Revina

Revina
Tersesat



Semua kembali ke tenda masing-masing, revina setenda dengan olla sahabat barunya. Handphone revina berbunyi


"Vin, hp lo tu?" Ucap olla


"Iya sebentar" ucap vina "eh kak dhio" senyum revina merekah


"Hallo assalamualaikum kak dhio" sapa revina


"Waalaikumsalam, kamu sedang apa vin?"


"Baru masuk tenda ini kak. Ada apa kak?"


"Enggak. Hanya rindu saja" jantung revina berdegub mendengar dhio berkata rindu terhadapnya "hallo vin, halo revina masih disitu enggak?"


"Eh.... iya kak masih kok hehe"


"Kirain kemana. Oya kapan acaranya berakhir?"


"Inshaallah lusa kak"


"Kakak yang jemput ya, sekalian ada yang ingin kakak bicarakan"


"Bicara apa ?"


"Rahasia dong"


"Ih kak dhio mah gitu"


"Haha yaudah sampai bertemu lusa cantik. Selamat istirahat ya, selamat terlelap"


"Iyaiya. Terimakasih kak dhio. Assalamualaikum" telpon langsung dimatikan oleh dhio. Hp revina berbunyi pertanda pesan masuk


Waalaikumsalam hihi \~dhio


Kakak ada-ada aja ya, yaudah vina istirahat ya kak. Sampai bertemu lusa \~Revina


Iya sampai bertemu lusa sore cantik 🖤😍 \~dhio


"Degg..... yaampun emot hati, kak dhio ga salag ketik kan" ucap revina


"Kenapa vin?"tanya olla


"Gapapa lak, hahah udah ayo tidur"


"Kak dhio jangan seperti ini, bisa-bisa aku jatuh cinta nanti terhadap kakak" gumam revina tersenyum


Keesokan harinya, acara mereka adalah game, setiap gugus harus berhasil menemukan kain biru yang telah di siapkan oleh panitia sebanyak 12 kain, yang berhasil mengumpulkan kain terbanyak ia yang akan menang, yang paling sedikit yang akan di hukum. Semua tim dan senior mengikuti arahan dari


"Ingat kalian hanya akan diberi waktu 30 menit saja, selama dihutan kalian akan menemukan petunjuk di setiap titik jadi kalian ga akan tersesat. Ingat jangan terpisah dari teman segugus kalian. keselamatan kalian adalah tanggung jawab kalian sendiri. Paham kalian ??" Ucap gian


"Siap paham"


"Baiklah. Waktu kalian di mulai dari sekarang" gian memulai stopwatch yang ada di handphonenya. Semua telah memulai sayembaranya, dinda menyeringai, faktanya ia akan segera ngerjain revina di game ini, dinda sengaja menyewa seseorang mengubah arah panah ketika revina melintas.


"Guys, gue istirahat dulu ya, kaki gue bener-bener ga kuat kalo harus lari kek kalian" ucap revina menahan nyeri di lututnya


"Vin kamu gapapa?" Tanya olla dan temen-temannya Khawatir


"Gue gapapa, pras, dit dan lo olla, kalian duluan gue usahain buat nyusul kalian, gue gapapa kok, gue istirahat sebentar saja"


"Tapi vin..."


"Enggak ada tapi-tapisn pras, lo mau kita semua dihukum karena kaki gue yang cidera ini"


"Enggak masalah vin, mending kita kalah daripada menang tapi ninggalin lo disini" ucap olla


"Pleace gue mohon, gue ga mau kalian dihukum karena gue, percaya sama gue, gue bakalan nyusulin kalian setelah nyeri di kaki gue udah redahan. Lagiankan ada anak panah disetiap titik, jadi gue ga akan tersesat" ucap revina meyakinkan


"Lo yakin vin?" Ucap olla


"Gue yakin olla, udah kalian pergi sana. Inget prass, dan lo dit kita harus menang haha"


"Iya tuan putri"


"Haha yaudah kalian hati-hati ya"


"Lo juga ya vin" revina mengangguk, revina yang sedang melurus kakinya hanya bisa bernafas lega


"Akhirnya kaki gue istirahat juga, yaallah sakit sekali rasanya" ucap revina lirih.


"Vin, kenapa lo berhenti disini, ayo jalan lagi, kita-kita yang terakhir lo ini, nanti lo sendirian dibelakang ini" ucap seseorang dari kelompok lain kepada revina


Orang suruhan dinda yang diminta mengubah arah panah ada di kelompok terakhir tersebut, dia menyeringai puas dan dengan sengaja mengubah arah panah agar revina tersesat. Revina telah memulai berjalan lagi, tanpa ia sadari dia melintasi jalan yang salah. Kelompok revina telah berhasil mengumpulkan 4 kain biru. Semua orang berhasil keluar dari hutan tersebut kecuali revina


"Dit, kok revina belum keluar juga si?" Tanya olla panik


"Gue juga khawatir banget ini, seharusnya kita ga ninggalin dia sendirian" ucap adit khawatir


"Yaudah kita tunggu sebentar lagi deh" ujar pras


"Kita harus lapor sama panitia pras" saran olla


"Sebaiknya kita lapor kak abi dulu aja" ucap pras


"Yaudah ayo"


Mereka mendekati abi, dira, naufal dan gian


"Kak maaf sebelumnya, kami kehilangan teman kami kak" ucap pras


"Temen kalian ?" Tanya gian mengernyitkan alisnya "siapa? Kenapa bisa terpisah?"


"Revina kak. Dia memaksa kami pergi duluan" ucap olla


"Apa??? Revina!!! Bagaimana bisa kalian meninggalkannya sendirian di dalam hutan" bentak gian


"Kakinya masih cidera, dia mana bisa bertahan dihutan sendirian astaga, mana udah mau gelap lagi" ucap gian khawatir


Dinda yang mendengar kabar hilangnya revina tersenyum puas. Gian memberi arahan kepada semua mahasiswa baru untuk berkumpul


"Kalian yang berada disini, ga ada yang boleh masuk kehutan lagi, teman kalian Revina diduga tersesat didalam hutan. Jadi jangan ada yang masuk ke hutan lagi kecuali panitia" ucap gian "dir, lo urus mahasiswa cewek, jangan biarin mereka masuk ke hutan lagi" titah gian di balas anggukan oleh dira


"Yang cowok ikut gue nelesurin hutan, siapkan persiapan peralatan untuk kita masuk ke hutan nanti" ucap gian. Gian teringat akan jam tangan yang diberi reza yang terhubung dengan jamnya revina. Gian segera mengecek dan mengukuti arah jam tersebut.


"Syit!!!! Kenapa ga kamu pakai jamnya revina astaga" ucap gian kesal yang menemui jam revina di dalam tasnya.


"Kak, boleh olla ikut" tanya olla khawatir


"Engga olla, lo ga tau bahaya yang bagaimana saat malam di dalam sana" ucap abi


"Tapi kak, vina sahabat olla, olla gamau dia kenapa-kenapa"


"Lo tenang aja, kita semua para cowok bakalan berhasil nemuin revina


^^^^^^


Mereka telah pergi mencari keberadaan revina, dibagi menjadi 4 kelompok. Abi menatap aneh panah yang seharusnya mengarah ke lokasi malah berbelok ke arah lain


"Gi, bukankah arah panahnya berubah? Ada yang ga beres disini? Kayaknya ada orang tang sengaja ngerjain revina deh" ucap abi


"Asyitttt!!!! Siapa yang ubah arah panahnya!!" Ucap gian kesal


"Gi, lo tenang dulu, gimana kalo kita ikuti arah panah ini" saran abi


Semua meneriaki nama revina


"Aduh... gue dimana, dari tadi gue jalan kok ga ketemu jalan si, mana udah mulai gelap lagi" ucap revina panik


Revina mengecek hp ny, namun tidak mendapatkan jaringan.


"Ya tuhan ga ada jaringan lagi, gue harus gimana ini" ucapnya semakin panik. Revina menabrak pohon yang tumpang dan terjatuh "aww. Aduh sakit sekali. Yaampun pakai acara berdarah lagi aisssssss" ucapnya meringis "gue nunggu disini saja kali ya, tapi hari semakin gelap. Tolonggggg. Apa ada orang disini" teriak revina menahan sakit di kakinya yang terluka


"Ya tuhan lututku perih sekali, mana luka di pergelangan kakiku juga sepertinya mengeluarkan banyak darah. Kak reza tolong vina, vina takut disini sendirian" tangis revina pecah


"Revinaaaa" teriak gian dan abi "revina kamu dimana?"


"Gi, kita udah hampir satu jam berjalan tapi revina belum ketemu juga, gue capek banget gi" ucap abi


"Yaudah lo berdua istirahat dulu disini, gue lanjut cari revina, ntar kalo lo udah ga capek lagi lo susul gue, gue jalan lurus aja dari sini" ucap gian


"Lo yakin mau lanjut cari sendiri gi, gamau istirahat dulu"


"Fal, gue mana tega biarin revina sendirian di tengah hutan kek gini, gue yakin dia lagi ketakutan sekarang ini. Lo berdua istirahat gue lanjut cari vina oke"


"Oke lo hati-hati gi, kita istirahat sebentar ntar kita susul lo ya" gian mengangguk dan beranjak meninggalkan mereka dan mencari keberadaan revina.


"Yatuhan revina, kamu dimana sekaran" ucap gian lirih


"Revinaaaaaa" Teriak gian lagi


------Bersambung