Revina

Revina
Hari Bahagia



.


.


.


.


"Apaan si kak" ucap revina pelan sambil malu-malu


"Bisik-bisikan saja, ayo lanjutkan makan. Nanti gak habis makanannya kalo kalian bisikan saja" goda reza


"Kakak. Siapa yang bisik-bisik" elak revina


"Reza sudah jangan goda adikmu terus, biarkan adikmu makan dulu" ucap dewi menegur reza yang menggoda adiknya terus. Revina merasa menang karena dibela sang mamam dan menjulurkan lidahnya ke reza


Jamuan makan malam telah selesai, sekarang kedua keluarga itu sedang asik mengobrol di ruang tamu


"Sayang.. ajak gian berkeliling rumah" pinta ammar


"Iya pa. Ayo kak vina kita ke taman saja" ajak revina gianpun mengekori revina yang berjalan duluan


....


"Urusan putrinya reno bagaimana mar?" Tanya erlan


"Besok aku akan ke kampus revina menemui reno" ucap ammar


"Segera selesaikan. Atau nanti terjadi apa-apa dengan calon menantuku" ucap erlan tersenyum. "Jika kamu tidak bisa menyelesaikannya biarkan aku yang menyelesaikannya" ucap erlan serius


"Tidak lan, biarkan aku yang mengurusnya, revina adalah putri kesayanganku mana bisa aku melihatnya terluka lagi" Ucap ammar meyakinkan


"Baiklah selesaikan dengan benar. Aku tak ingin calon menantuku terluka lagi mar" erlan serius dengan perkataannya ammar tau bahwa erlan sangatlah berkomitmen dengan perkataan.


Di taman revina berjalan dengan terburu-buru meninggalkan gian


"Kenapa jalan terlalu cepat, nanti kakinya sakit vin" ucap gian mengekori revina yang berjalan sangat cepat "kamu marah sama kakak" revina tetap tidak mendengarkan gian, gian akhirnya menarik tangan revina "tunggu dulu. Kamu marah sama kakak?" Tanya gian lagi


"Kakak kenapa ga hubungin vina kalau mau kerumah, dan kenapa ga ada kabar seharian ini" revina sangat kesal dengan gian. Gian tersenyum mendengar pertanyaan revina


"Ayo kita duduk dulu disana" ucap gian menggenggam tangan revina membawanya ke kursi yang ada di taman.


Gian menatap revina yang sedang kesal dengnnya


"Jangan melihatku seperti itu" tegas revina


"Kenapa? Aku punya mata memang hanya terfokus untuk dirimu revina" ucap gian menggenggam tangan revina mesra


"Apaan si kak. Ga lucu tau" kesal revina


"Yang mau ngelawak disini siapaa. Kamu marah-marah aja ih dengerin kakak makany" ucap gian meyakinkan


"Apa kak apa?" Tanya revina


"Hari ini kakak bantuin pekerjaan dikantor papa, terus hp kakak low, kakak sudah menelponmu pakai nomor sekretaris papa, cuma ga kamu angkat sayang" jelas gian "Dan masalah kakak sampai disini, pulang dari kantor papa mama udah minta kakak siap-siap buat menemui klien penting katanya dan kakak terkejut klien yang dimaksud papa adalah papa kamu" jelas gian lagi namun revina masih tetap diam menatap kolam renangnya


"Kenapa masih diam, apa masih kesal sama kakak?" Tanya gian


"Terus kenapa masih diam?"


"Tidak ada apa apa kakak" tegas revina


Gian duduk menghadap ke revina "Oya kamu dandan secantik ini ?" Tanya gian


"Perasaan vina tidak dandan, cuma menggunakan dress selutut aja. Emang aneh ya?" Tanya revina


"Ya tumben aja, biasanya tidak seperti ini"posesif gian


"Idih si kakak haha udah ah perasaan vina setiap hari seperti ini" ucap revina menatap gian, tatapan mereka beradu, revina merasa dadanya berdegub sangat cepat ditatap begitu intens oleh gian


"Kenapa menatapku seperti itu kak" ucap revina malu


"Kamu cantik aku suka" ucap gian menggenggam tangan revina


"Berhentik menatapku seperti itu dan berhentilah menggodaku kak" ucap revina mengalihkan pandangannya


Gian memegang dagu revina agar mengarah kepadanya


"Apakah hatimu berdegub kencang seperti yang aku rasakan saat ini revina?" Tanya gian yang terus menggenggam tangan revina.


"Aku tau pertemuan kita mungkin sangat singkat, tapi itu tak bisa kakak pungkiri hatiku, perasaanku berdegub kencang ketika dekat denganmu. Revina aku ingin menagih janji jawabanmu terhadap perasaanku. Revina Dinata Arlan maukah kamu memulai hubungan denganku?" Ucap gian tulus. Revina menatap mata gian dan meneteskan air mata


"Heii kenapa menangis" ucap gian mengusap air mata revina "jangan dijawab kalau belum bisa menjawabnya" ucap gian, revina langsung menggeleng


"Kak, vina adalah wanita yang posesif, pecemburu dan manja. Apa kakak siap menerima sifat vina itu?" Tanya revina membuat gian tersenyum


"Dengan senang hati vin. Bagaimana apa kamu mau menjadi kekasihku ?" Tanya gian lagi "menjalin hubungan serius denganku, aku mencintaimu revina" ucap gian menbuat revina meneteskan air matanya dan mengangguk


"Kamu serius revina?" Tanya gian meyakinkan lagi


"Vina mau jadi kekasih kakak" jawab revina yakin


Gian langsung menarik revina kedalam pelukannya "terimakasih sayang terimakasih" gian sangat bahagia revina membalas pelukan gian


"Kakak lepaskan revina tidak bisa bernafas" ucap revina


"Maafkan aku vin maaf" gian melepaskan pelukannya revina tersenyum


"Its okey kak"


Gian menggenggam tangan revina dan menciumi punggung tangannya membuat jantung revina semakin berdegub sangat kencang.


"Hentikan kak, jantungku rasa ingin meledak ini" gumam revina


Mata revina dan gian saling bertatapan. Gian menatap revina secara intens


"Jangan menatapku seperti itu kak" ucap revina mengalihkan pandangannya


"Hee aku hanya sedang bahagia, wanita disampingku ini bersedia menjadi kekasihku" ucap gian sambil mencium tangan revina berkali-kali membuat revina semakin tak karuan rasa didada


"Kakak berhenti .menggodaku, ayo kita masuk udah malem ini, nanti mereka mencari kita lagi" ajak revina


"Baiklah ayo kita masuk" ucap gian "Terimakasih sayang kamu membuat hari ini menjadi hari bahagiaku" revina tersenyum mendengarnya