
Gian mengajak revina kesuatu tempat, karena weekend gian ingin menghibur revina dihari liburnya. Reza telah melajukan mobilnya
"Kita mau kemana si kak?" Tanya revina penasaran
"Kesuatu tempat yang bakalan kamu suka nantinya" jawab gian
"Masih lama?" Tanya revina lagi
"30 menitan. Kenapa kamu lelah ya. Tidur dulu aja vin" ucap reza
"Entar kakak ngantuk kalo nyetir sendiri" ungkap revina membuat gian tersenyum
"Tidak. Tidurlah kalau sampai nanti kakak bangunkan" ucap gian lalu mengangguk karena ia sangat lelah sekali
Gian mengajak revina ke pantai yang ada di kotanya berjarakan 45 menit dari kota. Gian menatap lekat revina yang tertidur di kursi sampingnya
"Manis sekali kalau tidur seperti ini" ucap gian "seperti bayi mukanya. Fotoin ah" ucap gian tersenyum. Gian memfoto revina beberapa jepretan, lalu membangunkannya. Revina bangun dari tidurnya
"Kita sudah sampai kak?" Tanya revina "kenapa kakak menatap revina seperti itu?" Tanya revina tersipu malu
"Kamu lucu, etidurnya seperti bayi" ucap gian tersenyum. "Ayo keluar" ajak gian
"Bayi gede iya" ucap revina
Ketika turun dari mobil betapa terkejutnya revina melihat disekelilongnya, iya pantai revina sangat menyukai pantai, dia tidak menyangka bahwa gian akan membawanya ke pantai seperti ini. Reza menarik revina agar mengikutinya tidak lama mereka berjalan ada sebuah tempat yang didekor sangat cantik, bunga mawar bertaburan dan ada 2 kursi makan yang saling berhadapan. Revina terpaku, dan melihat tidak percaya pemandangan didepannya ini
"Ayoo" ajak gian
"Kakak yang menyiapkan ini?" Tanya revina tak percaya
"Iya ini semua untukmu vina" jawab gian "ayo kita kesana"
Revina dan gian duduk di meja makan yang telah disiapkan. Tak tau mengapa gian sangat ingin menjadikan revina sebagai kekasihnya, ia telah jatuh hati pada wanita yang tak tertarik ketika melihatnya seperti wanita-wanita lain.
Meja makan tetata rapi. Seorang pelayan mengantarkan sebuket mawar merah yang sangat besar ke meja revina. Revina menatap semakin tak percaya karena gian memperlakukannya tuan putri hari ini
"Kakak" panggil revina tak percaya "ini semua buat vina?" Tanya revina
"Vina, ini semua buatmu, aku tidak tau lagi apa yang harus aku katakan untuk meyakinkanmu revina, aku Gian Rafif Ivander menyatakannya lagi aku jatuh hati padamu, semakin lama perasaan ini semakin gila, cuekmu, ceriamu aku menyukainya. Tetapi sedihmu, dukamu, lukamu aku ingin menyembuhkannya. Revina Dinata Arlan wanita cantik yang memiliki mata indah yang menyejukkan, yang membuatku memberikan ciuman pertamaku. Aku mencintaimu. Mencintaimu dengan tulus. Aku ingin menjagamu sebisaku. Apakah kamu bersedia menjadi kekasihku" ucap gian berjongok didepan revina meletakan sebuah kalung yang sangat cantik berhuruf R ditangan revina. "Jika kamu menerimanya maka pakailah kalung itu, tetapi jika kamu menolak maka kamu boleh membuangnya revina" ucap gian menatap lekat kearah revina. Mata revina berkaca-kaca ia tak menyangka bahwa gian bisa melakukan hal yang tidak ia duga.
Revina mengembalikan kalung itu ke tangan membuat gian sangat terkejut dan sedih. Gian menunduk dan meremas kalung itu
"Kenapa kakak meremas kalungnya seperti itu. Nanti patah. Apakah kakak tidak mau memasangkan kalung itu dileher vina kak?" Tanya revina tersenyum. Gian menoleh kearah revina tidak percaya
"Maksudmu. Kamu menerimaku revina?" Tanya gian meyakinkan. Revina mengangguk, gian memeluk revina sangat erat dia tak menyangka revina akan menerimanya.
"Pasangkan kalungnya buatku kak" ucap revina. Gianpun memasangkan kalung di leher revina, sangat cantik.
"Kak boleh vina minta sesuatu?" Tanya revina
"Boleh kamu minta apa?" Jawab gian
"Ajak vina kesana, vina ingin bermain air" jawab revina menunjuk tepi pantai
"Ayoo" ucap gian menjulurkan tangannya revina menerima tangan tersebut, gian dan revina menyusuri pantai dengan bergandengan tangan.
Revina merasakan jantungnya berdegub sangat kencang melihat perlakuan gian kepadanya. Revina melepaskan genggamanya lalu menyiramkan air pantai itu ke gian. Mereka bermain air cukup lama membuat mereka tertawa bahagia
"Duduklah dulu, kamu pasti lelah" ucap gian duduk ditepi pantai, dengan pakaian yang sudah basah. Revina menduduki dirinya disamping gian. "Kamu lelah?" Tanya gian kembali
"Sedikit. But, its okey ini sangat menyenangkan" ucap revina tersenyum
"Terimakasih re, karena sudah menerima aku sebagai kekasihmu" ungkap gian mencium tangan revina sangat lembut
Revina tersenyum
"Apa benar ciuman waktu itu adalah ciuman pertama kakak?" Tanya revina ragu
"Iya, itu yang pertama" jelas gian menggenggam tangan kekasihnya
"Kenapa menunduk. Lihat aku revina" ucap gian menatap mata revina. "Kamu mungkin sebagian cerita tentang masalalumu yang membuat senyum indah ini hilang seketika karena mengingat lukamu. Izinkan aku menjadi seseorang yang menyembuhkan lukamu itu revina. Aku sangat menyayangimu sejak pertama kita bertemu" ungkap gian mengusap pipi revina mesra.
Mata revina berkaca-kaca revina tidak menyangka lelaki inilah yang berhasil mencuri hatinya. Gian dan revina bertatap mata sangat lama, gian memberanikan diri mendekatkan wajahnya dengan wajah revina. Wajah mereka semakin dekat hingga bibir gian berbenturan dengan bibir revina. Gian mencium bibir revina. Revina memejamkan matanya. Gian mencium revina semakin dalam hingga terloloslah leguhan kecil dari mulut revina membuat gian semangat menciumnya. Revina menikmatinya. Menikmati perasaan suka yang tidak pernah dia rasakan selama ini. Cukup lama mereka berciuman hingga gian melepaskan ciumannya karena membutuhan pasokan oksigen lagi. Gian mengusap bibir revina dan tersenyum.
"Terimakasih sayang" ucap gian menarik revina kedalam pelukannya
"Sama-sama kak" ucap revina. "Ayo kita pulang, sudah sore nanti kak reza mencariku" gian mengangguk. Sesampai di mobil gian memakaikan jaketnya ke revina karena revina terlihat menggigil
"Maafkan kakak ya menyirammu tadi, kamu jadi kedinginan begini" ucap gian sedikit menyesal
"Kan revina yang mulai jadi tidak masalah" ucap revina tersenyum sambil menggigil
"Sini dulu" ucap gian menari revina kepelukannya memberikan perasaan hangat kepada revina sambil mengusap punggung revina agar revina tidak kedinginan lagi. "Hangat kan?" Tanya gian
"Hangat kak. Terimakasih" ucap revina tersenyum
"Perlakuan kakak kepadaku membuat aku semakin ingin melayang rasanya kak. Hentikan ini atau kakak akan merasakan detak jantungku yanng tidak bisa aku kontrol ini"gumam revina dakam hati
"Ayo kita pulang, AC nya kakak matikan, nanti kamu jadi masuk angin lagi" ucap gian mengelus pipi kekasihnya. Revina mengangguk tandanya setuju
***
Gian mengantar revina untuk pulang buket mawar yang sangat besar tersebut revina bawa, ketika sampai dirumah ternyata keluarga masih berkumpul. Gianpun memutuskan pamit langsung kepada kedua orang tua revina. Gian menyalami semua keluarga revina
"Om tante, gian pamit pulang ya. Rerenya di antar dengan selamat kan om" ucap gian tersenyum
"Iya dengan selamat dan bahagia. Pulang-pulang bawa mawar merah besar dan banyak banget. Sepertinya ada kabar gembira. Iya kan re?" Tanya ammar kepada revina
"Papa sudah dong jangan goda kami terus. Kak gian buruan pulang deh, atau nanti di godain terus kalau disini lama-lama" ucap revina
"Iya kakak pulang ya. Om tante dan semuanya gian pulang dulu. Assalamualaikum" pamit gian
"Waalaikumsalam" ucap mereka bersamaan. Gian telah meninggalkan kediaman arlan.
"Ciye putri papa sudah tidak single lagi" goda ammar kepada revina
"Bunganya sangat indah sepertinya mahal. Ciye keponakan mami sumringah sekali rupanya" goda mami kepada revina
"Sudah dong jangan godain putriku terus tidak lihatkah kalian pipinya sudah sangat merah" ucap dewi "biarkan aku mendapatkan 2 menantu sekaligus" goda dewi kepada revina
"Ih mama. Kalian juga ikut-ikutan. Vina ke kamar deh, mau letakin bunga ini dulu. Ma vas bunga disana vina pakai ya"ucap revina yang sedari tadi sangat malu karena di goda keluarga nya "kak reza dimana?" Tanya revina
"Kantor sayang"jawab dewi
"Ciye menghindar" goda maminya lagi
"Mami mah gitu" revina berjalan cepat menuju kamarnya
Revina menata bunga yang berikan gian ke vas, terselip surat didalamnya "semua tentangmu adalah terindah sama halnya bunga ini. Aku telah mencabut durinya agar tidak melukaimu. Aku menyayangimu." \~GRI
"Kamu memang luar biasa kak gian" ucap revina tersenyum
Reza yang mendengar kabar bahwa sang adik pulang membawa bunga yang sangat besar langsung pulang dan menuju kamar revina. Terlihat revina sedang duduk bersandar di kasurnya
"Kakak" ucap revina
"Waah mawar merahnya banyak sekali. Pasti ada kabar baik" ucap reza mendekati sang adik
"Kalau kakak mau menggodaku juga mending kakak keluar dari kamar vina kak " ucap revina merengut
"Ngambekan. Kakak tidak menggodamu sayang. Kakak hanya ingin memastikan apa kamu bahagia sekarang?" Tanya reza
"Ya aku bahagia kak. Sangat bahagia" ucap revina tersenyum
Reza menarik revina kedalam pelukannya
"Bahagia selalu adikku, karena kebahagiaan kakak bersumber dari senyum dan tawamu" ucap reza