
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari pernikahan reza dan hanin. Kediaman hanin di dekor sangat indah. Rumah mewah berhalaman besar tersebut diubah menjadi gedung pernikahan yang sangat menawan. Banyak tamu-tamu undangan yang hadir, teman-teman reza dari club sepak bolanya, keluarga besar reza dan hanin semua hadir. Hanin sangat gugup dikamarnya, hanin bersama sahabatnya naina dan dara. Reza telah duduk di tengah-tengah para undangan berhadapan dengan penghulu dan haris. Pembawa acara membuka acara ijab qobulnya.
"Baiklah saudara Reza Dinata Arlan bin Ammar Dinata Arlan. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Hanindira Azkiya Binti Haris Purnomo dengan Mas kawin sebesar 100 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai" ucap haris
"Saya terima nikah dan kawinnya Hanindira Azkiya Binti Haris Purnomo dengan Mas kawin tersebut. Tunai" ucap reza lantang
"Bagaimana para saksi sah?" Tanya penghulu
"Sah. Sahh!!!" Teriak semua bersamaan yang menyaksikan ijab qobul reza dan hanin
"Alhamdulillahirobilamin. Kalian sudah sah menjadi suami istri, sekarang bawa mempelai wanita untuk duduk disamping mempelai laki-laki" ucap penghulu. Arsyad masih memandangi sang istri dan terlihat sangat kagum dengan kecantikan hanin. "Saudara reza sematkan cincin kawin di jari manis istrimu dan saudari hanin sematkan juga cincin itu dijari manis suamimu" ucap penghulu tersebut
Reza dan hanin menyematkan cincin kawin di jari masing-masing dari mereka. Hanin mencium punggung tangan suaminya dan reza mencium kening hanin untuk pertama kalinya.
Ijab Qobul akhirnya telah selesai. Reza dan hanin bersungkem kepada kedua orang tuanya. Suasana menjadi haru ketika reza dan hanin meminta dan berterimakasih kepada kedua orang tuanya. Semua menangis dewi mencium putra dan menantunya, bunda hanin juga mencium putri kesayangannya dan menantunya.
Reza dan hanin menuju kepelaminan untuk menemui para undangan. Tamu undangan sangatlah banyak. Revina dan gian mendekati panggung menemui kakak dan kakak iparnya
"Kakak selamat" ucap revina memeluk sang kakak. Rezapun mencium kepala sang adik. Revinapun memeluk kakak iparnya "kak hanin selamat ya. Cepat beri aku keponakan" ledek revina
"Terimakasih sayang. Doakan saja ya" ucap hanin
"Selamat bro" ucap gian
"Thanks bro. Jagain adik gua ya" pinta reza ke gian
"Iya gue akan jaga revina" ucap gian
"Ayo kita foto dulu" ajak reza.
"Akhirnya nikah juga. Selamat brother akhirnya soldout" ucap martin
"Thanks tin. Dan kapan lo akan menyusul. Jangan sibuk sama ruang operasi doang dong cari wanita buat di halalin noh" ejek reza membuat semuanya tertawa
"Iye yang udah nikah. Ejek terus. Oye bro tancap gas ga ntar malem terus buat keponakan yang cantik buat gue. Bosen gue liat revina mulu" goda martin ke reza
"Apaan si lo tin" ucap reza tersenyum
"Kak martin tu seharusnya beruntung vina yang cantik ini mau mengakui kak martin yang biasa saja sebagai keponakannya. Kalo orang lain pasti ogah, udah berumur jomblo lagi" ledek revina semua tertawa mendengar revina yang menggoda keponakannya
"Bisa kamu ya menggoda kakak" ucap martin menarik hidung revina
"Ahh... ahh. Aww sakit kak" ucap revina dengan mata berkaca-kaca
"Eh..eh sakit ya maaf maaf" ucap martin khawatir membuat revina tersenyum menang
"Tapi boong" ledek revina lagi
"Bisa ya buat kakaknya khawatir" ucap martin sebal
"Kakak juga sii main tarik-tarik saja. Hidung vina sudah mancung tidak perlu ditarik lagi" ucap revina
"Iye mancung. Suka-suka vina saja deh" ucap martin mengalah
Acara masih berlanjut. Revina yang sedang duduk santai dengan gian terkejut mendengar namanya di panggil di atas panggung untuk menyumbangkan sebuah lagu
"Kamu tu yang di panggil" ucap gian
"Lah kok vina" tanya revina bingung
"Sepertinya reza yang meminta" ucap gian, revina menoleh kearah reza dan kakaknya tersenyum. Revina akhirnya naik keatas panggung. Revina masih bingung harus menyanyikan lagu apa.
Revina berbisik kepada mengiring musiknya
"Baiklah lagu yang akan saya nyanyikan saya persembahkan untuk kakak saya tercinta dan kakak ipar saya. Saya mewakili kakak saya menyanyikan lagu yang berjudul Kekasih Impian" ucap revina membuat reza tak menyangka dan tersenyum hangat.
Musik mulai di lantunkan
Kekasih Impian - Natta Reza
Aku tak pernah meminta
Sosok pendaping sempurna
Cukup dia yang selalu
Sabar menemani dalam kekurangan ku
Namun tuhan menghadirkan
Sosok wanita terhebat
Kuat tak pernah mengeluh
Bahagiaku selalu bersama mu
Andai ada keajaiban
Ingin ku ukir kan
Agar semua tau
Kau berarti untuk ku
Selama lama nya kamu milik ku
Kini telah ku buktikan
Kamu pendamping setia
Kuat tak pernah mengeluh
Bahagiaku slalu bersamamu
Andai ada keajaiban
Ingin ku ukir kan
Agar semua tau
Kau berarti untuk ku
Selama lama nya kamu milik ku
Namun kusadari diri ku
Tak kan mampu selalu
Bahagiakan kamu
Tapi akan ku perjuangkan untuk mu yang ter hebat
Kekasih impiaannnnn
Andai ada keajaiban
Andai ada keajaiban
Ingin ku ukir kan
Agar semua tau
Kau berarti untuk ku
Selama lama nya kamu milik ku
Revina menutup lagunya dengan menundukan kepalanya. Revina kembali ke tempat duduknya bersama gian. Semua bertepuk tangan kagum. Ammar dan dewi sangat bangga kepada sang putri. Pasalnya memang suara revina sangatlah indah. Hanin meneteskan air matanya ia tak menyangka adik iparnya sangat pandai bernyanyi. Reza yang menyadari itu menggenggam mesra tangan hanin
"Kenapa menangis?" Tanya reza
"Suara revina sangat indah za, sejak kapan dia belajar bernyanyi?" Ungkap hanin
"Sejak SD karena sering lihat aku yang suka bermain piano, sebenernya dia memang suka bernyanyi tapi tidak dia dalamin. Saat aku berlatih piano dia juga ikut berlatih vokal. Ya gitu" jelas reza. "Sudah dong jangan menangis, ini hari bahagia kita" ucap reza mengusap air mata hanin. Hanin tersenyum
"Terimakasih telah memberikanku seorang adik yang sangat manis seperti revina" ucap hanin menggenggam tangan reza
"Iya sama-sama" ucap reza tersenyum "apa kamu bahagia?" Tanya reza
"Sangat bahagia" ucap hanin dengan mata berkaca-kaca
Gian menatap kagum revina yang telah duduk disampingnya
"Kakak mengapa lihat revina seperti itu?" Tanya revina
"Kamu cantik, suaramu juga indah" puji gian membuat revina malu
"Kakak ih apa-apaan si" ucap revina mencubit lengan gian
"Aw... kok nyubit" ucap gian meringis karena revina
"Biarin wekk" ucap revina menjulurkan lidahnya. Gian yang gemas menarik hidung revina yang mancung itu. "Kakak ih jangn sakit" ucap revina mengusap hidungnya
"Kamu gemesin si" ucap gian mencolek revina
"Dasar. Ayo makan revina laper" ajak revina gian mengangguk