
Mobil dhio berhenti di parkiran. Rezapun nakk ke mobil dhio, reza bingung kenapa tiba-tiba temannya ini ingin berbicara dengannya.
"Ada apa si io" tanya reza
"Nanti aja kita cari tempat ngomong yang pas, ini sangat penting buatmu menurutku" ujar dhio
"Ah.. bikin penasaran aja sii" ucap reza
Mereka akhirnya sampai di sebuah cafe, reza dan dhio memesan minuman yang sama juga yaitu espreso.
"Ada apa sii io, tumben banget ngajakin ngmng. Kayaknya bener-bener penting" tanya reza
"Ini soal bian za" ucap dhio
"Kenapa bian?" tanya reza bingung
"Lo tau kan gimana bencinya bian ke lo"
"Iya tau, kalo bisa ngebunuh aja mungkin gue adalah orang yang pengen dia bunuh. Emang kenapa dengan bian?"jawab reza enteng sambil tersenyum
"Revina tadi pagi ketemu bian za, dan bian tau revina adalah adik lo" ucap dhio
Mata reza terbelalak tak menyangka, bahwa adik yang sangat ia sayangi dan ingin dia lindungi dari seorang psykopat seperti bian, akhirnya bertemu dengan bian.
"Apa??? Kenapa bisa vina bertemu dengan bian??" Tanya reza panik
Dhiopun menjelaskan kejadian yang ada di taman hingga ucapan bian yang akan bertemu lagi dengan revina kepada reza. Reza sangat cemas dan meminta dhio untuk mengantarnya segera pulang takut bahwa revina akan pergi keluar rumah sendirian lagi.
"Io, lo anter gue pulang sekarang deh" pinta reza
"Yaudah ayo" ucap dhio
Dhio pun melaju mobilnya ke rumah reza. Dhio melihat rasa khawatir yang begitu besar terhadap adikna tercinta
"Apa yang bakal lo lakuin ke bian za?" Tanya dhio
"Gue ga tau, lo tau sendiri gua ga bisa sentuh dia. Ga masalah kalo dia nyakitin gua asalkan jangan adik gua, lo tau kan vina segalanya buat gua io" ucap reza lirih
"Yaudah lo tenangin diri lo aja dulu, nanti kita pikirin lagi gimana ngadepin si bian" ucap dhio
"Iya bro. Makasih banget ya udah nganterin adik gua tadi" ucap reza
"Its okey" ucap dhio
"Lo harus tau za, gua juga gamau ade lo kenapa-kenapa, gua mau lindungin dia sebisa gua agar dia ga terluka" gumam dhio
Mobil dhio telah terparkir dihalaman rumah reza, reza turun dan berlari mencari adiknya tercinta. Dia sangat takut kalo bian bener-bener bertemu dengan revina lagi dan akan menyakiti revina
"Revina" panggil reza
"Reza udah pulang nak?" Tanya dewi
"Assalamualaikum ma, mana revina" ucap reza yang terlihat panik
"Waalaikumsalam. Kamu kenapa panik gitu revina ada dikamar kok" ucap dewi
"Vinaa" panggil reza lagi
"Iya sebentar vina turun" ucap vina "ada apa si kak reza gitu banget manggilnya" gumam vina
Revina sudah sampai dirumah, reza berlari dan langsung memeluk adiknya tercinta
"Kamu gakenapa kenapa kan ?" Sambil memutar badan adiknya "ga ada yang terluka kan" ucap reza khawatir
" apa si kak, emang apa yang akan terjadi sama vina, kenapa khawatirnya berlebihan seperti itu" ucap revina bingung
"Gapapa katanya kamu gowes ke daerah Y tadi pagi, jangan diulangi ya itu jauh, kalau mau kerumah olla minta anter kakak kalo enggak supir. Mulai sekarang jangan pernah pergi sendirian lagi" titah reza penuh ketegasan
"Kakak apaan si? Kenapa overprotektif seperti ini kemarin perasaan enggak" revina bingung sikap overprotektif kakaknya kembali lagi " denger ya kakakku sayang, vina gapapa. Ga akan ada yang berani nyakitin vina kalo mereka tau bahwa revina punya malaikat pelindung seperti kakak, jangan di pikirin gitu ah, percaya bahwa revina akan baik-baik aja" ucap revina sambil memeluk reza sambil menenangkan hati reza, walaupun sebenernya revina ingin tau penyebab kekhawatiran kakak tersayangnya ini
"Kak reza kenapa si? Kenapa mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan seperti ini, aku harus cari tau nanti" gumam revina
Revina pergi kerumah olla di antar oleh supirnya, reza tak mengetahui perihal kepergian revina. Karena revina tau reza tak akan mengizinkan ia pergi kerumah sahabatnya itu. Revina dan olla akhirnya memutuskan hangout di cafe yang ada di Mall terdekat dengan di antar oleh supir revina, revina sangat jenuh dirumah dan ternyata di tempat yang sama ada bian bersama seorang wanita dan mereka menghampiri revina dan olla.
"Aduh kenapa lagi musti ketemu ini cowok si disini" gumam revina memutar matanya
"Haii, kita ketemu lagi disini" sapa bian membuat wanita disampingnya sedikit tak senang. Sapaan bianpun hanya di balas dengan senyuman kaku oleh revina dan olla. "Kita boleh gabung enggak?"pinta bian
"Sayang. Kita di meja sana aja kan kosong, kenapa harus gabung disini" ucap wanita itu tak lain adalah kekasihnya bian
"Kita gabung aja disini rey, enggak masalah kan?" Tanya bian ke revina
Revina dan olla bingung harus menolak atau mengiyakan, akhirnya revina mengiyakan walaupun ga nyaman sekalipun
"Its okey, kalau pacar lo ga keberatan juga" ujar revina santai
"Sungguh menarik adik lo za, sayang dia adik lo, kalau bukan gua pastiin dia pasti jadi milik gua" gumam bian
"Dia ga akan keberatan kok" sambil menarik kursi, bian pun duduk tepat di hadapan revina, sedangkan reyna kekasih bian duduk di samping revina. "Kalian berdua aja. Oh iya kita belum saling kenal bukan. Gue bian?" Ucap bian sambil menjulurkan tangannya
"Gue revina, ini sahabat gue olla" ucap revina menerima tangan bian. Bian tak ingin melepaskan tangan revina dan itu membuat revina geram. "Sorry tangan lo" ucap vina risih
"Eh maaf gua terpesona sama lo" ucap bian to the point.
Revina menaikan alisnya mendengar penuturan dari bian
"Dasar buaya jelas-jelas disebelah gua pacarnya dia, masih saja ngegombalin cewek lain" gumam revina geram
"Sayang apaan si" ucap reyna meraju hanya saja tak dihiraukan sama sekali oleh bian.
Telpon revina berdering, tertulis kak rezađź–¤ revinapun berpamitan mengangkat telpon dari sang kakak, itu membuat bian tak menyukainya
"Hallo asslamualaikum kak" sapa revina
"Waalaikumsalam. Kamu dimana revina?" Tanya reza
"Aku ada di cafe didalam mall daerah Y kak. Ada apa ?"
"Kenapa ga bilang ke kakak kan bisa kakak anter" Ucap reza
"Kakak tadi kan tidur, vina udah izin ke mama kok" ujar revina
"Terus kenapa pak joko kamu suruh pulang" tanya reza
"Iya nanti vina telpon kalo udah mau minta jemput kasian pak joko nya kak kalo harus nungguin revina seperti ini"ucap revina
"Yaudah nanti kalo mau pulang telpon kakak saja nanti biar kakak yang jemput" ucap reza
"Iya bawel"
Revina mematikan telponnya. Terlihat bian yang sangat tak senang melihat revina menerima telpon dari reza t