Revina

Revina
Rumit



Revina sedikit kesal melihat perlakuan reza yang sedikit overprotektif terhadapny. Revina bingung karena sikap kakaknya yang berubah ketika pulang dari turnamen waktu itu.


"Kenapa vin? Kok kamu kelihatan bingung seperti itu?" Tanya olla


"Ga ngerti deh, kak ejak sekarang overprotektif banget sama aku" ucap revina merengut


" over gimana maksudnya?"


"Iya over banget, aku baru keluar sejengkal doang dia udah teriak minta ikut, ini maksain buat jemput aku kan bete" ujar revina


"Sabar, mungkin itu adalah bentuk kasih sayang kak reza buat kamu vin" ucap olla


"Iya sayang tapi ga biasanya aja dia jadi seperti itu, kamu tau sendiri kan aku di paris 3 tahun dan disini itu cuma dua bulan doang eh malah dioverin seperti itu" ujar revina manggut manggut


"Reza takut terjadi apa-apa mungkin sama kamu" ucap bian dengan sedikit senyum tetapi tatapan tak mengarah ke revina dan itu membuat revina sedikit bingung


Revina hanya tersenyum kaku mendengar penuturan dari lelaki yang sama sekali tak ia kenal namun itu. "Orang ini kenal kak reza" gumam revina sedikit memikirkan sesuatu


"Ga usah berfikir terlalu keras, gua kenal kakak lo" ucap bian


"Gimana ceritanya dia tau apa yang gue pikirin"gumam revina


"Lo kenal kak reza?" Ucap revina


"Iya kenal, lo sampaiin aja salam gua ke dia, dia pasti senang mendengar salam itu. Bilang aja dapet salam dari temen lama" ujar bian sambil menyeringai


Revina menaikan alisnya mendengar perkataan bian yang menurutnya sedikit mengandung kecurigaan. "Punya hubungan apa ini orang ke kakak gua" gumam revina


"Its okey nanti gua sampaiin" ucap revina


"Sayang ayoo kita pergi dari sini gerah sudah ini" ucap reyna kekasih bian


"Ya udah ayo. Thanks ya udah bolehin kita gabung, next kita bakal bertemu lagi" ucap bian memberi senyuman liciknya


^^^^^^^^^^


Revina menghubungi reza meminta di jemput sang kakak. Olla sudah kembali dengan menggunakan taksi online. Sedangkan revina menunggu sang kakak di loby salah satu mall di daerah Y. Revina memutuskan jalan keluar daerah mall tersebut dan memutuskan menunggu di sang kakak di pinggir jalan, karena revina sibuk dengan hp nya revina tak menyadari bahwa ada mobil yang mencoba untuk menyerempetnya, seketika mobil tersebut kian mendekat tetapi dengan sekejap bian menarik revina agar tidak tertabrak mobil tersebut hanya saja revina tetap terjatuh, lengan dan lututnya terluka. Bianpun terluka pada lenganya


"Lo kalo mo nyebrang liat-liat dong, mau mati" bentak bian. "Mobil rossa, kenapa dia mau nabrak revina bukannya dia suka ke reza" gumam bian


"Sorry gua nelpon kakak gua tadi. But, thanks ya udah nyelamatin gua" ucap revina sambil tersenyum dan menahan sakit di lengan dan lututnya


"Lo gapapa kan, yaampun berdarah, kita obatin aja dulu ya" ucap bian


Setelah revina bangkit ada mobil yang berparkir tepat di depan revina dan bian, iya itu adalah reza. Reza turun dari mobil dan sangat terkejut melihat bian bersama sang adik dan melihat sang adik terluka di bagian lengan dan lutut.


"Revina" panggil reza sambil memeluk sang adik


"Kak reza" ucap revina membalas pelukan sang kakak, reza mempererat pelukannya dan revina sedikit menjerit kesakitan karena pelukan kakaknya mengenai luka di lengannya " aww... kak sakit" ucap revina meringis kesakitan


"Kamu gapapa yaampun kenapa luka seperti ini?" Tanya reza khawatir melihat lengan dan lutut sang adik berdarah


"Kakak vina gapapa kok"ucap revina sambil meringis kesakitan


"Gapapa gimana? Ini berdarah vina" ucap reza. Revina hanya terdiam melihat kekhawatiran sang kakak, Reza terlihat geram ketika melihat bian, reza mengira bianlah ulah dari semua ini. Reza melepas tangan adiknya dan menarik kerah kemaja bian.


"Lu apain adik gue! Apa yang elu perbuat ke adik gue ha!!" Bentak reza dibalas dengan senyum licik dari bian. "Gue gapunya toleransi sama orang yang nyakitin adik gue, kalo lu punya masalah ke gue ya lu selesaiin sama gue bukan ke adik gue" tambah reza


Tinjuan reza melayang di wajah bian dan membuat revina terlihat terkejut karena sang kakak melayangkan tinjuannya trhadap orang yang nyelamatin dia. Terlihat darah mengalir di sudut bibir bian, bian tak menjawab bahkan tak membalas reza yang bahkan telah memukulnya.


"Kak lepasin" pinta revina menahan tangan kakaknya yang mencoba memukul bian lagi


"Biarin vin, dia udah ngelukain kamu" ucap reza


"Lepas kak, dia ga salah, bahkan dia yang nyelamatin vina" reza mengurungkan niatnya yang ingin memukul bian "tadi ada mobil mau nyerempet vina kak, dia narik vina, karena ga seimbang makanya kita jatuh, liat tangan dia juga terluka" ucap revina


"Lo beneran takut ya adik lo gua celakain" bian menyeringai dan di balas tatapan tak suka oleh reza. "Lo tenang aja, gua bukan pengecut yang bakal nyelakai seorang wanita, apalagi wanita secantik adik lo, tapi gua ga bisa janjiin kalo gua bisa nahan diri buat ga suka ke adik lo yang cantik ini" ucap bian tersenyum sinis


"Lu jangan pernah deketin adik gue, gue ga akan bisa nerima dan maafin siapa aja yang nyoba nyakitin adik gue, dan gue pastiin gue ga bakal kasih ampun terhadap orang yang mencoba mencelakai dia" ancam reza


"Gua mau lihat seberapa besar usaha lo buat nyelematin adik lo ini" ucap bian sambil mendekat kearah revina, "sebaiknya lo hati-hati cantik, bahkan sesampai lo di indonesia lo jadi incaran para fans kakak lo yang tenar ini" ujar bian tersenyum sinis dan melangkah pergi meninggalkan mereka berdua. "Dan buat pukulan lo tadi gua bakal balas itu" ucap bian berlalu


Reza menuntun sang adik ke dalam mobil. Reza melajukan mobilnya dan dia sangat khawatir pada sang adik. Tetapi sebaliknya revina terlihat bingung dengan kejadian yang baru saja di alaminya itu.


"Kita kerumah sakit ya" ucap reza penuh khawatir


"Enggak usah kak, luka gini aja kok" ucap revina


"Jangan ngeyel!!! lukanya bisa infeksi ngerti nggak si!!!" bentak reza, tanpa sadar mata revina berkaca-kaca dan itu membuat reza menyesal karena baru menyadari bahwa ia lupa sang adik tidak bisa di bentak olehnya. "Jangan nangis, maafin kakak ya, kakak ga ada maksud mau ngebentak kamu, kakak hanya khawatir saja " ucap reza sambil mengelus kepala revina "yaudah kita kerumah sakit, liat luka di lutut kamu dari tadi darahnya ga berhenti.


"Iya kak" ucap revina yang merajuk


^^^^^^


Luka Revina sudah di tangani dokter, rezapun mengurus adminstrasinya. Reza dan revina sudah sampai dirumah sang mama terkejut melihat anak kesayangannya terluka.


"Vina sayang kenapa bisa terluka seperti ini" ucap dewi sambil melihat luka sang anak yang sudah tertutup perban


"Gapapa ma, tadi jatuh doang" ucap revina


"Gimana ceritanya bisa jatuh?" Tanya dewi


"Mama tau kan revina pecicilan, ya itu akibatnya, tapi mama ga usah khwatir, udah reza bawa ke rumah sakit kok" ucap reza dengan menutup hal sebenernya yang terjadi


"Yaudah kamu istirahat sekarang sayang, udah mau magrib juga, mandi terus sholat ya udah itu makan" ucap dewi


"Iya ma, vina ke atas ya" ucap revina


Reza memikirkan kejadian yang menimpah sang adik dan semua omongan bian yang membuat reza semakin khawatir. Sementara di kediaman keluarga dirgantara, bian sedang mengingat bahwa yang mencoba mencelakai revina adalah rossa wanita yang terobsesi terhadap reza


"Rossa. Kenapa rossa mencoba mencelaki adiknya reza, bukannya dia sangat tergila-gila terhadap reza ya" ucap bian. "Mon, lo apa kabar disana, gue kangen banget sama lo mon" ucap bian lirih sambil memandang foto monika


"Bro, gua mau nyatain perasaan ke monika setelah pertandingan minggu depan" ucap bian


"Lu serius ? Dia kan sahabat kita" ucap reza tak percaya


"Gabisa gua pungkiri gua bener-bener suka ke monika" ucap bian yang kagum


"Gua dukung lu bro, semoga sukses ya" ucap reza


Reza, bian dan monika pergi kekantin sama-sama, mereka bertiga adalah sahabat baik sejak mereka kelas 1 SMA, reza sangat menyayangi kedua sahabatnya seperti saudara sendiri, setiap hari mereka bersama bahkan saat reza dan bian sedang berlatih sepakbola pun monika setia menunggu kedua sahabatnya itu, tetepi berbeda dengan bian yang ternyata telah menyukai sahabatnya itu sejak saat itu juga, mereka telah duduk di kelas 2 SMA,bian telah lama memendam rasa terhadap monika, tanpa reza dan bian sadari bahwa monika ternyata lebih menyukai reza, iya wanita nan cantik, anggun dan sopan itu telah jatuh hati terhadap sahabatnya yaitu reza. Monika melihat kedua sahabatnya mendekatinya dan revina langsung memberikan minuman terhadap kedua sahabatnya


"Ini za, ian minuman kalian" ucap monika memberikan minuman terhabat bian dan reza


"Oke thanks ya" ucap keduanya


"Udah ini kita cari makan dulu ya, gue kebetulan ga bawa mobil jadi nebeng lu ya bi" ucap reza


"Iya udah sekalian nongkrong aja gimana?" Tawar monika


"Boleh juga, kita mandi dulu di ruang ganti ya, ita kali mau nongkrong ga mandi" ucap bian


"Iya. Udah pergi gi kalian mandi gue nunggu disini" ucap monika


^^^


Reza, bian dan monika sudah berada di dalam mobil dan reza meminta bian berhenti di masjid karena ia ingin sholat magrib, mereka bertigapub turun dan sholat. Selesai sholat mereka memutuskan ke angkringan tempat mereka sering nongkrong, bian yang sedari tadi memperhatikan monika melihat aneh pada tatapan monika terhadap reza, dan itu mengganjal di hatinya


^^^^^


Reza tidak masuk ke sekolah karena sakit itu membuat monika sangat khawatir


"Lo kenapa si mon, mondar mandir mulu dari tadi?" Tanya bian


"Eh oneng sahabat lo itu lagi sakit ga ada perhatian-perhatiannya jadi orang" ucap monika


"Iya emang kalo gua mondar mandir kek yang lo lakuin reza bisa sembuh dan dateng ke sekolah enggak kan? Duduk kenapa" Ucap bian yang bertambah yakin bahwa wanita yang dia sukai ternyata menyukai sahabatnya bukan dia


"Entar balik sekolah kita mampir kerumahnya ya bi, ayolah pleace pleace" memohon dan menunjukkan muka lucunya


"Iya bawel, udah duduk sana bentar lagi masuk" ucap bian


"Cup... thankyou shabatku sayang" ucap monika dan mencium pipi bian. Pipi bian pun merona karena tak disangka wanita yang ia suka mencium pipinya "kenapa merah gitu pipinya, lo sakit" ucap monika


"Merah apaan, udah ah fokus bentar lagi masuk ni" ucap bian. "Apa yang lo lakuin mon, apa lo ga sadar jantung gua mau lepas ini" gumam bian


Bell pulangpun berbunyi, monika dan bian sudah berada di dalam mobil menuju kerumah reza.


"Bi,, gue boleh nanya?"ucap monika


"Apa?"


"Salah ga kalo gue suka ke sahabat gue sendiri?" Ucap monika yang matanya berkaca-kaca. "Lo pasti nganggepnya gue gila karena suka terhadap sahabat gue sendiri. Iya kan. iya bi gue mo ngaku ke lo, gue suka sama reza gatau gimana caranya dan seja kapan itu gue suka ke reza dan yang jelas gue bener-bener suka ke dia, lo pasti nganggepnya gue aneh kan" akuh monika yang menunduk "gue gila suka kesahabat gue sendiri padahal jelas banget sahabat gue itu udah ada orang yang dia sukai dari dulu hingga sekarang tapi gue ga bisa pungkiri gue suka beneran ke dia bi" ucap monika yang mulai mengangis


"Sejak kapan mon?" Tanya bian yang menatap kosong ke arah depan


"Sejak kita ospek dulu, sebelum kita sahabatan, reza ga tau dihari dia nyelamatin gue dari kakak senior yang ga ada akhlak waktu itu telah ngerubah perasaan gue ke dia. Gue salah ya bi?" Ucap monika yang menangis


Bian menghela nafas, antara kecewa atau bagaimana dia baru menyadari bahwa wanita yang dia sukai ternyata sudah lama memendam rasa terhadap reza


"Mon lo ga salah, cuma lo tau ada wanita yang reza tunggu dari dulu sampai sekarang kan" ujar bian


"Iya bi gue tau, makanya gue mutusin ga ngungkapin rasa gue ke reza, karena gue gamau dia jauh dari gue, walaupun sakit banget rasanya saat dengeri dia menyebutkan nama wanita lain di hadapan gue" ucap monika lirih. "Tapi gapapa, dengan liat dia bahagia gue yakin suatu saat gue bisa lepasin dia, tapi kenapa rasanya semakin kesini semakin menyesakkan bi" ucap monika yang semakin menangis.


Bian menepikan mobilnya dan meraih monika ke pelukannya


"Udah jangan nangis, gua gabisa kasih solusi buat lo nerusin rasa lo atau mencoba berhenti sampai disini mon, kalo lo suk ke reza lo harus terima konsekuennya kalo reza gabisa bales perasaan lo, loh tau reza cinta buta ke almira, walaupun almira sekolah di luar negeripun reza setia menunggunya" ujar bian mengerat pelukannya


Monika terisak di dada bidangnya bian, dia menangisi kebodohannya yang mencintai sang sahabat. Bian tetap setia memeluk sang sahabat.


"Apa lo ga ngerasa gua juga sakit liat lo nangisi lelaki lain mon, kenapa hubungan kita bertiga serumit ini" gumam bian


"Udah ah ga usah menangis lagi, kita jadi enggak kerumah reza" ucap bian melepaskan pelukannya dan mengusap air mata monika


"Jadi dong, sorry ya gue kebawa perasaan, ayo kita jalan lagi" ucap monika


Mereka berdua telah sampai dikediamannya reza, monika melihat ada mobil jazz biru yang berparkir tepat di depan mobilnya bian. Bian memencet bell dan bi ira yang membukakan pintu


"Eh den bian dan non monik, pasti mau jengukin den reza ya, silakan masuk den non" ucap bi ira


"Iya bik reza ada dimana?" Tanya bian


"Ada di taman belakang den, langsung aja masuk bik ira kedapur lagi ya, den non" pamit bi ira


"Iya bik" ucap bian dan monika


Bian dan monika pergi ke taman belakang untuk menemui reza, mata monika berkaca-kaca melihat reza yang tengah memeluk wanita lain, dan wanita itu tak lain adalah almira. Ia almira yang sedang menangis memeluk reza. Monika memutar badannya dan keluar dari rumah reza, bian pun menyusulnya reza tak tau akan kehadiran kedua sahabatnya


"Mon, lo mau kemana?" Tanya bian sambil menarik tangan monika


"Gue mo balik" ucap monika yang berlari dan mencekal tangan bian


"Lo tenang dulu gua anterin lo pulang"


Selama diperjalanan pulang monika hanya terdiam, tidak menangis dan bersuara sama sekali. Bian bingun apa yang harus ia lakukan. Mereka sampai dirumah monika. Monika turun dan langsung masuk kerumah tanpa berpamitan pada bian.


"Mon, seharusnya lo tau konsekuen mencintai reza yaitu tersakiti, lo tau reza sangat mencintai almira dan kenapa lo masih juga maksain buat suka terhadap reza" gumam bian


Flasback off