Revina

Revina
Pertemuan



Revina


.


.


.


"Hari ini adalah penanda tanganan kontrak dengan IV group dan papa sendiri yang turun tangan, aku penasaran ayahnya gian itu bagaimana orangnya" reza memikirkan tengang kedekatan gian dan revina yang semakin baik


"lan, dimana bokap gue?" Tanya reza kepada alan


"Diruang meeting, hp lo ga aktif, lo diminta keruang meeting sekarang" alan menyampaikan pesan bossnya kepada reza. Rezapun langsung beranjak meninggalkan alan dan menuju keruangan meeting. Reza mendengar candaan ringan didalam ruangan tersebut. Reza mengetuk pintunya


"Masuk za" ucap papa. "Reza ini tuan Erlan direktur utama IV group" jelas papa


"Lan, ini anak sulung gue, yang menikah kemarin lusa" erlan tersenyum dan menyalami reza


"Waah lo mempunyai putra yang sangat tampan mar" puji erlan membuat semua tertawa


"Putri gue juga sangat cantik dan tidak ada duanya" ucap ammar membanggakan revina


"Oya... bisa dong gue jodohin sama putra gue" ucap erlan tiba-tiba membuat reza tersenyum


"Kalo urusan perasaan gue ga mau ikut campur lan, putri gue punya pilihan sendiri, apapun yang buat putri gue bahagia itu yang utama" ujar ammar


"Apasalahnya kita mencoba" ucap erlan


"Iya juga si, kita atur waktu aja buat makan malam, nanti lo bawa putra lo yang tampan itu kerumah gue" saran ammar


"Boleh juga bagaimana kalau malam ini. Reza bawa juga istrinya ya nak. Nanti om bawa putra om kerumah papamu" ucap erlan


"Iya om, nanti reza akan ajak istri reza makan malam dirumah agar bisa berbincang-bincang bersama om" jelasku


"Benar kata gosip-gosip bahwa pemilik IV group adalah pria yang humble dan friendly, apalagi rencana papa dan om erlan untuk menyatukan gian da revina, itu akan menjadi kebahagiaan buat mereka" gumam reza mulai tersenyum


Reza menjemput hanin di KZ group karena ingin mengajaknya kerumah orang tua reza akan pertemuan kedua keluarga.


"Sayang. Kamu disini" ucap hanin mendekati sang suami dan mencium punggung tangan reza, reza memeluk dan mencium kening hanin "ada apa sayang?" Tanya hanin


"Apakah pekerjaanmu masih banyak ? Aku ingin menjemputmu sayang"ujar reza mempererat pelukannya


"Sedikit lagi selesai sayang. Memangnya kita mau kemana ?" Tanya hanin dipelukan reza


"Kerumah papa, ada acara makan malam bersama direktur IV sayang" ucap reza mengendorkan pelukannya "Cepat selesaikan aku akan menunggumu" ujar reza


"Baiklah, aku hanya tinggal mengecek satu proposal lagi sayang, sudah itu selesai" ucap hanin kembali ke tempat duduknya


"Iya sayang selesaikan saja dulu" ucap reza membaringkan dirinya di sofa. Tanpa sadar reza terpejam. Hanin yang sedang membereskan meja kerjanya melihat suaminya tertidur di sofa dan mendekatinya


"Tertidur" ucap hanin pelan.


Hanin berjongkok dihadapan suaminya dan mengusap pipi sang suami dengan mesra


"Tidurnya seperti bayi. Aku rasa aku mulai mencintaimu suamiku"ucap hanin tersenyum. Hanin mencium kening suaminya. Ketika hanin ingin beranjak mengambilkan air minum reza menarik tangannya dan hanin terjatuh di atas dada reza.


"Sayang kamu tidak tidur" hanin terkejut melihat reaksi reza. Reza yang masih terpejam membukakan matanya dan menatap mata sang istri yang sedikit gugup karena malu


"Hmm aku hanya memejamkan mata saja. Sayang... katakan sekali lagi" pinta reza mempererat pelukannya pada tubuh hanin


"Katakan apa?"


"Katakan yang kamu bicarakan saat aku terpejam tadi" ucap reza menatap mata hanin semakin dalam. Hanin menunduk. "Aku ingin mendengarnya sekali lagi sayang" ucao reza mengusap pipi hanin yang semakin memerah


"Sayang lepaskan dulu, nanti ada yang melihat, biarkan aku bangun dulu"hanin mencoba melepaskan pelukan reza namun gagal


"Katakan dulu baru aku lepas" syarat reza. "Tidak mau mengatakannya" ucap reza meraju dan melepaskan pelukannya dari hanin. Hanin yang mengetahui sang suami sedang merajuk kembali memeluk sang suami yang sedang berbaring disofa kerjannya itu


"Apa kamu marah denganku sayang?" Tanya hanin bingung. Reza masih diam saja. "Sayang. Aku mencintaimu" ucap hanin membuat reza menatap hanin tak percaya, reza membalas pelukan itu, tangan reza yang satunya beralih ke leher hanin dan menariknya agar wajah mereka saling berdekatan. Reza yang tidak tahan dengan tatapan hanin langsung ******* habis bibir hanin, hanin telah pandai menyeimbangi reza. Hanin menghentikan pugutan mereka


"Sayang bukankah kita harus pulang kerumah" ucap hanin melihat bara nafsu suaminya


"Masih jam 4 sayang, aku ingin" ucap reza dengan nafas berat membuat hanin terkejut mendengarnya. "Hmmmm satu kali saja" pinta reza membuat hanin tersenyum


"Ayo berdiri dan ikut aku" hanin menarik tangan reza keruangan belakang, betapa terkejutnya reza melihat ada ruangan khusus santai disini, ada kasur mini, karpet dan sofa persis sebuah kamar. Reza yang sudah tidak tahan langsung menghampiri hanin dan menyerang bibirnya dengan rakus, tangan hanin yang mulai nakal memberanikan memegang sesuatu yang sensitif milik reza diluar kain membuat reza meringis menahan nafsunya yang semakin memuncak, reza menggendong hanin ke karpet halus dan membaringkan hanin.


"Saaaaaayaaaannngggggg" ucap hanin yang tidak bisa menahan rasa aneh dan baru yang diberikan oleh suaminya. Reza melakukan penyatuan bagi mereka berdua. Sampai reza terkulai lemas disamping hanin dengan nafas yang memburu


"Terimakasih sayang" ucap reza dengan tangan masih bermain-main di satu tempat yang sangat reza sukai


"Hentikan tanganmu sayang, ayo kita bersihkan diri, bukankah ada pertemuan malam ini" jelas hanin.


"Kamu yang menggodaku terlebih dahulu. Ayo kita bereskan. Nanti malam kamu tidak akan bisa tidur nyenyak"goda reza membuat hanin terpesona


Dewi, revina dan bi ina menyiapkan makan malam untuk klien papanya yang akan berkunjung kerumah mereka. Malam telah berganti. Reza dan hanin telah sampai dirumah papanya. Gian sedikit terkejut karena papanya mengajaknya kerumah revina


"Pa.. kenapa kita kesini?" Tanya gian


"Papa sudah bilang kan, kita akan makan malam bersama klien kita yang baru" jelas erlan


"Papa mama duluan saja gian menyusul nanti" ucap gian memakai sepatunya


"Cepatan sayang" ucap icha istri erlan


"Iya ma" ucap gian


Keluarga ammar telah berdiri didepan pinty menyambut kedatangan erlan dan keluarga


"Selamat malam" ucap erlan menyalami semuanya.


"Selamat malam" ucap semuanya


"Mana putramu lan?" Tanya ammar


"Dia sedang memasangkan sepatunya, nah itu dia" menunjuk gian yang semakin mendekati mereka. Semua keluarga ammar terkejut ternyata putra erlan tidak lain adalah gian yang sekarang sedang dekat dengan putrinya, ada senyum diwajah mereka


"Assalamualaikum om tante" sapa gian mencium punggung ammar dan dewi


"Waalaikumsalam" ucap semuanya


"Nak gian, kamu adalah putra erlan?" Tanya ammar tidak percaya


"Ehhh tunggu dulu, kalian saling mengenal?" Tanya erlan bingung


"Dia teman putriku lan" jelas ammar


"Benarkah" ucap erlan tidak percaya


"Sayang, ajak masuk dulu dong masa iya bicara didepan pintu" ucap dewi


"Eh iya ayo semua masuk dulu" ammar mengajak semuanya masuk.


Kelurga ammar mengajak semua kemeja makan. Mata gian mencari-cari sesuatu


"Mana putrimu mar?" Tanya erlan yang sadar bahwa putra mencari sesuatu


"Sedang bersiap. Kiya bisa panggilkan adikmu sayang?" Pinta ammar lembut belum hanin mengiyakan revina telah mendekati mereka. Revina terkejut melihat gian dan tersenyum kepadanya


"Nah ini putri gue lan. Cantikkan" puji ammar. "Sayang ini klien papa baru papa dan juga sahabat papa, karena sering keluar negeri jadi jarang mengunjungi kita bahkan tidak pernah. Nah kalo yang Itu istrinya dan itu putranya" ucap ammar. Revina langsung menyalami erlan dan icha


"Cantik sekali kamu sayang. Siapa namamu?" Tanya icha menggenggam tangan revina


"Revina tante" jawab revina


Erlan yang menyadari tatapan kagum putranya terhadap revina mencoba menggodanya


"Gian, apakah vina adalah wanita yang sering kamu ceritakan kepada papa nak" goda gian


"Papa apaan si" ucap gian malu


"Ayo kita makan dulu" ajak dewi.


Malam itu semua bercanda dimeja makan dengan ringan, sambil mengoda pengantin baru dan tentunya juga menggoda revina dan gian.


Gian tidak menyangka bahwa papanya bersahabat dengan papa revina. Gian dan revina saling mencuri pandang satu sama lain


"Aku bahagia jika kamu tersenyum seperti itu vin" ucap gian pelan, reza mendengarnya dan tersenyum


*^^Bersambung