
Revina sangat bahagia melihat sang kakak menikah dengan wanita yang sangat revina suka.
Gian yang sedari tadi melihat wajah sang kekasih yang tersenyum bahagia juga ikut bahagia. Hari revina berpenampilan sangat menawan. Dengan model rambut di sampingkan dan make up natural menghiasi wajah indahnya. Gian menatap revina yang tersenyum revina menyadari itu
"Kenapa kakak lihat vina seperti itu?" Tanya revina
"Aku menciummu" goda gian tersenyum
"Kakak ihhh" revina mencubit pinggang gian dan bersemu merah karena mendengar godaan dari gian
"Suka sekali yan kamu mencubit kakak" ucap gian tersenyum
"Abis kakak ngeselin masa iya bilang seperti itu. Kan malu" ucap revina menunduk
"Kita bahkan sudah 2 kali berciuman kenapa harus malu" goda gian lagi
"Kalau kakak masih bahas itu revina pergi ni ya" ancam revina
"Haha tidak tidak kakak bercanda sayang" ucap gian menahan tangan revina
"Apa kakak bilang tadi?" Tanya revina meyakinkan
"Sayang. Kenapa memangnya?"
"Tidak hihi"
Keluarga Reno Fahrezy Kamil datang ke acara pernikahan reza dan hanin sesuai undangan ammar. Reno datang bersama istri dan kedua putrinya dinda dan kanaya. Dina melihat ke arah revina dan gian yang sedang saling menggoda sangat geram di buatnya. Keluarga renopun bersalaman kepada keluarga reza. Sedangkan dinda mendekati gian dan revina. Revina memiringkan kepalanya
"Kenapa?" Tanya revina
"Gue mau bicara" ucap dinda melihat jemari gian menggenggam tangan revina dari sebelum ia datang
"Tinggal bicarakan" ketus revina
"Jangan disini" ucap dinda
"Yasudah ikut gue" ajak revina "sayang kamu tunggu disini saja ya" ucap revina ke gian membuat dinda menggeram kesal
"Tidak kakak ikut. Kalau dia mau bicara sama kamu kakak harus ikut. Kalau kakak tidak ikut kamu tidak boleh pergi" tegas gian membuat revina tersenyum
"Yasudah ayo ke taman belakang saja" ajak revina yang masih tetap menggenggam tangan gian
Setiba di belakang dinda langsung menarik dan menampar revina karena kurang kewaspaan antar gian dan revina. Gian mengusap pipi revina dan menarik tangan dinda
"Lo gila ya!!!!" bentak gian mendorong dinda. "Kamu tidak apa-apa sayang. Astaga darah" ucap gian khawatir. Revina tidak menghiraukan gian ia langsung mendekati dinda dan menarik rambut dinda sontak membuat dinda terkejut
"Lo gak akan mau botak karena sudah nampar gue bukan!!!" Ucap revina datar
"Lepas!!" Ucap dinda mencoba melepas genggaman revina di rambut dinda. Namun revina menariknya dengan kuat
Plaakkkkk dinda meringis karena tamparan revina
"Ini balasan buat lo karena sudah buat bibir gue berdarah. Lo punya masalah apa ke gue? Apa obsesi lo ke pacar gue masih menggebu?? Apa harus gue buat bokap lo resign dari pekerjaannya dulu!!! Ha!!!" Bentak revina "dari awal gue sudah bilang gue ga mau pacar gue mukulin cewek cuma gara-gara gue!!!! Tapi lo nampar gue didepan dia, lo tau mungkin sekarang dia sangat kesal sama lo" ucap revina datar melepas genggamannya dan mendorong dinda. Dinda terduduk
"Jangan sok berkuasa!!! Gue bakalan buat lo keluar dari kampus gue!!!" Bentak dinda berusaha berdiri
"Bukankah di perkemahan waktu itu sudah gue bilang. Gue adalah sesuatu yang tidak bisa lo gapai dinda adzarine kamil. Lakukan sesuka hati lo, tapi konsekuennya lo yang akan tanggung. Ayo kak kita pergi?" Ajak revina menarik gian
"Arrrhhhhhhh gue benci lo vinaaa" teriak dinda
"Sayang tunggu dulu. Kita obati dulu lukamu" ucap gian menarik revina ke dalam rumah. Gian mendekati pembantu di rumah hanin menanyakan kotak P3K.
Gian membersihkan luka dibibir kekasihnya dan meringis saat membersihkannya
"Kak. Kan vina yang terluka kenapa kakak yang meringis" ucap revina tersenyum
"Sayang ini berdarah lihat memar juga loh" ucap gian mengompres wajah revina
"Haha tidak apa-apa vina bakal pernah ngalamin luka lebih dari ini. Its okey kak" ucap revina memegang tangan gian yang berada di pipinya. "Sudah ayo kita masuk dulu kak reza pasti mencariku" ucap revina
"Kenapa za? Kamu seperti mencari sesuatu?" Tanya hanin
"Aku mencari revina, dia belum terlihat dari tadi nin" ucap reza masih melihat sekitarnya
"Kamu tenang dulu, mungkin dia sama gian lagi jalan-jalan" ucap hanin "eh itu gian dan vina" hanin menunjuk ke arah mereka
"Syukurlah" ucap reza langsung memanggil adiknya dengan lambaian. Revina dan gian mendekat ke arah reza ketika sampai betapa terkejutnya reza melihat memar di sudut bibir sang adik disebelah kiri
"Ini kenapa vina?? Siapa yang memukulmu?" Tanya reza khawatir. Membuat semua orang di atas panggung khawatir, ammar dan dewi mendekati sang putri. Revina tak sadar bahwa memar di sudut bibirnya benar terlihat, revina bingung mau jawab apa. "Gian adik gue kenapa!!!!" Bentak reza
"Kakak tenang dulu" ucap revina menenangkan
"Gimana kakak bisa tenang, kamu terluka vin!!" bentak reza membuat para tamu terdiam revina menunduk ingin menangis karena revina memang paling tidak bisa jika sang kakak bicara dengan membentak seperti ini. "Heii maafin kakak, kakak tidak ada maksud buat bentak kamu, kamu tau kan kakak paling tidak bisa lihat kamu terluka" ucap reza mengusap kepala adiknya.
"Za tenang dulu, biarkan revina menjelaskan semuanya" ucap hanin menenangkan
"Kak, selesaikan dulu acaranya nanti vina ceritakan semuanya" ucap revina kepada kakaknya
"Tapi luka kamu gimana?" Tanya reza
"Sudah di obati kak gian kak, tenanglah jangan khawatir, vina sama kak gian ke bawa ya, kaki vina sangat lelah kak" ucap revina
"Gian antarkan revina ke kamar tamu saja biarkan dia istirahat" ucap haris
"Iya om" ucap gian
"Jaga adik gue gi, gue ga mau denger atau lihat dia terluka lagi" ucap reza sedikit menohok
"Iya za gue bakalan jagain adik lo" ucap gian yang langsung mengajak revina ke kamar tamu.
Martin yang mendengar bahwa revina terluka langsung berlari menuju ke kamar tamu untuk melihat keadaan sang keponakan kesayangannya.
"Apa yang terjadi? Kakak dengar kamu terluka" ucap martin khawatir
"Kak cuma memar doang. Tadi jatuh kak" ucap revina
"Biar kakak cek" ucap martin melihat memar di wajah revina dan luka di sudut bibirnya"kamu tidak sedang berbohongkan revina?"tanya martin
"Tidak kak. Udah dong posesifnya vina kan udah gede" rengut revina
"Mau segede apapun kamu, bagi kakak dan reza kamu tetap adik kecil kami" tegas martin
"Iyaiya. Walaupun revina sudah menikahpun revina tetap jadi adik kesayangan kakak. Iya kan. Sudah kakak keluar dulu vina mau istirahat" ucap revina membaringkan tubuhnya. Martinpun mencium puncak kepala sang keponakan lalu pergi meninggalkan revina. Revina tertidur.
Acara telah selesai karena hari menjelang sore. Keluarga sibuk kekamar revina mengecek keadaan revina. Gian diajak bicara oleh reza hanin dan martin, karena martin merasakan ada yang mengganjal diluka revina
"Jelaskan apa yang terjadi yang terjadi sebenarnya gi?" Tanya reza "tadi kalian kemana sampai revina luka seperti itu. Martin sudah menjelaskan padaku bahwa luka itu bukan karena jatuh" ucap reza
"Reza tenanglah, biarkan gian menjelaskannya" ucap hanin menggenggam tangan sang suami
"Iya sebenernya itu bukan karena jatuh, itu kelalaianku dan revina za" gian menjelaskan semuanya ulah dinda kepada reza, hanin dan martin sehingga membuat semuanya geram. Karena reza tau adiknya bukanlah pembenci yang harus memiliki musuh.
"Dinda Adzarine Kamil?? Putri om reno? Rektor kampus kalian?" Tanya martin tidak menyangka
"Sayang ditaman belakang ada CCTV kita lihat apa yang terjadi. Sudah itu kita bertindak" ucap hanin. Mereka menuju keruang CCTV rumah hanin, betapa terkejutnya reza dan martin melihat revina membalas dinda dengan telak.
"Adik gue udah gede ternyata zak" ucap martin menatap haru
"Itu adik gue" tegas reza
"Hemm, ternyata pengalaman dia di paris mengajarkan dia lebih dewasa dan mandiri ya zak" ucap martin tersenyum
"Tapi walaupun bagaimanapun gue ga bisa lepasin anaknya om reno!!" Tegas reza
"Emang lo kira gue bisa lepasin orang yang buat adik gue terluka, kita bahas didalam lo tau hubungan bokap lo sama om reno bagaimana bukan?" Ucap martin membuat reza berfikir.