
Reza telah mengantar hanin pulang kerumahnya. Dirumah reza telah berkumpul semua keluarga dari mama dan papa reza termasuk orang tua dari martin. Yang tidak bisa hadir adalah adik ayah yang dari paris yaitu roy dan istri serta kedua anaknya karena kerjaan kantor yang tidak bisa di tinggalkan.
"Waah calon suami hanin cerah sekali wajahnya. Apa itu sayang?" Tanya maminya martin
"Ini pakaian reza mi, dan yang ini adalah gaun yang diberikan hanin untuk revina. Revina mana mi?" Tanya reza ke maminya martin
"Ciye calon menantuku sangat menyayangi adik iparnya. Jadi ga sabar ni mau lihat"ucap maminya martin "Revina di kamar sayang, dia sedang ngambek sama martin karena tidak diizinkan ikut denganmu tadi"
"Haha biar martin rasain di ngambekin oleh revina tu seperti ap rasanya. Reza ketempat revina dulu ya mi, martin pasti dikamar reza kan?" Ujar reza
"Iya sayang" ucap maminya martin
Reza telah sampai dikamar revina, reza melihat adiknya yang sedang berhadapan dengan laptopnya
"Heiii serius sekali sampai tidak tau kakaknya masuk" tegur reza
"Kakak. Udah pulang?" Tanya revina
"Masih marah sama kakak?" tanya reza
"Tidak kak, kenapa juga revina harus marah. Itu kakak bawa apa?" Ucap revina
"Oh iya ini gaun dari kak hanin untuk kamu, katanya malam ini rere harus pakai baju ini"ucap reza memberikan box yang telah di tata sangat rapi dan cantik dari hanin
Revina langsung membuka box yang uda ditata sangat cantik itu
"Waah cantik sekali gaunnya kak, ah kak hanin memang terbaik" ucap revina bahagia
"Syukur deh rere suka" ucap reza mengusap kepala sang adik "ini novel ciptaan hanin ya re?" Tanya reza, revina mengangguk. "Kakak boleh pinjem kakak jadi penasaran kenapa adik kesayangan kakak ini bisa mengidolakan calon istrinya kakak" ucap reza menoel hidung adiknya
"Bawa saja, tapi buku yang baru rere beli jangan ya, rere belum selesai bacanya"
"Iya re. Yaudah kamu istirahat kakak ke kamar dulu, nanti martin lama nungguin kakak" revina mengangguk
Malam telah menjelang keluarga reza tengah bersiap untuk berangkat kerumah hanin. Revina sangat cantik dibalut gaun warna gold hitam pemberian hanin untuknya. Semua keluarga memuji kecantikan hanin. Termasuk gian yang dari tadi berada dirumah revina.
***
Dikediaman haris,hanin sangat gugup sekali. Hari ini hanin akan mulai menutup auratnya, ia sengaja tak memberitahu siapapun kecuali reza seseorang yang akan mengkhitbahnya malam ini. Bunda dan ayah hanin masuk kekamar hanin untuk melihat sang putri yang baru saja selesai diriasi. Bunda hanin meneteskan air mata. Melihat perubahan sang putri, dia mencium putrinya mulai dari kelopak mata hidung dan pipinya
"Sayang apa ini ? Kamu memberikan kejutan ini untuk kita semua" ucap bunda yang masih menangis bahagia
"Bunda, kiya tak ingin menepatkan ayah dan calon imam kiya masuk neraka karena kiya menutup aurat kiya. Kiya mau memantaskan diri kepada tuhan sebagai istri dari seorang Reza Dinata kelak bun" ucap hanin dengn mata berkaca-kaca "hanin akan menjadi wanita yang sangat beruntung karena memiliki suami yang mengerti tentang agama dan syariahnya. Ayah mengizinkan kiya untuk memakaikan hijab kan yah?" Tanya hanin kepada sang ayah
"Tentu sayang. Ayah akan menjadi lelaki yang sangat bahagia memiliki putri seperti kamu. Berhijab adalah pilihan terbesar dalam hidupmu sayang. Sudah jangan menangis lagi, calon suamimu telah berada di depan menunggumu. Ayo kita keluar" ajak haris
Hanin berjalan ditengah ayah dan bundanya ketika mereka turun dari tangga semua mata terpaku melihat perubahan hanin, hanin mengenakan gaun yang sangat cantik dan menggunakan hijab tentunya. Reza tak henti-henti menatap wanita yang akan dikhitbahnya malam ini.
"Almira dia adalah wanita yang ku pilih. Ini maumu kan mira, semoga kamu bahagia disana almira, aku yakin hanin adalah yang terbaik" gumam reza dalam hati
"Ma,, kak hanin cantik sekali mengenakan hijab itu" ucap revina kagum. "Liht ma kak reza saja sampai tidak berkedip menatapnya" ucap revina tersenyum
"Iya sayang. Alhamdulillah hanin menutup auratnya di hari bahagianya ini" ujar dewi
Hanin telah duduk ditengah ayah dan bundanya reza pun duduk di tengah-tengah antara papa dan mamanya. Reno membuka acaranya
"Bagaimana apakah sudah siap" ucap reno paman hanin. Semua mengangguk "mulailah haris" ucapnya lagi
"Baiklah saudara Reza Dinata Arlan apakah kamu siap mengkhitbah putri satu-satunya saya malam ini?" Tanya haris kepada reza
"Saya siap om" jawab reza
"Baiklah segeralah" ucap haris
"Bismillahirohmanirohim, Hanindira Azkiya binti Haris Purnomo bersediakah kamu menjadi istriku dan menua bersamaku?" Ucap reza dengan lantang kepada hanin dihadapan keluarga besarnya
"Bismillahirohmanirohim, saya bersedia menjadi istri dan menua bersamamu reza"jawab hanin
"Ma, bisa pasangkan cincin ini ke jari hanin untuk ku" pinta reza ke mamanya
Dewi memasangkan cincin dijari manis sebelah kiri hanin.
"Selamat sayang, mama sangat bahagia. Terimakasih telah menerima putra mama sebagai suamimu" ucap dewi memeluk calon menantunya
"Sama-sama ma, terimakasih juga karena telah memberi putra mama kepada kiya" ucap hanin tersenyum
"Ris, bagaimana kalau resepsi pernikahannya kita adakan 3 minggu dari sekarang?" Tanya ammar
"Tentu. Masih bisakan mengurus keperluan pernikahannya? Bagaimana kak, tidak masalahkan kalau acaranya 3 minggu kedepan?" Tanya haris kepda reno
"Tentu tidak masalah. Lebih cepat lebih baik. Karena tidak baik menunda niat baik untuk menikah terlalu lama" jelas reno
"Bagaimana reza kiya apakah kalian setuju?" Tanya haris
"Kalo reza setuju saja om" ucap reza
"Kok masih om, ayah dong sebentar lagi kamu adalah anak menantu ayah" ucap haris
"Hehe iya ayah" ucap reza tersenyum
"Bagaiaman kiya, apakah kamu setuju juga sayang?" Tanya ammar kepada calon menantunya
"Iya pa, kiya setuju" ucap hanin lembut
Acara pasang cincin telah selesai. Revina dan gian mendekati kakak dan calon kakak iparnya
"Revina kamu cantik sekali sayang" ucap hanin mengusap pipi sang adik ipar
"Kakak juga cantik. Terimakasih gaunnya kak" ucap revina yang langsung memeluk hanin
"Sama-sama sayang" ucap hanin membalas pelukan dari revina
"Selamat ya bro, gue ikut bahagia buat kalian" ucap gian memberi selamat ke reza
"Thanks bro, dan gue lebih seneng kalo lo bisa bahagiain adik gue" ucap reza membuat revina melepaskan pelukan hanin
"Kok ke vina?" Ucap revina
"Hehe. Sini apa kamu tidak mau peluk kakak kamu yang tampan ini, dari tadi yang kamu peluk hanin saja" ucap reza menarik revina kedalam pelukannya
"Kakak cemburu ya" ucap revina membalas pelukan reza "selamat ya kak, revina sangat bahagia malam ini" ucap revina mengeratkan pelukannya
"Udah lepasin rezanya. Gantian dong mami juga mau peluk anak mami dan menantu mami ini" ucap maminya martin
"Mami ihhh" ucap revina merengut membuat semua tersenyum
"Oh iya, hanin ini kenalin maminya martin, mamiku juga si adiknya papa" ucap reza mengenalkan maminya
"Selamat malam mami" ucap hanin mencium punggung tangan maminya martin
"Selamat malam, kamu cantik sekali sayang" ucap mami mengusap pipi hanin dan haninpun tersenyum
"Martin mana mi?" Tanya reza
"Kerumah sakit baru saja berangkat ada telpon darurat dari rumah sakit tadi. Dia titip salam untukmu dan hanin" ucap maminya
"Itu anak sibuk sekali. Kapan dapat jodohnya kalau sesibuk itu" ledek reza
"Ya itulah martin, sama seperti kamu dulu" ucap mami martin
Acara telah selesai, semua keluarga reza kembali kerumahnya. Gian meminta izin kepada ammar besok ingin mengajak revina pergi dan ammarpun mengizinkannya.
Reza selalu terbayang wajah hanin, senyum hanin seperti candu bagi reza. Di pesan whatapp saja reza selalu menggoda hanin sehingga membuat hanin semakin malu dan menyukai reza