
Arya membenamkan dirinya dalam ramainya suasana di Pub tersebut. Hingar bingar suara didalamnya semakin menambah keinginan lelaki itu untuk bergeming disana menikmati beberapa tegukan minuman alkoholik yang telah masuk kedalam saluran kerongkongannya.
Arya menuang lagi khamr itu dalam gelas tinggi digenggamannya. Kesadarannya separuh berkurang dan mulai diambil alih oleh histeria semu dari sisi gelap dirinya.
Biasanya dalam keadaan semacam ini, Iswan dan Rudi pasti akan menemaninya dan mereka bertiga bersama-sama mengarungi malam itu hingga menyambut lazuardi yang membentang menandai kedatangan fajar yang akan menghapus jelaga malam.
tapi, semua itu kini tak ada lagi. Rudi telah berpulang ke Hadirat-Nya membawa penyakitnya, begitu juga Iswan menyusul sahabatnya dengan kematian yang menggenaskan. Arya tersudut sendirian dalam kesunyiannya ditengah ramainya para pencari kesenangan malam di pub tersebut.
Ah, Rudi... Iswan... kenapa kalian meninggalkan aku sendirian disini? Bisakah kalian mengajakku juga? Aku sudah tak sanggup....
Arya mengangkat lagi gelasnya. Jemarinya gemetar menyebabkan gelas itu pun nampak bergoyang. Arya menyorongkan pinggiran gelas itu ke bibirnya ketika sebuah tangan menyergap pergelangan tangannya dan tangan lainnya merampas gelas tersebut.
"Hei..." protes Arya dengan layu. Kesadarannya sedikit banyak berkurang.
"Kamu sudah cukup mabuk-mabukan, Arya." tegur Kamala dengan ketus seraya meletakkan gelas berisi minuman alkoholik itu di meja kemudian menatap lelaki itu dengan tatapan kesal.
"Biarkan aku minum sekali saja." pinta Arya dengan lembut kembali hendak meraih gelas itu namun ditahan oleh Kamala.
"Sudah cukup! Kubilang sudah cukup! Pahamkah kau?!" sergah Kamala. Suara wanita itu sedikit teredam oleh hingar-bingar dalam pub itu.
Arya menghela napas lalu duduk menyandarkan punggungnya dan menatap keramaian yang tak memperdulikan mereka.
"Kamu kenapa sih?!" sergah Kamala. "Apa hanya sebuah saran itu kau menenggelamkan diri disini?" Wanita itu kemudian melengos. "Tahu begini, aku sudah lama meninggalkanmu!"
Arya tertawa pelan lalu menghela napas kembali. Kamala kembali menatapinya.
"Kita hanya menunda pernikahan, Arya." ujar Kamala, "Bukan membatalkan pernikahan." tegasnya. "Tegarlah! Aku tak suka melihat lelaki lembek!"
"Bagiku... itu sama saja dengan membatalkan kesepakatan yang kita buat." ujar Arya dengan pelan, mengusir ketidaksadaran yang masih melingkupi dirinya.
Kamala tertawa mengejek. "Kau hanya terjerat dalam melankolia perasaanmu sendiri."
Arya menatap Kamala. "Apa kau pikir keluargaku tak akan terluka mendengar penundaan itu?" tukasnya dengan gusar. "Ayah dan ibuku sudah menetapkan tanggal pernikahan kita lalu secara sepihak kau menundanya hanya gara-gara beasiswa itu?!"
"Tapi aku akan tetap kembali kepadamu." ujar Kamala membela dirinya. "Hanya dua tahun selama aku mengejar ambisiku untuk menamatkan pendidikan magisterku disana. Apakah dua tahun terlalu lama bagimu?!"
"Sangat lama Kamala! Sangat lama! Seperti seribu tahun lamanya!" seru Arya yang terpancing emosinya. Kata-kata lelaki itu sedikit menimbulkan rasa tersanjung dibenak wanita itu namun Kamala segera menepisnya.
"Kesempatan itu tak akan datang dua kali, Arya." tandas Kamala. "Aku hanya berupaya meraih apa yang tiba dihadapanku. Aku tak ingin sedikitpun melepaskannya..."
Kamala terdiam sejenak lalu menghela napas dan melanjutkan ucapannya yang tersela. "Meskipun itu kamu..."
Arya mendengus dan melengos memandang keramaian dihadapan mereka. Kamala menghela napas lalu bangkit.
"Aku akan berangkat besok." ujarnya. "Surat pengunduran diriku sudah kukirimkan lewat e-mail ke kamu." setelah mengakhiri kata itu, Kamala berbalik meninggalkan Arya.
Beberapa saat kemudian, Arya mendapatkan kesadarannya.
"Kamala, tunggu!" seru Arya langsung bangkit hendak mengejar Kamala.
Tumpukan lelaki dan perempuan yang berjubel, asyik menumpahkan emosi mereka lewat tarian-tarian eksotis mereka yang dibarengi musik disko sedikit menghalangi langkah Arya.
"Kamala, tunggu!!!" seru Arya lagi berupaya menerobos pagar-pagar manusia yang asyik tenggelam dalam kegiatan dugem itu.
Akhirnya Arya tiba juga diluar dan memandangi keramaian orang dan lalu lintas kendaraan. Tapi lelaki itu tak menemukan Kamala diantara mereka.
"Kamala!!!" seru Arya berkali-kali menyerukan nama wanita itu sambil terus melangkah menyusuri jalanan.
...Sialan... kemana saja perempuan itu?!...
Arya terus berjalan hingga menemukan sebuah jalanan sepi dengan bangunan yang tak menampakkan geliat apapun didalamnya. Lelaki itu melihat arlojinya.
Sudah pukul sebelas...
Arya terus melangkah mencari-cari wanita yang dia inginkan. Hingga akhirnya langkahnya terhenti ketika mendengar langkah lain yang mendekat.
Arya menoleh menatap sosok tubuh yang mendekat. Itu hanya siluet yang menyelimuti sebab semuanya serba gelap. Sebuah benda dalam genggaman sosok itu membuat perasaan Arya tidak nyaman.
Lelaki itu terkejut ketika sosok itu menegaskan benda apa yang dipegangnya. Ia terkejut.
Pistol... dia memegang pistol... jangan-jangan...
"Arya Kusuma Datau... pergilah kau ke neraka!!!" seru sosok itu langsung mengarahkan moncong senjata api itu ke arah Arya.
DOR!!!! []