Revina

Revina
Apakah kamu yakin?



Hanin memutuskan bertemu langsung dengan resa, karena ingin memastikan apa perjodohan ini benar baik atau reza hanya terpaksa menerimanya.


Beep beeep hp reza bergetar pertanda pesan masuk


"Bisa kita bertemu?" \~hanin


"Tentu saja. Dimana itu hanin?" \~reza


"dicafe tempat kita bertemu pertama kali aja, sepertinya nyaman bicara seperti itu"\~hanin


"Baiklah aku akan kesana selesai dzuhur ya"\~reza


"Baiklah reza"\~hanin


*****


Reza berangkat menemui hanin, dia penasaran kenapa mendadak hanin ingin menemuinya. Apa hanin ingin membahas tentang perjodohan itu. Reza telah tiba di cafe, ia melihat wanita cantik berwajah teduh diujung sana seperti sedang memikirkan sesuatu


"Heiii melamun aja. Melamunin apa?" Tanya reza membuat hanin terkejut


"Yaampun za, kamu ngagetin saja. Silakan duduk" pinta hanin


"Kamu sii melamun. Ada apa hanin? Kenapa tiba-tiba ngajakin aku ketemu" tanya reza


"Za, kata ayahku kamu menerima perjodohan kita. Apakah benar?" Tanya hanin halus


"Benar nin, apakah kamu menyetujuinya juga?" Tanya reza balik


"Aku tidak punya alasan untuk menolaknya za, tetapi apakah kamu yakin dengan keputusanmu? Aku memiliki masalalu yang hingga sekarang membuat duka dihatiku reza" ucap hanin sendu


"Nin, setiap manusia mempunyai masalalu, sama halnya seperti aku. Tapi masalalu hendaklah jangan merusak masa depan. Dan aku percaya kamu bisa merubah masalaluku yang kelam dengan kebahagiaan. Sama halnya seperti aku bagimu" ucap reza meyakinkan


"Apa kamu yakin reza?" Tanya hanin kembali


"Yakin. Sangat yakin" jawab reza yakin. "Apa kamu ragu tentang keseriusanku?" Tanya reza


"Kita baru mengenal satu sama lain reza, bagaimana bisa menikah?" Tanya hanin lagi


"Bukankah kamu mempunyai prinsip tidak mau pacaran tapi langsung menikah hanin" tutur reza membuat hanin terkejut


"Darimana kamu tau?" Tanya hanin


"Adikku revina. Karena dia juga memintaku menjadikanmu sebagai kakak iparnya" ucap reza tersenyum hangat membuat mata hanin berkaca-kaca


"Heiii, jangan menangis. Aku serius ingin mengkhitbahmu Hanindira Azkiya" ucap reza yakin. Hanin menunduk tak percaya lelaki dihadapannya ini serius ingin melawarnya dan yang membuat ia lebih terkejut lagi adalah revina menyukainya dan menginginkan ia menjadi kakak iparnya. Hanin mengangkat kepalanya dan manatap mata reza


"Kapan kamu dan keluargamu akan bertemu orang tuaku?" Tanya hanin tersenyum. Reza tersenyum ceri


"Besok malam. Ap kamu siap?" Tanya reza


"Aku akan menunggumu dan keluargamu reza" ucap hanin hangat. Senyum cerah di wajah keduanya. Pasalnya tidak ada lagi keraguan di antara keduanya


******


Dikampus revina sangat bahagia mendengar kabar dari sang kakak bahwa besok malam kakaknya akan mengkhitbah wanita yang sangat revina sayang. Sampai dia tak menyadari bahwa sedari tadi dinda menunggunya untuk mengerjainya. Revina masih sibuk dengan hape nya tanpa ia sadari kaki dinda menyikut kaki revina, revina terjatuh hp nya terpental jauh, lututnya terkena trotoar dan berdarah, revina meringis gian melihat itu langsung berlari menuju revina


"Re. Kamu gapapa?" Tanya gian panik


"Awwww" ucap revina meringis "sakit sekali kak"


"Lutut kamu ? Yaampun berdarah" ucap gian yang khawatir melihat darah di kaki revina karena revina kebetulan menggunakan gaun selutut, gian langsung mengangkat revina dan menuju ke UKS tanpa mempedulikan dinda. Dinda sangat kesal. Sesampai di UKS, revina meringis kesakitan. Pasalnya kaki yang terbentur itu adalah tempat cideranya dulu.


"Apa kita kerumah sakit saja?" Tanya gian masih mengobati dan membersihkan darah di kaki revina.


"Enggak kak, jangan. Rumah sakit akan geger kalo vina sampai dibawa kesana. Dan itu akan sangat merepotkan. Tolong ambil obat vina di saku tas bagian kiri kak" ucap revina menahan sakit.


Salsa dan olla mendekati gian dan terkejut melihat sahabatnya terbaring lemah, pucat pasih dan pingsan di atas brankar. Tetapi tidak bisa mendekatinya. Martin meminta para perawat untuk segera membawa revina kerumah sakit.


"Kak, vina kenapa?"tanya olla dan salsa khawatir


"Dia jatoh. Gue mau ke rumah sakit. Kalian berdua mau ikut?" Tanya gian


"Iya kita ikut" ucap salsa dan olla


Sebelum gian berlalu, ketua rektor memanggil gian dan ingin berbicara kepada gian, gian memutuskan menemui ketua rektor terlebih dahulu. Baru kerumah sakit


"Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya gian


"Apa yang terjadi? Jelaskan" titahnya


"Saya hanya bisa berkata, revina seperti ini karena perbuatan putri kesayangan anda pak" ucap gian ketus


"Maksud kamu apa gian?" Tanya ketua rektor sedikit berteriak


"Anda bisa melihat rekaman cctv taman, lihatlah cara putri anda menyikut kaki revina" ucap gian sedikit kesal membuat ketua rektor itu pucat dan berkeringat dingin "saya permisi pak" ucap gian berlalu"


Revina tengah ditangani oleh martin. Dirumah sakit telah berkumpul semua, mama, papa, reza dan hanin. Karena saat gian menghubungi reza dia masih bersama hanin. Reza mondar mandir sedari tadi karena sangat khawatir oleh kesehatan sang adik


"Rezaa.. duduklah. Tenangkan dirimu revina akan baik-baik saja kok" ucap hanin mengusap bahu reza menguatkan, reza menoleh ke arah hanin


"Padahal dia sangat bahagia mendengarkan bahwa kamu setuju untuk menikah denganku, tapi kamu lihat keadaannya sekarang" ucap reza sendu


"Aku yakin revina akan baik-baik aja zak, kamu percaya padaku ya. Kita berdoa saja untuk revina semoga semua baik-baik saja" ucap hanin yang masih mengelus bahu reza "ayo duduklah kasian om ammar dan tante dewi kalo kamu seperti ini"


Reza menuruti hanin untuk duduk. Gian, olla dan salsa telah sampai dirumah sakit dan menghampiri reza dan keluarga


"Selamat sore om tante" sapa gian dan mencium punggung tangan ammar dan dewi. Olla dan salsa juga melakukan hal yang sama


"Selamat siang nak" ucap dewi. Tak bisa dipungkiri wajah panik keluarga ini karena revina


"Gimana revina za?" Tanya gian menghampiri reza yang sedang di tenangkan oleh hanin


"Hai gi lo udah disini, masih di periksa sama martin" ucap reza gusar. Reza mengusap kasar wajahnya dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi atau dia akan menggila


"Reza tenanglah. Biarkan dokter memeriksa vina dulu" ucap hanin menenangkan reza lagi


Dr. Martin telah keluar dari ruangan revina, semua menghampiri martin


"Masuklah ma pa, revina udah sadarkan diri" ucap martin kepada ammar dan dewi. Mereka masuk melihat sang putri, dewi memeluk sang putri dan menciumi setiap inci wajahnya.


"Ikut gue za. Gue mau ngomong sama lo" ajak martin


"Gue boleh ikut?"tanya gian, martin mengangguk. Reza dan gian mengikuti martin keruangannya


"Gimana adik gue, apa itu berhaya untuk dia?" Tanya reza guear


"Revina mengidap PTSD atau bisa disebut Post Traumatik Stres Disorder, yaitu kondisi dimana mental mengalami kecemasan berlebihan akibat pengalaman di masa lalu karena rasa sakitnya yang berlebihan membuat dia bingung setres makanya dia pingsan. Ga ada yang serius kok" jelas martin


"Gimana ngobatin traumanya?" Tanya reza


"Cuma dia sendiri yang bisa mengobati trauma itu za, asal mood ny baik dan dia bahagia gue percaya dia akan sembuh dengan sendirinya" jelas martin lagi.


"Thanks ya. Gue mau revina sembuh tin, lo taukan tersiksanya dia gimana karena kakinya" ucap reza hampir menangis "gue pengen dia ceria seperti dulu tin, gue mohon rekomenin dokter ahli ortopedi yang terbaik didunia ini buat vina tin. Gue mohon sembuhin ade gue, gue ga mau dia kek gini terus" ucap reza menangis


"Zak, lo mungkin lebih tau, Cidera ACL itu adalah momok bagi atlet, penyembuhan untuk cidera ringan saja butuh paling sebentar 3 bulan, kamu lihat sendiri hasil rongen kaki vina dulu kan, dia bukan cedera biasa melainkan cidera parah reza dinata, mau dia dibawa kemana aja hasilnya akan sama NIHIL" ucap martin menusuk membuat reza terdiam. Gian hanya menyimak dan memikirkan setiap kata dari kedua orang itu


"Lo balik keruangan revina, dia butuh lo zak. Inget buat mood adik lo selalu baik, agar PTSDnya ga kembali" ucap martin. Gian dan reza berlalu meninggalkan ruangan martin. Gian masih memikirkan apa yang di bicarakan oleh kedua orang itu. Ada rasa sesak ketika mendengarkan dokter martin membahas keadaan kaki revina.


"Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia vina" gumam gian dalam hati