Revina

Revina
Menemukanmu



Gian masih menelusuri hutan. Revina menangis sejadi-jadinya, ia sangat takut apalagi dia teringat akan kejadian dia yang hampir di lecehkan beberapa bulan lalu yang menyebabkan ia kehilangan harapannya akan cita-citanya.


"Tolong" ucap revina lirih " kak reza tolong vina" revina masih menangis sejadi-jadinya ia sangat takut ada orang jahat yang mengganggunya lagi


"Revina" teriak gian. Revina mendengar namanya disebut


"Yatuhan siapa itu, semoga gue kenal" ucapnya lirih


"Yatuhan kemana lagi aku harus mencari revina" ucap gian hampir putus asa. "Enggak gue ga boleh nyerah gue harus menemui revina"


"Revinaaa dimana kamu" teriak gian lagi


Revina takut menyautinya orang yang memanggilnya ia sangat takut dan memeluk kakinya sambil menangis sejadi-jadinya, gian mendengar tangisan itu dan langsung berlari ke arah suara tersebut. Revina menundukkan kepalanya mengenai lututnya, dia masih menangis kecelakaan waktu itu meninggalkan trauma yang mendalam bagi revina. Gian berhasil menemui revina dan berlari kearah revina. Revina mendengar langkah kaki seseorang mendekatinya revina berdiri takut, gian langsung menarik revina kepelukannya


"Syukurlah aku menemukanmu vin" gian memeluk revina erat


Revina bernafas lega, yang menemukannya adalah orang yang dia kenal, revina membalas pelukan gian dan menangis sejadi-jadinya.


"Kak gian, vina takut disini" tangis revina semakin pecah dan memeluk gian sangat erat


"Tenanglah, aku disini" ucap gian menenangkan


Mereka berpelukan cukup lama, revina enggan melepas pelukannya terhadap gian, dia sangat ketakutan, dia tetap menangis di pelukan gian


"Hangat sekali pelukanny" gumam revina dalam hati


Gian tetap memeluk revina, Naufal dan aby berhasil menemukan mereka berdua yang sedang berpelukan. Naufal berdehem membuat gian mengendorkan pelukannya.


"Kamu gapapa kan, ga terluka kan, yaallah vina syukurlah. udah jangan nangis lagi kita ada disini" ucap gian menghapus airmata revina


"Vina gapapa kok kak, bisakah kita duduk sebentar kaki vina sakit sekali" pintanya lirih


Gian melihat kaki revina yang berdarah


"Astaga kaki kamu berdarah banyak sekali" ucap gian khawatir


"Tadi vina jatuh kak"


"Yaampun vin kaki kamu bisa seperti ini. Fal mana air gue tadi sinikan"


"Oh... ini gi" memberikan airnya kepada gian "eh vin, lo minum dulu deh, ini air yang gue bawa" timpah naufal


"Terimakasih kak" ucap vina


"Oke sama-sama"


"Tahan ya aku bersihkan dulu" ucap gian. Revina mengangguk, gian membersihkan luka dikaki revina, dia meringis kesakitan. Gian mengikat lukanya dengan sapu tangan yang gian bawa. "Kamu bisa jalan nggak?" Tanya gian


Revina menunduk, alasannya duduk disana dari tadi karena kakinya tak memiliki kekuatan lagi untuk berjalan. Revina menggeleng.


"Yaudah naik ke punggung aku saja" ucap gian


"Tapi kak..."


"Gapapa naik aja vin, kaki lo berdarah dan dari tadi gue lihat kaki lo bergetar terus" sanggah naufal


"Naiklah revina" ulang gian. Revina mengangguk. Dia mengalungkan tangannya di leher gian.


"Kamu kenapa bisa tersesat disini?" Tanya gian pelan


"Aku gatau kak, perasaan aku sudah ikuti arah panahnya tetapi aku tidak menemukan panah yang lainnya malah membawa aku lebih jauh memasuki hutan" jawab revina


"Tu kan gi, dari awal gue dah bilang pasti ada yang ga beres ini" ucap abi


"Iya gi, kalo abi ga liat arah panah yang berbeda mungkin kita ga bakal bisa nemuin vina sampai besok pagi" ucap naufal membuat revina bingung


"Masalah anak panah ntar kita cari tau siapa orang yang dengan sengaja mengubah arahnya, yang penting sekarang adalah revina sudah ditemukan" ucap gian yang terus menggendong revina.


"Kak revina pasti berat turunkan saja revina kak. Biar vina jalan sendiri" ucap revina


"Kamu sama sekali ga berat kok, diam dan tidurlah kamu pasti sangat lelah" ucap gian


"Terimakasih banyak kak, revina takut sekali"


"Kenapa jam dari reza nggak kamu pakai" tanya gian


"Sebenarnya mau vina pakai, tapi kak dinda bilang ga boleh pakai aksesoris, jadi vina tinggal di tenda jam nya. Eh kok kakak tau vina ada jam dari kak reza?"


"Reza memberikan jam yang tersambung denganmu vin, tadi aku mengeceknya malah mengarahkan ke tendamu"


"Eh beneran tersambung ya, yaampun kak reza bener-beber ih"


"Itu bentuk kasih sayangnya vin, lain kali jam nya di pakai terus walaupun seseorang meminta lepas seenggaknya masukkan ke tasmu"


"Iya kak"


"Sudah istirahatlah" titah gian. "Kenapa dinda memberitahu tidak boleh memakai aksesoris ke revina ya?" Gumam gian dalam hati


Revina menempelkan kepalanya di leher gian, ia sangat lelah revina mulai terlelap gian merasakan hembusan nafas revina yang beraturan dan memeluk gian erat, ia sangat ketakutan.


"Mudah sekali kamu tertidur revina, kamu pasti sangat takut ya selama di hutan. aku sangat khawatir padamu vin" ucap gian lirih


Mereka semua yang mencari revina telah sampai di lokasi perkemahan. Olla berlari mendekati revina yang terlelap di di punggung gian, gian membangunkan revina


"Vin, heii kita udah sampai ayo bangun" panggil gian


"Eh aku ketiduran ya kak" ucap revina. "Kak turunkan aku" gian mengangguk menurunkannya. Olla langsung memeluk temannya dan tangisnyapun pecah


"Lo kemana aja si vin" tanya olla "yaampun kaki lo kenapa si vin"


"Sorry-sory gue buat kalian khawatir ya, gapapa kok tadi jatoh aja" ucap revina tersenyum


"Hmmm....Gimana ceritanya dia bisa ketemu" dinda menggeram


"Udah kalian balik ke tenda masing-masing, revina akan istirahat sekarang" ucap gian sambil mengangkat revina dengan gaya bridal style yang membuat semua wanita menjerit iri dan membuat revina terkejut karena gian langsgung mengangkatnya


"Kakak" ucap revina


"Udah ayo, kaki kamu masih bergetar, aku antar sekalian ke tendamu" revina tersipu malu dan hanya mengangguk


"Dasar cewek gatel!!! bianca, caca ayoo kita balik ke tenda" ujar dinda


"Kamu istirahat, jangan lupa minum obat pereda nyerinya, agar kaki kamu ga seperti ini lagi" ucap gian berjongkok menghadap revina


"Iya kak terimakasih, hari ini kakak dua kali menggendong vina" ucap revina tersenyum


"Its okey, lagian kamu ga berat kok, yaudah kamu dan olla istirahat ya. Selamat malam" mengusap kepala revina


"Selamat malam" ucap olla dan revina


olla yang melihat perhatian gian terhadap revina tersenyum bahagia


"Lak ayo masuk"


"Eh iya hehe"


"Kamu ngelamunin apa si neng"


"Gak ada hehe"


Revina telah meminum obatnya, batre hape nya low dan dia tidak bisa menghubungi kakaknya.


"Kenapa vin, gelisa banget"


"Enggak batre aku low, jadi gabisa hubungi kakakku"


"Pakai hp ku aja ni"


"Emang boleh"


"Iya silakan"


"Terimakasih olla" senyum revina


Revina menghubungi kakaknya via whatsapp


"Hallo assalamualaikum kak reza"


"Waalaikumsalam. Yaallah revina kamu kemana saja kenapa hp mu enggak aktif, hp gian juga ga aktif"


"Eh... kakak dan kak gian udah tukeran nomor"


"Iyalah. Kamu kemana aja si vin"


"Udah ketebak ni pasti khawatir banget, hp vina low kak"


"Buka kameranya, vcall aja kakak mau lihat apa kamu baik-baik saja"


"Iya bawel. Ni udah ni, adik kakak yang cantik ini baik-baik saja kan"


"Alhamdulillah" ucap reza menarik nafas lega


"Oya kak kenalain ini olla temen vina, ini pakai nomorny olla"


"Haii olla" sapa reza "hai kak"balas olla


"Udah ya kak vina udah ngantuk ini. Assalamualaikum" pamit revina


"Waalaikumsalam. Selamat terlelap ya kalian"


Vina mengembalikan hp ke olla, dan berbaring di samping olla


"Vin, itu kakak kandung lo"


"Hemm"


"Yang sering anter lo dan kemarin cium kening lo, itu dia kan"


"He.em"


"Berarti yang selama ini itu adalah gosip dong" ucap olla. Revina mengernyitkan alisnya


"Maksud lo ?


"Kampus geger dengan berita bahwa primadona kampus sudah memiliki pacar, sangat tampan mana tajir lagi"


"Primadona kampus?"


"Iye elo tu disebut primadona kampus vina, emang lo ga sadar ya"


"Ngawur lo ye"


"Yaudah kalo ga percaya. Gila kakak lo ganteng banget vin, kenalin dong"


"Idih ini anak"


"Lo lagian pake mesra-mesraan sama kakak sendiri buat semua orang salah paham kan"


"Gue emang kaya gitu sama kakak gue, mau gimana lagi"


"Gue juga punya kakak tapi ga mesra kayak gitu"


"Udah ah kenapa bahas kakak gue"


"Vin, tadi lo kemana, gue jadi merasa bersalah banget karena ninggalin lo sendirian dan lo jadi tersesatkan" ucap olla dengan mata berkaca-kaca


"Gue tadi udah bener kok ikutin petunjuknya tapi malah nyasar ke hutan. Udah ah jangan merasa bersalah gitu, lagian gue udah balik kesinikan. Untung ada kak gian, kalo ga ada dia udah ga tau deh gue harus gimana"


"Eh ngomong-ngomong kak gian, kayaknya dia suka deh sama lo"


"Ngaco lo ye, makin malam makin ngelantur"


"Gue serius, lo tau ga kita semua disini kena semprot karna lo ilang, dan tadi tatapannya itu bener-bener tatapan kasih sayang ke lo vin"


"Au ah udah tidur sana, gue lelah lak, selamat malam"


"Dihh Ga percayaan amat si. Yaudah deh selamat terlelap revina"


Olla telah terlelap namun Revina tak juga bisa terlelap memikirkan omongan olla tentang gian


"Masa iya kak gian suka ke gue, diakan cakep, baik populer lagi. Aduh kok mikirin kak gian si. Ini mata kenapa juga ga mau tertidur" ucap revina lirih