Revina

Revina
Perasaan Gian



Reza dan gian berjalan beriringan menuju keruangan revina. Iya revina tinggal di ruangan VVIP khusus pemilik rumah sakit. Martin sangat menyayangi keponakannya itu, sehingga segala bentuk kenyamanan akan ia berikan ke revina. Gian melihat reza yang sedikit kacau karena kejadian ini.


"Zak lo gapapa?" Tanya gian menatap reza yang sedang berjalan seperti orang bingung.


"Gue gapapa gi. Gue hanya khawatir sama ade gue" ucap reza sendu. "Ceritain ke gue, kenapa revina bisa jatuh?" Tanya reza


"Lo tanya revina aja. Mungkin sekarang dia lagi nyariin lo" jawab reza


"Iya juga. Ayo kita balik ke ruangan vina" ucap reza


Revina telah sadar dari pingsannya. Dia dari tadi meminta kepada sang ayah agar pulang saja, karena tak ingin melihat kakaknya menunda untuk mengkhitba hanin.


"Kakak kemana saja si kak?" Tanya revina reza hanya tersenyum mendekati sang adik dan calon istrinya yang tengah menggenggam tangan adik tersayangnya, reza mencium puncak kepala revina


"Kakak habis ketemu martin re" ucap reza mengusap kepala sang adik


"Kak vina ga mau nginep disini, vina udah ga apa-apa, vina tadi cuma kaget saja. Vina mau pulang, vina tidak mau membuat kakak menunda untuk mengkhitba kak hanin karena vina ada disini" ucap revina membuat semuanya terkejut. Karena memang belum ada yang mengetahui niat baik reza dan hanin


"Kamu serius ingin mengkhitba hanin sayang?" Tanya mama revina membuat hanin tertunduk malu


"Eh iya ma, reza si niatnya pas pulang kerumah nanti mau bilang ke mama dan papa niat reza ini dan alhamdulillah hanin menyetujuinya. Namun sayang ada kejadian ini. Sepertinya harus kami tunda dulu sampai revina bener-bener sembuh" ucap reza mulai mengerjai sang adik


"Enggak jangan ahh kakak. Vina gapapa jalan udag bisa, tadi itu cuma kaget saja. Kak gian juga vina kan dah bilang jangan di bawa kerumah sakit" ucap revina sedih membuat gian terkejut dan reza tersenyum


"Eh kok nyalahin gian. Justru kamu harus terimakasih sayang. Kamu tau bukan gian yg nyuruh kamu dibawa kerumah sakit gian tu hanya nelpon kakak, dah itu kakak nelpon martin. Tau sendirikan kakak kamu martin itu kalau sudah urusan kamu dia bertindak ga pakai otak. Langsung aja bergerak" ucap reza ngeledek martin


"Bagus ya orangnya ga ada berani dikata-katain" ucap martin datang tiba-tiba membuat semua tertawa "bagaimana keadaan kamu sayang" tanya martin ke revina


"Kak. Revina udah gapapa. Izinin revina Pulang ya kak. Vina mohon" ucap revina memohon


"Rere sayang, sebaiknya nginep saja ya" ucap martin


"Kak martin ih, revina mohon kali ini aja kalo vina tetap disini kak reza bakalan nundain waktunya untuk mengkhitba kak hanin kak. Kakak mau kak reza menikah bukan?" Ucap revina merengek membuat martin tak percaya bahwa keponakan beserta sahabatnya yang menutup hatinya ini akan mengkhitba seorang wanita


"Eh kamu serius, mana calon adik iparku?" Tanya martin "eh ini ya wahhh gercep juga ni reza" ucap martin nyablak


"Apaan sii lo, udah ah jangan ganggu calon istri gue, lo ga liat mukanya udah merah kayak gitu" bela reza membuat semua oranf diruangan itu tertawa


"Hahaha iya deh iya. Gue mana bisa nolak permintaan adik kesayangan gue ini. Om tan, revina emang baik-baik aja, cuma dia emang ga boleh kecapean. Lagian martin juga mau coba buat revina ga tergantung lagi sama obat penyeri rasa sakitnya, cuma untuk saat ini kayaknya belum deh, apalagi tadi kan kebentur lagi. Dan buat kamu sayang, kalo sampe jatoh lagi kakak buat kamu di rawat dirawat di rumah sakit ini selama seminggu" ancam martin ke revina


"Diih ancemannya ngeri kali ih. Iyaiya bawel banget aku punya kakak" ucap revina mangut-mangut


"Denger sayang, kamu itu kesayangan kakak, kakak ga akan suka kalau lihat kamu terluka seperti ini. Jadi jaga diri. Paham?" Ucap martin mengelus kepala sang adik. Revinapun mengangguk


Revina diizinkan keluar dari rumah sakit, gian ikut mengantar revina kerumahnya bersama olla dan salsa. Sedangkan reza mengantar hanin kerumahnya sekalian meminta izin kepada orang tua hanin akan niatnya yang ingin mengkhitba hanin.


Revina telah sampai dirumahnya karena kekhawatiran martin dia tidak membiarkan keponakan kesayangannya berjalan dulu jadi martin memberikan kursi roda untuk revina gunakan sementara ini. Betapa takjub olla dan salaa melihat rumah mewah revina, dan mereka baru sadar bahwa teman mereka ini bukanlah dari kelurga biasa saja


"Sayang mama siapkan untuk kalian makan malam ya" ucap dewi kepada revina "tante tinggal dulu ya, kalian makan malam disini aja tante siapkan dulu" ucap dewi revina mengangguk


"Vin, gimana bisa kamu terluka seperti ini?" Tanya olla


"Ha. Gapapa kok kepeleset aja tadi" ucap revina tersenyum


"Tapi udah gapapa kan kaki kamu?" Tanya salsa


"Sebenernya kaki aku mah gapapa, ya itu kak martin itu posesif banget kalo udah menyangkut kesehatanku" ucap revina tersenyum. Revina melihat gian yang nampak gelisah "kak gian kenapa diam saja?" Tanya revina


"Ha... eh gapapa vin. Lak, sal bisa ga gue bicara sama revina berdua" ucap gian membuat keduanya tersenyum


"Gapapa dong, kita mau bantu mama vina nyiapin makanan saja buat makan malam" ucap salsa berlalu kedapur revina


**


Gian membawa revina ke taman belakang rumah revina.


"Ada apa kak gian? Apa yang ingin kakak bicarakan?" Tanya revina


"Kenapa kamu tidak cerita semuanya vin? Kamu luka seperti ini karena dinda bukan kepeleset" ujar gian


"Jadi kakak diem mikirin ini ya kak" ucap revina tersenyum. "Kak kalo revina cerita, maka dinda dan keluarganya akan hancur kak, vina gamau ada rossa yang lainnya, kakak gatau akan jadi apa kemarahan kak reza kalo tau vina terluka karena orang lain. urusan dinda biar vina yang urus dengan cara vina kak" ucap revina yakin gianpun berjongkok menghadap revina yang tengah duduk dikurai roda


"Hatiku benar-benar tidak salah pilih ternyata, kamu yang terbaik revina" ucap gian mengusap kepala revina lembut, membuat pipinya terasa panas dan merona. "Ini pipi kenapa merah seperti ini" goda gian mengusap pipi revina lembut


"Kak gian apa ihh. Mana ada pipiku merah" elak revina


"Kamu lucu sekali vina" ucap gian gemes


"Eh besok ikut kan ke rumah kak hanin?" Tanya revina


"Kakak diajak?" Tanya gian balik


"Iyalah. Ikutkan?" Tanyanya lagi


"Iya tapi kamu harus semobil sama kakak" ucap gian spontan


"Emang berani minta izin ke papa dan kak reza?" Tanya revina tersenyum


"Kenapa enggak. Entar malem sekalian kakak minta izin" ucap gian yakin membuat revina tersipu malu. "Vin, kakak akan buktiin bahwa perasaan kakak ke kamu tidaklah main-main. Disaat kamu siap memberi kakak jawaban kakak dengan senang hati menerima apapun jawabanmu nanti" ujar gian mengenggam tangan revina.


"Kak, revina baru akan memikirkan hubungan dengan seseorang kalo kak reza sudah menikah. Dan semua keputusan vina serahkan ke kakak mau tetap menunggu vina atau membuka hati untuk orang lain, karena revina ingin kak reza bahagia dulu sama kak hanin" ucap revina


"Kakak ga akan mundur vin, kakak akan selalu disampingmu, menemanimu dan mencoba mengobati lukamu" ucap gian menatap revina dengan yakin.


"Terimakasih kak, karena udah sayang sama revina" ucap revina dengan nata berkaca-kaca