
Arya mempersilahkan Kamala duduk di sofa, sedang ia sendiri sejenak membuka salah satu rak dibawah meja kerjanya. Tangannya terjulur kedalam dan mengeluarkan beberapa lembaran kertas bertulis.
"Aku sudah menyalin segala kesepakatan kita dalam lembaran ini." ujar Arya memperlihatkan lembar-lembar kertas itu lalu bangkit dan melangkah menuju sofa. "Disini tertulis beberapa kewajiban, dan hak kita berdua beserta hal-hal yang kita sepakati bersama. Lembaran ini kubuat dua eksemplar, untukmu dan juga untukku."
Lelaki itu duduk disisi Kamala dan menyerahkan lembaran-lembaran kertas tersebut.
"Silahkan kau baca dan teliti. Jika ada yang tidak berkesesuaian, kau boleh menambahkan atau menguranginya." ujar Arya.
Kamala membaca lembar demi lembar berisi nota kesepakatan mereka berdua. Lama wanita itu membaca dan membolak-balik lembaran untuk memastikan bahwa apa yang tertulis dikertas itu tidak mengalami perubahan.
"Bagaimana?" tanya Arya dengan lembut.
Akhirnya Kamala mengangguk-angguk lalu menatap Arya.
"Sudah sesuai." ujar Kamala.
"Kalau begitu, tanda tanganilah." pinta Arya.
Kamala mengambil pulpen yang tersemat di saku blazernya dan mulai membubuhkan tanda tangannya pada bagian namanya yang ditempeli materai.
"Sekarang giliranmu..." ujar Kamala setelah selesai menandatangani.
Arya mengangguk lalu mulai menandatangani bagian namanya yang ditempeli materai, setelah itu, ia menyerahkan lembaran lainnya kepada Kamala.
"Itu untukmu, sebagai penjagaan jika diantara kita melanggar isi kesepakatan, maka lembaran itu menjadi hakim diantara kita berdua." ujar Arya.
"Baik..." jawab Kamala kemudian.
"Sebentar malam, akan kujemput kamu untuk menghadap kepada orang tuaku." ujar Arya. "Lalu setelah itu, giliran aku akan melamarmu kepada orang tuamu."
"Aku... yatim piatu..." sahut Kamala dengan terbata-bata.
Arya terdiam lama. Lelaki itu kemudian mengangguk pelan lagi. "Apakah kau punya sanak keluarga lain?"
Kamala tersenyum hambar lalu menggeleng. "Kemungkinannya ada, tapi aku tak mengenal mereka. Ayahku maupun ibuku tak pernah mengunjungi mereka..." jawab wanita itu.
Arya mengangguk-angguk pelan lalu menunduk sejenak. Kamala kembali tersenyum.
"Kurasa aku bukan kandidat yang cocok untukmu, Pak." kata Kamala dengan pelan. "Berpikirlah kembali sebelum melangkah dan menyesali keputusan dikemudian hari akan mewarnai hari-hari anda dengan beristrikan saya."
Arya tersenyum lalu menegakkan wajah. "Aku sudah memahami resikonya. Kau tak perlu memikirkannya. Wali hakim akan membereskan keraguanmu." Lelaki itu kemudian berdiri dan melangkah sembari menggenggam lembaran kesepakatan itu.
"Jika kau tak keberatan, bisakah memberikan aku sedikit waktu untuk sendiri?" tanya Arya.
"Ah, ya... maafkan saya." ujar Kamala dengan gagap lalu bangkit dan melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Tinggallah Arya sendirian. Langkahnya terayun mendekati lukisan tersebut. Lelaki itu kembali mengulurkan tangan membelai wajah dalam lukisan itu.
...*****...
Kamala mematut-matut dirinya di cermin. Memastikan pakaian yang dikenakannya dapat memberinya aura positif dan mencairkan kecanggungan saat menghadapi kedua orangtua dari lelaki yang akan memilikinya kelak.
Kabar bahwa orang tua dari Arya adalah orang-orang terpandang pada jamannya membuat Kamala harus memikirkan langkah bagaimana ia mampu memberikan kesan baik dihadapan mereka.
Terdengar ketukan dipintu kamarnya.
"Ya, kenapa Bi?" tanya Kamala.
"Ada tamu, Non. Laki-laki, tampan wajahnya." jawab seseorang dari balik pintu.
"Tanyakan namanya, Bi." pinta Kamala.
"Dia beritahu namanya, Pak Arya. Katanya sudah punya janji sama Non." jawab orang dibalik pintu lagi.
Kamala mengangguk lalu melangkah mendekati pintu dan membukanya. Dihadapannya berdiri seorang wanita parobaya dengan sikap menghamba.
"Sudah disajikan minuman dan cemilan?" tanya Kamala.
"Sudah Non." jawab wanita parobaya itu.
Kamala mengangguk. "Saya mau keluar sebentar. Tolong jaga rumah ya? Bibi mau dibelikan apa?"
Wanita parobaya itu tersenyum sipu. "Non sudah tahu apa yang saya mau."
Kamala tersenyum. "Masa tiap keluar minta martabak saja maunya? Yang lain dong."
"Saya nggak kenal kudapan lain Non." jawab wanita parobaya itu dengan jujur dan tersipu.
"Oke... nanti saya belikan." ujar Kamala membuat wanita itu tersenyum dan mengangguk lagi.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Bi." ujar Kamala. "Jaga rumah ya?"
"Iya Non." jawab wanita parobaya tersebut.
Kamala melangkah menuju ruang tamu. Disana Arya sedang menunggunya ditemani secangkir teh dan setoples kue nastar. Lelaki itu sedang asyik mengawasi sahamnya lewat aplikasi di ponselnya. Kemunculan Kamala membuatnya menghentikan kegiatannya.
"Aku sudah siap. Ayo berangkat." ajak Kamala.
Arya tersenyum. "Ayo..." sahutnya sambil berdiri.
Keduanya melangkah meninggalkan kediaman itu. All New Avanza hitam itu bergerak meninggalkan komplek pemukiman tersebut.[]