
Reza melihat kasih sayang sang istri kepada adik kesayangannya sangat tulus. Reza dan keluarga bahagia akan itu. Revina dan keluarga telah kembali kerumahnya.
Hanin dan reza telah berada dikamarnya hanin menyiapkan pakaian untuk reza
"Za ini baju kamu" beri hanin. Reza mengambil baju itu lalu menarik tangan hanin agar hanin lebih mendekat kereza. Jantung hanin berdetak sangat kencang
"Terimakasih hanin" ucap reza mengusap pipi hanin
"Buat apa reza?" Tanya hanin malu
"Buat kasih sayang kamu untuk revina" ucap reza menatap hanin dengan lekas
"Za, aku sangat ingin mempunyai adik perempuan, aku selalu kesepian dirumah karena ayah dan bunda sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan revina sejak pertama aku melihatnya aku sudah menyukainya, dia sangat baik, sopan dan juga sangat cantik" ucap hanin kagum membuat reza menatap tak percaya wanita yang sedang sangat dekat dengannya itu. Hanin masih saja bercerita tentang ke kagumannya terhadap revina sampai akhirnya reza tidak bisa menahan dirinya
"Cupp" cium reza sekilas ke pipi hanin membuat hanin tak menyangka reza akan menciumnya, hanin sangat malu dan mengalihkan wajahnya
"Kenapa tidak menatapku?" Tanya reza yang tau bahwa istrinya sedang malu saat ini hanin menggelengkan kepalanya. Reza meraih dagu hanin agar menoleh kepadanya dan menatapnya sangat dalam.
"Almira, dia wanita yang sangat mengagumkan bukan. Apakah kamu bahagia disana mira, hari ini aku akan menjadi suami dari hanin seutuhnya" gumam reza dalam hati
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya hanin gugup
"Apa kamu bahagia menikah denganku hanin?" Tanya reza
"Yang kamu lihat bagaimana? Aku bahagia atau tidak?" Ucap hanin menggigit bibir bawahnya
"Jangan menggodaku hanindira, kita belum membersihkan diri saat ini" ucap reza membuat hanin sedikit terkejut
"Kenapa aku?" Tanya hanin.
"Jangan gigit bibirmu atau aku akan menggigitnya" ungkap reza membuat mata hanin terbelalak
"Rezaaa ihh" hanin memukul kecil dada bidang reza membuat reza sedikit tersenyum. "Bersihkan dirimu dulu"
"Iya sayang" ucap reza
"Apa kamu bilang tadi?" Tanya hanim penasaran
"Sayang. Tidak apa-apa bukan?" Tanya reza
"Tentu dong. Bersihkanlah dulu dirimu reza. Itu pakaiannya dan ini handuknya" ucap hanin
"Baiklah" ucap reza melepaskan pelukan dari sang istri.
Reza dan hanin telah membersihkan diri masing-masing. Hanin kembali ke kamar dan melihat sang suami tengah berdiri di depan jendela
"Kenapa disini, tutup jendelanya za, nanti kamu masuk angin" ucap hanin disebelah reza
"Kamu lama sekali" ucap reza menutup jendelanya "kamu sudah berwudhu?"tanya reza. Hanin mengerti maksud reza ia pun menunduk. Reza dan hanin melakukan sholat dua rakaat dulu dan selesai mereka melakukan sholat mereka kembali ke atas kasur. Setelah itu reza meletakan tangannya dikepala hanin dan meniupkan ubun-ubun hanin sebanyak tiga kali dan membaca beberapa doa sesuai hadistnya. Hanin menggigit bibir bawahnya.
"Apa kamu siap menjadi istriku seutuhnya hanindira?" Tanya reza
"Aku siap reza" ucap hanin lalu menggigit bibirnya lagi.
"Aku sudah bilang jangan gigit bibirmu atau aku yang menggigitnya" ucap reza yang langsung mencium bibir hanin sekilas.
Hanin sangatlah gugup begitupun dengan reza. Reza menatap lekat mata hanin, haninpun membalasnya
"Matamu sangat indah hanin, aku sudah tidak bisa menahan untuk tidak menciummu" ucap reza yang langsung mencium bibir hanin, reza memperdalam ciumannya, hanin juga pandai mengiringi reza, ciuman itu berubah menjadi kecapan, satu leguhan berhasil lolos dari bibir hanin membuat reza semakin tidak bisa menahannya, reza melepas ciumannya karena pasokan oksigen yang kian menitipis, reza tersenyum melihat hanin yang memejamkan matanya lalu reza kembali mencium bibir hanin reza sedikit menggigit bibir hanin agar hanin membuka mulutnya. Lidah reza bermain semakin dalam dimulut hanin dan reza membuka kancing baju tidur hanin, reza beralih keleher hanin memberikan beberapa tanda kepemilikan disana, leguhan terdengar lagi dari bibir hanin reza tidak bisa menahannya lagi. Reza memegang sesuatu yang sangat indah dan mengecupnya secara bergantian
"Rezaaaa" leguhan hanin tak membuat reza berhenti malah semakin bersemangat karena leguhan hanin tersebut. Reza melepaskan pakaiannya dan pakaian hanin. Reza menyentuh area sensitif hanin membuat hanin ingin gila rasanya
"Rezzzz...ahhhh" leguh hanin terbata. Reza kembali mencium bibir hanin tetapi tangannya belum beralih dari area sensitifnya hanin
"Panggil namaku sayang" ucap reza melanjutkan aktivitasnya, reza ******* area sensitif di bagian atas tubuh hanin, ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua. Reza semakin rakus mencium bibir hanin, bibir reza mengabsen setiap inci tubuh hanin, reza masih saja bermain diarea sensitif hanin dengan kedua jarinya
"Reza aku akan sampai" ucap hanin lirih
"Iya sayang" ucap reza semakin mempercepat jarinya. Hanin lemas reza menatap hanin dengan senyum. "Apa kamu siap sayang?" Tanya reza hanin mengangguk
Reza menyatuhkan tubuhnya dengan hanin, hanin meringis kesakitan dia tidak menyangka akan sesakit ini
"Rezaaa sakit" ucap hanin dengan air mata yang lolos dari mata indahnya
"Tahan sayang, sakitnya hanya sebentar" jelas reza mengusap air mata hanin dan mencium bibir hanin agar hanin melupakan rasa sakit di area sensitifnya. Reza terus memompa hanin dengan sangat hati-hati sampai semua miliknya menyatuh dengan milik hanin tanpa melepaskan pugutannya. Malam indah itu entah berapa kali hanin dan reza melakukannya. Tubuh hanin menjadk candu bagi reza dan dia ingin melakukannya lagi dan lagi
"Apa kamu masih sanggup?" Tanya hanin yang sedikit terpejam dalam pelukan reza
"Heemm kamu sangat kelelahan sepertinya, tidurlah sayang" ucap reza mencium bibir hanin dengan sangat rakut. "Jangan balas ciumanku, atau kamu tidak bisa istirahat nanti" ucap reza tersenyum
"Biarkan aku istirahat sebentar sayang, aku sangat lelah tenagamu kuat sekali" ucap hanin memejamkan matanya di dada bidang sang suami. Reza tersenyum mendengar istrinya berceloteh.
Keesokan harinya hanin terbangun dan ingin membersihkan dirinya ketika ingin ke kamar mandi dia meringis kesakitan reza yang tidurpun akhirnya terbangun
"Aww... sakit sekali rasanya" ucsp hanin lirih
"Ada apa sayang" ucap reza mendekati sang istri
"Aku ingin membersihkan diri tapi tidak bisa berjalan" ucap hanin malu-malu. Reza tersenyum lalu langsung mengangkat sang istri dan membawanya ke kamar mandi. reza menaruh sang istri kedalam bethup
"Reza rasanya sangat tidak nyaman, perih sekali" ucap hanin lirih
"Sayang kalau kita sering melakukannya rasanya tak akan sama lagi" goda reza mendekati hanin
"Reza kamu mau apa?" Ucap hanin panik
"Sayang apa kamu tidak merasakan sesuatu yang tegang disana, dia ingin kamu sapa sayang" ucap reza dengan mata sendu. Mata hanin terbelalak melihat pemandangan itu. Mereka melakukannya lagi di kamar mandi, reza tidak bisa menahannya lagi ketika melihat tubuh polos hanin.
"Aku tidak akan bisa memasak untukmu kalau kamu menahanku terus di atas kasur ini sayang" ucap hanin di dalam pelukan reza. Reza tersenyum mendengar penuturan sang istri
"Kamu yang menggodaku duluan sayang" ucap reza mempererat pelukannya
"Aku benar-benar ingin mandi dan memasak untukmu" ucap hanin menatas reza sambil memainkan jarinya di atas dada bidang reza
"Jangan menggodaku lagi atau kita akan melewatkan pagi ini hanya diatas kasur ini saja" ucap reza membuat hanin terkejut
"Sayang. Aku bersihkan diriku dulu setelah itu kita sholat subhu" ucap hanin
"Kamu bisa berjalan? Atau mau aku gendong sampai kamar mandi lagi sayang?" Tanya reza menggoda
"Tidak tidak tidak usah. Aku berjalan sendiri. Kamu istirahatlah sayang" ucap hanin ingin segera beranjak namun reza menahannya. "Sayang jangan seperti ini, aku mau buatkan kamu sarapan dulu, nanti kita lanjutkan lagi" ucap hanin membuat reza tersenyum puas. Hanin beranjak kekamar mandi dengan jalan pelan-pelan. Reza melihatnya hanya tertawa saja. Setelah sampai dikamar mandi betapa terkejutnya hanin melihat tubuhnya penuh dengan tanda kepemilikan dari reza "luarbiasa sekali suamimu"ucap hanin pelan
Mereka telah sama-sama membersihkan diri masing-masing. Hanin telah berada didapur
"Non kenapa bangunnya pagi sekali?" Tanya bik mar
"Aku ingin menyiapkan sarapan untuk suamiku bik. Binik istirahat saja biar kiya yang siapkan semuanya" ucap hanin
"Jangan non, biar bibi saja yang siapkan" pinta bik mar
"Bibik kiya ingin suami kiya merasakan masakan kiya. Jadi izinkan ya, sebentar lagi reza akan turun melihat kiya. Kiya janji kiya hanya akan memasak dan sisanya bibik akan membereskannya" jelas hanin kepada bikmar
"Baiklah non, bibik tinggal ya non" pamit bik mar
Hanin mulai memasak menyiapkan bahan-bahan masakan untuk suaminya. Hanin memasak nasi goreng seafood. Ketika hanin mematikan kompornya tangan reza melingkari pinggal hanin dan memeluknya dari belakang
"Selamat pagi istriku" sapa reza mencium kepala sang istri
"Selamat pagi sayang" ucap hanin. "Sayang lepaskan dulu aku ingin menaru ini dulu diatas meja" pinta hanin namun reza menggelengkan kepalanya dan menenggelamkan kepalanya di bahu hanin. Hanin berbalik dan menaruh tangannya di bahu reza
"Ada apa sayang? Ada yang kamu pikirkan?" Tanya hanin
"Aku kamgen revina, biasanya kalo subhu dia selalu bangunkan aku" ucap reza. Memang benar revina adalah adik kesayangannya jadi hanin memaklumi rasanya jauh dari orang yang sangat disayang. Hanin tersenyum
"Nanti siang kita kerumah mama papa gimana?" Ajak hanin
"Kamu memang yang terbaik sayang" ucap reza memeluk sang istri.
"Ehemmm.. aduh pengantin baru mesra-mesraan di dapur. Dikamar dong sayang" ejek bunda hanin reza langsung melepaskan pelukannya
"Bunda jangan gitu ih" ucap hanin malu
"hehe Kamu masak sayang. Waah putri bunda masak untuk suaminya ternyata" ucap bunda
"Tugas kiya sekarangkan telah menjadi seorang istri bunda. Jadi kebutuhan suami kiya. Ya harus kiya yang siapkan" ucap hanin membuat reza tersenyum bangga
"Iya sayang. Kamu memang yang terbaik" puji bunda hanin