat di ujung kecamatan tersebut. Perjalanan itu dilaluinya dengan santai.
Arya menyesal beberapa lagu yang mengalun pada tape di dashboard mobilnya. Perjalanan itu sedikit terganggu oleh keramaian lalu lintas yang entah mengapa ramai pada hari itu.
All New Avanza hitam itu menemukan persimpangan mirip batang ketapel. Arya memutar roda sekiranya ke kiri. Kendaraan itu mengambil jalan bagian kiri yang sebenarnya memiliki simpangan lagi.
Persimpangan ke kiri akan mengarah ke lokasi wisata pemandian air panas dan air terjun di Desa Lombongo. Sedangkan jalan yang lurus mengarah ke pasar utama kampung. Setelah kompleks pasar itu dilalui, maka tujuan yang akan dituju akan tiba.
Arya tiba di Desa Tulabolo. Lelaki itu kemudian menghubungi koleganya. Terdengar nada panggil sejenak lalu kemudian suara khas penjawab panggilan.
📲 "Halo, Assalamualaikum ...." Terdengar suara bariton di seberang sana.
📲 "Dengan Arya Kusuma Datau," ujar Arya memperkenalkan diri.
Terdengar deheman di seberang.
📲 "Posisi Anda di mana?" tanya Arya, "Saya sudah tiba di Tulabolo ..." sambungnya.
📲 "Oh, terus saja Pak. Nanti Anda akan menemukan rumah gaya Belanda, berhenti saja disana." jawab lelaki bersuara bariton itu.
Arya mengakhiri percakapan selulernya dan kembali menekan pedal gas kendaraannya, melaju dengan ambang batas normal melintasi jalanan yang belum dilapisi aspal butas itu.
Kendaraan itu berhenti manakala mendapati sebuah kediaman bergaya Rumah Belanda yang dirawat dengan sangat baik sehingga tidak terlihat aus meskipun tampilan kuno sangat nampak pada kediaman tersebut.
Arya keluar dari mobilnya dan mengayun langkah memasuki pekarangan yang asri dipenuhi tanaman hias yang menyejukkan pandangan.
Tak lama kemudian dari arah samping rumah muncul seorang wanita. Wajah perempuan nampak khas, dan kulitnya putih kekuningan, sangat beda dengan kontur kulit para wanita lokal yang rata-rata berwarna samo matang.
"Anda, Pak Arya?" sapa wanita itu.
Arya menganggur sopan. Wanita itu tersenyum dan mengujar, "Anda sudah ditunggu... " sembari mengembangkan tangan kirinya memberi jalan.
Arya dipandu oleh wanita itu menyusuri pekarangan samping rumah hingga akhirnya tiba di sebuah petak lapang di wilayah belakang beberapa jarak dari kediaman dan sebuah porono tempat membakar kulit dan tempurung kelapa. Wilayah itu dipagari oleh tanaman balacae (Jatropha Curcas) yang tingginya seratus enam puluh sentimeter.
Di tengah tanah lapang mini itu sedang berlaga dua orang lelaki, mengenakan pakaian khas petarung lengkap dengan tengkolok dan sarung yang melingkar dipinggang, diikat dengan sabuk besar dan gesper sebagai pengait agar sabuk itu tidak lepas.
Arya paham bahwa pertarungan yang berlangsung itu adalah jenis pertarungan kuno masyarakat Gorontalo sejak abad empat belas silam, yaitu Langga yang asal masanya diketahui diciptakan pertama kali oleh seorang raja kuno bernama Ilato, yang lebih dikenal dengan nama Ju Panggola.
Jenis beladiri unik ini kemudian diajarkan turun temurun kepada pasukan Mayulu dan keturunannya. Pasukan ini merupakan pasukan pengawal khusus para raja Gorontalo yang terkenal dengan pakaian serba hitam, menyandang sejenis pedang yang disebut aliyawo dan bito palepe yang berfungsi sebagai alat menikam. Setelah kerajaan Gorontalo dibubarkan pada akhir abad ke 18, maka seni beladiri ini menjadi sebuah seni rahasia yang dipelajari secara oral oleh penduduk dengan garis keturunan orang-orang Mayulu.
Kedua orang itu berdiri disisi tanah lapang, membiarkan kedua petarung tersebut mengeluarkan semua kepandaian hingga akhirnya menyelesaikan pertarungan itu dengan tanpa melahirkan pemenang.
Lelaki berpakaian hitam dan bertengkolok merah anggur tersebut menampakkan wajah tak puas sedangkan lelaki berpakaian hitam dengan saluk gaya santri bermotif geringsing loweh laka, hanya tersenyum kejut saja.
"Apakah akan begini terus akhirnya?" tukas lelaki berdestar merah anggur itu dengan mimik tak puas.
"Ya, mau bagaimana lagi? nga'mila tawu-tawu wewo tak bisa mengalahkan langga aliran keluarga kita." sahut lelaki bersaluk gaya santri yang tak lain adalah Trias sambil tertawa kemudian mengajak sahabatnya ke tepian lapak lapang itu.
"Hai, sudah lama menunggu?" seru Trias.
"Tidak juga, Komandan," jawab Arya dengan santun.
"Ah, basa-basi," seru Trias kembali tertawa. "Tak perlu se-formal itu kepadaku. Santai saja." sambungnya.
"Ini sahabatku." ujar Trias menganggukkan kepala kepada lelaki bertanjak merah anggur itu. "Kamu tentu sangat mengenalnya."
"Hanya enterpreneur pemula saja yang tak mengenal Bapak Kenzie Ardiansyah Lasantu, Direktur Utama dari Buana Asparaga." sahut Arya tersenyum dan mengulurkan tangan.
"Bagaimana kabarnya Pak Arya?" sapa Kenzie menyalami tangan pengusaha tersebut.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja." jawab Arya dengan santun.
"Terlalu menjaga adab." sindir Kenzie menggoda Arya. Lelaki itu tertawa.
"Setidaknya saya bertindak sesuai etika." tangkis Arya membuat Trias dan Kenzie akhirnya mengangguk-angguk setuju.
"Anda menghubungi saya, tentunya ada hal penting yang akan dibicarakan." ujar Arya membuka percakapan.
Trias mengangguk. "Saya telah menghubungi pihak Resort Paguyaman. Data tentang Muzdalifah..." lelaki itu memperbaiki gaya duduknya. Trias kembali menatap Arya.
"Ada yang ganjil perihal penculikan perempuan itu." ujar Trias mengerutkan alisnya menatap hamparan taman kecil yang menghias bagian sisi-sisi tangga itu.
"Ganjil? Maksudnya bagaimana?" tanya Arya dengan penuh minat.
"Apakah Anda mendapatkan panggilan... atau penculik itu menghubungi Anda?" tanya Trias.
Arya menggeleng.
Trias mengangguk-angguk lalu mengangkat alisnya sebelah kiri.
"Apakah Anda tak merasakan keganjilan disitu?" pancing Trias.
Arya terhenyak.
Benar juga! Mengapa aku nggak kepikiran disitu ya?! Semestinya penculik itu menghubungiku sejak peristiwa berdarah di kedai tersebut. Namun hingga saat ini tak satupun mereka menghubungiku.
Arya menghela napas dan menengadahkan wajah memandang dahan-dahan Pohon Kersen (Muntingia Calabura) yang menyebar memayungi bangku panjang yang mereka duduki saat ini dengan dedaunannya.
Ditambah lagi tentang kematian Iswan yang misterius....
Trias mendehem membuat Arya kembali menatap lelaki berpakaian silat gaya Melayu-Siak itu.
"Iswan tewas dibunuh oleh seseorang yang kelihatannya melakukan balas dendam karena kehormatan dirinya dijatuhkan." papar Trias memutar-mutar kedua tangannya untuk mempertegas setiap kalimat yang terucap dari lidahnya.
"Di pakaian lelaki itu terdapat tanda-tanda persetubuhan dan saya menyimpulkan bahwa Iswan baru saja memperkosa seorang wanita dan si pembunuh itu kemungkinan besar adalah kekasihnya ataupun... suaminya." ujar lelaki itu.
"Sudah ku duga..." gumam Arya dengan senyum hambar. "Aku nggak heran jika akhirnya seperti itu."
"Berarti... anda kenal benar perangai almarhum?" pancing Trias.
"Dia seorang penggila wanita... dan bisa juga disebut pemetik bunga..." ujar Arya tanpa sadar mengungkap aib sahabatnya sendiri.
Trias mengangguk-angguk lagi. "Kami berhasil mengurai DNA yang tercampur dalam cairan ****** milik Iswan... dari hasil itu kami menemukan nama seorang wanita bernama Ningsih." ujarnya mengakhiri pemaparannya.
"Ningsih?" sahut Arya mendesis.
Trias mengangguk. "Ya. Kami melakukan sinkronisasi datanya dengan seluruh kantor kependudukan dan catatan sipil yang terdapat di provinsi ini..." ujarnya merubah Posisi duduknya, menyamping ke arah Arya. "Perempuan itu tinggal di Paguyaman... beberapa jarak dari kedai yang dijadikan olah TKP..."
Arya terhenyak lagi.
"Siapa orang yang kau kenal tinggal di kawasan sekitar kedai itu?" selidik Trias.
"Saiful Hadi sudah tewas, begitu juga dengan Koni Kumaat..." ujar Arya.
"Bagaimana?" tanya Trias.
"Saifulhadi, tewas dengan luka tembakan... sedang Koni Kumaat tewas dengan kepala terbelah oleh sebilah sumala." ujar Arya lagi. "Hanya satu yang selamat sebab tidak berada ditempat kejadian."
"Wanita bernama Muzdalifah?" tebak Trias.
Arya menggeleng. "Bukan," jawabnya. "Seorang lelaki suku Madura, bernama Sakera."
"Sakera...." gumam Trias sembari menghafalkan nama itu dalam benaknya.
Arya mengangguk. "Baru-baru ini, saya pernah bertemu dengannya di Isimu." ujar lelaki itu, "Saat saya dalam perjalanan pulang mengantar adik saya ke Bandara Djalaluddin, kami berpakaian dijalanan. Aku menawarkan tumpangan."
"Bisa kita kunjungi orang itu?" pinta Trias.
Arya mengangguk. "Aku akan mengantarmu." []