
Arya menghubungi Kamala dalam perjalanan pulang menuju kediaman. Namun alis lelaki itu mengernyit ketika menyadari setiap panggilan yang dibuatnya justru dibalas oleh kecerdasan buatan dalam sistem komunikasi selular.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini, tekan 1 atau 3 untuk melakukan rekaman percakapan..."
Arya menatap layar gawai itu dengan alis yang terus mengernyit.
Kenapa lagi dengan Kamala? Kemana lagi dia saat kubutuhkan?
Arya menarik napas dan meletakkan gawai tersebut di dashboard mobil lalu kembali menggenggam kemudi dengan santai dan menekan pedal gas, melajukan All New Avanza hitamnya menyusuri jalanan yang agak sunyi.
Arya mengedarkan pandangan melalui kaca jendela mobilnya yang dilapisi stiker gelap untuk menghalangi orang luar mengintip kedalam.
Tatapannya sejenak menajam melihat seorang lelaki yang dikenalnya sedang melangkah menyusuri jalanan. Arya sedikit melajukan dan memarkirkan All New Avanza hitamnya ke bahu jalan. Ia mematikan mesin dan membuka pintu lalu keluar dari kendaraan.
"Hei, Sakera!" seru Arya melambaikan tangan.
Lelaki yang dilihatnya memang Sakera. Lelaki Madura itu tidak lagi mengurusi kedai makan di Paguyaman. Sepeninggal Saifulhadi, kedai itu dijual kepada seorang pengusaha kuliner di Paguyaman.
Sakera sejenak terdiam mendengar suara panggilan tersebut, dan tertahan pula langkahnya melihat Arya berdiri disisi All New Avanza hitam tersebut.
"Kemarilah..." panggil Arya sekali lagi.
Sakera berupaya menenangkan diri sejenak lalu melangkah mendekati lelaki tersebut.
"Bagaimana kabarmu?" sapa Sakera mendatarkan suaranya.
"Aku baik-baik..." jawab Arya. "Masuklah..." ajaknya.
"Aku punya urusan..." elak Sakera.
"Memangnya kau mau kemana?" tanya Arya. "Sekaligus aku akan mengantarmu."
Sakera tak bisa lagi berkilah. Akhirnya ia mengangguk juga. "Baiklah..."
Arya masuk kembali ke mobil sedangkan Sakera berkeliling dan masuk dari sebelahnya. Tak lama kemudian All New Avanza hitam itu melaju kembali.
"Apakah kau tidak lagi mengurusi kedaimu di Paguyaman?" pancing Arya.
"Aku sudah menjualnya." jawab Sakera. "Tak ada gunanya. Aku tak pandai mengelola. Aku hanya menginvestasikan saham."
Arya tersenyum, sejenak kemudian ia teringat sesuatu. Ditatapinya Sakera yang duduk diam menatap jalanan.
"Bagaimana kabarnya Muzdalifah? Apakah polisi sudah menemukan siapa penculiknya?" tanya Arya dengan penuh minat.
Sakera mengernyitkan alisnya menatap Arya. "Apakah perasaanmu kepada perempuan itu masih ada?" pancing lelaki Madura itu.
Arya tersenyum, "Perasaan seperti apa? Cinta, maksudmu?" tanya lelaki itu.
Sakera hanya diam menanggapi pertanyaan Arya. Akhirnya lelaki Madura itu menghela napas dan menjawab dengan sarkas.
"Apakah pantas seorang lelaki yang mencintai calon suami orang?" pancing Sakera tanpa menoleh.
Arya tertawa pelan. "Maaf jika Muzdalifah adalah milikmu. Namun jika kau berpikir aku jatuh cinta kepadanya, kau salah. Aku hanya memiliki permasalahan yang belum selesai dengannya." ujarnya meluruskan pemahaman lelaki disampingnya tersebut. "Kamu tentu sudah tahu tentang masalalunya."
Sakera hanya mendengus.
"Bagaimana perkembangan penyelidikannya?" tanya Arya.
Sakera kembali menghela napas. "Penyelidikan masih sementara berjalan. Aku tak tahu... bagaimana nasib perempuan itu saat ini."
Arya mendengar kalimat yang terasa sarkas ditelinganya, dan lagi-lagi pengusaha itu tersenyum. "Perkataanmu barusan mengisyaratkan sepertinya kamu tak terlalu perduli, apakah Muzdalifah ditemukan atau tidak... apakah aku salah?"
Sakera terhenyak sesaat dan seketika memperbaiki nada tuturnya.
"Bukan begitu. Jangan terlalu mendramatisir ucapanku." kilah Sakera. "Maksudku saat ini adalah... aku memang belum mengetahui sejauh mana keberadaannya. Aku benar-benar stres saat ini memikirkannya." keluhnya.
Arya mengangguk. "Kita sama-sama mencarinya. Aku juga sudah membicarakan kasus hilangnya Muzdalifah kepada salah satu kenalanku di kepolisian."
"Ya..." sahut Arya dengan sedikit perasaan heran. "Kebetulan... waktu itu, aku sedang melayat kematian sahabatku. Dia tewas dibunuh di sebuah bangunan tak terpakai di kawasan Leato..."
Sementara Arya menjelaskan, Sakera tidak memperhatikan penjelasannya. Lelaki Madura itu justru menebak orang yang baru saja diungkit dalam pembicaraan itu.
"N-namanya... Iswan?" tanya Sakera dengan nada suara yang sedapat mungkin didatarkan, seakan tak terjadi apa-apa.
Arya mengangguk. "Polisi menduga... dia tewas dibunuh saat sedang asyik menyenggamai seorang perempuan... entah siapa perempuan itu. Tiga puluh delapan orang berpakaian hitam yang mengawalnya dibangunan itu tewas dengan luka bacokan dan gorokan... kemungkinan pembunuh itu menyembelih dan membokong mereka lalu menyerang Iswan dan juga membunuhnya, kemudian melarikan perempuan yang diperkosa oleh Iswan..." tutur pengusaha itu memaparkan dugaan itu.
"Apakah polisi menduganya seperti itu?" tanya Sakera.
Arya tertawa. "Nggak... itu dugaanku saja."
Sakera mengangguk-angguk. Tak lama kemudian ia menyuruh Arya menyetop kendaraannya.
"Aku turun disini." ujar Sakera seraya membuka pintu. "Terima kasih atas tumpangannya."
Arya hanya mengangguk sambil tersenyum, sedang Sakera pergi tanpa menoleh kemanapun dan melangkah membiarkan All New Avanza hitam itu melaju kembali dijalanan.
...*****...
Inayah Amalia baru saja tiba, ia menggantungkan sling bag dipundak kirinya. Anak gadis itu menyapa.
"Assalam alaikum..." serunya saat melangkah masuk ke dalam. Terdengar seruan balasan diruang tengah.
Inayah melangkah santai menyeberangi ruang tamu dan tiba diruang keluarga. Disana ibunya, Saripah sedang asyik menonton tayangan di televisi.
"Umma... Abah kemana?" tanya Inayah seraya maju mencium tangan ibunya.
"Baru keluar..." jawab Saripah. "Kamu terlambat..."
"Yah, Abah kalau sibuk, memang suka lupa." keluh Inayah.
"Eh, mandi dulu." ujar Saripah berlagak mengusir. "Itu abuhu diketiakmu sudah mengembangkan sayapnya dan hendak terbang menyebarkan bau penuh racun diruangan ini."
Inayah tertawa. "Ma... ada kabar nggak?" tanya gadis itu.
"Siapa?" tanya Saripah pura-pura bodoh.
"Yeee... Umma kayak nggak tahu saja." keluh Inayah setengah merengek dan merajuk.
Saripah tersenyum. "Itu... calon suamimu barusan menghubungi Abah..." ujarnya memberitahu sekaligus mengecek respon putrinya.
"Iya?" seketika Inayah terlonjak gembira. "Lalu... Saburo bilang apa, Ma?" desaknya.
"Ya, nggak bilang apa-apa... cuma sekedar bicara saja dengan Abah..." jawab Saripah.
"Ah, Umma... nggak seru!" ujar Inayah dengan kesal dan langsung berdiri dan melangkah meninggalkan Saripah yang tertawa sendirian menggoda putri semata wayangnya itu.
Inayah tiba ditaman belakang. Ada mesin pencuci pakaian disana. Inayah mendekati benda itu dan meletakkan sling bag disana. Ia membuka tas itu dan mengeluarkan sebuah uwagi warna biru tua, sebuah obi hitam dan celana zubon putih yang lebar. Semua pakaian itu dimasukkannya ke dalam mesin pencuci itu.
Inayah kemudian memasukkan detergen kedalam mesin tersebut dan menjalankannya. Terdengar suara dengung pelan mesin tersebut saat mengerjakan tugasnya.
Inayah merogoh lagi sesuatu dalam sling bag dan mengeluarkan sebuah potret bergambar seorang pemuda dengan ukuran close up. Wajah pemuda itu tampan, perpaduan dari ras paleo mongoloid dan yayoi.
"Halo, Saburo..." sapa Inayah bermonolog dengan pelan dan lembut lalu mencium potret tersebut. "Wololo habarimu?..."
Gadis itu kemudian mengernyitkan alis. "Kenapa sih kamu nggak mau menghubungi aku?" ujarnya bermonolog lalu tersenyum lagi dengan nakal. "Ooo... malu ya?"
Inayah mendekap potret itu ke dadanya. Kedua matanya memejam lalu tersenyum. Entah apa dalam pikiran gadis itu. Yang jelas, ia sementara terperangkap dalam renjana hatinya meski ditengah sunyi tanpa ditemani jisim kasar orang yang dirindukannya.
Sementara Saripah mengintip saja putrinya yang bermonolog sendirian sambil menatap potret itu lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.
Dasar gadis bucin... []