Revina

Revina
Berdebar



Dunia yang ku impikan telah sirna


Hidupku menjadi tak berarti ketika harapanku hancur seketika


Kau hadir dengan berbagai bentuk kenyamanan


Ku akui senyumku terukir karena candamu


Tetaplah menjadi pelindungku


Menggenggam tanganku


Memeluk erat tubuhku


Melindungiku sebisamu


Menyayangiku setulus hatimu


Salahkah diri ini menjadi serakah?


Iya serakah!!!


Aku menjadi serakah atas dirimu


Dan aku sangat takut engkau meninggalkanku ketika aku sedang nyaman-nyamannya atas kehadiranmu


^***Revina Dinata Arlan***


^^^^^^^


Gian dan revina telah sampai ditebing tempat yang pernah mereka jumpai. Revina sangat gugup entah apa yang akan disampaikan oleh orang yang telah sering menolongnya dan melindunginya ini. Gian membelakangi revina, revina menatap heran punggung gian dan revina mulai memberanikan diri bicara duluan memecahkan suasana


"Kak. Ada apa? Apa yang ingin kakak bicarakan?" Tanya revina gugup


Gian memutar badannya menghadap revina


"Apa kamu mendengarkan semuanya, apa yang telah aku bicarakan dengan dinda tadi ?" Tanya gian


"Tidak semuanya sepertinya" jawab revina mencoba menghilangkan rasa gugupnya


"Aku serius revina" ucap gian


"Vina juga serius kak gian" ucap revina tersenyum


"Sejak berapa lama kamu berdiri di belakang pohon itu?"


"Sejak dinda nangis teriak dan bilang kalo dia cinta kakak"


"Berarti kamu mendengar pernyataan sukaku?"


Deg...


Jantung revina berdegub kencang ia menunduk tak berani menatap mata gian lalu mengangguk


"Lihat aku vin?" Sambil mengangkat dagu revina agar melihatnya berbicara. Gian menggenggam kedua tangan revina pipi revina merah merona jantungnya berdegub sangat kencang entah apa yang dia rasakan. Revina memberanikan diri menatap mata gian walaupun sebenarnya ia sangat gugup


"Dengar, aku tak tau darimana kamu mendengarkan pembicaraanku dengan dinda tadi, tapi semua yang aku katakan itu adalah kebenarannya revina, aku menyukaimu sejak pertama melihatmu, kamu adalah satu-satunya wanita yang melihatku seperti orang biasa, kamu mengajariku rasa takut yang luar biasa karena mengkhawatirkanmu, kamu memberikanku rasa sakit ketika melihatmu menangis dan bahagia ketika melihatmu tertawa" ucap gian tulus "mungkin kamu beranggapan ini sangat cepat dan konyol, tapi aku telah berusaha menghindar agar tidak menyukaimu, dan entah mengapa aku ingin mengenalimu lebih dan lebih lagi revina" timpah gian serius


Mata revina mulai berkaca-kaca dia bingung mau menjawab apa


"Aku tak akan memaksamu untuk menyukaiku, cukup kamu mengetahui isi hatiku saja itu sudah lebih dari cukup, mungkin juga kamu butuh waktu untuk mengenaliku, tapi setidaknya jangan menjauh dariku" ucap gian lagi


Revina tersenyum "aku bersyukur, karena masih ada yang suka sama vina. Kak gian, beri vina waktu lebih tepatnya beri kita waktu, kakak belum begitu mengenal vina, begitu juga revina yang belum begitu mengenal kakak, beri ruang buat kita saling mengenal lebih dekat dulu, vina janji kapanpun kakak menanyakan perasaan vina nanti terhadap kakak, vina akan menjawabnya dengan jujur" ucap revina tersenyum manis


Gian tersenyum mendengar jawaban dari revina, ia tak menyangka revina memberikannya waktu untuk mengenal satu sama lain.


"Boleh aku memelukmu?" Tanya gian. Revina mengangguk. Gian memeluk revina sangat erat "aku berjanji tak akan aku biarkan seseorang menyakitimu vin, aku menyayangimu" ungkap gian. Revina membalas pelukannya dan tersenyum di dalam pelukan gian . Mereka berpelukan sangat lama, sampai pada akhirnya mereka sadar mereka harus menyiapkan kepulangan mereka ke kota


"Ayo turun, aku gendong saja ya kakimu pasti lelah" revina mengangguk. Revina naik ke punggung gian, entah mengapa dia sangat nyaman berada di punggung gian.


"Kakak suka banget ya gendong aku?" Tanya revina


"Iya, badan kamu ga berat, dan lagian dengan begini aku merasa kamu sangat dekat denganku" wajah revina memerah mendengar perkataan gian


"Kakak bisa saja ih. Oh ya kak pas dibawa tebing turunin vina ya, vina gamau kakak jadi bahan pembicaraan orang lain nanti"


"Hhha iya bawel"


"Kakak ihhhh" revina mencubit lengan gian berkali-kali


"Awww aww sakit sakit vina ampun" gian meringis


"Syukurin makanya jangan ngatain aku bawel"


"Iya ampun tuan putri ga lagi. Oh iya nanti pulang dama siapa ? Dijemput reza atau bus sama sama dengan yang lain?" Tanya gian


"Kemungkinan kak dhio yang jemput, kenapa kak?"


"Dhio? Siapa itu?"


" temennya kak reza kak"


"Eh reza tau ?"


"Seandainya dia ga sampai sebelum kita berangkat kamu naik bus atau sama aku saja ya?" ucap gian cengengesan


"Mau nya ih, udah kak turunin vina udah deket kan itu"


"Kamu yakin ?"


"Yakin kakak gian"


"Dasar kamu, yaudah ayooo jalan lagi, hati-hati, kecerobohan kamu itu kurangin dikit napa kasian badan" ucap gian mengusap rambut revina


"Kakak kusut loh rambut vina ih"


"Tetap cantik kok" puji gian


"Puji terus sampe vina melayang"


"Bukan memuji tapi kenyataan revina" ucap gian menatap intens membuat revina sedikit bedegub. Gian memberanikan mengenggam tangan revina, menarik revina mendekat, gian membenarkan anak rambut anak rambut yang sedikit berantakan menutupi wajah revina.


Jantung revina semakin cepat, karena belum ada sosok laki manapun berdiri sedekat ini dihadapannya, pipi revina merona gian menyentuh pipi yang merah padam itu sambil tersenyum menenangkan dihadapan revina. Tatapan mereka semakin dalam, gian memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah revina menempel bibirnya ke pipi revina, revina terkejut karena gian menciumnya tanpa aba-aba walau hanya menempelkan bibirnya ke pipi, revina menunduk, gian mengangkat dagu revina "bolehkah aku menciummu?" Tanya gian terhadap revina, revina mengangguk kecil. Gian langsung menabrakkan bibirnya ke bibir revina menciumnya dengan sangat lembut, dada revina bergetar, karena hal ini merupakan ciuman pertama baginya. Gian semakin memperdalam ciumannya sampai leguhan terlolos dari bibir revina yang membuat gian sedikit tersenyum. Gian melepaskan pugutannya dan menarik revina ke pelukannya


"Terimakasih revina" memeluk erat revina


"Yaampun ciuman pertama gue, kak gian begitu lembut melakukannya, astaga pipiku udah pasti kayak kepiting rebus sekarang" gumam revina dalam hati


"Ayoo balik ke sana, hari ini kamu pulang sama aku saja, aku bawa mobil, ntar abi dan naufal biar di bus, hpmu low dan ga bisa hubungin dhio kan"


"Iya kak suka-suka kakak deh"


Mereka telah kembali ke camp, ada perbedaan dihubungan mereka berdua, gian lebih dekat dengan revina, revina sangat nyaman berada di dekat gian. Apel sore telah di mulai, semua mahasiswa berbondong-bondong ke bus.


"Bi, fal lo berdua naik bus ya, gue ada kerjaan sedikit" pinta gian


"Lo yakin mau sendiri?" Tanya naufal


"Enggak sendiri sii"


"Terus sama siapa?" Tanya abi


"Sama revina, ga tega gue kalo lihat dia di bus, entar ga ada yang jagain, mana kakaknya udah nitipin dia ke gue kan " ucap gian jujur


"Waaah ada kemajuan ni hubungan lo sama dia, pepet terosss sampe diambil orang gi. Lo berhak bahagia" ujar naufal


"Apaan si lo melo gitu. Lo handle anak-anak dan juga liatin tu si dinda"


"Lah kenapa dinda?" Tanya keduanya


"Dia yang punya rencana buat vina tersesat kemarin, udah ntar kalo udah sampe rumah gue ceritain semuanya, sekarang lo balik ntar gue sama vina nyusul" jawab gian


"Oke bro, jagain itu cewek cantik" ujar gian


"Iye. Gue ke vina dulu ye. Hati-hati semuanya" ucap gian langsung beranjak mendekati revina


"Ayooo vin"ajak gian revina mengangguk


Bus mahasiswa telah melaju, gianpun melajukan mobilnya


"Kak handphoe kakak mana ?" Tanya revina "lowbet nggak" timpahnya gian menggeleng


"Boleh vina pake buat nelpon vina takut kak dhio atau kak reza udah otw"


"Yaudah pake aja, emang hafal nomornya?"


"Nomor kak reza si hafal"


"Yaudah telpon aja" revina mengangguk


Revina mengetik nomor reza tetapi nomor sang kakak sudah tertulis dhandphoneny


"Ih kak gian ngerjain, ini no kak reza ada" sambil merengut


"Haha aku lupa vina kalo menyimpan nomor reza"


Telepon tersambung


"Halo asalamualaikum kak"


"Waalaukumsalam revina, hp kamu belum nyala juga? Jam berapa pulang? Kakak jemput atau gimana?" Tanya reza


"Yaallah langsung tau ini adiknya haha satu-satu si kak nanyanya. Vina udah di jalan pulang kakakku sayang, sama kak gian"


"Iyalah rere itu adik kesayangan kakak mana mungkin ga tau suaramu. Yaudah hati-hati ya re


"Udah lama ga dengerin kakak panggil aku rere haha oya kak bilang sama kak dhio aku udah di jalan, hp low jadi ga bisa hubungin dia, nanti kalo vina udah dirumah vina hubungin dia "


"Iya nanti kakak telpon si dhio. Kalian berdua hati-hati ya. Kakak matiin telponnya. Assalamualaikum"


"Iya kak waalaikumsalam" ucap revina "ini kak. Terimakasih" ucap revina mengembalikan hp gian


"Sama-sama vina"