Revina

Revina
Memantaskan Diri



Reza dan hanin telah sampait dikediaman haris. Mereka masuk bersama haninpun permisi pamit untuk memanggil bunda dan ayah nya


"Ayah bunda kiya panggilin dari tadi juga" ucap hanin


"Ada apa sayang? Kamu dari mana saja?" Tanya ibunda hanin


"Dari rumah sakit bun. Revina jatuh dan pingsan tadi" jelas hanin membuat haris terkejut


"Sekarang bagaimana keadaannya nak?" Tanya haris terkejut


"Udah baik-baik saja ayah, sekarang udah dirumahnya" ucap hanin. "Eh... Ada reza didepan ingin bertemu dengan ayah dan bunda" ucap hanin menunduk


"Eh eh apakah ada kabar baik sayang" ujar ibunda hanin mengelus pipi sang putri


"Ah ayah dan bunda akan tau nanti. Keluar saja dulu, kasian nunggu ih" ucap hanin kepada kedua orang tuanya


"Iyaiya sayang kami akan keluar bertemu calon menantu ayah" goda haris kepada hanin


"Ayah ihh" ucap hanin malu-malu


Haris dan istri tercinta telah berada di hadapan reza. Reza memang termasuk lelaki gantle menurutnya karena sangat jarang lelaki datang dengan kepala tegap meminta izin menikahi putrinya dalam waktu pertemuan yang singkat


"Selamat sore om, tante" sapa reza mencium punggung tangan kedua orang tua hanin


"Selamat sore reza. Ada apa nak?" Tanya haris


"Om langsung saja ini maksud kedatangan reza kesini adalah ingin meminta izin kepada om dan tante untuk mengkhitba hanin besok malam om tante" ucap reza tanpa ragu


"Apa kamu serius reza? Kalian bahkan baru kenal beberapa minggu" tanya haris


"Saya yakin om, karena saya tidak ingin berbuat dosa kedepannya, saya ingin langsung menikahi hanin jikalau om dan tante mengizinkannya" ujar reza


"Apa yang membuatmu yakin pada putri kami nak, dia bahkan masih sangat manja terhadap kedua orang tuanya. Dan mungkin kamu juga belum mencintainya bukan?" ucap haris


"Reza yakin ketika melihat cinta darinya untuk adik saya revina om dan hanin juga adalah pilihan dari kedua orang tua saya. Karena saya tau pilihan orang tua saya adalah yang terbaik, terlepas dari perjodohan itu, saya ingin hanin adalah salah satu penopang saya menuju jannahnya Allah SWT om. Prihal perasaan reza yakin seiring waktu berjalan kami bisa saling melengkapi dan saling mencintai karena Allah om" ucap reza membuat hanin terkesima kagum


"Masyaallah, om dan tante tidak akan menghalangi niat baikmu nak. Jika kamu yakin terhadap putri om, maka om akan persilakan kamu mengkhitbanya dan semua keputusan akan om serahkan kepada kiya karena yang menjalaninya ada kalian berdua om dan tante hanya akan bisa mendukung hubungan kalian saja" ucap haris bijak


"Baiklah terimakasih om, besok malam saya akan datang bersama keluarga saya" ucap reza tersenyum


Reza berpamitan pulang kepada keluarga hanin, ada rasa legah dihatinya karena niat baiknya telah diterima oleh keluarga hanin. Reza telah sampai dirumahnya terlihat diruang keluarga tengah duduk revina, gian, olla salsa dan kedua orang tua revina


"Eh masih pada ngumpul" ucap reza mendekati sang adik dan mencium puncak kepala revina "gimana keadaannya re?" Tanya reza mengusap kepala sang adik. Melihay kemesraan mereka olla berfikir alangke beruntungnya jadi revina


"Baik dong. Gimana udah ketemu sama om harisnya kak?" Tanya revina reza mengangguk


"Sudah alhamdulillah mereka mengizinkan kakak mengkhitba kak hanin besok malam" ucap reza


"Alhamdulillah" ucap mereka bersamaan. Revina memeluk sang kakak sangat erat ia sangat bahagia pasalnya sang kakak menikah wanita yang sangat baik hati. Reza tersenyum melihat adiknya yang sangat bahagia ini


"Iya re terimakasih. Oya ma, tadi reza bilang sama om haris besok reza akan mengkhitba hanin setelah ba'da isya. Apa saja yang mesti reza persiapkan ma?" Tanya reza


"Beso ajak hanin ke butik cari pakaian yang senada sayang. Dan kamu ajak dia beli cincin" ucap dewi


"Kalau cincin reza udah ada ma" ucap reza sendu. Revina sadar bahwa cincin yang dimaksud pastilah cincin kak almira. Cincin ruby mewah yang hanya ada satu didunia karena kak reza sendiri yang mendesain dan bicara ketoko perhiasan bahwa tidak boleh ada dua harus satu itu saja.


"Kakak" ucap revina dengan mata berkaca-kaca


"Apa sayang? Kakak yakin hanin adalah yang terbaik, maka dia pantas menerima cincin itu" ucap reza tersenyum


"Kakak memang terbaik" ucap hanin memeluk lagi sang kakak. "Besok vina ikut cari gaun untuk kak hanin boleh ga?" Tanya revina, reza menggelengkan kepalanya


"Dengerkan apa yang dibilang martin. Kamu di izinin ikut ke acara khitba kakak, tapi enggak dengan ikut mempersiapkannya, kamu harus istirahat agar kakinya cepet sembuh" ucap reza


"Ih masa iya besok vina tiduran doang siii" celah revina


"Ga ada perdebatan. Pokoknya besok kaku harus istirahat. Titik" tegas reza


"Mama papa kak reza jahat" rengek revina


"Ga malu ada pacarnya disini merengek sama mama papa" ucap reza membuat revina merona malu


"Kakak ih" revina mencubit pinggang sang kakak


"Aw sakit vinaa. Udah udah kakak ga pengen kamu kecapean sayang, baiklah boleh ikut asal tetap dikursi roda dan gian ikut menjagamu" ucap reza kearah gian. Gianpun mengangguk revina semakin malu dibuatnya


***


D butik reza dan hanin mencari pakaian yang tepat untuk mereka pakai di acara nanti malam. Revina tidak jadi mengikuti kakaknya karena tidak dapat izin dari martin


"Za, boleh aku menggunakan pakaian yang tertutup nanti malam, karena aku ingin mulai menutup auratku mulai malam ini" ucap hanin tersenyum reza sangat bahagia mendengar hanin yang berencana menutup auratnya


"Apa kamu serius hanin?" Tanya reza hanin mengangguk. "Aku tidak pernah memaksamu untuk menutup auratmu. Aku menikahimu karena memang niatku aku tidak menuntut lebih akan dirimu agar segera menutup auratmu itu, kamu bisa belajar kalau memang kamu belum siap" ucap reza


"Insyaallah reza, aku telah menerimamu sebagai calon imamku, sehelai saja rambutku yang dilihat oleh lelaki lain, maka nerakalah yang akan kamu dan ayahku pijakan nanti. Bimbing aku selalu reza untuk memantaskan diri bersamamu" ucap hanin menunduk. Reza mengangkat dagu hanin dan menatap mata hanin dalam


"Aku bangga kepadamu hanin, kamu mau belajar. Terimakasih telah menerimaku setulus hatimu" ucap reza menggenggam tangan hanin "ayo kita cati gaun yang akan kita kenakan malam nanti" ajak reza hanin tersenyum


Hanin memilih baju bewarna silver model syar'ii yang sangat cantik. Ia mencoba memakai baju itu dan hijabnya lalu. Hanin keluar dari ruang ganti dengan perlahan dan berhalan sangat anggun, reza terkesima melihat pemandangan itu pasalnya hanin sangatlah cantik menggunakan hijab itu


"Bagaimana? Jelek ya?" Tanya hanin kepada reza, namun reza belum juga ada jawaban masih menatap hanin "kalo jelek aku cari yang lain saja" ucap hanin berbelok, namun tangan hanin ditarik reza hanin kehilangan keseimbangan reza menangkap kedua lengannya mereka saling bertatap mata


"Ini saja. Kamu sangat cantik hanin" ucap reza menatap mata hanin membuat jantung hanin berdebar-debat dan pipi hanin merah merona


"Ba..baiklah. Bisa kamu lepaskan genggamanmu aku ingin mengganti pakaianku" ucap hanin tersenyum, reza melepaskan genggamannya pada lengan hanin. Hanin berlalu meninggalkan reza untuk menggantikan pakaianny lagi