
Revina telah berada di ruang operasi, dr martin segera mengoperasi karena melihat keadaan kaki revina tidak memungkinkan untuk menjnggu sampai besok pagi. Waktu sudah menunjukan jam 21.10 sudah 2 jam lebih tetapi dr martin tak kunjung juga keluar dari ruangan tersebut. Semua orang menunggu dengan khawatir, ammar dan dewi yang tak kunjung berhenti mendoakan keselamatan sang putri dhio dan reza yang sama khawatirnya menunggu kejelasan hasil operasi tersebut.
"Pa.. kenapa lama sekali?" Ucap dewi pada ammar yang terus menangis dan memeluk sang suami
"Sabar ma sabar kita harus terus berdoa agar Allah memberi kekuatan untuk vina yang sedang berjuang di dalam" ujar ammar
Bian kembali ke rumah sakit, bian melihat sekeliling yang penuh dengan kekhawatiran. Kedatangan bian membuat ammar dan dewi terkejut, iya mereka tau bahwa dulu bian dan reza sangatlah dekat.
"Assalamualaikum om... tante" mencium punggung tangan ammar dan dewi
"Waalaikusalam nak bian, kamu desini?" Tanya dewi
"Iya tante, bian mau menyampaikan bahwa yang membuat revina seperti ini sudah di amankan semua termasuk rossa" ucap bian
"Rossa terlibat?" Tanya ammar
"Iya om, rossa mengira vina adalah kekasih reza, dan rossa membayar aldo dan kevin buat nyelakain revina" jawab bian
"Keterlaluan!!!!! Apa yang di pikirkan oleh putri sulung nugroho itu!!!! Aku ga bisa biarkan mereka hidup tenang!!!" Ancam ammar, reza bangkit dan mendekat kearah ammar
"Pa... sudah tenangkan dulu pikiran papa, sekarang yang terpenting adalah revina pa. Thanks ya bi lo udah bantuin kita buat nangkep orang yang harus bertanggung jawab atas kejadian ini" ucap reza
"Its okey ga masalah kok, gimana keadaan revina?" Tanya bian
"Belum ada kabar, sekarang revina sedang di ruang operasi sudah dua jam berlalu namun martin belum juga keluar dari ruangan itu" jawab reza penuh lirih
Bian melihat dhio yang sangat pucat "kenapa longa bawa temen lo di obatin dulu, dia terluka parah tu" ucap bian
"Udah kita suruh tapi dia gamau, katanya nanti saja nunggu dapat kabar dari revina" ucap reza melihat sahabatnya yang sangat panik
Dr martin pun keluar dari ruang operasi, semua orang mendekati dr martin, dr martin memanggil ammar untuk keruangannya namun reza juga mau ikut.
"Gimana revina martin" tanya ammar
"Om, ini hasil MRI dan Arthrodcopy dari kaki revina, orang itu memukul tepat di area lutut revina, dan membuat patah tulang pada tulang keringnya dan cidera parah pada lutut ACLnya" ucap martin menghembuskan nafasnya. "Lu tau kan za, bagi atlit cidera lutut ACL atau anterior cruciate ligament itu sangat mengerikan bagi atlit terutama basket dan sepak bola, ligamen ACL revina terputus om dan rusak parah pada kaki sebelah kanannya tapi revina tidak lumpuh, dia hanya kehilangan kekuatan pada kakinya, dan butuh waktu lama untuk memulihkan keadaan kakinya seperti semula" timpah martin
"Butuh waktu berapa lama itu martin?" Tanya ammar
"Kalo untuk cidera biasa mungkin 6 sampai 9 bulan om, tapi kasus revina berbeda itu sangat parah bisa sampai 1 atau 2 tahunan" lirih bian menunduk
Ammar menangis mendengar penuturan dari sang keponakan. Ammar tau bahwa putrinya 4 bulan lagi ada kejuaraan nasional yang harus dia ikuti. Reza masih terdiam mendengar penuturan dari martin.
"Gimana keadaan revina sekarang?" Tanya ammar
"Keadaan revina sudah stabil om, sekarang revina hanya sedang dalam pengaruh obat bius" ucap martin. "Dan sebentar lagi revina akan di pindahkan keruangan perawatan".
Ammar dan reza keluar dari ruangan martin, reza masih terdiam mendengar penjelasan dari martin, reza sangat terpukul menerima kenyataan bahwa adiknya terluka karena orang yang tergila-gila padanya. Ammar menjelaskan semuanya pada dewi dhio dan bian mengenai kondisi revina, semua terkejut.
"Tidak mungkin pa.. tidak mungkin" tangis dewi pecah. "Revina pasti ga akan kuat nerima semua ini pa, papa tau kan 4 bulan lagi ada pertandingan nasional yang dia tunggu selama ini" timpah dewi semakin histeris
Ammar memeluk dan menenangkan sang istri. Dhio dan bian sangat terkejut mendengar penjelasan dari ammar, dhio meneteskan air mata, sedangkan reza masih tak bergeming menatap kosong ke arah depannya. Martin dan para perawat membawa revina menuju ke ruang perawatan, dewi menangis histeris melihat keadaan sang putri tersayang dengan oksigen yang terpasang dan luka lebam di bagian wajah, lengan dan bagian kaki yang terluka parah. Ammar meneteskan air matanya melihat keadaan putri kesayangannya sambil memeluk dan menguatkan sang istri. Revina sudah berada di ruang perawatannya di susul oleh reza bian dan dhio. Setelah sampai di ruangan revina pandangan dhio memudar dan dhio jatuh pingsan, dhio di rawat di ruang sebelah revina.
"Mama dan papa pulang aja dulu istirahat dirumah ma pa" pintah reza
"Enggak sayang, mama mau menunggu revina sadarkan diri" ucap dewi
"Baiklah mama sebaiknya istirahat, reza akan menelpon pak joko untuk membawakan semua keperluan kita disini" ujar reza
"Iya nak"mengelus wajah reza yang terlihat kacau
Bian istirahat di kamar dhio, sedangkan reza diruangan revina bersama kedua orang tuanya. Reza setia duduk di samping sang adik tercinta sambil menggenggam tangan revina.
"Revina kuat, kakak tau revina bisa lewati ini" bisik reza dikalah adiknya terbaring lemah dengan selang infus tertanam di tangan nan putih pucat itu. Reza menggenggam tangan revina dan menangis mencium tangan sang adik
"Kalo bisa kakak memohon, biarkan kakak saja yang berada diposisi kamu vin, kakak benar-benar takut kamu tidak bisa menerima semua ini" ucap reza lirih.
Rezapun tertidur dengan menggenggam tangan adiknya. Tangan revina bergerak dan itu membuat reza terbangun dari tidurnya, revina sadarkan diri. Reza memencet tombol penghubung ke perawat agar mengecek keadaan revina, ammar dan dewi pun terbangun.
"Kakak. Mama.. papa" ucap revina mencoba membuka oksigennya namun di tahan oleh reza.
"Jangan dulu, tunggu martin ya dek" ucap reza
Martin datang mengecek keadaan revina, dhio dan bian yang mengetahui revina sadarkan diri datang ke ruangan revina, bian mendorong kursi roda dhio menuju keruangan revina. Revina telah melewati masa kritisnya
"Vina udah gak apa apa kok om, biarkan dia istirahat dulu ini masih terlalu dini, jangan ajak dia berbicara dulu, martin udah menyuntikan bius dosis rendah agar revina bisa istirahat dan bangun pagi nanti" ujar martin menjelaskan
"Iya martin, makasih nak" ucap ammar
"Bunda dan ayah akan datang om, semalam setelah martin ngabarin mereka langsung memesan tiket dari berlin" ucap martin "martin permisi ya om tante, nanti panggil martin saja kalo revina sudah sadarkan diri. Za yang kuat ya" ucap martin dibalas senyuman oleh reza
"Iya tante" ucap dhio. bian mendorong kembali kursi roda dhio
Diruangan dhio
"Gue boleh nanya?" Tanya dhio
"Silakan" ucap bian dingin
"Kenapa lo mutusin bantuin reza, bukannya lo benci ke reza?" Tanya dhio
"Gua ga pernah benci ke dia, gua cuma marah sama keadaan, dan gua sadar emosi gua ga akan ada ujungnya" ucap bian lirih. "Gua melarikan diri dari reza, karena setiap gua liat reza gua akan ingat kejadian dimana monika mengorbankan nyawanya demi melindungi reza, gua marah kalau ingat itu, gua terluka mengingat monika yang terluka parah karena melindungi reza" ucap bian
"Lalu sekarang apa lo ga marah lagi?" Tanya dhio
"Enggak setelah gue baca semua surat dari monika" ucap bian memejamkan matanya "udah ah gue mau tidur lo istirahat sana" timpah bian berbalik membelakangi dhio
"Gue tau, ini bukan salahnya reza, cuma hati gue ga bisa terima monika mengorbankan nyawanya demi reza, hanya saja monika gamau gue sama reza saling benci makanya gue berusaha menghindari reza dan menjauh darinya" gumam bian
^^^^^^^
Malam telah berlalu, pagi telah menjelang, reza bangun dari tidurnya, ia membersihkan dirinya dan mengingat semua penjelasan dari martin, reza sangat terpukul dengan kenyataan yang terjadi terhadap revina, hanya saja reza haru tegar demi menguatkan sang adik tercinta.
"Apa yang akan terjadi ketika vina mengetahui kenyataan yang ada tentang kakinya" ucap reza lirih meneteskan air mata
Revina telah sadarkan diri, Dr. Martin telah memeriksa kembali kondisi revina, revina kelihatan bingung dengan keadaan itu
"Kak, revina dimana?" Tanya revina menggenggam tangan sang kakak
"Kamu dirumah sakit sayang" jawab reza
"Kak dhio mana, dia baik-baik aja kan?" Tanya revina
"Dhio baik-baik aja sayang, dhio dirawat di ruangan sebelah paling bentar lagi kesini" jawab reza
Dhio dan bian sudah sampai diruangan revina, revina tersenyum melihat dhio yang ternyata tak apa-apa. Revina merasakan nyeri di bagian lututnya.
"Kak sakit sekali kaki vina" ucap revina yang meringis
"Biusnya udah hilang sabar ya vin, kaka suntikan lagi obat pereda nyeri ya sayang" ucap martin
"Sakit sekali kak" lirih revina yang menangis
"Sabar sayang" ucap reza mengusap kepala sang adik
Martin menyuntikan pereda nyeri pada revina, revina sedikit lega karena kakinya tak sesakit tadi, namun revina mngernyitkan alisnya pertanda kebingungannya karena dia merasa ada yang mengganjal terhadap kakinya tepatnya di bagian sebelah kanan. Revina mengingat kejadian saat dia refleks melindungi dhio.
"Kak, kaki vina kenapa ?" Tanya revina. Semua terdiam revina mulai menangis "kak martin jawab vina kak, kami vina kenapa?" Tanya revina menarik ujung baju martin
"Kamu hanya cidera sayang" ucap dewi
"Apa cuma cidera ma, kak martin jawab jujur, vina berhak tau kak" ucap revina yang menangis
"Iya kakak jelaskan semuanya, tapi kamu tenang dulu" pinta martin kepada keponakan kesayangannya.
Martin menjelaskan semuanya kepada revina prihal kondisi kakinya, tangis revina pecah, revina menangis histeris membuka selimut dari setengah tubuhnya dan memukul-mukul kakinya
"Enggak... nggak,, nggak mau, kembalikan kaki vina kak kembalikan" histeris sambil memukul kaminya
"Apa yang kamu lakukan vina" ucap reza menahan tangan sang adik sambil memeluknya
"Kembalikan kaki vina kembalikan kaki vina kak" ucap revina yang terisak di pelukan reza
Tangis semua orang yang ada diruangan itu pecah, semua merasakan kepedihan yang di alami revina, revina tertidur di pelukan reza. Setelah revina tertidur Reza berlari keluar dari ruangan revina disusuk oleh bian.
"Arrrhhhhggggggggggggggg" teriak reza yang berulang kali memukul pohon dengan tinjuannya, tangan reza terluka
"Zak apa yang lo lakuin" ucap bian menahan tangan reza yang mencoba memukul kembali pohon tersebut
"Lepasin gue bi lepasin gue" tukas reza "gue ga berguna, gara-gara gue revina kek gitu" ucap reza yang menangis tersungkur dengan darah yang menetes pada tangannya
"Ini bukan salah lo, ini kecelakaan" ucap bian menguatkan
"Ini salah gue bi, seandainya rossa ga tergila-gila sama gue ini ga bakalan terjadi" ucao reza menangis
"Lo jangan bodoh za, ini bukan waktunya buat lo lemah, pikirin adik lo yang butuh support lo sekarang ini" ucap bian
Reza memikirkan omongan bian, iya dia harus kuat demi sang adik.