
Sebulan Kemudian
Revina dan dhio semakin dekat. Revina semakin hari semakin melupakan kesedihannya tentang basket. Revina belajar mengikhlaskan bahwa memang untuk saat ini tidak mungkin baginya untuk bermain basket lagi. Revina memutuskan untuk kuliah saja mengambil jurusan Administrasi Perkantoran agar bisa membantu papa dan kakaknya dalam mengelolah perusahaan keluarganya.
Hari ini adalah hari pertama revina menjadi seorang mahasiswa dan dia mengikuti ospek dari kampusnya, revina sangat kesal karena harus menuruti peraturan senior yang meminta mahasiswa baru untuk berdandan seperti orang gila, dengan rambut di kuncir 3 di hias pakai tali rapia, pakai baju putih lengan panjang, rok hitam, berdasi, di lengan pakai pita merah putih dan kaos kaki yang blang bleng, kanan putih kiri hitam, yang membuat revina merutuki semuanya. Dan tentunya membuat seisi rumah tertawa terbahak-bahak melihat gaya revina.
(Ckrekk.. ckreekk) reza mengambil foto, dan revina menyadarinya
"Kakak... hapus" pinta revina
"Tidak mau"
"Hapus kakak!!" Revina berusaha merebut handphone reza. "Kakakku sayang ayolah hapus, revina malu" ucap revina
"Kenang-kenangan vin, tidak apa-apa lagi tetep cantik kok" puji reza
"Cantik apanya udah seperti ondel-ondel gini kok"
"Emang ondel-ondel cantik ya ? Adikku sayang kamu masih cantik ya walaupun rada aneh sebenarnya" ejek reza tersenyum
"Tu kan" rengut vina
"Reza, kamu menggoda putri papa terus, sudah habiskan sarapan kalian. Kamu juga sayang cepetan habiskan, sekarang udah jam 6.10 kamu bilang masuknya 06.30 kan, kalo tidak di anter sekarang bisa-telat loh" ucap ammar
"Vina sarapan dimobil aja deh pa, takut telat. Ayo kak berangkat" pinta vina membawa sarapannya ke dalam mobil
"Yasudahlah ayo,, susunya di bawa juga deh, minta bi ira masukanke botol aja biar di minum di mobil sekalian"
"Iya kak. Bik ira" panggil revina
"Iya non" jawab bik ira
"Susunya masukanke botol vina yang warna hijau itu, vina sarapan di mobil aja" pinta revina
"Iya non siap"
----
"Pa,, ma revina berangkat ya. Assalamualaikum" mencium punggung kedua orang tuanya dan mencium kedua pipi orang tuanya
"Waalaikumsalam" ucap keduanya
Didalam mobil revina masih sibuk mengunyah sarapannya yaitu nasi goreng yang disiapkan oleh mama tercinta, sesekali revina menyuapkan nasi tersebut kepada sang kakak, karena porsi yang disiapkan mamanya terlalu banyak.
"Kak cepetan revina bisa di hukum ini"
"Iya sabar, makanya lain kali bangunnya lebih pagi lagi dong, masa iya supir bangun duluan si dek"
"Ya habisnya vina capek, semaleman revina harus nyiapin persiapan ospek hari ini"
"Iyaiyaa... semoga tidak telat ya sayang. Sudah jangan khawatir minum susunya biar ada tenaga buat ngadepin senior yang receh nantinya dan iya kalo ada yang menindas kamu bilang ke kakak"
"Apa urusannya ke kakak he, masa iya revina yang di tindas harus ngadu ke kakak"
"Biar kakak kasih pelajaran maksudnya"
"Emang bisa?"
"Bisa dong"
"Siapa si mau menindas vina, ini revina loh kak, hahah"
"Sombongnya, nanti malem merengek ngadu sama kakak"
"Biarin kan kakak, kakaknya vina"
"Hahah iya bawel"
"Kakak cepetan dong 3 menit lagi ini"
"Iya sebentar lagi kita sampai"
Reza mengantar adiknya tepat d depan gerbang, reza turun dan membuka pintu untuk adiknya dan membuat semua senior cewek melirik ke arah reza yang memang sangat tampan, revina menjadi pusat perhatian. Reza pamit pulang kepada sang adik, revina mencium punggung tangan reza dan reza pun mengelus lembut kepala adiknya. Mereka sampai di jam 06.31 telat 1 menit. Reza pun pergi meninggalkan revina, revina dihadapkan oleh 3 cewek yang merupakan seniornya.
"Wahh ada cewek cantik yang di antar oleh pria tampan bak pangeran ni, maaf nona kamu telat 1 menit" sindir salah satu wanita itu
Revina hanya menunduk
"Sekarang berjalan jongkok dan bergabung ke barisan itu" perintahnya
"Tidak bisakah diganti kak, kakiku masih cidera" memegang lututnya sebelah kanan
"Pake alesan lagi, jangan sok cantik ya buruan jongkok bukan cuma mau urusin lo doang disini" teriak wanita yang lainnya
"Baik kak"
Revina berjalan jongkok kearah barisan, setelah sampai revina mulai memegang lututnya yang mulai terasa ngilu, revina terlihat meringis
"Kaki kamu kenapa?" Sapa teman wanita sebarisnya. "Waah cantik sekali wanita ini" gumamnya dalam hati
"Tidak apa-apa kok. Kakiku sebenernya masih cidera, cuma tadi di suruh jalan jongkok sama kakak bertiga itu" ungkap vina
"Sampai bergetar gitu, yakin ni tidak apa-apa"
"Iya hihi sebenarnya ngilu banget rasanya"
"Mau dibawa ke UKS"
"Tidak usah, aku sebenarnya ada obatnya cuma takut dimarah nanti kalau minum obatnya sekarang" revina memang selalu membawa pereda nyeri yang telah disiapakan oleh Dr. Martin untuk berjaga-jaga
"Aku izinkan mau? Takut kaki kamu kenapa-kenapa?"
"Nanti aja deh, kita ikuti arahan kakak senior itu dulu. Oya nama kamu siapa?" Tanya revina menjulurkan tangan
"Namaku salsa, kamu?"menerima tangan revina
"Aku revina" jawabnya tersenyum
"Yaudah kalau kamu tidak tahan sama ngilu nya bilang ya, biar nanti aku meminta izin sama kakak seniornya"
"Terimakasih salsa"
"Bukan hanya cantik tutur bahasanya lembut sekali" gumam salsa
Kaki revina masih sangat terasa ngilu, revina sebenarnya ingin sekali meminum obatnya, hanya saja para seniornya belum mengizinkan para mahasiswa baru untuk minum, revina keringat dingin menahan ngilu pada lututnya, sampai pada seorang senior menyadarinya
"Kamu sakit" tanya senior laki-laki itu
"Ha tidak kok kak, cuma nyilu aja kaki saya" sambil memegang lututnya
"Kak sebenarnya kakinya cidera, dia ada obat pereda nyerinya cuma belum waktunya minum makanya dia menahan rasa nyilunya dari tadi" ungkap salsa
"Yaampun, ya sudah kamu antarkan teman kamu menepi dulu kesana. Dan kamu minum obatnya setelah membaik segera masuk barisan lagi" perintah senior laki-laki itu
"Baik kak terimakasih" ucap salsa memapah revina.
Revina telah meminum obatnya dan kakinya lumayan agak mendingan sekarang, revina mengurut-urut lututnya
"Sering ngilu seperti ini vin?" Tanya salsa di balas anggukan oleh revina "dari kapan?"
"3 bulan yang lalu" jawab revina cengengesan "yasudah ayo kita masuk barisan lagi sudah mendingan ini" ajak revina
----
"Sudah mendingan kakinya?" Tanya senior laki-laki tersebut
"Sudah kak, terimakasih" revina mengangguk
"Yaudah lain kali kalau sakit langsung bilang saja, jangan di tahan, nanti kalo kamu pingsan, kamu akan merepotkan banyak orang"
"Baik kak"
Waktu menunjukan pukul 12.10 waktunya isoma.
"Sal, mau ke mushola tidak?" Tanya revina
"Iya ayokk"
Revina dan salsa telah usai melakukan sholat dzuhur, mereka memutuskan untuk pergi mencari makan siang di kantin. Setibanya di kantin revina tanpa sengaja menabrak seseorang yang membuatnya hilang keseimbangan dan hampir terjatuh, orang itu menangkap revina dan menatap revina lama.
"Kita bertemu lagi, apakah kamu selalu seceroboh ini?" Tanya orang itu yang masih menahan tubuh revina. Revina segera berdiri
"Ah maaf kak" ucap revina
"Lain kali hati-hati kakimu masih cidera kan" di balas anggukan oleh revina. Revinapun pamit bersama salsa
"Eh gian, ada ya junior kita yang secantik itu, gila itu cewek cantik banget, padahal udah dandan kek orang gila tapi masih aja tetap cantik. Siapa namanya yan?" Tanya senior yang lainnya ke gian
"Mana gue tau namanya, sudah ah lo kesini mau makan atau mau liatin para junior-junior itu" ujar gian
"Makan dong bro, gua mau tau namanya nanti"
"Terserah loh dah" ungkap gian
"Liat deh tu cewek kegenitan banget. Pasti sengaja tu jatoh biar di tangkep oleh gian" ucap senior cewek yang meminta revina berjalan jongkok pagi tadi. "Lo ga akan biarin gebetan lo direbut junior itu kan din" dinda hanya meremas tangannya. Dan raut wajah yang nampak kesal.
Gian Rafif Ivander, seorang lelaki tampan, magnetnya wanita, idola kampus dan juga ketua BEM, tak heran banyak wanita yang menyukainya termasuk Dinda. Dinda Adzarine Kamil wanita cantik yang angkuh dan sombong yang tergila-gila terhadap gian.
"Lihat saja nanti kita bakalan kerjain tu cewek" ucap dinda